NovelToon NovelToon
Dinikahi Anak Juragan

Dinikahi Anak Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah
Popularitas:29.3k
Nilai: 5
Nama Author: ntaamelia

Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.

Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.

Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.

Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Rumah Juragan Marta

Sesampainya di rumah Juragan Marta, keduanya langsung disambut dengan hangat, bahkan Laksmi sempat memeluk Diyah sesaat.

"Selamat datang di rumah kami, sekarang rumah ini juga rumahmu, jadi jangan sungkan ya," ucap Laksmi dengan wajah sumringah.

"Terima kasih, Bude," jawab Diyah, ikut tersenyum. Dia merasa bahagia karena kehadirannya diterima dengan baik. Mbok Sum juga turut membantu dengan membawa barang-barang Diyah masuk ke dalam kamar.

"Biyakta sepertinya masih ingin ngobrol dengan ayahnya, jadi biar aku yang antar," ujar Laksmi sambil menggiring Diyah ke kamar yang akan ditempatinya.

Kamar yang dua kali lipat lebih luas, dengan ranjang king size, sofa panjang, lemari tinggi besar, dan meja rias yang memiliki cermin lebar. Diyah benar-benar dibuat takjub, seumur-umur dia tak pernah menyangka akan menginjakkan kaki di tempat ini, apalagi sampai memilikinya.

"Mbok, tolong bereskan pakaian Diyah ya, masukan ke lemari yang sama dengan pakaian Biyakta," titah Laksmi pada Mbok Sum yang sedari tadi mengekor.

"Siap, Nya," balas Mbok Sum, segera mengeluarkan pakaian-pakaian Diyah dari dalam tas.

"Tidak usah!" cegah Laksmi, saat Diyah ingin mendekati wanita paruh baya itu, dia tahu Diyah ingin membantu.

"Tapi, Bude."

Laksmi menggiring Diyah untuk duduk di sofa, di mana Diyah merasa terlempar ke tumpukan busa yang sangat empuk. Nyaman sekali.

"Nikmatilah semua fasilitas ini dengan baik, Diyah, kamu kan sudah jadi istri Biyakta. Kalau memang ada yang perlu kamu kerjakan, Bude juga pasti bilang," ujar Laksmi dengan wajah penuh kepura-puraan. Namun, Diyah yang belum mampu membacanya hanya mengangguk sambil terus mengulum senyum. Diyah tak sadar bahwa Laksmi tak ubahnya seperti seekor ular berbisa yang kapan saja bisa menyergapnya.

"Kalau begitu istirahatlah, nanti kalau makan malam sudah siap Mbok Sum akan memanggilmu."

Lantas Laksmi bangkit dari duduknya untuk pamit pergi. Setelah tak ada seorang pun selain dirinya, Diyah mencoba menelisik tiap sudut dari kamar ini, benar-benar seperti mimpi.

"Semoga aku bisa menemukan kebahagiaanku di rumah ini," gumam Diyah, meyakinkan hatinya bahwa pilihannya saat ini tidaklah salah.

****

Setelah makan malam selesai, Biyakta izin sebentar untuk ke ruang kerjanya. Jadi Diyah lebih dulu masuk ke dalam kamar, saat itulah Mbok Sum datang, dia mengetuk pintu beberapa kali sampai Diyah membukanya.

"Ada apa, Mbok?" tanya Diyah, padahal dia pikir yang datang adalah Biyakta.

Mbok Sum menyerahkan sesuatu ke tangan Diyah, berupa botol kecil yang isinya pil.

"Ini dari Nyonya Laksmi, Non. Katanya suruh diminum setiap hari di jam yang sama," papar Mbok Sum, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Laksmi barusan.

Dahi Diyah berkerut sambil memperhatikan botol yang ada di tangannya. Dari luar memang tertera bahwa benda tersebut adalah vitamin.

"Vitamin buat apa ya, Mbok?" tanya Diyah penasaran.

"Nyonya bilang supaya Non Diyah subur. Diminum ya, Non," jawab Mbok Sum, dia memang kurang mengerti, jadi iya-iya saja saat Laksmi memberi perintah.

Diyah manggut-manggut.

"Kalau begitu makasih ya, Mbok, sampaikan sama Bude," ujar Diyah, setelah itu Mbok Sum langsung turun lagi ke lantai bawah.

Tak lama kemudian Biyakta datang, tanpa mengetuk pintu atau memberi isyarat. Sehingga Diyah yang sedang berbaring langsung terlonjak dan duduk seketika.

"Mas sudah selesai?" tanya Diyah, Biyakta mengangguk lalu melangkah mendekati Diyah, membuat wanita itu jadi cukup gugup dan salah tingkah.

Biyakta duduk di sisi ranjang, menatap Diyah yang tiba-tiba enggan untuk menunjukkan wajahnya.

"Diyah ...." Suara mendayu itu sukses menggetarkan dada Diyah. Karena sampai detik ini Biyakta memang belum menyentuh dia seutuhnya.

"Iya, Mas?" jawab Diyah, lalu menggigit bibir bawahnya. Dahi Biyakta berkerut melihat tingkah istrinya.

"Kalau sedang diajak bicara, tatap lawan bicaramu!" ujar Biyakta mengingatkan, hingga Diyah perlahan mengangkat kepalanya dan tatapan mereka bertemu.

"Bagus. Boleh aku tanya sesuatu?"

Diyah mengangguk-angguk.

"Tanya apa?"

Biyakta tampak ragu. Namun, pertanyaan-pertanyaan terus berputar di kepalanya, membuat dia tidak fokus bekerja.

"Tadi pagi ..., aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan Sarmila."

Mendengar itu, mimik wajah Diyah langsung berubah. "Mas dengar?"

Biyakta mengangguk pelan.

"Cakra ...."

Nama itu terdengar begitu hati-hati keluar dari bibirnya.

"Apakah dia orang yang pernah kamu cintai?"

Diyah terdiam cukup lama. Lalu dia mengangguk. Suasana menjadi hening, tetapi Biyakta tidak menunjukkan kemarahan. Tatapannya justru dipenuhi rasa iba.

"Lantas apakah karena dia kamu menerima perjodohan ini?"

Diyah menegakkan tubuhnya. Dia menggeleng keras, karena tak mau Biyakta berpikir bahwa dirinyalah hanya sebuah pelarian.

"Tidak begitu, Mas!"

"Lalu?" Biyakta semakin menelisik, menghujani Diyah dengan tatapannya yang begitu lekat.

"Aku tidak pernah berniat membandingkan Mas dengan siapapun. Aku punya masa depan, sesuatu yang aku coba tata ulang, sampai akhirnya Mas datang, aku pikir inilah saatnya. Walaupun awalnya terpaksa, tapi aku coba meyakinkan hatiku bahwa langkahku tidak salah. Aku berharap Mas lebih baik dari dia," jawab Diyah pelan-pelan, supaya kata-katanya tak menyinggung Biyakta.

Pria itu tak memberikan respon yang begitu antuasias. Hanya sebuah helaan napas dan anggukan kecil. Lalu Biyakta berdiri, seolah pembicaraan selesai begitu saja, tapi Diyah mencegahnya dengan sebuah pertanyaan.

"Kalau Mas bagaimana? Apa alasan Mas setuju dijodohkan?"

Tak bisa bohong, Diyah juga sangat penasaran dengan jawaban Biyakta.

Dari balik badannya, Biyakta menarik sudut bibirnya. Dia menoleh ke arah Diyah. "Karena sudah waktunya. Bukankah kamu juga begitu?"

Diyah berkedip-kedip untuk mencerna ucapan suaminya. Akhirnya dia paham, Biyakta setuju karena memang usianya sudah cukup untuk menikah. Ya, cinta memang belum hadir di antara mereka.

"Aku mengerti, Mas. Tapi ... malam ini sepertinya belum bisa, aku datang bulan," ujar Diyah dengan polos, nyaris membuat Biyakta ingin meledakkan tawa.

"Memangnya malam ini kita mau melakukan apa?" goda Biyakta yang sukses membuat Diyah mati kutu dengan pipinya yang merah seperti kepiting rebus.

'Ya ampun iya juga, apa aku sudah berpikir kejauhan? Padahal Mas Biya juga tidak menyinggung soal begituan?' batin Diyah ingin mengacak-acak bantal.

1
Ny Rudi Harianto
memang si emak ni ya....luar biasa pembuatan masalah
nuraeinieni
mending kamu bawa saja dua adikmu diah,ibumu tdk becus.
Septi
good . bawa aja Diva
Margaretha Indrayani
bawa saja diva ya diyah, kasihan jadi korban ibu dan ayahnya😡😡😡😡😡😡
Radya Arynda
up lagi thoooor
si pecudang arumi semogah cepat dapat karma,,,,
Dien Elvina
sdh bawa aja adik mu Dyah kasian dia dgn s Rumi berasa hidup d neraka .. apalagi suaminya yg kasar n suka mabok ..ibu mu biarkan saja bahaya klo dia d bawa bisa jadi bumerang buat rmh tangga mu Dyah
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
sudah bawa saja adik mu ikut pulang ke rumah kamu Diyah. tapi ..jangan smapai ajak ibumu. daripada nanti malah jadi bumerang dalam kehidupan rumah tangga kamu. mengingat ibu kamu yang serakahh dan jahatt. Dan jangan mau menjadi ATM ibu kamu. ibu kamu masih muda dan dia juga punya suami. biarkan ibu kamu kerja, jangan terlalu di kasih hati malah kamu sendiri yang menderita.
aurel chantika
Cakra harus dilaporkan ke polisi
aurel chantika
astaga diva,jangan sampai ketahuan deh
Margaretha Indrayani
semoga diyah dan biyakta bisa . menolong sarmila dan diva. cakra dan rani nyolong dirumah ortu sendiri, parah kamu cakra dan rani sudah buta hatinya
Septi
waduhh
Septi
ahh masih ada yang baik.. bersyukurlah mila
Radya Arynda
semogah diyah dan biyatta selalu bahagia dan semogah hamidun...dan sengkuli terlihat wajah aslina....
Sarimi semogah habis ini kamu sadar kalau dyah bukan lah saingan tapi seorang kakak yang benar2 tulus sama adik...drkogah otak mu waras habis ini sarimi
Diah_Kustantie ✨💛
Nextt
Dien Elvina
udah Diva ikut aja dgn kak Dyah daripada hidup sama ibu mu yg udah kyk d neraka
Dien Elvina
s Rumi gak bisa d katakan seorang ibu ..apa yg dia lakukan lebih dari seorang wanita yg kejam dgn anak² nya 🥺
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
hajarrrr bu...mantu tak tahu diri, di kasih hati minta organ tubuh.
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
ikut saja sama kak Diyah..Div. daripada kamu hidup dengan moster, lama2 kamu bisa Gilaaa, ngadepin ayah mu yang pemabokk dan ibumu yang pemarah.
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Bener2 ibu lukcnutt! jangan harap kali ini anda bakal selamat dari amukan Diyah. apalagi kalau Diyah melihat keadaan mila yang babak belur, anda bisa saja di laporkan dan jangan harap Diyah bakal membantu anda.
Margaretha Indrayani
tapi untunglah diyah sudah tahu kalau sarmila selamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!