NovelToon NovelToon
Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.

Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.

Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.

Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Jingga duduk di sebuah kafe kecil tidak jauh dari klinik tempat Maya bekerja. Di hadapannya, secangkir teh hangat sudah mulai dingin karena sejak tadi ia hanya mengaduknya tanpa berniat meminumnya.

Maya yang duduk di seberangnya memperhatikan Jingga dengan wajah khawatir. Mereka sudah berteman cukup lama, bahkan sebelum Jingga mengenal Rangga. Ia tahu betapa besar cinta Jingga kepada suaminya. Karena itulah, melihat sahabatnya datang dengan mata sembap dan wajah pucat membuat Maya sulit menyembunyikan kesedihannya.

“Jingga, sebenarnya apa yang terjadi? Kamu bilang mau mencari tempat tinggal sementara, tapi sekarang kamu malah bicara soal perceraian.”

Jingga menunduk, ia mengusap ujung cangkirnya sebelum menjawab pelan, “Aku sudah tidak sanggup lagi, May.”

Maya terdiam, menunggu Jingga melanjutkan ceritanya.

“Aku sudah berusaha bertahan selama ini. Aku selalu berpikir mungkin Mas Rangga sedang banyak pikiran, mungkin dia masih berduka karena kehilangan kakaknya, atau mungkin aku yang terlalu sensitif. Aku selalu mencari alasan untuk membenarkan sikapnya.” Jingga tersenyum getir. “Tapi ternyata, selama ini aku hanya membohongi diriku sendiri.”

“Memangnya dia melakukan apa lagi?”

Jingga menarik napas panjang. Ia kemudian menceritakan kejadian kemarin, mulai dari tuduhan Rangga tentang Varel, tamparan yang diterimanya, hingga pengakuan cinta Rangga kepada Dira yang tanpa sengaja ia dengar beberapa waktu lalu.

Maya mendengarkan semuanya tanpa memotong pembicaraan.

Ketika Jingga selesai bercerita, Maya menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca. “Ya Tuhan, Jingga. Kenapa kamu tidak pernah cerita dari dulu?”

“Karena aku malu, May.”

“Malu untuk apa? Kamu yang disakiti, bukan kamu yang menyakiti!”

“Selama ini... aku selalu membela Mas Rangga di depan orang lain. Ketika teman-temanku bertanya kenapa dia jarang menemaniku, aku bilang dia sibuk bekerja. Ketika keluargaku bertanya kenapa aku terlihat murung, aku bilang semuanya baik-baik saja.” Jingga menelan ludah sebelum melanjutkan, “Aku bahkan pernah meyakinkan diriku sendiri bahwa dia masih mencintaiku, meskipun hampir setiap hari aku merasa seperti orang asing di rumah sendiri.”

Maya meraih tangan Jingga. “Dengar, kamu tidak harus terus bertahan hanya karena kalian sudah menikah. Pernikahan memang harus diperjuangkan, tapi bukan berarti kamu harus mengorbankan dirimu sendiri sampai habis.”

Perkataan temannya itu membuat Jingga terdiam cukup lama. Selama ini, ia selalu menganggap perceraian sebagai kegagalan. Ia takut dicap sebagai istri yang tidak mampu mempertahankan rumah tangga. Ia juga takut menghadapi kehidupan sendirian setelah bertahun-tahun membayangkan masa depannya bersama Rangga.

Namun, sekarang ia mulai mengerti bahwa mempertahankan pernikahan yang hanya diperjuangkan oleh satu orang tidak akan pernah membuatnya bahagia.

“Aku mau mengajukan gugatan cerai,” ucap Jingga akhirnya.

Maya mengangguk. “Kalau itu keputusanmu, aku akan mendukungmu.”

Jingga menggenggam tangan sahabatnya erat-erat. Setelah sekian lama, ia merasa tidak sendirian.

Siang itu, setelah berpamitan dengan Maya, Jingga pergi ke sebuah kantor bantuan hukum untuk mencari informasi mengenai proses perceraian. Ia tidak ingin mengambil keputusan tanpa memahami hak-haknya sendiri.

Awalnya, ia sempat gugup ketika memasuki gedung tersebut. Selama ini, ia tidak pernah membayangkan akan datang ke tempat seperti ini untuk mengurus pernikahannya sendiri.

Namun, begitu duduk dan mulai menjelaskan masalahnya, Jingga merasa sedikit lebih tenang.

Ia menceritakan bahwa dirinya sudah tidak tinggal bersama suaminya, bahwa ia mengalami kekerasan fisik, serta bahwa hubungan mereka telah lama memburuk. Ia juga menyampaikan keinginannya untuk berpisah secara resmi.

Petugas yang menemuinya menjelaskan beberapa hal yang perlu dipersiapkan, termasuk dokumen pernikahan dan bukti-bukti yang relevan. Jingga mendengarkan dengan saksama sambil mencatat hal-hal penting di ponselnya. Setidaknya, sekarang ia tahu harus mulai dari mana.

Ketika keluar dari gedung itu, matahari sudah condong ke barat. Jingga berdiri di tepi jalan sambil memandangi kendaraan yang berlalu-lalang.

Dua tahun lalu, ia pernah membayangkan akan berjalan bersama Rangga di kota ini, bergandengan tangan sambil membicarakan masa depan anak mereka. Sekarang, ia justru sedang berusaha mengakhiri ikatan yang dahulu begitu ia banggakan. Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Namun, kali ini Jingga tidak ingin lagi menyalahkan dirinya sendiri.

Sementara itu, Rangga baru saja menyelesaikan pertemuan bisnis ketika ponselnya bergetar. Ia melihat nama Jingga muncul di layar dan langsung mengangkat panggilan tersebut.

“Di mana kamu?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Di luar.”

“Pulang sekarang. Kita perlu bicara.”

“Kalau soal perceraian, aku serius, Mas.”

Rangga terdiam sesaat, lalu tertawa pendek. “Kamu masih membahas itu? Sudah berapa kali aku bilang jangan bertingkah seperti anak kecil?”

“Aku tidak sedang bertingkah, Mas. Aku sudah memikirkan semuanya.”

“Jingga, jangan menguji kesabaranku! Kamu istriku! Kamu tidak bisa seenaknya memutuskan pergi begitu saja!"

Jingga memejamkan mata. Nada suara Rangga masih sama, selalu terdengar seperti perintah yang harus dipatuhi. “Aku memang istrimu, tapi itu bukan berarti kau boleh memperlakukanku sesukamu.”

“Jadi, sekarang kamu menyalahkanku atas semua yang terjadi?”

“Aku tidak perlu menyalahkanmu. Kau tahu sendiri apa yang sudah kau lakukan.”

Rangga mengembuskan napas kasar. “Sudahlah! Aku tidak punya waktu untuk berdebat. Pulang malam ini. Kalau kamu masih punya akal sehat, kamu akan berhenti membicarakan perceraian.”

Sebelum Jingga sempat menjawab, panggilan itu diputus. Ia menatap layar ponselnya beberapa saat, lalu menurunkan tangannya. Dulu, setiap kali Rangga memutuskan telepon seperti itu, Jingga akan buru-buru menghubunginya kembali. Ia takut suaminya semakin marah, takut pertengkaran mereka semakin panjang, dan takut kehilangan pria yang dicintainya.

Namun, kali ini ia hanya memasukkan ponsel ke dalam tas. Tidak ada gunanya menjelaskan sesuatu kepada orang yang bahkan tidak mau mendengarkan.

Malam harinya, Jingga kembali ke penginapan. Ia baru saja selesai mandi ketika ponselnya berdering berkali-kali. Kali ini, bukan hanya Rangga yang menelepon, tetapi juga Bu Farah.

Jingga membiarkan panggilan itu berlalu.

Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk dari ibu mertuanya.

[Jingga, Mama minta kamu pulang. Jangan memperpanjang masalah. Rangga sudah cukup pusing dengan urusan pekerjaan dan keluarga. Sebagai istri, seharusnya kamu bisa mengerti keadaannya.]

Jingga membaca pesan itu dengan wajah datar, lagi-lagi dirinya diminta mengerti Rangga.

Lalu siapa yang akan mengerti dirinya?

Ketika ia kehilangan anak, ia harus menerima takdir. Ketika suaminya mengabaikannya, ia harus memahami kesibukan. Ketika ditampar, ia malah dianggap memperbesar masalah jika memilih pergi.

Jingga menggeleng pelan, kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. Ia tidak akan membalas pesan itu. Tidak malam ini, tidak juga besok.

Namun, belum sempat ia merebahkan tubuh, terdengar ketukan di pintu kamarnya.

Jingga mengerutkan kening, ia tidak sedang menunggu siapa pun. Dengan hati-hati, ia mendekati pintu dan melihat melalui lubang pengintip. Jantungnya seketika berdegup kencang, itu adalah Rangga.

Pria itu berdiri di depan kamarnya dengan wajah kesal, mengenakan kemeja yang lengannya sudah digulung hingga siku. Jingga tidak tahu bagaimana suaminya bisa mengetahui tempat ia menginap.

Tok! Tok! Tok!

“Jingga, buka pintunya!”

Jingga tetap diam.

“Jingga, aku tahu kamu ada di dalam!”

Jingga menggenggam gagang pintu, tetapi tidak segera membukanya.

“Kalau kamu tidak membuka pintu, aku akan terus mengetuk sampai semua orang di sini tahu kamu istriku!”

Ancaman itu membuat Jingga memejamkan mata sejenak. Bahkan di tempat yang ia pilih untuk menenangkan diri, Rangga masih berusaha mengendalikan hidupnya.

Akhirnya, Jingga membuka pintu, tetapi hanya sedikit. “Ada apa, Mas?”

Rangga langsung mendorong pintu hingga terbuka lebih lebar.

“Kamu benar-benar sudah keterlaluan! Kamu pergi tanpa izin, tidak menjawab teleponku, lalu sekarang menginap di tempat seperti ini?”

Jingga menatap pria itu dengan tidak percaya. “Aku tidak perlu izin untuk pergi dari rumah setelah kau menamparku.”

“Kita ini suami istri!”

“Dan aku sudah bilang, aku ingin bercerai!“

Wajah Rangga mengeras. “Kamu pikir perceraian itu permainan? Kamu pikir kamu bisa hidup tanpa aku?”

Jingga menarik napas panjang. Ia sudah menduga Rangga akan mengatakan hal itu. Selama ini, pria tersebut selalu yakin bahwa Jingga tidak akan sanggup meninggalkannya.

Namun, Rangga tidak tahu bahwa ketakutan terbesar Jingga bukan lagi hidup tanpa dirinya. Ketakutan terbesarnya justru jika ia terus bertahan dan kehilangan dirinya sendiri.

“Aku mungkin akan kesulitan, Mas. Aku mungkin harus bekerja lebih keras dan memulai semuanya dari awal. Tapi setidaknya, aku tidak perlu lagi bangun setiap pagi dengan perasaan takut membuatmu marah.” Jingga menarik napas seraya menatap pria itu tajam. “Aku juga tidak perlu lagi berharap kau akan mencintaiku, karena sekarang aku sudah tahu siapa yang sebenarnya kau inginkan!”

“Jangan membawa Dira ke dalam masalah kita!”

“Kenapa? Karena kau tidak suka aku mengatakan kebenaran?”

Rangga mengatupkan rahang. Untuk sesaat, ia tampak hendak membalas, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Jingga kemudian membuka pintu lebih lebar, bukan untuk mempersilakannya masuk, melainkan agar pria itu bisa melihat wajahnya dengan jelas.

“Mas, aku lelah. Aku tidak ingin bertengkar lagi. Kalau kau datang untuk memintaku pulang, jawabanku tetap sama... aku nggak akan kembali!”

“Jingga!”

“Kalau kau ingin menyelesaikan masalah ini, kita bisa bertemu melalui jalur yang semestinya. Tapi jangan datang lagi untuk memaksaku melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan.”

Rangga menatap istrinya dengan amarah yang sulit disembunyikan. Ia tidak terbiasa mendengar Jingga berbicara seperti itu. Wanita yang dahulu selalu menunduk ketika ia marah kini berdiri di hadapannya tanpa sedikit pun menunjukkan keinginan untuk mengalah.

“Kau akan menyesal,” katanya dingin.

Jingga tersenyum tipis. “Justru aku akan menyesal jika terus bertahan dengan seseorang yang hanya bisa menyakitiku!”

“Jangan pernah berharap aku akan menerimamu kembali!” Rangga menatap Jingga dengan tajam, sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya dan pergi dari sana.

Jingga tidak membalas ucapan pria itu, ia hanya menutup pintu perlahan dan memutar kunci. Setelah suara langkah Rangga menjauh, Jingga bersandar di balik pintu. Kedua tangannya gemetar, dan air matanya kembali jatuh.

Ia masih mencintai pria itu. Perasaan tersebut tidak mungkin hilang hanya dalam satu malam. Namun, cinta tidak lagi cukup untuk membuatnya bertahan dalam hubungan yang terus melukainya. Jingga mengusap air matanya, lalu mengambil ponsel dan membuka catatan berisi daftar hal yang harus ia urus.

Mencari tempat tinggal tetap, mengatur keuangan. Mengurus perceraian, dan kembali menjalani hidupnya. Satu per satu, ia akan menyelesaikannya.

Di luar sana, Rangga mungkin masih yakin bahwa Jingga hanya sedang marah dan suatu hari akan kembali memohon kepadanya... biarlah. Jingga tidak ingin membuktikan apa pun kepada suaminya. Ia hanya ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia mampu bertahan.

Pernikahannya mungkin telah gagal, tetapi hidupnya tidak harus ikut berakhir.

1
Sarmini Isang
good Leo buktikan km mampu dan lebih baik dr rangga,rangga hanya modal dukungan dr papanya tp kemampuan minus,cuma mampu mengumbar nafsu dan arogan,sekarang tinggal menikmati hasilnya rangga,dl km selalu menyakiti jingga dan mengabaikan anakmu demi anak orang lain,nikmati hidup seperti di neraka dengan dira yg tidak becus ngurus anak,semoga keguguran dan rahimnya diangkat,walaupun anaknya lahir akan cacat dan dira tidak bisa punya anak lg,sedangkan jingga sedang menyambut kebahagiaan dimasa depan bersama samudra
Mundri Astuti
Dira anak have juga ternyata...tapi kelakuannya minus yak
Mundri Astuti
tanggung jawab lah kau Rangga, kamu yg memulai
Sarmini Isang
setelah skandal rangga dan dira pasangan sampah menjijikan itu diketahui oleh keluarga besar cendana,rangga bakal hancur karirnya didepak dr perusahaan dan digantikan Leo,hudup miskin dan br sadar dia sangat mencintai jingga,apa jin dasim dira masih mau sama rangga,setelah diusur keluarganya
Sarmini Isang
mampus km rangga,balan hancur hidupmu,karirmu dan masa depanmu hancurrrr
Mundri Astuti
biar rasa ...cihhh sok lemah si Dira itu...di depan jingga keluar aslinya
Mundri Astuti
diiihhhh dari awal kamu nikahin jingga aja niatnya dah jelek Rangga ...skrg kamu dah dpt apa yg kamu inginkan malah masih ngerecokkin jingga
Mundri Astuti
ga sabar ...segala kebusukkan Rangga dan Dira terbongkar didepan keluarga besarnya Rangga termasuk papanya rangga
Nani Haryatiyati
bolehkah aku bahagia di atas masalah mu Rangga?🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Nani Haryatiyati
ada kemauan,and i like it☺️
Rohmi Yatun
Ohh berarti yg benar Samudera ya Thor.. okeeyyy..
lanjut Thor👍
𝓡𝓡: Iyesss kak😘
total 1 replies
Rohmi Yatun
Ohh ternyata dewangga dan samudra itu orang yg sama.. kemarin sempat agak bingung sih....
Nani Haryatiyati: iya kak, sama. smpat heran dan spekulasi sendiri,mngkin namanya Samudra Dewangga. Krn formalitas d panggilnya dokter dewangga...gituuu
total 4 replies
Agunk Setyawan
ayo gebukin kak biar otaknya sadar😆😆
𝓡𝓡: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Mundri Astuti
Leo kamu ke nya jangan terlalu berharap deh sama jingga, kamu masih ada embel" sama masa lalu kelamnya jingga, mending jingga sama dewangga yg sama" pernah nikah
𝓡𝓡: Nah iya, semoga jg gk terobsesi s Leo ini takutnya jd jahat 😳
total 1 replies
Mundri Astuti
dasar biang kerok tu org berdua...pake nyalahin org lain ...sok paling tersakiti...enek banget dah
Venty Imama
aduh songong itu si rangga ngapain baru sekarang setelah bercerai, setelah rumah tangganya hancur baru kepoin mantan kemana sebelumnya ketika istrinya kesusahan,kemana ketika istri dan anaknya yang sekarat membutuhkannya...manjain wanita dan anak orang lain meski itu keponakannya setelah ditinggal baru tahu rasa sukurin
𝓡𝓡: laki laxknat baru cemburu lah gmn Jingga yagg serasa mau ikut mati pas anaknya meninggal tp dia gak peduli 😬
total 1 replies
Mundri Astuti
biarin aja foto itu sampai pada Rangga, biar ga sombong tu org...jingga berhak bahagia dng org baru, yg lebih baik dari mantan, lebih menghargainya ...

thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu
Sarmini Isang
situ waras rangga,laki2 gak tau diri...masa dr segitu banyaknya keluargamu semuanya bodoh,harusnya ada yg pinter dong cari tau siapa dalang penyebaran berita itu
Agunk Setyawan
lanangan edan
Mundri Astuti
katanya keluarga kaya dan terpandang...masa gitu aja ga bisa cari pelaku penyebaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!