NovelToon NovelToon
Karina Dan Sistem Kehidupan

Karina Dan Sistem Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Transmigrasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: kirana_euforia

Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Pertama — 12

Ditengah pelajaran matematika saat ponsel jadul Bram bergetar keras dalam tasnya, sesuatu yang jarang terjadi mengingat betapa hematnya ia menggunakan pulsa.

Bram segera meminta izin keluar sebentar dan begitu iaa kembali beberapa menit kemudian, wajahnya sudah pucat pasi, tangannya gemetaran saat merapikan buku bukunya kedalam tas dengan tergesa gesa.

"Bram, kamu kenapa?" Tanya Karina cemas sambil ikut berdiri.

"Nenek..." Jawabnya singkat dengan suara bergetar. "Tetangga bilang nenek lingsan, sekarang lagi dibawa kepuskesmas."

"Aku ikut." Ucap Karina tanpa berpikir dua kali, langsung meraih tasnya sendiri.

"Nggak usah Al, lo masih ada pelajaran—"

"Bram..." Potong Karina tegas. "Aku ikut titik."

Bu Retno yang sudah mendengar sebagian percakapan itu, hanya bisa mengizinkan meteka berdua pergi tanpa banyak bertanya, dan berpesan agar segera mengabari perkembangan kondisi neneknya.

...----------------...

Puskesmas kecil didekat rumah Bram dipenuhi suasana uang tegaang begitu mereka tiba.

Nenek Bram terbaring diranjang darurat dengan wajahnya yang pucat dengan selang infus yang terpasang dilengan keriputnya, sementara seorang perawat sibuk memeriksa tekanan darahnya.

"Keluarganya?" Tanya dokter jaga yang keluar dari ruangan, melihat Bram hang berlari mendekat dengan napas terengah.

"Saya cucunya." Jawab Bram cepat. "Bagaimana kondisi nenek saya dok?"

"Kondisinya cukup lemah, kelelahan dan kurang gizi tampaknya jadi salah satu faktor." Jelas dokter itu, nada suaranya profesional tapi tetap penuh perhatian.

"Kami sarankan untuk dirujuk kerumah sakit uang lebih lengkap fasilitasnya, supaya bisa diperiksa dengan menyeluruh."

Wajah Bram semakin pucat mendengar itu."Rumah sakit....butuh biaya berapa kita kira dok?"

Dokter itu menatapnya sejenak, tampak memahami kehawatiran dibalik pertanyaan itu. "Kalau pakai BPJS, sebagian besar bisa ditanggung, neneknya punya kartu BPJS."

Bram terdiam mencoba mengingat ingat. "Ada, tapi....udah lama nggak dibayar iurannya. Saya nggk yakin masih aktif atau nggak."

"Coba dicek dulu dibagian administrasi." Saran dokter itu sebelum kembali masuk kedalam ruangannya.

Bram berdiri mematung dikoridor puskesmas yang sederhana itu, tangannya mengepal erat menahan kepanikan yang mulai menguasainya.

Karina yang berdiri disampingnya bisa merasakan betapa beratnya beban yang sedang ditanggung remaja itu, beban uang seharusnya tidak pernah ia pikil sendirian diusia semuda itu.

"Bram... Kita urus satu datu ya.... sekarang kita cek dulu status BPJSnya." Ucap Karina dengan lembut sambil memegang lengannya.

Setelah melalui proses administrasi yang cukup rumit dan sempat membuat Bram harus menahan napas panjang karna ternyata iuran bpjs neneknya memang sudah nunggak beberapa bulan.

Akhirnya petugas puskesmas memberikan solusi agar bisa melunasi tunggakan sebelum dirujuk, dengan opsi mencicil sebagian melalui program bantuan yang tersedia.

Sore harinya saat nenek Bram sudah dipindahkan kerumah sakit daerah dengan fasilitas yang lebih memadai, Bram bersandar Kedinding dengan matanya menatap kosong kedepan.

"Kamu belum makan daritadi." Ucap Karina sambil menyodorkan sekotak nasi yang ia beli dari warung dekat rumah sakit.

"Makan dulu Bram. Kamu nggak akan bisa mikir jernih kalau kelaparan."

Bram menatap kotak nadi itu sejenak, lalau menggeleng pelan. "Gue nggak nafsu makan."

"Bram... aku tau kamu khawatir banget sama nenek, tapi kamu juga harus jaga diri kamu sendiri. Kalo kamu sampai sakit juga, siapa yang bakal urus nenek nanti?" Ucap Karina disampingnya dengan lembut mencoba membujuknya.

Kalimat itu membuat Bram terdiam dan akhirnya menerima kotak nasi itu dengan tangan gemetar, memakannya perlahan meski jelas terlihat setiap suapan tetasa berat baginya.

"Gue takut Al... Nenek itu satu satunya orang yang bener bener ngerawat gue dari kecil. Kalo sampe kenapa kenapa..." Katanya dengan suara bergetar.

"Jangan mikir yang nggak nggak dulu, nenek kamu pasti kuat Bram, sekarang beliau udah ditangani sama dokter yang tepat. Kita cuma bisa berdoa dan berusaha semaksimal mungkin." Potong Karina menenangkan, meskipun hatinya sendiri juga dipenuhi kehawatiran.

Kabar tentang kondisi nenek Bram ternyata cepat menyebar dikelas, meski Karina tidak pernah bermaksud menyebarkannya, mungkin Bu Retno hang memberitahu beberapa siswa , atau mungkin dari mulut kemulut seperti biasa.

...----------------...

Keesokan harinya saat Bram tidak masuk sekolah karna harus menjaga neneknya, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

"Kita galang dana yuk buat Bram, kasian banget dia harus nanggung semuanya sendirian." Usul Naura tiba tiba saat jam istirahat, mengejutkan hampir seluruh kelas.

"Setuju, gue ikutan nyumbang." Sahut Tika cepat.

"Gue juga." Tambah Fajar.

Bakhan Vina yang dulunya sempat menjadi salah satu uang paling sinis terhadap Bram juga ikut mengangkat tangan. "Gue juga mau bantu. Lagian waktu itukan ternyata dia nggak salah soal uang kas, jadi anggep aja ini permintaan maaf dari gue juga."

Karina yang mendengar usulan itu merasa terharu, dadanya menghangat melihat perubahan besar uang terjadi dikelas ini.

Perubahan yang bermula dari langkah kecil yang ia lakukan berminggu-minggu lalu, kini tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.

"Aku bantu koordinir ya... Makasih banyak teman teman." Ucap Karina dengan tersenyum tulus penuh rasa syukur.

Sepanjang hari itu seluruh kelas XI IPA 2 bahu membahu mengumpulkan sumbangan, bahkan beberapa kelas lain yang mendengar itu ikut menyumbang secara sukarela, termasuk beberapa guru yang diam diam menitipkan amplop kecil melalui Bu Retno.

...----------------...

Sore harinya ketika Karina membawa hasil galang dana itu kerumah sakit, Bram tanpak begitu terkejut hingga tidak bisa berkata apa apa untuk beberapa saat sambil menatap amplop tebal berisi uang yang jauh lebih besar dari perkiraan.

"Ini.... dari siapa?" Tanyanya dengan suara bergetar.

"Dari temen temen sekelas." Jawab Karina sambil tersenyum. "Bahkan beberapa kelas lain sama beberapa guru juga ikut nyumbang."

Bran menatap amplop itu lama, matanya mulai berkaca-kaca. "Gue nggak nyangka.... Gue nggak nyangka bakal ada yang peduli sebanyak ini."

"Mereka peduli Bram, karna mereka akhirnya ngeliat kamu apa adanya. Bukan cuma sebagai anak bermasalh yang selama ini mereka pikirin, tapi sebagai orang memang pantas dibantu dan disayang." Ucap Karina dengan lembut.

Bram menunduk dengan air matanya yang jatuh tampa bisa ia tahan lagi. Bukan air mata kesedihan tapi air mata campuran antara rasa syukur, haru dan perasaan yang pertama kali ai rasakan yaitu rasa diterima, sungguh sungguh diterima oleh lingkungan yang dulu selalu memandangnya dengan sebelah mata.

"Thanks Al." Ucapnya dengan suara serak menahan tangis. "Thanks mudah bikin semua ini kejadian."

"Ini bukan cuma karna aku, ini karna kamu sendiri Bram. Karna kamu berani nunjukin diri kamu uang sebenarnya, akhirnya otang orang bisa liat siapa kamu yang sesungguhnya." Ucap Karina sambil menggenggam tangannya lembut.

...----------------...

Tiga hadi kemudian kondisi nenek Bram mulai membaik dan dokter menyatakan ia sudah boleh pulang dengan catatan harus rutin kontrol dan menjaga pola makan serta istirahat yang cukup.

Saat neneknya sudah kembali beristirahat dengan tenang dirumah, Bram duduk disamping ranjangnya sambil menggenggam tangan keriput itu dengan penuh rasa syukur.

"Nenek harus lebih jaga kesehatan ya..... Bram nggak mau kejadian kayak kemarin lagi." Ucapnya dengan suara lembut.

"Nenek juga nggak mau bikin kamu khawatir nak, tapi nenek seneng banget ternyata banyak orang yang perduli sama kita sekarang. Ini semua berkat Alya ya?" Ucap neneknya sambil tersenyum lemah.

"Iya nek." Bram mengagukkan kepalanya dan senyum tulus mengembang diwajahnya. "Alya emang.... orang yang berbeda."

...----------------...

Malam harinya dikamar kos Karina menatap layar tembus pandang yang muncul dengan pembaruan besar.

[Pembaruan status.]

[Poin kehidupan: 4.700 / 100.000.]

[Poin besar diberikan atas keberhasilan membangun jaringan dukungan sosial yang nyata dan berkelanjutan bagi subjek, tidak hanya bergantung pada pengguna semata.]

[Catatan: ini adalah salah satu indikator terkuat menuju definisi akhir bahagia, subjek kini memiliki fondasi hubungan yang akan tetap kokoh, bahkan tanpa kehadiran pengguna dimasa depan.]

Karina tersenyum lega membaca catatan itu, meski ada perasaan pahit dan manis yang menyelip didadanya.

Tepat seperti yang ia harapkan Bram kini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada dirinya untuk merasa dicintai dan didukung.

Tapi disaat yang sama, kenyataan itu juga mengingatkan bahwa waktu perpisahan mungkin semakin dekat.

1
Diana Lely
kirana apa karina thor
kirana_euforia: karina, kalo kirana namaku
total 1 replies
Priska Heriska
bagus semangat!
reaaannaaa
sistem sampah,buat apa ada sistem
buang aja,karina mati lagi aja
Alnilam Mintaka
Bagus!!!
kirana_euforia: tengkyu(⁠≧⁠▽⁠≦⁠)
total 1 replies
Alnilam Mintaka
Semangat Thor!!! 💪
Alnilam Mintaka
jujur janggal . lvl author tinggi tapi karya cuma satu??
Alnilam Mintaka: okey .. good luck thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!