Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Anak Raja yang Tak Tertulis
Sekar tidak menjawab Landep. Ia hanya berdiri, pelan, seperti orang yang tiba-tiba lupa cara menggerakkan kakinya, lalu berjalan keluar bengkel menuju halaman belakang.
Raka hendak mengikutinya, tapi Mpu Kalandara menahan lengannya. "Beri dia beberapa saat."
"Saya khawatir."
"Aku juga. Tapi ada hal-hal yang harus dicerna sendirian dulu." Pertapa itu menatapnya. "Beberapa saat saja. Setelah itu, pergilah."
Raka menunggu sampai hitungan seratus dalam hati, lalu menyusulnya.
Halaman belakang bengkel hanya selembar tanah sempit dengan palung kayu berisi air untuk mendinginkan logam, tumpukan arang di satu sisi, dan sebatang pohon nangka tua yang rindang. Sekar duduk di tepi palung, kaki menjuntai, tangan menggenggam sesuatu di dadanya, jelas cincin itu.
Raka duduk di sampingnya, menjaga jarak sehasta. Untuk beberapa lama tak ada yang bicara. Dari balik tembok terdengar dentang palu, tawa anak-anak, dan suara seorang pedagang berteriak menjajakan tahu.
"Aneh," kata Sekar akhirnya. Suaranya datar. "Aku kira kalau mendengar sesuatu seperti itu, aku akan merasa berbeda."
"Dan?"
"Aku merasa sama saja. Lapar. Lelah. Kakiku pegal." Ia menunduk menatap telapak kakinya yang tak beralas. "Putri raja, ya? Putri raja yang belum pernah memakai sandal."
Raka tersenyum samar. "Kurasa raja bisa berjalan tanpa alas."
"Raja tidak harus memetik daun obat di hutan supaya ibunya bisa minum ramuan." Sekar mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti tawa pahit. "Aku tidak mau jadi putri, Raka. Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus bersikap kalau ada yang menyembahku."
"Mungkin tidak perlu ada yang menyembahmu."
"Kalau Tabib itu benar, semua orang akan." Ia menggeleng. "Atau semua orang akan mau membunuhku."
Raka tak bisa menyanggahnya.
"Kau tahu sejarah," lanjut Sekar, menoleh padanya, matanya tajam tapi terlihat rapuh di tepi-tepinya. "Kau bilang kau berasal dari masa depan, dan kau membaca banyak buku tentang kerajaan ini. Apa tertulis namaku di sana? Putri Jayanegara?"
Pertanyaan itu menusuk. Raka menimbang beberapa detik. Ia ingin berbohong untuk menenangkannya, tapi ia sudah memutuskan sejak awal untuk tak pernah berbohong pada gadis ini lebih dari yang terpaksa.
"Tidak," katanya pelan. "Buku-buku kami menyebut Jayanegara tak punya keturunan. Raja kedua, wafat tanpa anak, digantikan adik perempuannya, Tribhuwana."
"Berarti aku tak ada."
"Berarti kau tak tertulis."
"Apa bedanya?"
"Banyak." Raka memandang langit di balik dedaunan nangka. "Sejarah ditulis oleh mereka yang bertahan hidup dan yang ingin dikenang. Banyak orang hidup, mencintai, dan berjuang tanpa pernah tertulis. Itu tidak membuat mereka tak ada."
Sekar menatapnya lama.
"Dan kalau kau tak tertulis," lanjut Raka lebih lembut, "berarti tidak ada yang sudah memutuskan akhir ceritamu. Kau bisa menulisnya sendiri."
Untuk pertama kalinya hari itu, Sekar tersenyum, kecil dan goyah, tapi nyata. Ia mengusap matanya cepat dengan punggung tangan seakan menepis debu.
"Kau pandai bicara untuk orang yang tak bisa menunggang kuda," katanya.
"Itu bukan kemampuan yang berhubungan."
"Aku tahu." Ia menarik napas dalam, lalu bangkit. "Ayo masuk. Aku mau mendengar sisanya. Semua yang belum Paman Landep ceritakan."
Pertemuan di dalam bengkel berlangsung hampir sepanjang siang. Landep menceritakan apa yang ia tahu: nama selir yang melahirkan Sekar, seorang perempuan muda dari Kediri bernama Dyah Wirasti, yang meninggal pada malam yang sama; tentang dayang yang menyelamatkan bayi itu dan kemudian menghilang entah ke mana; tentang janji Wiratanu yang membuat Landep bersumpah di depan api tungku.
Sekar mendengarkan dengan wajah tegang, sesekali menyela dengan pertanyaan pendek. Dan ketika Landep selesai, ia hanya berkata, "Ibu Lastri tahu?"
"Hanya sebagian," jawab Landep. "Dia tahu kau bukan darah dagingnya. Tapi bukan siapa kau sebenarnya. Wiratanu hanya bilang kau anak seorang kerabat jauh yang dititipkan padanya."
"Dan tetap saja dia membesarkanku."
"Seperti anak sendiri." Landep tersenyum, lelah. "Itulah sebabnya aku tak pernah ragu pada ayahmu memilih dia."
Sekar mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Aku mau pulang. Aku mau melihat Ibu."
"Tidak bisa," kata Wirabhaya tegas. Semua menoleh padanya. Lelaki itu bersandar di dinding dengan lengan terlipat, wajahnya muram. "Anggada tahu kau berada di sini. Dan Hendar tahu. Kalau kau pergi ke desa, kau menuntun mereka langsung ke sana. Ibumu akan menjadi sandera."
Sekar mengepalkan tangan, tapi tak membantah. Ia tahu itu benar.
"Aku akan mengirim orang untuk menjaga Nyai Lastri," lanjut Wirabhaya. "Orang yang kupercaya. Tak seorang pun akan menyentuhnya."
"Orang yang kau percaya," ulang Raka pelan. "Seperti Anggada?"
Wirabhaya tak menjawab. Rahangnya mengeras.
"Maaf," kata Raka cepat. "Itu tidak adil."
"Memang tidak." Wirabhaya menghela napas. "Tapi benar. Aku akan mengirim Tarub dan dua orang lain yang sudah bersamaku sepuluh tahun. Mereka tak akan mengkhianatiku."
Hening sejenak. Lalu Wirabhaya menatap Sekar langsung, dan Raka melihat sesuatu yang berubah di wajahnya, sebuah keputusan yang berat.
"Nyai Sekar. Aku seorang Bhayangkara. Aku bersumpah setia pada Baginda Rajasanagara, pada garis keturunan yang kini memerintah. Dan sekarang aku mendengar bahwa ada seorang putri dari garis yang lain, yang menurut sebagian orang adalah pewaris yang lebih sah."
Sekar membeku. "Aku tidak pernah meminta takhta."
"Aku tahu. Dan aku tidak akan melaporkanmu." Wirabhaya menelan ludah. "Tidak sekarang. Tidak sebelum aku tahu mana yang lebih berbahaya: menyimpan rahasia ini, atau membukanya."
"Itu pengkhianatan," bisik Tarub dari pintu.
"Aku tahu apa namanya, Tarub." Wirabhaya tidak menoleh. "Kalau ada yang mau melaporkanku, silakan. Tapi sampai Hendar dihentikan, aku tidak akan menyerahkan seorang gadis yang tak bersalah kepada siapa pun."
Tarub mengatupkan mulutnya, lalu menunduk. "Hamba tak akan melapor, Gusti."
Mpu Kalandara, yang sejak tadi diam, tersenyum samar penuh kekaguman. "Ayahmu akan bangga padamu, Wira."
"Ayahku akan memotong tangan kananku karena melanggar sumpah," gerutu Wirabhaya. Tapi sudut bibirnya naik sedikit.
Matahari sudah condong ke barat ketika langkah cepat terdengar di gang bengkel. Seorang prajurit muda berselempang Bhayangkara, yang bukan salah satu dari mereka, berdiri terengah-engah di ambang pintu, membawa gulungan lontar bersegel merah.
"Gusti Wirabhaya," katanya, membungkuk. "Utusan dari Mahapatih menunggu di pasanggrahan. Beliau menitipkan pesan untuk Pandita Kalandara."
Seluruh ruangan membeku. Mpu Kalandara menerima gulungan itu dengan tangan yang tiba-tiba terasa lebih tua. Ia membuka segelnya dan membaca, bibirnya bergerak tanpa suara.
"Apa isinya?" tanya Raka, tenggorokannya kering.
"Mahapatih Gajah Mada memanggilku," kata Mpu Kalandara pelan. "Besok fajar, di balai kepatihan."
"Hanya Mpu?"
Pertapa itu menatap Raka. "Dan muridku. Cantrik Raka. Secara khusus."
Wirabhaya menyumpah pelan.
"Dia melihat kita di lapangan kemarin," bisik Raka. "Dia menatap saya."
"Gajah Mada tidak memanggil siapa pun tanpa alasan." Mpu Kalandara melipat lontar itu dengan hati-hati. Matanya menatap api tungku, dan untuk pertama kalinya Raka melihat pertapa yang tak pernah goyah itu benar-benar cemas.
"Entah apa yang dia curigai," katanya. "Tapi kita harus siap menjawab."
pinter bet dia🫣
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
wahhhhhh
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
apakah ada yg kebawa juga🥹
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
kalau aku melarang mu,akankah kau mendengar ku?
memang aura pemimpin ga bisa boong ya
pantes dia legenda tak terbantahkan 🥹
walaupun sejarah tidak menulis kan kita
bukan berarti kita tidak ada,hanya tidak terlalu penting saja untuk dikenang🥹.
tapi...baru beberapa saat ini
ada sebuah jendral besar di China yg tertulis di sejarah sebagai penghianat bangsa .
yg meninggal nya pun tragis karena tubuhnya hancur karena hukuman di tarik kuda.
tapi... ternyata faktanya jendral itu terlalu kuat pengaruh nya karena selalu menang di Medan perang
sampe raja nya pun khawatir akan kekuasaan nya,mknya difitnah sedemikian rupa. hingga sejarah pun menuliskan nya seperti itu🥹🥹.
yg artinya, terkadang sejarah pun belum tentu menuliskan kebenaran.
mereka hanya menulis apa yg orang ingin tulis.