NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Aku Suka Om

Jantungku seperti lupa berdetak satu kali.

Kemudian ia membalas dengan detak yang terlalu cepat.

“Sekar?” Om Bram menurunkan tangannya. “Kenapa berhenti di sana?”

Aku memaksa kaki bergerak. Setiap langkah menuju mobil membuat senyumnya terlihat semakin jelas. Aku sudah melihat wajah itu saat marah, lelah, sakit, dan lega. Mengapa sore ini rasanya seperti melihat seorang laki-laki yang baru kukenal?

Dinda menyusul dari belakang sambil membawa kopi.

“Kar, jadi nggak ikut?”

“Nggak.”

Dia mengikuti arah tatapanku. “Itu yang sering kamu ceritakan? Om Bram?”

Aku mengangguk.

Dinda berhenti mengunyah sedotan. “Pantes.”

“Pantes apa?”

“Pantes kamu selalu pulang cepat kalau dia ada di rumah.”

Aku hendak menyangkal, tetapi dua mahasiswi di dekat gerbang berbisik cukup keras.

“Itu siapa? Ganteng banget.”

“Kayaknya jemput seseorang.”

Salah seorang merapikan rambut dan berjalan lebih lambat ketika melewati Om Bram. Dia tidak memandang mereka. Matanya tetap kepadaku.

Rasa panas yang aneh naik ke dada.

Dia datang untuk menjemputku.

Aku tidak suka perempuan lain memperhatikannya.

Kesadaran itu menghantam lebih keras daripada detak jantungku. Ini bukan rasa terima kasih. Bukan pula kegembiraan seorang anak melihat orang tua pulang. Aku ingin tatapannya tetap hanya kepadaku. Aku ingin tahu mengapa selama empat tahun tidak ada perempuan di sisinya. Aku ingin menjadi alasan dia tersenyum seperti itu.

Semua perubahan kecil yang kurasakan setelah melewati usia dewasa mendadak memiliki nama.

Aku menyukai Om Bram.

Bukan seperti anak kepada ayah.

Aku teringat malam-malam ketika kami berdebat karena aku ingin pulang naik angkot, lalu akhirnya sepakat berbagi lokasi. Cara dia menungguku memainkan piano sampai selesai meski dua nada salah. Pesan singkatnya setiap kali pesawat mendarat. Secangkir teh yang selalu ditinggalkan di meja saat aku belajar terlalu malam.

Perhatian itu memang dimulai sebagai tanggung jawab seorang wali. Namun perasaanku hari ini bukan muncul karena ingin diselamatkan lagi. Aku tidak sedang lapar, terluka, atau membutuhkan rumah. Aku punya kuliah, teman, rekening, dan pilihan sendiri. Di tengah hidup yang akhirnya kumiliki, aku tetap ingin memilih dia.

Pikiran itu terasa begitu jernih hingga aku mengira mengatakannya pasti akan membuat semuanya ikut jelas.

“Dinda,” bisikku.

“Ya?”

“Pulang dulu.”

Dia menatap wajahku. “Kamu mau ngapain?”

“Aku nggak tahu.”

“Kalau nggak tahu, jangan lakukan di depan gerbang.”

Dinda menarikku sedikit menjauh. “Kar, saya nggak tahu cerita lengkap kalian, tapi dia membesarkan kamu sejak SMA. Kasih dia waktu untuk memahami kalau kamu serius.”

“Kalau aku diam, dia akan terus melihatku sebagai anak kecil.”

“Bicara boleh. Jangan membuat keputusan karena cemburu pada orang yang bahkan nggak dia lihat.”

Aku tahu Dinda benar. Namun suara mahasiswi yang memuji Om Bram tadi telah membuka pintu yang selama ini kukunci. Di baliknya ada terlalu banyak perasaan untuk didorong masuk kembali.

Nasihat itu masuk ke telinga, tetapi tidak sampai ke kaki.

Om Bram membuka pintu penumpang. “Ayo. Mbok Nah menunggu makan malam.”

Aku berhenti di depannya.

“Om sengaja datang sendiri?”

“Rapat selesai lebih cepat.”

“Kenapa nggak menyuruh orang lain?”

“Sudah lama saya tidak menjemputmu.” Dia mengamati wajahku. “Kamu sakit?”

“Nggak.”

“Wajahmu merah.”

“Om.”

“Ya?”

Suara kendaraan, obrolan mahasiswa, dan penjual minuman seperti mundur jauh. Tanganku dingin meski udara Jakarta masih panas.

“Aku mau bilang sesuatu.”

Om Bram menutup pintu mobil lagi dan memberiku perhatian penuh. Kebiasaan itu, berhenti melakukan apa pun ketika aku bicara, justru membuat keberanianku hampir hilang.

Dinda berdiri beberapa langkah di belakang. Dia menggeleng kecil, menyuruhku menunggu.

Aku sudah terlalu lama menunggu keberanianku sendiri, meski baru hari ini benar-benar memahami apa yang ingin kukatakan.

“Om, aku suka Om.”

Om Bram tidak langsung bereaksi.

Aku memaksa diriku melanjutkan sebelum rasa takut menelan kata-kata berikutnya.

“Bukan suka seperti ke ayah. Bukan cuma karena Om menolong aku.” Suaraku bergetar. “Aku suka Om sebagai laki-laki.”

Senyum di wajahnya hilang.

“Sekar.”

“Aku sudah dua puluh. Aku tahu apa yang aku katakan.”

“Kita bicarakan di rumah.”

“Kalau di rumah, Om akan masuk ruang kerja dan bilang sedang sibuk.”

Beberapa orang mulai memperhatikan. Sebuah ponsel terangkat di dekat pos keamanan. Dinda mendekat dan menyentuh lenganku.

“Kar, cukup dulu.”

Namun panik sudah menguasai kepalaku. Aku melihat Om Bram hendak mundur dan merasa jika kubiarkan, jarak itu tidak akan pernah bisa kulewati.

Aku menangkap lengan kemejanya.

“Lihat aku, Om.”

“Saya melihatmu.”

“Bukan sebagai anak kecil.”

Aku berdiri berjinjit dan mencium bibirnya.

Hanya sesaat.

Tubuh Om Bram membeku. Dia tidak membalas, tidak mendekat, bahkan tidak mengangkat tangan untuk menyentuhku. Kesadaran bahwa aku telah mengambil sesuatu tanpa menunggu persetujuannya datang terlambat.

Dia memegang kedua bahuku dan memisahkan kami dengan gerakan lembut tetapi tegas.

“Jangan lakukan itu lagi.”

Rasa panas di wajahku berubah menjadi malu yang membakar.

Di sekeliling kami, percakapan berhenti. Dinda menatapku dengan campuran khawatir dan tidak percaya. Seseorang masih merekam.

“Maaf,” bisikku. “Aku salah karena langsung mencium Om. Tapi perasaanku nggak bohong.”

Om Bram melepaskan bahuku seketika, seolah memastikan sentuhannya tidak bisa disalahartikan.

POV Bram

Seluruh tubuhku masih kaku.

Sekar berdiri di depanku dengan mata basah, tetapi kata-katanya jelas. Dia sudah dewasa. Aku melihatnya setiap hari dan tahu itu. Namun di dalam pikiranku, dua gambaran bertabrakan: perempuan dua puluh tahun yang baru menyatakan cinta, dan anak enam belas tahun yang berdarah di depan mobilku.

Empat tahun terakhir bukan satu garis lurus. Aku melihatnya mendapatkan nilai pertama, gagal ujian mengemudi, pulang dari kegiatan kampus dengan suara serak karena terlalu banyak tertawa, dan berdebat dengan Fikri tentang memilih jurusan. Dia membangun hidup yang tidak lagi berpusat pada trauma.

Seharusnya aku senang menjadi bagian yang mengantarnya sampai di sini, lalu mundur ketika dia menemukan dunia yang lebih luas.

Namun mendengar dia memilihku menimbulkan rasa hangat yang tidak pantas kunikmati.

Ciuman singkat tadi tidak sempat kubalas. Tetap saja jantungku memukul terlalu keras, dan reaksi itu membuatku marah kepada diri sendiri.

Aku seharusnya hanya terkejut.

Tidak seharusnya ada bagian kecil dalam diriku yang ingin mengetahui bagaimana rasanya jika aku tidak mundur.

Pikiran itu harus berhenti sekarang.

“Masuk mobil,” kataku.

Sekar menggeleng. “Jawab dulu.”

“Bukan di sini.”

“Kalau Om cuma mau bilang aku bingung, aku nggak bingung.”

Dia selalu keras kepala ketika sudah merasa harus memperjuangkan sesuatu. Biasanya sifat itu membuatku bangga. Sore ini, sifat yang sama menempatkan kami di depan puluhan mata dan kamera.

Aku melihat mahasiswa yang merekam. “Tolong hentikan.”

Anak itu menurunkan ponsel, tetapi rekaman mungkin sudah tersimpan.

Aku mengenal cara kerja internet. Satu potongan tanpa konteks bisa mengubah pengakuan seorang perempuan menjadi hiburan, dan sejarah pengangkatan anak kami menjadi tuduhan yang lebih kejam. Besok, mungkin sebelum kami sempat bicara lagi, Sekar harus membaca komentar orang asing tentang hidupnya.

Sebagian diriku ingin membawa semua ponsel itu pergi. Namun aku tidak berhak menghapus keputusan Sekar atau memperlakukannya seperti anak yang tak mampu menanggung konsekuensi. Aku hanya bisa menghentikan adegan ini sebelum lukanya bertambah.

Dinda berdiri di samping Sekar. “Pak, saya bisa bawa Sekar ke dalam kampus dulu.”

“Tidak perlu.” Sekar tidak mengalihkan tatapan dariku. “Aku mau dengar jawabannya.”

Aku menarik napas.

Secara hukum, dia benar. Kewenangan waliku berakhir ketika dia dewasa. Dalam agama, anak angkat bukan mahram dan tidak menjadi anak kandung hanya karena keputusan pengadilan. Tidak ada larangan darah di antara kami.

Namun hukum bukan satu-satunya ukuran.

Aku yang mengajarinya percaya kepada rumah. Aku yang menandatangani surat sekolah dan duduk di luar kamar ketika dia sakit. Seluruh dunia mengenalku sebagai ayah angkatnya. Menerima perasaan itu sekarang terasa seperti memanfaatkan rasa aman yang kubangun sendiri.

Dan ada dua puluh tahun di antara usia kami.

Ketika dia tiga puluh, aku akan lima puluh. Ketika hidupnya seharusnya baru berkembang, tubuhku akan mulai menuntut batas. Dia pantas memiliki pilihan yang tidak dibentuk oleh rasa berutang kepada orang yang menyelamatkannya.

“Sekar, dengarkan saya.”

“Aku dengar.”

Aku ingin memilih kalimat yang tidak menghancurkannya. Tidak ada kalimat seperti itu.

“Apa yang kamu lakukan tadi melewati batas. Kamu sendiri sudah mengakuinya.”

Wajahnya memucat.

“Aku sudah minta maaf.”

“Saya menerima permintaan maafmu. Tapi jawaban saya tidak berubah.”

Aku tidak akan mempermalukannya karena satu tindakan impulsif, tetapi aku juga tidak boleh membiarkan batas persetujuan menjadi kabur hanya karena perasaannya tulus. Cinta tidak mengubah hak seseorang untuk memilih kapan dan bagaimana disentuh.

“Om bahkan belum pernah memikirkannya.”

Itu kebohongan. Dalam beberapa bulan terakhir aku beberapa kali menyadari dia bukan lagi anak kecil, lalu sengaja memalingkan pikiran sebelum memiliki bentuk.

“Tidak perlu dipikirkan.”

Air mata memenuhi matanya.

Aku menurunkan suara, berharap dunia di sekitar kami tidak mendengar kalimat yang seharusnya hanya menjadi milik keluarga.

“Ini salah, Sekar. Om dua puluh tahun lebih tua darimu.”

Dia masih menggenggam lenganku.

Aku memaksa diri menyelesaikannya.

“Om ayah angkatmu.”

Keheningan jatuh di antara kami.

Jemari Sekar perlahan terlepas dari lenganku dan jatuh ke sisinya.

Air matanya meluap, sementara seluruh gerbang kampus membeku bersama kata-kata yang tidak mungkin kutarik kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!