"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."
Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.
Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.
Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase Tengah Malam
Hujan badai menghantam perairan Pelabuhan Utara dengan beringas. Gelombang laut yang hitam dan pekat bergolak kencang, menghantam dinding-dinding beton dermaga memecah ombak barat dengan bunyi berdebum yang menggetarkan udara. Di bawah langit malam yang pekat tanpa bintang, siluet kapal kargo raksasa bernama Gorgon Star bersandar malas bergoyang mengikuti ritme ombak yang tak bersahabat.
Di balik pekatnya tirai hujan, permukaan air laut yang hitam pekat di dekat lambung kapal beriak samar. Sesosok tubuh yang mengenakan pakaian selam taktis hitam drysuit muncul ke permukaan tanpa menimbulkan suara riak yang berisik.
Liam Jeren, atau malam ini, sang Shadow melepaskan regulator oksigen dari mulutnya. Ia menempelkan punggungnya pada dinding lambung kapal yang berkarat, membiarkan aliran air hujan menyapu masker selam yang membungkus wajah rekonstruksinya. Napasnya teratur, sedingin es, diatur dengan presisi murni dari seorang agen elit legendaris.
Melalui lensa masker taktisnya yang dilengkapi fitur night-vision, Liam memindai area geladak atas. Tiga ratus meter dari posisinya, di bawah sorot lampu sorot dermaga yang bergoyang ditiup angin badai, belasan anak buah Gaizka Wijaya berseragam hitam mondar mandir dengan senapan serbu HK416 di tangan mereka. Mereka tampak waspada, akan tetapi badai yang mengamuk malam ini membuat jarak pandang mereka merosot tajam. Mereka tidak akan pernah menyangka bahwa badai yang sesungguhnya sedang merangkak naik dari bawah kaki mereka.
"Semua sensor internal kapal sudah gua acak, Liam," suara Belladona berbisik di saluran interkom sub-frekuensi yang tertanam di balik telinganya. Suaranya sedikit terdistorsi oleh gemuruh petir di luar. "Ruang mesin bagian bawah kosong. Kru kapal lagi ketahan di mess atas karena dokumen manifes yang gua palsukan tertahan di sistem bea cukai. Lu punya waktu sepuluh menit sebelum sistemnya otomatis mendeteksi kegagalan navigasi."
"Cukup," jawab Liam lirih.
Dengan kecekatan yang menyerupai hantu, Liam meraih tangga besi darurat di lambung kapal. Ia memanjat tanpa suara, membiarkan tubuhnya melebur dengan kegelapan bayangan dinding kapal. Begitu mencapai pintu palka bagian bawah, ia menyelinap masuk ke dalam lorong besi yang remang-remang, hanya diterangi oleh lampu indikator merah yang berkedip malas.
Target utamanya malam ini bukanlah nyawa para anak buah Gaizka. Membunuh mereka hanya akan meninggalkan jejak taktis milik Phantom yang akan langsung memicu kecurigaan Jenderal Jendra atau Leo. Liam ingin ini terlihat seperti kecelakaan murni akibat korsleting sistem bahan bakar, sebuah hantaman telak yang akan menguras habis likuiditas keuangan Gaizka tanpa meninggalkan sidik jari seorang pembunuh.
Langkah kaki Liam melangkah cepat di atas lantai besi yang licin akibat oli. Ia menuruni tangga menuju ruang generator dan tangki bahan bakar cadangan kapal. Bau solar yang menyengat langsung menusuk indra penciumannya.
Dari dalam tas taktis kedap air di punggungnya, Liam mengeluarkan sepasang balok peledak thermite termal dan satu unit C4 dengan detonator frekuensi radio jarak jauh. Thermite tidak akan meledak dengan suara menggelegar seperti bom konvensional, alat itu akan membakar besi dan baja dengan suhu mencapai 2.500 derajat Celsius dalam hitungan detik, melelehkan dinding tangki bahan bakar dan memicu ledakan sekunder yang masif dari solar di dalamnya.
Liam menempelkan perangkat peledak itu tepat pada katup utama pipa penyalur bahan bakar ke ruang mesin. Tangannya bergerak stabil, memasang kabel pemicu dengan ketenangan yang mengerikan.
"Dua menit lagi, Liam. Tim patroli dek bawah mulai bergerak turun buat meriksa tekanan pompa," Belladona memperingatkan dengan nada mendesak.
Liam tidak mempercepat gerakannya secara panik. Presisi adalah segalanya. Ia mengunci detonator digital, lalu memastikan frekuensinya terhubung dengan gawai di pergelangan tangannya. Setelah semuanya terpasang rapi, ia menyembunyikan perangkat itu di balik panel isolasi pipa yang tebal. Skenario kecelakaan yang sempurna telah selesai ditulis di atas cetak biru besi ini.
Ia berbalik, melesat kembali ke arah pintu palka luar dengan kecepatan memori otot yang luar biasa. Tepat saat sepasang sepatu bot anak buah Gaizka berdentang menuruni tangga besi di ujung lorong lain, Shadow telah meluncur kembali ke dalam pelukan laut yang dingin tanpa meninggalkan jejak setetes air pun di lantai lorong.
Liam berenang menjauh dari kapal Gorgon Star, membelah arus bawah laut yang deras menuju sebuah perahu karet hitam yang disembunyikan di balik tiang pancang dermaga tua yang tak terpakai, jaraknya sekitar lima ratus meter dari lokasi kejadian.
Ia merangkak naik ke atas perahu karet, melepas masker selamnya, dan membiarkan air hujan membasahi wajah barunya. Rambut hitamnya basah kuyup menempel di dahi. Liam mengambil gawai taktis dari sakunya, menatap layar yang menampilkan indikator status detonator 'READY TO DETONATE'.
Di kejauhan, di atas dek Gorgon Star, belasan kontainer berisi ratusan pucuk senjata ilegal milik Gaizka Wijaya siap dipindahkan. Liam tahu, di dalam dokumen Panama milik Gaizka, uang pelunasan tiga puluh persen sudah ditransfer malam ini ke pihak Eropa Timur. Artinya, kepemilikan senjata-senjata itu sudah sepenuhnya berada di tangan Gaizka. Jika kapal itu hancur malam ini, Gaizka tidak hanya kehilangan pasokan senjatanya ke kartel timur, tetapi juga kehilangan seluruh modal likuidnya tanpa bisa menuntut ganti rugi ke asuransi karena ini adalah muatan selundupan.
Rugi bandar yang mutlak.
Liam menekan tombol merah di layar gawainya.
Tidak ada suara ledakan yang langsung menggelegar. Dari kejauhan, bagian bawah lambung kapal Gorgon Star mendadak memancarkan pendar cahaya jingga yang sangat terang dari dalam air, itu adalah efek dari thermite yang melelehkan baja lambung kapal bagai mentega. Dua detik kemudian, hawa panas ekstrem itu menyentuh tangki solar utama.
BOOOM!!!
Ledakan sekunder yang luar biasa dahsyat mengguncang Pelabuhan Utara. Bola api raksasa berwarna merah darah membubung tinggi ke langit malam, merobek badai hujan dan menerangi seluruh perimeter pelabuhan dengan kilatan yang membutakan. Kekuatan ledakan itu membelah bagian belakang kapal kargo menjadi dua, memicu rangkaian ledakan berantai dari amunisi kaliber 5.56 di dalam kontainer yang mulai berderit dan meletup-letup bagai kembang api neraka.
Jerit panik dan sirene darurat pelabuhan langsung melengking membelah malam. Anak buah Gaizka yang berada di dermaga berhamburan menyelamatkan diri, beberapa terlempar oleh gelombang kejut ledakan ke atas aspal basah. Kapal Gorgon Star mulai miring dengan cepat, menelan ratusan miliar investasi senjata ilegal Gaizka ke dalam dasar laut yang berlumpur.
Dari atas perahu karetnya yang terombang-ambing oleh ombak sisa ledakan, Liam Jeren berdiri tegak. Cahaya kobaran api yang membakar kapal musuhnya terpantul dengan begitu indah di dalam lensa kacamata bening yang kembali ia kenakan. Wajah pualamnya yang tampan tidak menyiratkan kepuasan babi buta, melainkan sebuah kepuasan yang dingin, tenang, dan tanpa ampun.
"Ini baru permulaan, Paman," bisik Liam, suaranya rendah, tenggelam oleh suara gemuruh api di kejauhan.
Ia memutar mesin perahu karetnya, lalu berlayar membelah kegelapan malam menuju bunker rahasia, meninggalkan istana finansial Gaizka Wijaya yang malam ini resmi kehilangan salah satu pilar utamanya.