Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Duar!
Gelombang ledakan yang sangat dahsyat merobek seluruh bangunan pos pengawas berlantai dua itu menjadi puing puing.
Api oranye raksasa membumbung tinggi ke udara malam memancarkan hawa panas yang membakar.
Brak.
Tubuh Bayu, Anya, dan Clara terpental sejauh beberapa meter menghantam rumput basah di halaman helipad.
"Uhuk uhuk! Tenggorokanku rasanya terbakar," keluh Anya terbatuk batuk sambil menepuk nepuk debu di roknya.
Clara dengan cepat membalikkan badannya memeriksa tas ransel hitam yang dipeluknya erat erat.
"Dokumen ini aman dan tidak tersentuh api sedikit pun," kata Clara menatap amplop cokelat di tangannya.
Bayu merangkak bangun sambil menatap kobaran api besar yang melahap habis gedung pos pengawas di depan mereka.
"Paman Herman sudah tewas bersama rahasianya," batin Bayu mengepalkan tangannya dingin.
Nguuuung.
Suara sirine pemadam kebakaran dan polisi mulai terdengar mendengung jauh dari arah jalan raya bawah bukit.
"Kita harus pergi dari sini sebelum tim medis dan polisi mengisolasi bukit ini," ucap Clara berdiri memanggul ranselnya.
"Mobil van kita masih aman terparkir di balik gundukan tanah di luar pagar."
Bayu mengulurkan tangannya membantu Anya untuk berdiri dari atas tanah basah.
"Terima kasih sudah membantuku Anya, kalau tidak ada kalian berdua aku pasti sudah terjebak di dalam sana," ucap Bayu tulus.
Wajah Anya mendadak memerah mendengar ucapan tulus yang keluar dari mulut Bayu secara tiba tiba.
"S-siapa juga yang memikirkanmu, aku cuma tidak mau rugi kalau kamu mati sebelum melunasi janjimu," kilih Anya memalingkan wajahnya gengsi.
Clara tertawa kecil melihat tingkah canggung mahasiswi fisika di sebelahnya itu.
"Sudah jangan berpacaran di tengah ladang kebakaran, ayo lari ke mobil sekarang," ejek Clara sambil berlari lebih dulu.
Mereka bertiga berlari menembus kegelapan malam menuju mobil van hitam yang terparkir aman.
Ciiit.
Clara langsung menyalakan mesin van dan memutar arah kendaraan turun menelusuri jalanan berbatu bukit perbatasan.
Di dalam kabin mobil yang remang remang, Clara menyerahkan amplop cokelat tebal itu kepada Bayu.
"Buka saja sekarang cowok udik, kita lihat isi catatan rahasia milik orang tuamu," kata Clara menyetir dengan satu tangan.
Bayu menerima amplop itu dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa penasaran yang memuncak.
Srek.
Bayu merobek segel lilin di ujung amplop cokelat dan mengeluarkan beberapa lembar kertas berkas tebal.
Di lembaran pertama, tertera stempel merah bertuliskan Proyek Artefak Dimensi Kerajaan Sakral.
"Proyek Kerajaan Sakral?" batin Bayu membaca judul berkas tersebut dengan mengernyitkan dahi.
"Apa yang ada di dalam lembar kedua Bayu?" tanya Anya menyenggol pelan bahu Bayu dari samping.
Bayu membuka lembaran kedua dan menemukan sebuah daftar nama peneliti utama proyek rahasia tersebut.
Nama ayah dan ibu Bayu tercantum di urutan teratas sebagai pencipta utama Inti Relik Waktu.
Namun di bagian bawah lembaran tersebut, terdapat satu nama yang dilingkari dengan tinta merah tebal.
"Dewa Danuartha... Ketua Konsorsium Utama Ibu Kota," baca Bayu dengan suara pelan namun terasa sangat berat.
Anya dan Clara mendadak menghentikan napas mereka mendengar nama besar yang baru saja diucapkan oleh Bayu.
"Dewa Danuartha?" tanya Clara membelalakkan matanya di kaca spion.
"Pria itu adalah konglomerat nomor satu di negara ini sekaligus pejabat tinggi dewan pertahanan nasional!"
"Jadi dalang sebenarnya di balik tragedi keluargaku adalah pria berkuasa dari ibu kota itu," desis Bayu dengan mata menajam dingin.
[Pemberitahuan Sistem: Target Misi Balas Dendam telah diperbarui.]
[Target Utama: Dewa Danuartha (Pemilik Relik Dimensi Utama).]
Layar transparan biru berkedip terang di depan mata Bayu menegaskan arah perjuangannya yang baru.
"Perjalanan ini rupanya baru saja dimulai," gumam Bayu menatap keluar jendela mobil van yang melaju kencang menembus kegelapan malam.