Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!
Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!
IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan dari Masa Lalu
Suara derai hujan yang menghantam atap kaca kafe menjadi musik latar malam ini. Suasana di dalam kafe terasa hangat, berbanding terbalik dengan badai emosi yang perlahan mulai terkumpul di luar sana.
Aku baru saja selesai mengelap meja kasir ketika Steven melangkah mendekat seraya menyodorkan segelas cokelat hangat yang asapnya masih mengepul tipis.
"Nih, buat lo. Dari tadi gue liat leher lo masih agak kaku," kata Steven ramah, mengulas senyum tulus yang selalu berhasil menghangatkan suasana.
Aku menerima gelas itu dengan kedua tangan, merasakan kehangatan yang merambat ke telapak tanganku. "Makasih banyak ya, Steve. Lo selalu pengertian."
Dari balik kaca jendela kafe yang berembun, aku melihat sebuah mobil sedan hitam terparkir mematung di seberang jalan. Kacanya yang gelap gulita membuatku tidak bisa melihat siapa yang ada di dalamnya.
Awalnya aku mengira itu mobil jemputan Varro, namun ketika melihat pelat nomornya yang sama sekali asing, perasaan tak enak mendadak menyusup ke dasar hatiku.
Ponsel di saku celanaku bergetar halus. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang kini sudah kuhapal luar kepala.
Varro:
Gue udah nyampe rumah. Motor lo udah gue kunci stang di depan kafe, kuncinya gue titipin ke kasir tadi. Muka si Steven genit itu masih bikin gue sebal, tapi lo jangan deket-deket sama dia ya.
Aku tidak bisa menahan senyum tipis yang terbit di bibirku. Pria itu bisa-bisanya masih sempat cemburu di tengah hujan deras begini. Jemariku bergerak lincah membalas pesannya.
Gisella:
Makasih ya udah mau anterin motor gue. Dan Steven itu cuma temen kerja gue, gak usah aneh-aneh pikiran lo.
Tidak sampai sepuluh detik, balasan kembali masuk.
Varro:
Terserah. Pokoknya lo pulang nanti naik taksi online aja, jangan mau ditebengin sama dia. Ongkosnya biar gue yang bayar lewat aplikasi. Awas kalau menolak.
Aku menghela napas pelan, mengutak-atik tombol ponselku tanpa membalas lagi. Di balik sikap posesif dan arogansinya yang kadang memuatku geleng-geleng kepala, ada rasa kepedulian konyol yang perlahan-lahan mulai mengikis benteng pertahanan yang kubangun rapat-rapat selama ini.
Sementara itu, di sebuah sudut kota yang temaram dan jauh dari pendar lampu megah pusat perbelanjaan...
Gedung tua bekas pabrik tekstil yang terbengkalai itu menjadi sarang bagi belasan sepeda motor berkapasitas mesin besar. Bau oli, asap rokok, dan aroma alkohol murahan menyengat udara.
Di tengah ruangan, seorang pria berdiri menatap papan tulis berukuran besar yang dipenuhi foto-foto Varro, Brandon, Marcel, dan foto diriku yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari balik semak-semak kampus.
Pria berpakaian serba hitam yang memimpin rapat tadi siang, sosok yang dipanggil 'Bos' melangkah mendekati papan tulis tersebut. Jemari tangannya yang dihiasi cincin tengkorak memegang sebuah pisau lipat, melayangkan ujung tajamnya tepat ke arah foto wajah Varro.
"Varro Aldrian Wijaya..." bisik pria itu dengan suara parau yang dingin. "Ketua Starlit yang diagung-agungkan sekarang mendadak berubah jadi malaikat pelindung hanya karena cewek miskin ini?"
Seorang pria berbadan gempal dengan tato naga di lehernya melangkah mendekat. "Bos, dari laporan anak-anak di lapangan, Varro beneran udah ngebubarin pengaruh Starlit di jalanan. Mereka gak pernah balapan liar lagi dalam seminggu terakhir. Bahkan fasilitas parkiran kampus juga udah dilepas sama mereka."
Pria bertopi hitam itu tertawa sinis, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk anak buahnya berdiri. "Bagus. Itu artinya pertahanan dia sedang berada di titik paling lemah sepanjang sejarah. Pria yang sedang kasmaran memang selalu kehilangan kewaspadaannya."
Ia mencabut pisau lipatnya dari foto Varro, lalu menancapkannya tepat di tengah-tengah foto wajahku.
JEB!
"Lacak seluruh jadwal harian cewek ini," perintah sang Bos dingin. "Tempat tinggalnya, kafe tempat dia kerja, sampai sekolah adik-adiknya. Kalau kita mau menghancurkan Varro tanpa perlu mengotori tangan kita dengan geng Starlit, kita cuma perlu menyenggol titik lemah barunya ini."
"Siap, Bos!" sahut anak buahnya serempak.
Keesokan harinya, suasana kampus terasa agak berbeda dari biasanya. Desas-desus mengenai pengumuman pertobatan Varro dan geng Starlit kemarin masih menjadi topik hangat di setiap sudut koridor. Namun, kehadiran Varro yang biasanya dikelilingi aura ancaman kini terasa jauh lebih tenang.
Aku melangkah menyusuri lorong menuju perpustakaan ketika suara derap langkah terburu-buru terdengar dari belakang.
"Gi! Gisel!"
Sasa berlari kecil menghampiriku seraya memegangi dadanya yang kempas-kempis. Wajah sahabatku itu tampak merah padam oleh antusiasme yang tak tertahankan.
"Kenapa sih, Sa? Lari-lari kayak dikejar setan aja," tanyaku heran seraya menghentikan langkah.
Sasa memegang kedua bahuku, menatap mataku dengan binar gosip yang membara. "Gi! Lo tahu gak?! Tadi pagi di parkiran basement, Kak Varro beneran nolak tiga cewek anak fakultas hukum yang mau ngasih dia bekal makanan!"
Aku mengerutkan dahi. "Terus? Biasanya juga dia begitu, kan?"
"Beda, Gisella!" seru Sasa gemas. "Kalau biasanya dia bakal acuh atau langsung buang makanan itu ke tempat sampah dengan muka galak, tadi pagi dia ngomong sopan banget! Dia bilang, 'Sorry, gue gak bisa terima makanan kalian. Gue lagi jaga perasaan seseorang.' Aaaaa! Lo bayangin gak sih?! Kak Varro ngomong gitu di depan banyak orang!"
Jantungku serasa melompati satu detakan. Jaga perasaan seseorang? Maksud pria itu... gue?
"Paling cuma trik baru dia buat tebar pesona," alihku cepat, berusaha menutupi rona panas yang mendadak menyerang kedua pipiku.
Sasa menyipitkan matanya curiga, menunjuk dadaku. "Hayo, pipi lo merah tuh! Lo udah mulai luluh ya sama Kak Varro? Mengaku gak lo!"
"Gak ada ya! Udah ah, gue mau ke perpustakaan dulu, ada tugas yang harus dikumpulin nanti siang," sahutku ngeles seraya memutar badan dan mempercepat langkahku. Sasa tertawa gembira mengekor di sampingku, terus menggoda tanpa ampun.
Namun, di ujung lorong lantai dua, sebuah pasang mata memperhatikan interaksi kami dari balik tiang beton. Pria asing bermasker hitam dan bertopi kets itu mencatat sesuatu di buku kecilnya, lalu merogoh ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan singkat.
Target sedang bersama temannya. Tidak ada pengawalan dari anak-anak Starlit di area ini.
Sore harinya, saat jam perkuliahan usai, gerimis kembali mengguyur kota Jakarta. Aku berjalan menuju tempat parkir motor biasa di luar area kampus. Suasana parkiran luar mulai sepi karena sebagian besar mahasiswa sudah pulang lebih awal untuk menghindari macet hujan.
Saat aku sedang merogoh kunci motor dari dalam tas punggungku, tiga orang pria bertubuh kekar dengan jaket kulit hitam yang tidak berseragam Starlit mendadak melangkah keluar dari balik deretan mobil yang terparkir. Mereka membendung pergerakanku, mengurungku di antara tiang listrik dan pagar besi.
Aroma alkohol dan ancaman pekat menguar dari tubuh mereka.
"Gisella Vanessa Setiawan, kan?" tanya pria berwajah bopeng di tengah seraya menyunggingkan senyum menjijikkan.
Langkahku terhenti kaku. Refleks, tanganku meremas tali tas punggungku erat-erat. "Kalian siapa? Mau apa?"
"Gak usah panik, Cewek Cantik," sahut pria di sebelah kirinya seraya melangkah maju mengikis jarak. "Bos kami cuma mau ngajak lo minum teh sebentar di tempat kami. Cuma mau ngobrol-ngobrol santai soal pacar baru lo... Varro Aldrian Wijaya."
Mendengar nama Varro disebut oleh orang-orang asing ini, kewaspadaanku berada di tingkat tertinggi. Ini bukan sekadar gangguan preman biasa. Ini adalah musuh Varro.
"Gue gak kenal sama kalian, dan gue gak ada urusan sama Bos kalian! Minggir, gue mau lewat!" bentakku tegas, mencoba menunjukkan keberanian meski dadaku bergemuruh oleh rasa takut.
Pria berwajah bopeng itu tertawa renyah, sebuah suara parau yang mengejek. "Galak juga ya selera si Varro. Tapi sayang, lo gak punya pilihan hari ini."
Pria itu mengulurkan tangan kekarnya, berusaha mencengkeram pergelangan tanganku secara paksa.
SRET!
Aku refleks melangkah mundur, mengangkat tas punggungku yang tebal dan mengayunkannya sekuat tenaga tepat ke arah wajah pria itu.
BUK!
Tas tebal berisikan buku-buku bisnis berat itu menghantam hidung pria tersebut hingga ia mengaduh kesakitan dan mundur beberapa langkah seraya memegangi hidungnya yang berdarah.
"Kurang ajar ini cewek! Tangkap dia!" bentak pria berwajah bopeng itu murka.
Dua pria lainnya merangsek maju bersamaan. Aku memutar badan dan berlari sekencang tenaga menuju area lorong kampus yang ramai. Namun, lantai aspal yang licin akibat hujan membuat langkahku tergelincir!
BRUK!
Aku jatuh tersungkur di atas aspal dingin, lututku menghantam lantai hingga rasa nyeri menusuk seketika. Sebelum aku sempat bangkit berdiri, sebuah tangan kekar sudah menyambar bahu jaket denimku secara kasar!
"Mau lari ke mana lo, hah?!" bentak pria itu menyeringai kejam.
Aku memejamkan mata rapat-rapt, bersiap melepaskan pukulan atau jeritan sekeras-kerasnya.
BRUK!
Sebuah bunyi benturan keras yang menghantam tulang mendadak terdengar, disusul oleh erangan kesakitan yang membahana. Cengkeraman di bahuku terlepas seketika.
Ketika aku membuka mataku, sosok tinggi tegap berjaket kulit hitam berlogo Starlit sudah berdiri menjulang di hadapanku. Pria berpostur 183 sentimeter itu baru saja melayangkan satu tendangan berputar yang sangat telak, menghempaskan pria kekar tadi hingga membentur kap mobil di dekat kami.
Varro Aldrian Wijaya.
Napas Varro memburu rapat, dadanya naik turun oleh amarah yang membara hebat. Bola mata cokelat gelapnya yang biasa dipenuhi kehangatan saat bersamaku kini berubah menjadi begitu gelap, dingin, dan dipenuhi aura membunuh yang teramat pekat.
Varro membalikkan badan, menatap dua pria tersisa yang berdiri gemetar melihat kehadirannya.
"Berani-beraninya kalian..." suara bariton Varro meluncur amat pelan dan dalam, namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya, "...menyentuh milik gue di depan mata gue sendiri?!"
Bersambung......