NovelToon NovelToon
SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Sistem / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEDANG KAYU

Di perbatasan barat Hutan Kelam, tiga penyusup dari Shadow Guild tergeletak lemas di tanah dengan tubuh gemetaran. Mereka baru saja dilumpuhkan secara instan oleh sepasang tebasan pedang tak berbilah dari sosok pahlawan terkuat Kerajaan—Pahlawan Arthur.

Arthur menyarungkan pedang peraknya dengan gerakan anggun, mengusap keringat di dahinya. "Tentara bayaran pasar gelap sampai berani menyusup ke wilayah Hutan Kelam... Benar-benar mencari mati."

Sang Pahlawan menghela napas panjang. Sebenarnya, kedatangan Arthur ke wilayah ini bukan sekadar patroli rutinitas, melainkan niat pribadinya untuk berkunjung ke gubuk kayu Kayy dan Alya. Namun, begitu Arthur melangkah menembus batas segel hutan menuju pekarangan Kayy...

TAP.

Langkah kaki Arthur terhenti seketika. Matanya membelalak lebar, rahangnya hampir jatuh ke tanah.

Di depan matanya, gubuk kayu sederhana yang dulu ia kenali kini telah berubah menjadi bangunan kayu dua lantai bergaya cottage yang amat megah dan indah. Dan yang paling membuat jantung sang Pahlawan serasa mau melompat keluar: seekor serigala es raksasa tingkat A-Rank setinggi tiga meter sedang berbaring santai di atas rumput!

"S-Serigala Es A-Rank?! Kenapa bencana alam Hutan Kelam ada di pekarangan rumah?!" batin Arthur panik, jemarinya refleks menggenggam hulu pedang.

Namun, kepanikan Arthur sirnah berganti keheranan yang absurd. Di telinga kanan serigala raksasa yang menakutkan itu, terikat sebuah pita kain merah berukuran besar. Dan di dekatnya, Elena yang berusia lima tahun sedang sibuk menyiram wortel raksasa setinggi dua meter menggunakan ember kayu kecil.

"Oh, Arthur? Tumben datang ke sini," sapa Kayy santai dari teras lantai satu, memegang cangkir teh hangat.

Alya keluar dari pintu dapur, tersenyum ramah. "Selamat datang, Arthur."

Arthur membeku, menunjuk serigala raksasa itu dengan jari gemetaran. "K-Kayy... Alya... Kenapa ada monster A-Rank berbaring santai di pekarangan kalian?!"

"Oh, ini Shiro. Dia peliharaan baru Elena," jawab Kayy enteng.

"P-Peliharaan?!" jerit Arthur di dalam hatinya. Mana ada orang berakal sehat yang menjadikan monster pemusnah desa sebagai hewan peliharaan!

"Paman Pahlawan!" seru Elena girang begitu menyadari kehadiran Arthur.

Anak perempuan berusia lima tahun itu berlari menghampiri Arthur. Saat melintas di depan wortel raksasa setinggi dua meter, Elena mendongak dan mengangkat tangan mungilnya.

"Lihat sihir Elena, Paman!" cicit Elena seraya menyalurkan pendar sihir penyucian suci bawaannya.

BZZZZT!

Pendar cahaya emas murni terpancar dari tangan Elena. Wortel raksasa itu mendadak bersinar terang, mengeluarkan aroma harum suci yang seketika menetralkan seluruh aura jahat di sekitar hutan. Efek sihir pemulihan milik anak usia lima tahun itu begitu pekat hingga rumput-rumput di sekeliling Arthur mendadak mekar menjadi bunga-bunga kristal sihir!

Arthur menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menepuk dahinya sendiri dengan raut wajah penuh keterkejutan.

"I-Ini tidak masuk akal..." gumam Arthur lemas. "Sihir pemulihan murni tingkat Grand Saintess... dikeluarkan oleh anak usia lima tahun dengan begitu santainya?!"

Tingkat mana dan efisiensi sihir Elena benar-benar di luar nalar peradaban Kerajaan. Arthur geleng-geleng kepala, menyadari bahwa perpaduan darah Kayy dan sihir suci Alya telah menciptakan sesosok anak ajaib yang tak tertandingi di seluruh benua.

Saat Arthur masih tertegun, mata jernih Elena mendadak terikat pada sesuatu yang mengkilap di pinggang Arthur—sebuah pedang panjang bermotif ukiran perak yang sangat indah.

"Wah... Pedangnya bagus sekali," gumam Elena dengan mata berbinar-binar.

Elena mendekat, lalu jemari mungilnya memegang hulu pedang berat milik sang Pahlawan.

"Eh, Elena, jangan dipeng—" Arthur mencoba memperingatkan. Pedang tempur milik sang Pahlawan itu ditempa dari besi meteorit yang sangat berat, jangankan anak kecil, prajurit dewasa pun butuh dua tangan untuk mengangkatnya.

Namun, sebelum Arthur selesai berbicara...

SZZZT!

Dengan gaya santai dan tanpa beban sedikit pun, Elena menarik pedang berat itu keluar dari sarungnya hanya menggunakan satu tangan mungilnya!

Elena mengayun-ayunkan pedang perak raksasa itu di udara bagaikan memegang tongkat kayu ringan. WUUUSH! WUUUSH! Tebasan angin tipis bahkan tercipta dari ayunan tangan Elena yang polos.

Arthur melongo total. Matanya hampir copot menyaksikan kekuatan fisik absurd anak berumur lima tahun tersebut. "D-Dia... mengangkat pedang meteorit tiga puluh kilogram hanya dengan satu tangan?!"

"Elena! Berbahaya, Sayang!" seru Kayy cepat dari teras.

Dalam sekejap mata, Kayy sudah berpindah posisi berdiri di samping Elena—menggunakan kecepatan kinetik mutlaknya. Dengan gerakan lembut, Kayy mengambil pedang perak itu dari tangan Elena dan mengembalikan sarungnya kepada Arthur.

"Arthur, jangan bawa barang berbahaya seperti ini di dekat anakku," kata Kayy dengan nada suara ayah super protektif.

Arthur hanya bisa mengangguk kaku, masih syok dengan apa yang baru saja ia lihat. "M-Maaf, Kayy..."

Elena memiringkan kepalanya, menunjukkan raut wajah agak cemberut. "Tapi Ayah... Elena mau punya pedang juga seperti Paman Pahlawan!"

Melihat binar keinginan di mata putri kecilnya, Kayy menghela napas halus. Pria bercelemek itu tersenyum hangat, lalu berlutut di tumpuan kaki Elena.

"Mau pedang? Ayah buatkan yang jauh lebih bagus dan aman," kata Kayy.

Kayy memegang sepotong dahan kayu pinus tua di pekarangan. Layar sistem INT MAX milik Kayy berkedip pelan. Mengaktifkan skill pertukangan evolusi [Fortify], Kayy meremas dahan kayu tersebut.

ZUUUT! TAK!

Hanya dalam waktu dua detik, dahan kayu kasar itu terkikis dan terukir secara otomatis. Kayy menciptakan sebuah pedang kayu mainan yang sangat halus, memiliki keseimbangan beban yang sempurna, dan dihiasi ukiran bunga lavender di bagian gagangnya.

Kayy melapisi pedang kayu itu dengan perisai [Sanctuary Domain] tipis agar pedang kayu tersebut tidak akan pernah patah atau melukai tangan Elena.

"Ini pedang kayu khusus untuk Elena," ucap Kayy menyodorkan pedang mainan tersebut.

Mata Elena langsung berbinar-binar gembira. Ia menerima pedang kayu itu, memasang posisi kuda-kuda kecil yang amat lucu, lalu mengayunkannya ke udara.

"Horeee! Terima kasih, Ayah! Elena sekarang jadi Pahlawan Kayu!" seru Elena gembira, lalu berlari menuju Shiro untuk memamerkan pedang barunya.

Shiro menjulurkan lidahnya, membiarkan Elena berpura-pura "menyerangnya" dengan pedang kayu tersebut seraya berpura-pura kalah dengan terguling di atas rumput.

Arthur menatap Kayy, lalu menatap pedang kayu buatan Kayy yang memiliki presisi dan pertahanan sihir tingkat tinggi. Sang Pahlawan Kerajaan itu menghela napas panjang untuk kesekian kalinya hari itu.

"Keluargamu benar-benar di luar akal sehat, Kayy," ucap Arthur seraya terkekeh pasrah.

Kayy menyeruput teh hangatnya seraya merangkul bahu Alya yang baru mendekat. "Ini cuma kehidupan keluarga biasa di pekarangan rumah, Arthur. Mau minum teh dulu sebelum kamu bawa tiga pencuri di luar itu ke Kerajaan?"

Arthur tersenyum hangat, menggelengkan kepalanya melihat kebahagiaan keluarga kecil tersebut. "Boleh. Teh racikanmu selalu yang terbaik di dunia."

Di bawah langit musim semi Hutan Kelam, gelak tawa Elena yang sedang berlatih pedang kayu bersama Shiro kembali membahana, membawa kehangatan yang tak ternilai harganya bagi gubuk kayu dua lantai milik Kayy dan Alya.

1
Eka P
v
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!