Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Bau kemenyan murah dan bunga melati putih yang mulai layu menyengat hidung Elara.
Ia membuka mata, menatap langit-langit batu yang asing, lalu menurunkan pandangannya ke arah tubuh sendiri. Ia mengenakan kain putih panjang seperti kain kafan? Bukan, ini lebih mirip gaun sutra putih polos tanpa bordir apa pun.
Elara mencoba duduk, dan sendi-sendinya berbunyi *krak* layaknya pintu gerbang yang berkarat. Ia mengerang pelan, memijat pelipisnya yang berdenyut. Memori dari dua kehidupan yang berbeda baru saja bertabrakan di kepalanya dengan kasar.
Ia terjebak di dalam novel.
Bukan sebagai sang Putri Mahkota yang cerdas dan ambisius. Bukan pula sebagai Selir Utama yang jahat dan manipulatif.
Elara adalah Elara von Clervant, Selir Tingkat Enam dari Kerajaan Aethelgard. Dalam novel Mahkota Duri dan Darah yang tebalnya seribu halaman itu, Elara si tokoh asli hanya memiliki tiga baris dialog, dan semuanya terjadi di Bab 3.
“Yang Mulia, teh Anda…”
“Maafkan hamba…”
“Tolong… sakit…”
Itulah dialognya. Dan setelah mengucapkan kalimat terakhir itu, Elara yang asli mati keracunan. Racun itu seharusnya dituangkan oleh Selir Kedua ke dalam cangkir tehnya, sebuah insiden kecil yang tujuannya hanya untuk menunjukkan betapa kejamnya istana dan memicu air mata sang Putri Mahkota (tokoh utama wanita) yang merasa bersalah karena tidak sempat menyelamatkan Elara.
“Jadi… aku baru saja bangkit dari kematian?” gumam Elara serak. Suaranya terdengar seperti orang yang tidak minum selama tiga hari.
Ia melihat sekeliling. Ia berada di Ruang Kematian Istana, sebuah ruangan dingin di sayap barat yang digunakan untuk memandikan mayat sebelum upacara pemakaman. Di sudut ruangan, terdapat sebuah nampan berisi buah-buahan dan kue-kue yang konon adalah bekal untuk arwah yang akan berangkat ke alam baka.
Perut Elara berbunyi nyaring.
Ah, racun itu pasti sudah dinetralisir oleh sistem kekebalan tubuhku yang baru, batinnya. Atau mungkin karena aku terlalu malas untuk mati.
Bagi Elara, kematian adalah hal yang merepotkan. Hidupnya di dunia sebelumnya sudah cukup melelahkan sebagai karyawan korporat yang setiap hari lembur. Sekarang ia diberi kesempatan kedua, satu-satunya ambisinya adalah menjadi ikan asin. Ia ingin tidur, makan, dan menghindari matahari serta orang-orang berambisi.
Menuntut balas? Melaporkan pada Kaisar bahwa ia diracun?
Tidak, terima kasih, pikir Elara sambil menguap lebar. Jika aku melapor, aku harus berurusan dengan investigasi, interogasi, dan amarah Kaisar. Itu berarti aku tidak bisa tidur siang selama seminggu. Lagipula, aku bahkan terlalu malas untuk melafalkan ulang dialogku yang menyedihkan itu.
Tiba-tiba, pintu kayu berat di ujung ruangan berderit terbuka.
Seorang pelayan muda masuk membawa baskom air hangat dan handuk. Pelayan itu yang dalam memori Elara bernama Nira sedang menundukkan kepala, bersiap untuk memandikan "jenazah" Selir Tingkat Enam yaitu dirinya.
Namun, ketika Nira mengangkat kepalanya dan melihat Elara yang sedang duduk di atas meja batu sambil mengunyah buah anggur dari nampan persembahan, pelayan itu menjerit.
“Aaaa! Hantu! Selir Elara jadi hantu!” Nira menjatuhkan baskomnya. Air hangat tumpah membasahi lantai batu.
Elara mengunyah anggurnya dengan santai, menelan, lalu berkata dengan nada datar, “Tolong ambilkan kain lap. Lantai jadi basah. Nanti aku terpelesat, dan aku baru saja bangun dari kematian. Tidak ingin mati lagi karena terpeleset.”
Nira membeku. Matanya membelalak ketakutan, tubuhnya gemetar hebat. “Y-Yang Mulia.. Anda.. Anda tidak mati?”
“Tampaknya tidak,” jawab Elara sambil meraih sebuah kue lapis. “Rasanya racunnya agak basi. Lain kali kalau mau meracun, bilang saja pada koki untuk memakai bahan yang lebih segar.”
“Tapi… Tabib Istana menyatakan Anda sudah tidak bernapas! Jantung Anda berhenti!”
“Mungkin aku hanya tidur sangat nyenyak,” Elara menyeka sudut mulutnya. Ia menatap Nira yang masih gemetar. “Dengar, Nira. Aku tidak mau repot. Kau akan melapor ke Kepala Pelayan bahwa aku tidak mati. Aku hanya pingsan karena kecapekan. Atau keracunan makanan ringan. Terserah kau karang apa.”
“T-tapi… Selir Kedua yang meracun Anda! Kita harus melapor pada Kaisar!”
Elara menatap Nira tajam, membuat pelayan itu terdiam.
“Jika kita melapor, apa yang akan terjadi?” tanya Elara pelan.
“K-Kaisar akan murka… Selir Kedua akan dihukum…”
“Dan aku?” potong Elara. “Aku akan dipindahkan ke istana utama. Aku akan diinterogasi. Aku akan dipaksa menghadiri perjamuan sebagai 'korban yang selamat' dan menjadi pusat perhatian. Aku akan menjadi target Selir Kedua dan faksi-faksi lainnya.”
Elara menghela napas panjang, bahunya turun karena kelelahan membayangkan skenario itu. “Aku tidak ingin ikut campur. Aku tidak ingin balas dendam. Aku hanya ingin dipindahkan ke Paviliun Angin Barat yang sudah lama kosong itu. Katap di sana sepi, banyak pohon willow, dan tidak ada yang peduli. Pindahkan aku ke sana. Sebagai gantinya, aku tidak akan pernah merepotkanmu lagi.”
Nira ternganga. Ia tidak pernah melihat seorang selir yang nyaris dibunuh justru meminta diasingkan ke paviliun terpencil hanya karena… malas?
“T-tapi Yang Mulia, Paviliun Angin Barat itu dingin dan jauh dari kamar mandi…”
“Bagus. Aku suka tidur dalam keadaan dingin,” potong Elara. “Sekarang, tolong bantu aku turun dari meja ini. Kakiku kram.”
Sebelum Nira sempat bergerak membantu, langkah kaki yang berat dan berirama terdengar dari luar koridor. Suara langkah itu disertai dentingan pedang dan aura yang begitu menekan hingga udara di ruangan itu seolah menipis.
Pintu Ruang Kematian didobrak terbuka hingga menabrak dinding.
Di ambang pintu, berdiri sosok tinggi dengan jubah hitam bersulam benang emas. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang keras, namun matanya sedingin es kutub.
Kaisar Lucian. Penguasa Aethelgard yang dikenal kejam dan tidak memiliki belas kasihan.