NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 RASA BERSALAH
Deru mesin mobil yang dikemudikan Zaki akhirnya perlahan mati saat kendaraan itu memasuki pelataran garasi rumah mereka yang asri di kawasan pinggiran Yogyakarta. Halaman rumah yang biasanya selalu dipenuhi oleh celoteh riang dua anak perempuannya itu, kini terasa begitu sunyi dan mati. Langit sore yang mendung dengan awan kelabu seakan ikut memayungi kediaman keluarga tersebut dengan aura kesedihan yang teramat pekat.
Zaki turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Nisa dan Harumi. Gadis bungsu itu melangkah keluar dari mobil dengan gerakan yang sangat lambat dan gontai. Tubuhnya terasa ringan, seolah tak berpijak pada bumi, namun di saat yang bersamaan, ada beban berton-ton yang tak kasatmata bersarang di pundaknya.
Saat kaki Harumi melangkah naik ke teras rumah, pandangannya langsung tertuju pada rak sepatu kayu di sudut beranda. Di sana, sepasang sepatu sneakers kanvas berwarna putih milik Haruma tergeletak rapi. Itu adalah sepatu kesayangan kakaknya, sepatu yang Haruma cuci bersih sehari sebelum mereka berangkat ke Prambanan, dengan harapan bisa dipakai saat merayakan kemenangan teater mereka.
Melihat sepatu itu, pertahanan Harumi yang sudah retak sejak dari kantor polisi, akhirnya hancur sepenuhnya.
Lutut Harumi mendadak lemas tak bertenaga. Tubuhnya merosot jatuh ke lantai teras rumah. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang gemetar, dan tangisnya pecah seketika. Suara isakannya begitu memilukan, menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.
"Harumi yang salah, Bu... Harumi yang salah..." raung Harumi di sela tangisnya yang tak terbendung. "Harusnya Harumi nggak ikut teater itu. Harusnya Harumi dengerin firasat Ibu... Tangan ini... tangan Harumi yang udah nyelakain Kak Haruma! Kenapa bukan Harumi aja yang mati, Bu? Kenapa harus Kak Haruma yang nanggung ini semua?!"
Mendengar ratapan putrinya, hati Nisa serasa diiris-iris dengan pisau berkarat. Air matanya kembali tumpah. Nisa segera berjongkok, merengkuh tubuh Harumi ke dalam pelukannya yang hangat dan erat. Ia membelai rambut putrinya yang kusut, mencoba menyalurkan kasih sayang seorang ibu yang tak akan pernah pudar, sebesar apa pun badai yang menghantam keluarga mereka.
"Istighfar, Nak... Nyebut, Harumi, nyebut..." bisik Nisa di telinga Harumi, ikut terisak pelan. "Ini bukan salahmu, Sayang. Jangan pernah ngomong begitu lagi. Ibu tahu, Bapak tahu, Yuda, dan teman-temanmu tahu kalau itu bukan kamu. Anak Ibu yang penyayang ini tidak akan pernah menyakiti kakaknya sendiri. Ada kekuatan jahat yang mengendalikanmu, Nak."
Zaki, yang berdiri di belakang mereka, memejamkan mata menahan sesak di dadanya. Pria itu menelan ludah yang terasa sepahit empedu, lalu ikut berjongkok dan meletakkan tangannya yang besar dan kokoh di bahu Harumi.
"Harumi, dengarkan Bapak," ucap Zaki dengan suara serak namun penuh ketegasan. Harumi perlahan mendongak, menatap wajah ayahnya dengan mata yang memerah dan bengkak.
"Bapak mungkin marah... Bapak sangat marah pada keadaan ini, pada Yuda, pada teater itu," lanjut Zaki perlahan. "Tapi Bapak tidak akan pernah menyalahkanmu. Kamu dan Kak Haruma adalah permata hati Bapak dan Ibu. Darah daging atau bukan, kalian adalah nyawa kami. Jangan biarkan rasa bersalah ini membunuhmu dari dalam. Kalau kamu hancur, siapa yang akan menyambut Kak Haruma saat dia bangun nanti?"
Kata-kata 'saat dia bangun nanti' membuat mata Harumi sedikit melebar. Ada kilatan kepanikan sekaligus secercah harapan kecil di sana. "Kak Haruma... gimana keadaannya, Pak? Waktu Harumi ditahan, polisi nggak mau kasih tahu Harumi apa-apa. Kak Haruma masih hidup, kan, Pak? Dia selamat, kan?" tangannya mencengkeram kemeja Zaki dengan putus asa.
Zaki mengangguk pelan, mengusap air mata di pipi putrinya dengan ibu jarinya. "Bapak dan Ibu sengaja minta polisi menahan informasi itu agar mentalmu tidak semakin jatuh saat diinterogasi. Semalam... kondisi kakakmu sangat kritis, Harumi. Jantungnya bahkan sempat berhenti berdetak."
Mata Harumi terbelalak sempurna. Napasnya tercekat di tenggorokan. Rasa dingin seketika menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubunnya.
Jantung kakaknya sempat berhenti?
Kakaknya sempat... mati?
"Tapi dengarkan Bapak dulu, Nak," potong Zaki cepat, mengeratkan pegangannya di bahu Harumi untuk menenangkan kepanikan yang mulai merayap naik. "Dokter berhasil menyelamatkannya. Kak Haruma anak yang sangat kuat. Dia berjuang sekuat tenaga untuk kembali kepada kita. Pagi tadi, Dokter Surya menyampaikan kabar bahwa masa kritis Kak Haruma sudah lewat."
Nisa mengangguk, tersenyum getir di tengah tangisnya. "Iya, Sayang. Operasinya berhasil. Pendarahannya sudah berhenti. Meskipun kakakmu sekarang masih dalam kondisi koma dan bernapas dengan bantuan alat, tapi dokter bilang dia sudah masuk ke fase pemulihan. Kita hanya tinggal menunggu waktu sampai tubuhnya cukup kuat untuk bangun. Kakakmu pasti kembali pada kita, Harumi."
Kabar itu bagaikan tetesan air dari sumber mata air di tengah gurun neraka bagi Harumi. Kakaknya masih hidup. Haruma berhasil melewati batas kematian.
Rasa syukur yang luar biasa membuat Harumi kembali memeluk ibunya dengan erat, menangis tersedu-sedu mengucapkan Alhamdulillah berulang kali. Namun, meski kelegaan itu nyata, akar rasa bersalah di hatinya tidak benar-benar tercabut. Ia tahu, selama kutukan Roro Jonggrang itu masih bersarang di dalam tubuhnya, nyawa kakaknya—dan nyawa Yuda—tidak akan pernah benar-benar aman.
Zaki kemudian memapah Harumi berdiri, membimbingnya masuk ke dalam rumah. "Sekarang, kamu mandi, bersihkan dirimu, lalu makan sedikit. Kamu belum tidur semalaman. Bapak dan Ibu akan menjaga rumah ini. Tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi di sini."
Zaki dan Nisa mungkin mengira bahwa teror itu telah berakhir setelah Harumi keluar dari bui. Mereka tidak menyadari, bayangan hitam pekat yang sejak tadi menempel di atap mobil mereka, kini telah merayap turun. Bergerak diam-diam bagai kabut pembawa maut, menyusup melalui celah-celah ventilasi rumah, dan bersembunyi di sudut tergelap kamar Harumi, menunggu malam tiba.
.....
.....
🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕
Waktu berlalu dengan sangat merayap. Matahari akhirnya menyerah, tenggelam di ufuk barat dan membiarkan kegelapan malam mengambil alih langit Yogyakarta.
Di dalam kamarnya, Harumi berbaring meringkuk di atas kasurnya. Kamar itu cukup luas, dihuni oleh dua tempat tidur terpisah yang saling berhadapan. Di seberangnya, tempat tidur Haruma tampak rapi dan kosong, pemandangan yang kembali menorehkan luka ngilu di dada Harumi.
Lampu utama kamar sudah dimatikan, menyisakan cahaya remang dari lampu tidur kecil di atas nakas. Jam dinding berdetak konstan.
Tik... Tok... Tik... Tok...
Menunjukkan pukul sebelas malam lebih lima belas menit.
Zaki dan Nisa sudah memaksanya makan beberapa suap bubur dan meminum segelas susu hangat agar ia bisa beristirahat. Namun, mata Harumi menolak untuk terpejam. Rasa lelah di tubuhnya kalah telak oleh trauma psikologis yang terus menyiksanya. Bekas cengkeraman biru di pergelangan tangannya berdenyut-denyut nyeri, seolah menjadi jangkar yang terus mengikat kesadarannya pada kengerian semalam.
Tiba-tiba, suhu di dalam kamar itu merosot drastis.
Bulu kuduk Harumi meremang hebat. Ia menarik selimutnya hingga sebatas leher. Udara yang tadinya hangat dan berbau pewangi ruangan lavender, kini perlahan-lahan tergantikan oleh aroma yang sangat ia kenali dan ia takuti. Bau bunga melati yang layu, membaur dengan aroma kemenyan yang dibakar, dan anyir darah yang menusuk hidung.
Harumi membeku. Napasnya tertahan. Matanya bergulir liar ke seluruh sudut ruangan.
Lalu... suara itu datang.
Nang... Ning... Nung...
Sebuah ketukan pelan dari alat musik saron, bagian dari instrumen gamelan. Suaranya terdengar sangat halus, mengalun memecah kesunyian malam.
Harumi menutup telinganya kuat-kuat dengan kedua bantal. Ia mencoba merasionalisasi suara itu. Mungkin tetangga sebelah sedang menyetel radio, atau ada acara wayang kulit di balai desa. Ya, pasti begitu. Ia terus mensugesti dirinya sendiri.
Namun, alunan gaib itu tidak peduli pada logikanya. Suara itu kini bertambah ramai.
Nang-Ning-Nung... Ning-Nang-Neng-Gooong...
Ketukan saron, bonang, dan kendang mulai bersahutan, memainkan langgam tembang Jawa kuno yang bernada sangat menyayat hati dan sarat akan aura kematian. Dan yang membuat akal sehat Harumi nyaris putus adalah, suara orkestra gamelan itu tidak berasal dari luar rumah. Suara itu tidak berasal dari radio tetangga.
Suara itu berasal dari dalam kamarnya sendiri.
Lebih tepatnya, dari dalam lemari pakaian kayu jati tua peninggalan almarhum neneknya yang berdiri kokoh di sudut ruangan.
Mata Harumi terbelalak lebar menatap lemari tersebut. Tubuhnya gemetar sehebat daun yang diterpa badai. Jantungnya memompa darah dengan kecepatan yang menyakitkan dada. Alunan gamelan itu semakin keras, seolah-olah seluruh set alat musik tradisional beserta para niyaga (penabuh gamelan) gaibnya sedang duduk bersila di dalam lemari yang sempit itu.
GWOOOOOONNNGGG...!!!
Suara gong dipukul dengan sangat keras, membuat kaca jendela kamar Harumi bergetar.
Lalu, bersamaan dengan gema gong yang perlahan memudar, kedua daun pintu lemari kayu jati itu bergerak. Berderit terbuka dengan sangat lambat.
Krieeeet...
Dari balik kegelapan di dalam lemari yang pekat, ujung sebuah kain panjang berwarna merah darah merayap keluar. Kain itu bergerak melata di atas lantai seperti ular hidup, memanjang ke arah tempat tidur Harumi.
Bersamaan dengan merayapnya kain tersebut, sebuah suara bisikan wanita yang sangat parau, dingin, dan berbahasa Jawa kuno kembali bergaung di dalam kepala Harumi, mengoyak-ngoyak kewarasannya yang tersisa.
"Kau pikir kau bisa lari, Anak Manusia? Kau pikir kakakmu sudah selamat dari cengkeramanku?"
Suara tawa melengking yang menggema halus menyusul setelahnya, membuat udara di dalam kamar itu serasa membeku.
"Sukmanya sudah kucicipi di pelataranku... Darahnya sudah membasahi tanganku... Nyawanya belum putus, memang... tapi aku akan memastikannya... Jika bukan tanganmu yang mengakhirinya, maka malam ini, aku sendiri yang akan mencabut nyawanya di ranjang pesakitannya!"
Teror itu mencapai titik didihnya. Ancaman makhluk itu terhadap nyawa Haruma yang sedang tak berdaya di rumah sakit menghancurkan sisa-sisa kewarasan Harumi. Rasa takutnya yang luar biasa meledak bersamaan dengan rasa putus asa.
"TIDAAAAAAAKKK!!! JANGAN GANGGU KAKAKKUUU!!!"
Jeritan histeris Harumi meledak menggelegar ke seluruh penjuru rumah. Ia menendang selimutnya dengan kasar, melempar bantal, guling, hingga lampu tidur ke arah lemari kayu tersebut.
PRAAANG!!!
Lampu itu pecah berantakan menghantam pintu lemari.
Harumi melompat turun dari kasur, memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak dinding dengan keras. Ia meringkuk di sudut ruangan, menjambak rambutnya sendiri, dan terus berteriak sejadi-jadinya seperti orang yang kehilangan akal.
"PERGIIII!!! PERGIIIII IBLIS JAHAT!!! JANGAN SENTUH KAK HARUMA!!! BUNUH SAJA AKU! BUNUH SAJA AKUUUU!!!" raung Harumi, suaranya parau dan diwarnai keputusasaan yang teramat dalam.
Gedoran panik seketika terdengar dari pintu kamar.
"Harumi?! Harumi, buka pintunya, Nak!" Suara Zaki berteriak dari luar, disusul oleh suara kunci cadangan yang diputar dengan tergesa-gesa.
Pintu kamar terbanting terbuka. Zaki dan Nisa menghambur masuk. Zaki dengan sigap langsung menekan sakelar lampu utama.
CTAK!
Cahaya terang benderang seketika menyiram seisi ruangan. Dan pada detik yang sama, alunan gamelan itu terhenti secara paksa. Kain merah darah yang merayap di lantai menguap menjadi asap tipis, dan bau kemenyan itu lenyap tak berbekas. Lemari kayu jati itu terbuka, namun isinya hanyalah deretan pakaian Harumi dan Haruma yang tergantung rapi. Tidak ada siapa-siapa.
Nisa berlari menembus pecahan kaca lampu, menjatuhkan dirinya ke lantai untuk memeluk Harumi yang masih berteriak-teriak sambil menutup telinganya.
"Harumi! Ya Allah, Nak, ini Ibu! Sadar, Sayang, sadar!" Nisa memeluk putrinya sekuat tenaga, mencoba menghentikan tangan Harumi yang terus memukul-mukul kepalanya sendiri. Air mata Nisa mengalir deras melihat kondisi putrinya yang sangat memprihatinkan.
"Dia mau bunuh Kak Haruma, Bu! Dia ada di lemari! Dia bilang mau nyabut nyawa Kak Haruma malam ini!" racau Harumi dengan mata yang membelalak liar menatap ke arah lemari yang terbuka.
"Selamatkan Kak Haruma, Bu! Telepon rumah sakit! Dia mau bunuh kakak!"
Zaki yang berdiri dengan napas memburu, menatap ke arah lemari kayu itu dengan pandangan tajam. Pria itu menelan ludah. Ia tidak melihat sosok gaib apa pun, ia tidak mendengar suara gamelan. Di matanya, ini tampak seperti Harumi yang sedang mengalami serangan panik hebat akibat Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).
Namun, sebagai seorang ayah yang membesarkan dua anak dengan darah "Tulang Wangi", naluri Zaki mengatakan hal yang lain. Hawa dingin yang tersisa di ruangan ini bukanlah hawa dingin biasa. Bulu kuduknya yang meremang menjadi alarm alami bahwa ada sesuatu yang sangat kelam baru saja singgah di kamar ini.
"Tenang, Harumi, tenang! Kakakmu aman. Bapak akan minta suster jaga untuk memantau Kak Haruma di rumah sakit malam ini juga. Kakakmu aman!" Zaki ikut berlutut, memeluk kepala putrinya, mencoba memberikan ketenangan yang ia sendiri tidak merasakannya.
Sambil memeluk putrinya yang menangis gemetar di pelukan istrinya, tatapan Zaki kembali tertuju pada lemari kayu yang terbuka itu.
Rahangnya mengeras. Keyakinannya pada logika mulai goyah. Tragedi panggung, pisau dengan hanya satu sidik jari, dan sekarang teror malam di rumahnya sendiri. Zaki menyadari dengan perasaan gentar yang luar biasa; mereka tidak sedang berhadapan dengan masalah hukum atau gangguan psikologis semata.
Keluarganya sedang diburu oleh kutukan purba, dan jika Zaki tidak segera bertindak mencari pertolongan spiritual, ia akan benar-benar kehilangan kedua putrinya selamanya.
kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda