Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Kehilangan Sepenuhnya
"Mama!"
Suara Lina bergetar. Matanya dipenuhi air mata. Namun, Mela hanya menghela napas pelan. Lalu, dengan perlahan ia mendorong Lina, hingga pelukannya terlepas.
Gerakan itu tidak kasar. Namun, cukup membuat Lina membeku.
"Jangan panggil aku begitu," seru Mela dengan suara tajam dan dingin. "Aku bukan Mama mu."
Rahman langsung tertegun. "Apa maksud kamu berkata seperti itu, Mel?"
Dyah pun membelalak tidak percaya. Sedangkan Lina langsung menunduk dengan tubuh gemetar.
"Mela!" Rahman maju selangkah. "Lina anak kandungmu! Dia putri kita. Bagaimana bisa kamu berkata, kamu bukan Mama nya?"
Mela langsung menatap Rahman dengan tatapan tajam.
"Aku tahu. Tapi, saat dia memilih wanita lain dan memanggilnya mama... " Suara Mela mulai bergetar, meski ia berusaha tetap tenang. "Saat dia membandingkan ku dengan wanita simpananmu... "
Tangannya perlahan mengepal. "Apa kamu tahu, seberapa hancurnya hatiku?"
Hening sesaat. Lalu, Dyah langsung menyela.
"Tapi, kamu juga nggak bisa bilang kamu bukan ibunya! Itu kejam namanya."
Mela tertawa sinis. "Kejam?" Ia menatap Dyah lurus. "Iya, aku ibu kandung Lina. Aku menyayanginya. Bahkan, aku rela mempertahankan rumah tangga itu bertahun-tahun demi dia."
Mela menarik napas panjang. "Tapi, saat dia lebih memilih wanita lain... Saat dia dengan bangga memanggil Camila mama... Apa kalian tahu bagaimana rasanya, hah?"
Lina langsung menangis. "Mama..."
"Jangan!" potong Mela cepat. "Aku belum selesai."
Tatapannya kini beralih pada Dyah. "Dan, Anda... "
Mata Dyah langsung bergerak gelisah.
"Aku masih ingat saat hari perceraian itu." Suara Mela berubah dingin dan tajam. "Bagaimana anda memuji-muji Camila. Mengatakan dia lebih pantas menjadi menantu Anda. Bahkan, menyuruh Lina memanggilnya mama."
Dyah langsung pucat. Semua ucapan yang dulu terasa biasa, kini kembali menghantam dirinya sendiri.
Mela kembali menatap Rahman sambil tersenyum tipis, senyum yang penuh luka.
"Sekarang, kamu bilang, aku ibu kandung Lina. Tapi, setelah aku pergi, apa kamu pernah mencari tahu kabarku? Apa kamu tahu keadaan ku?"
Rahman langsung diam.
"Apa Lina pernah menghubungiku?"
Lina menggigit bibir keras. Air matanya jatuh semakin deras.
"Tidak," seru Mela. "Semua itu tidak pernah terjadi karena saat itu, kalian terlalu sibuk hidup bahagia bersama Camila. Sedangkan, aku berjuang sendirian."
Mela menatap hamparan lahan hijau. Pandangannya menerawang jauh, kembali di masa-masa ia rapuh.
"Aku pulang ke desa tanpa siapa-siapa," lirihnya. "Aku memperbaiki rumah ini sendiri. Aku belajar bertahan hidup sendiri. Aku mengobati hati yang hancur sendiri."
Mata Mela mulai memerah namun, air matanya tidak jatuh.
"Sementara kalian?" Ia tertawa lirih. "Kalian sedang menikmati hidup mewah kalian. Bersenang-senang bersama keluarga baru kalian."
Rahman menunduk dalam. Dadanya terasa sesak karena semua yang dikatakan Mela benar.
Ia tidak pernah mencari Mela. Ia terlalu sibuk membangun hidup bersama Camila sampai lupa, siapa yang dulu membangun hidupnya dari awal.
Mela menatap mereka satu per satu.
"Tapi, sekarang keadaan berbalik. Kalian kehilangan semuanya dan, aku punya segalanya." Mela kembali tertawa pelan. "Dan kalian datang ke sini, berharap aku menerima kalian begitu saja setelah apa yang kalian lakukan padaku?"
Tidak ada yang bisa menjawab..Bahkan Dyah, yang dulu paling keras merendahkan Mela, kini hanya bisa menunduk malu. Sedangkan, Lina terus menangis.
"Mama, maaf..."
Mela tidak lagi goyah karena luka yang mereka tinggalkan tidak pernah benar-benar sembuh. Dan, mereka baru menyadari besarnya luka itu setelah semuanya terlambat.
Darmi dan yang lain ikut terdiam. Tidak ada yang menyangka, Mela menyimpan luka sedalam itu.
Suasana di lahan semakin menegang. Udara terasa sesak. Bahkan, suara angin seolah ikut menghilang.
Lina masih menangis. Sedangkan Rahman terus menatap Mela dengan wajah penuh penyesalan.
"Mela!"
Suara pria itu melemah. Tidak lagi setinggi dulu. Tidak lagi penuh wibawa seperti saat menjadi pengusaha sukses.
"Kamu boleh membenciku. Aku memang pantas menerima semua kemarahan mu." Rahman menunduk sebentar sebelum kembali menatap Mela. "Tapi, jangan hukum Lina."
Mela diam dengan tatapan dingin.
"Semua ini salahku." Rahman melangkah pelan, berusaha mendekat lagi. "Aku yang menghancurkan keluarga kita. Aku yang membawa Camila masuk ke hidup kita. Tapi, Lina... "
Suara Rahman mulai serak, "dia masih kecil, Mel."
Lina menangis semakin keras. "Mama, Lina salah!"
Rahman kembali bicara cepat, seolah takut kehilangan kesempatan.
"Kamu ingat, kan?" Rahman tersenyum pahit. "Waktu kamu keguguran."
Tatapan Mela sedikit berubah. Tubuhnya menegang.
"Kita sama-sama hancur waktu itu." Rahman menatapnya lekat. "Kamu menangis tiap malam. Dan, kita menunggu cukup lama sampai akhirnya Lina lahir."
Senyum tipis muncul di bibir Rahman. "Kamu bahkan nggak mau tidur karena terus menggendong Lina."
Mela tetap diam. Tangannya mengepal kuat di balik tubuhnya. Ia ingat semua perjuangan panjang itu.Tangisan itu, harapan itu... Dan, justru karena itulah, saat Lina memilih Camila, membuat semuanya terasa jauh lebih menyakitkan.
"Aku tidak pernah berhenti menyayangi Lina," ucap Mela akhirnya.
Rahman langsung menatap penuh harap.
"Tapi, rasa sayang tidak menghapus luka," seru Mela.
Senyum Rahman perlahan memudar.
"Mela... "
"Aku sudah memaafkan kalian. Tapi, itu tidak berarti aku harus kembali."
Rahman membeku.
"Aku sudah susah payah membangun hidupku lagi," lanjut Mela. "Aku tidak mau kembali ke masa lalu."
Dyah yang sejak tadi diam, akhirnya tidak tahan lagi. "Jadi, kamu benar-benar mau membuang anak kandungmu sendiri?!"
Mela langsung menatap Dyah. "Aku tidak membuang siapa pun. Tapi, kalian juga tidak pernah menganggap ku bagian dari keluarga itu lagi sejak lama."
Dyah berdecak kesal. "Kamu ini wanita paling kejam yang pernah Mama lihat! Kamu benar-benar tega, Mel."
Bahkan Dyah mulai menunjuk Mela dengan marah. "Mama akan bilang pada semua orang bagaimana kejamnya kamu!" serunya tajam, penuh ancaman. "Kamu tidak mengakui darah dagingmu sendiri!"
Darmi langsung maju dengan wajah kesal. "Heh, jangan ngomong sembarangan. Yang bikin semua ini siapa dulu?!"
Namun, Mela mengangkat tangan, menghentikan Darmi. Tatapannya tetap tenang. "Aku tidak takut."
Dyah tertegun.
"Kalau anda mau bicara pada dunia, silakan. Aku sudah melewati fitnah yang lebih buruk dari itu," lanjut Mela.
Dyah langsung bungkam.
Dan, tepat di saat suasana memanas, suara seseorang terdengar dari belakang.
"Kalau bicara itu, yang benar."
Semua orang menoleh, melihat seorang pria berjalan mendekat. Tubuhnya tinggi, tatapan tenang, wajah tegas.
Rahman langsung membeku. Ia mengenal pria itu.
Dino, teman masa muda Mela. Pria yang dulu diam-diam menyukai Mela. Dan, orang yang sengaja ia singkirkan dengan kebohongan.
Dino berdiri tepat di depan Mela. Posisinya jelas, melindungi wanita itu.
Rahman mengepalkan tangan pelan. Sedangkan Dyah langsung berdecak sinis.
"Oh, pantas saja kau tidak mau menerima kami." Tatapannya menusuk Mela. "Jadi, ini alasannya?"
Rahman tersenyum pahit. Tatapannya jatuh pada tangan Dino yang menggenggam erat tangan Mela.
Tidak ada penolakan. Justru, Mela membalas genggaman itu erat
Dino langsung menatap Rahman dingin. Namun, sebelum ia bicara, Mela melangkah maju lebih dulu.
"Jangan menyeret Dino ke masalah ini. Dan, jangan menjadikan Lina sebagai alasan untuk memaksaku kembali."
"Sulit di percaya," seru Dyah tajam. "Kamu lebih memilih laki-laki lain daripada anakmu sendiri?"
Dino menaikkan sudut bibirnya. "Anakmu saja lebih memilih selingkuhan nya daripada istri sahnya. Bahkan, kamu dan cucumu juga. Lalu, kenapa Mela tidak boleh melakukan hal yang sama?"
"Kamu... " Dyah menggeram, menahan rasa kesal.
"Sudahlah, lebih baik kalian pergi," ucap Mela.
Rahman terdiam. Ia menatap Mela dan Dino bergantian, lalu tersenyum kecut. Kini, ia benar-benar telah kehilangan Mela sepenuhnya.
klo cs bisa kontrak lagi, kak mutz bakalan bikin cs lagi apa tetep konsisten di novel kak??
bukan muhrim ya Mel ya 👀👀
aku suka kacang rebus plus minum teh