Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pria itu bernama Raka dan wanita di sebelahnya bernama Siska.
Mereka berdua sedang memakan sebungkus nasi bungkus berdua dengan sangat rakus.
"Mas Raka, kau dengar apa yang dibicarakan oleh ibu-ibu berdandan norak di depan sana itu?"
Siska menyenggol lengan suaminya dengan sikutnya yang kurus.
"Dia bilang bayi perempuan yang dibuang tujuh tahun lalu di Hutan Larangan."
Gerakan tangan Raka yang sedang menyuapkan nasi langsung terhenti seketika.
Mata pria itu membelalak lebar dan jantungnya mulai berdebar dengan sangat kencang.
"Tujuh tahun lalu di batas Hutan Larangan, keranjang bambu kecil."
Raka menggumamkan kata-kata kunci itu dengan bibir yang bergetar hebat.
"Itu persis sekali dengan waktu dan tempat kita membuang anak pembawa sial itu dulu, Siska."
"Jangan-jangan anak perempuan yang sedang disembah satu desa itu adalah darah daging kita sendiri."
Prang.
Siska tanpa sengaja menyenggol gelas kaca di mejanya hingga jatuh pecah berkeping-keping di lantai.
Suara pecahan kaca itu langsung membuat semua orang di warung menoleh ke arah mereka berdua.
"Maaf, kami akan mengganti gelasnya."
Raka buru-buru berdiri dan menarik tangan Siska untuk mendekati meja Bu Rini.
Pria lusuh itu menatap Bu Rini dengan pandangan mata yang sangat tajam dan lapar.
"Maaf mengganggu obrolan seru kalian, Bu."
Raka menelan ludahnya dengan susah payah mencoba menata suaranya agar terdengar ramah.
"Tadi saya tidak sengaja mendengar cerita tentang anak buangan yang bisa membawa keberuntungan itu."
Bu Rini mengerutkan keningnya melihat penampilan Raka dan Siska yang sangat berantakan layaknya pengemis.
"Lalu apa urusannya cerita itu dengan kalian berdua, heh?"
"Kalian ini terlihat seperti orang yang sedang dikejar-kejar oleh penagih utang saja."
Tebakan Bu Rini memang sangat tepat sasaran mengenai kondisi mereka saat ini.
Raka dan Siska memang sedang terjerat utang judi yang sangat besar pada rentenir pasar kota.
Mereka bahkan sudah tidak punya rumah lagi dan harus tidur menggelandang di emperan toko setiap malam.
"Cerita ibu itu sangat penting bagi hidup kami."
Siska langsung memegang tangan Bu Rini dengan erat dan air mata palsu mulai mengalir di pipinya.
"Bayi perempuan malang yang dibuang tujuh tahun lalu itu adalah anak kandung kami yang hilang, Bu."
Pernyataan dari wanita lusuh itu bagaikan petir di siang bolong bagi Bu Rini dan pengunjung warung lainnya.
"Apa kau bilang?"
Bu Rini menarik tangannya dengan cepat karena merasa jijik dipegang oleh orang kotor.
"Kalian ini orang tua kandung dari anak aneh bernama Natasya itu?"
"Jadi nama anak kami sekarang adalah Natasya?"
Raka berpura-pura menangis dan mengusap wajahnya dengan gaya yang sangat meyakinkan.
"Dulu kami tidak membuangnya, Bu, tapi keranjangnya dicuri oleh orang jahat saat kami sedang mencari kayu bakar di dekat hutan."
Tentu saja itu adalah kebohongan besar yang langsung dikarang oleh Raka secara spontan.
Ia tidak mungkin mengakui bahwa mereka membuang anak itu karena kemiskinan di depan orang banyak.
Bu Rini menatap sepasang suami istri itu dengan otak kelicikannya yang mulai bekerja dengan sangat cepat.
"Ini adalah kebetulan yang sangat sempurna dari Tuhan untuk membalas kesombongan keluarga Arga."
Bu Rini membatin di dalam hatinya dengan senyuman miring yang mulai mengembang di bibirnya.
"Kalau orang tua kandungnya datang untuk meminta hak asuh, Arga dan Mira tidak akan bisa berbuat apa-apa."
"Kasihan sekali nasib kalian berdua ini rupanya."
Bu Rini mengubah nada suaranya menjadi sangat iba dan bersahabat.
"Kalian pasti sudah sangat menderita berpisah dengan anak kandung kalian selama tujuh tahun penuh."
"Kami sangat menderita, Bu, setiap hari kami terus mencari anak kami ke mana-mana."
Siska melanjutkan sandiwaranya dengan menangis sesenggukan di bahu Raka.
"Tolong beritahu kami di mana letak desa ibu itu, kami ingin segera menjemput anak kami dan membawanya pulang."
Di dalam hatinya, Siska sedang bersorak-sorai merayakan jalan keluar dari kemiskinan mereka.
Jika anak itu benar-benar dipuja dan punya kekuatan ajaib, mereka bisa memanfaatkannya untuk melunasi semua utang.
Bahkan mereka bisa menjadi orang paling kaya di kota ini jika berhasil menjual keajaiban anak itu pada orang kaya.
"Desaku tidak terlalu jauh dari kota ini, namanya Desa Cempaka di dekat batas hutan."
Bu Rini memberikan petunjuk arah dengan sangat jelas tanpa ada niat untuk menyembunyikannya sama sekali.
"Keluarga yang mengambil anak kalian itu bernama Arga, rumahnya ada di paling ujung jalan desa."
"Terima kasih banyak, Ibu yang baik hati."
Raka membungkukkan badannya berkali-kali dengan senyum licik yang tersembunyi di balik wajah memelasnya.
"Kami tidak akan pernah melupakan jasa ibu yang sudah mempertemukan kami dengan anak kami lagi."
"Sama-sama, sudah sepantasnya seorang anak itu hidup dan mengabdi pada orang tua kandungnya sendiri."
Bu Rini membalas dengan senyuman penuh racun yang sama liciknya.
Wanita penggosip itu lalu meletakkan beberapa keping uang koin di meja untuk membayar tehnya dan langsung pergi.
Tujuannya datang ke kota ini sudah tercapai dengan hasil yang jauh di luar dugaannya.
Ia tidak sabar ingin melihat wajah hancur Arga dan Mira saat anak kesayangan mereka direbut paksa oleh orang tua kandungnya.
Sepeninggal Bu Rini, Raka dan Siska saling berpandangan dengan mata yang berbinar-binar penuh keserakahan.
"Kau dengar itu, Siska?"
Raka berbisik pelan pada istrinya sambil mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
"Anak pembawa sial yang dulu kita buang itu sekarang ternyata sudah berubah menjadi tambang emas yang sangat berharga."
"Ternyata keputusan kita untuk membuangnya ke hutan dulu membuahkan hasil yang bagus, Mas Raka."
Siska membalas bisikan suaminya dengan tawa kecil yang terdengar sangat jahat dan tidak punya hati nurani.
"Anak itu pasti sudah diajari ilmu sihir oleh monster hutan sana sehingga dia bisa dicari oleh banyak orang sekarang."
"Kita harus pergi ke Desa Cempaka itu secepatnya, Siska."
Raka menarik tangan istrinya dan berjalan keluar dari warung kopi dengan langkah yang sangat tergesa-gesa.
"Kita harus merebut hak asuh anak itu bagaimanapun caranya dan memanfaatkan kekuatannya untuk melunasi utang kita pada Bos Preman pasar."
"Bagaimana kalau pria bernama Arga itu menolak menyerahkannya pada kita?"
Siska bertanya dengan sedikit kekhawatiran saat mereka berjalan menembus keramaian pasar kota.
"Kudengar orang desa biasanya punya senjata tajam dan mereka sangat kompak kalau ada masalah."
"Kita ini adalah orang tua kandungnya secara darah, Siska, hukum manusia mana pun pasti akan memihak pada kita."
Raka menjawab dengan nada yang sangat percaya diri dan penuh dengan kelicikan seorang penjudi.
"Kalau mereka menolak, kita bisa melapor pada kepala desa mereka atau bahkan membawa preman pasar untuk mengancam keluarga miskin itu."
Rencana jahat itu sudah tersusun sangat rapi di dalam kepala Raka dan Siska.
Mereka sama sekali tidak peduli dengan perasaan anak yang dulu mereka buang untuk mati kelaparan di tengah hutan buas.
Yang ada di otak mereka hanyalah uang, kekuasaan, dan jalan pintas untuk hidup mewah tanpa harus bekerja keras.
Di saat yang sama, Natasya yang sedang duduk di dalam rumahnya tiba-tiba merasakan firasat yang sangat tidak enak.
Angin siang yang berhembus masuk dari celah jendela terasa sangat dingin dan membuat bulu kuduknya merinding.
"Kenapa perasaanku tiba-tiba jadi sangat gelisah begini ya?"
Gadis kecil itu memegangi dadanya yang mendadak berdebar dengan ritme yang tidak nyaman.
"Pasti ada sesuatu yang sangat buruk sedang datang menuju ke arah desa ini."
Natasya menatap langit siang yang terang benderang dengan tatapan kosong.
Meskipun ia memiliki kemampuan mengendalikan hewan buas yang mematikan dari Hutan Larangan.
Namun menghadapi keserakahan dan kelicikan dari bangsa manusia sejenisnya adalah pertarungan yang sama sekali berbeda.
Sebuah badai besar dari masa lalu sedang bergerak dengan sangat cepat menuju kehidupan damainya.
Dan kali ini, keluarga angkat yang sangat ia sayangi akan menjadi tameng pertama yang harus terluka demi melindunginya.
itu si Arya boleh ku lempar ke jurang tanpa dasar gak sih, sombong dan songong banget dia, bisanya mengeksploitasi hutan dan desa itu, seenak jidatnya kau minta pajak 80%, ayo Natasya, buat seluruh prajurit, komandan, dan juga Arya itu ketakutan dan juga buat mereka tidak punya apa-apa lagi dan tidak bisa apa-apa lagi Natasya/Determined/
bodo ah...😂😂😂🤭