Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.
Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.
Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.
PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERJERAT JANJI KELAM
# PELET LAKNAT 2
## Bab 13: Terjerat Janji Kelam
Keheningan kembali menyergap ruangan sempit berdinding kayu itu. Asap kemenyan meliuk-liuk makin tebal, mengaburkan pandangan dan membuat napas Jaka terasa makin sesak. Peringatan Mbah Usman menggema berulang kali di dalam kepalanya, seolah memanggil sisa-sisa nuraninya untuk segera melangkah mundur.
Namun, di tengah kegoyahan batin itu, bayangan penolakan Dea serta tatapan jijik gadis itu terlintas kembali di ingatan Jaka. Seketika, emosinya yang sempat meredam meledak meluap-luap, membakar habis rasa ragu yang tersisa di dadanya.
Napas Jaka memburu, matanya memerah menahan amarah. Jemarinya mencengkeram erat lututnya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa takut yang tadinya menggerogoti pikiran seketika sirna, tergantikan oleh dendam yang kian membara di dalam dadanya.
Sementara itu, Kiki yang duduk di samping Jaka mulai merasa tidak tenang. Biasanya, Mbah Usman hanya melayani pelet-pelet ringan tanpa peringatan mencekam seperti ini. Mendengar nada bicara Mbah Usman yang begitu menekan, Kiki sadar ilmu yang akan dikeluarkan sang dukun kali ini bukanlah main-main. Ia mengusap telapak tangannya yang mulai berkeringat dingin ke celana.
"Saya sanggup, Mbah! Saya siap terima apa pun risikonya, asal Dea bisa jadi milik saya!" tegas Jaka dengan suara bergetar, namun sarat akan ketetapan hati yang sudah terbutakan obsesi.
Mendengar Jaka begitu cepat menyanggupi tanpa tahu apa syaratnya, Kiki seketika terperanjat. Ia lantas menyikut kencang lengan Jaka—berharap sahabatnya itu menahan diri dan berpikir jernih dulu.
"Ih, apaan sih kamu, Ki!" seru Jaka dengan nada jengkel seraya melirik tajam ke arah Kiki.
Sayangnya, peringatan terselubung itu sama sekali tak dipahami oleh Jaka. Dengan mata yang sudah terbutakan dendam, ia begitu saja mengabaikan isyarat sahabatnya.
"Jak, jangan gegabah dulu! Tanyakan dulu syaratnya apa, jangan asal main sanggup aja!" gumam Kiki dalam hati seraya menatap cemas ke arah Jaka.
Sementara itu, Mbah Usman hanya tertawa pelan—sebuah kekehan berat yang terasa menggetarkan dada. Ia mengangguk-angguk puas seraya mengusap janggut putihnya yang panjang, menatap Jaka dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. Nyala obor di sudut ruangan berkedip pelan, membuat bayangan wajahnya yang keriput ikut bergoyang mengerikan di dinding kayu.
"Bagus... keberanianmu membuat Simbah kagum, Nak," ucap Mbah Usman seraya bergeser sedikit mendekati altar kayu di hadapannya.
Karena Jaka tidak kunjung peka dengan kode halusnya, Kiki akhirnya terpaksa angkat bicara.
"Tunggu dulu, Mbah! Apa tidak ada pelet lain yang lebih ringan?" tanya Kiki bergegas memotong, seraya menggeser duduknya mendekat ke arah altar.
Mendengar pertanyaan itu, Mbah Usman kembali terkekeh pelan. "Hahaha! Sebaiknya kamu tidak usah ikut campur. Ini urusan Simbah dan temanmu. Lagipula, temanmu sudah menyanggupi ketentuan ini," sahut Mbah Usman seraya menatap tajam ke arah Kiki—tatapan dingin bertabur ancaman seakan tahu Kiki bisa menjadi penghalang rencananya.
Tepat saat Kiki membuka mulut hendak melontarkan protes keras, Jaka dengan cepat memotongnya.
"Sudah, Ki! Kamu diam saja, ini urusanku! Tugasmu mengantarku ke sini sudah selesai, jadi kamu tidak usah ikut campur!" tegur Jaka tegas, menatap tajam sahabatnya sendiri tanpa rasa ragu sedikit pun.
"Sudah, mending kamu sekarang tunggu di luar saja, jangan mengganggu aku!" pinta Jaka dingin.
Alih-alih mendengarkan saran bijak Kiki, Jaka malah mengusir sahabatnya sendiri. Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Kiki terpaksa bangkit dan melangkah keluar dengan hati bergemuruh kesal.
Setibanya di luar gubuk yang dingin, Kiki menatap pintu kayu kusam di hadapannya dengan napas memburu. Angin malam yang menerpa wajahnya sama sekali tak mampu mendinginkan kekesalan yang membara di dadanya.
"Bodoh... bodoh kamu, Jaka!" gerutu Kiki pelan namun penuh penekanan seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Sementara Kiki meluapkan kekesalannya di luar gubuk, suasana di dalam rumah tua itu justru terasa semakin mencekam dan tegang. Bau kemenyan makin tebal menusuk hidung, seolah-olah mengikat udara hingga terasa kian berat.
"Bagus... bagus! Tindakanmu sangat tepat, Nak. Temanmu itu hanya akan jadi penghalang bagi niat besarmu!" seru Mbah Usman dengan kekehan serak yang bergema pelan di sudut-sudut ruangan.
Jaka tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala, meresapi setiap kata yang diucapkan sang dukun tua seolah-olah itu adalah kebenaran mutlak.
Sebelum Mbah Usman sempat melanjutkan ucapannya, Jaka dengan sigap meraih kantong kresek hitam yang sedari tadi ia pegang erat. Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan kantong berisi foto Dea, sebungkus kemenyan, dan berbagai jenis kembang setaman yang sudah ia siapkan dari rumah.
Melihat benda-benda tersebut disodorkan di atas altar, senyum Mbah Usman makin melebar—sebuah senyuman penuh kepuasan melihat targetnya masuk ke dalam perangkap kegelapan dengan begitu mudah.
Lantas Mbah Usman mengeluarkan lembaran foto dari dalam kantong kresek hitam tersebut dan menatapnya lekat-lekat. Pendar cahaya obor menimpa paras cantik Dea di dalam foto itu, membuat bayangan jemari keriput sang dukun yang memegang foto itu tampak seperti cakar di dinding kayu di belakangnya.
"Mmm... jadi ini wanita yang kamu incar? Cantik... tidak heran kamu sampai tergila-gila padanya," gumam Simbah lirih seraya mengangguk-angguk pelan, menyunggingkan senyum misterius.
"I-iya, Mbah. Itu wanita yang aku suka, namanya Dea," sahut Jaka gugup, tenggorokannya mendadak terasa kering.
"Tapi ingat, pelet ini tidak akan bekerja tanpa syarat dan pantangan yang sama sekali tidak boleh kamu langgar!" ucap Mbah Usman, suaranya mendadak berubah serius dan menekan, memecah hawa dingin ruangan.
"Apa syaratnya, Mbah?" tanya Jaka antusias, matanya berbinar penuh rasa penasaran yang teramat sangat.