NovelToon NovelToon
Pewaris Makam Para Raja

Pewaris Makam Para Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Di dunia di mana status ditentukan oleh kekuatan roh bela diri, Lin Xiao dianggap sebagai sampah tak berguna karena hanya memiliki roh berupa sebuah makam kuno yang hancur.

Dikhianati oleh klannya sendiri, dirundung habis-habisan oleh sepupunya, dan secara terbuka dihina oleh tunangannya yang sombong, Lin Xiao mencapai titik terendah.

Namun, di saat kematian mendekat, rahasia makam itu bangkit. Alih-alih sebuah sampah, makam itu ternyata adalah Makam Para Raja, gudang tersembunyi yang menyimpan sisa-sisa jiwa, ingatan, dan teknik tak terkalahkan dari ratusan kaisar dan raja bela diri kuno yang pernah mendominasi dunia.

Didorong oleh dendam membara, Lin Xiao berlatih secara diam-diam menggunakan warisan terlarang tersebut.

Dari pemuda yang diremehkan, dia tumbuh menjadi sosok dingin yang kejam terhadap musuh, siap menghadapi seluruh klan dan sekte demi melindungi ayahnya yang lemah, serta mendaki puncak kekuatan bela diri sebagai Pewaris Makam Para Raja yang sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Wush.

Angin berhembus membawa tekanan aura yang sangat mencekik dari dua kultivator tahap Inti Emas di atas tebing.

Lin Xiao menahan napasnya hingga batas maksimal, tubuhnya menyatu sempurna dengan lumpur dan semak-semak.

"Tidak ada apa-apa di sini selain bangkai beruang rendahan ini." ucap salah satu pria berjubah putih dengan nada kecewa.

"Aura harta karun itu benar-benar lenyap tak berbekas." balas pria satunya sambil mendengus kasar.

Wush.

Kedua sosok itu melesat kembali ke udara dan menghilang di balik awan tebal dalam sekejap mata.

Lin Xiao tetap tidak bergerak dari posisinya selama setengah jam penuh untuk memastikan keadaan benar-benar aman.

'Mereka sudah pergi jauh, Nak.' ucap Kaisar Racun Tanpa Wujud memecah keheningan.

'Teknik penyembunyianku tidak akan bisa ditembus oleh kultivator kacangan seperti mereka.'

Lin Xiao menghembuskan napas panjang dan perlahan bangkit dari kubangan lumpur.

"Kekuatan mereka sangat mengerikan, hanya dari tekanannya saja organ dalamku terasa ingin pecah." gumam Lin Xiao.

'Itu karena kau masih terlalu lemah.' cibir Kaisar Pedang Haus Darah.

'Fokuslah pada rencanamu sekarang, jangan biarkan kecoak-kecoak di kotamu hidup terlalu lama.'

Lin Xiao mengangguk setuju dan segera berlari menjauhi area mulut gua tersebut.

Dengan tubuh yang telah diperkuat dan kultivasi tingkat ketiga, kecepatannya saat membelah hutan jauh meningkat.

Srak. Srak.

Langkah kakinya sangat ringan dan gesit, menghindari semua wilayah kekuasaan monster tingkat menengah.

Dalam waktu kurang dari dua jam, dia berhasil keluar dari zona mematikan Hutan Kabut Berdarah tanpa hambatan berarti.

Matahari sudah mulai condong ke arah barat, menandakan hari sudah menjelang sore.

Lin Xiao membersihkan noda lumpur di wajahnya menggunakan air dari kantong kulit yang dia bawa.

Tatapannya kini tertuju pada jalan setapak berdebu yang mengarah langsung ke perbatasan Kota Jade River.

Di jalan itulah terletak sebuah kedai tua yang sering dijadikan tempat transaksi rahasia para tentara bayaran.

Suasana di kedai tua perbatasan itu terlihat cukup sepi pada sore hari ini.

Hanya ada beberapa kereta kuda usang yang terparkir di halaman depan yang dipenuhi semak liar.

Di dalam kedai, tiga orang pria berpakaian seragam pelayan Klan Lin sedang duduk meminum arak.

Pria yang duduk di tengah adalah bawahan kepercayaan Lin Jian yang bernama Lin Hu.

"Mengapa kelompok Serigala Hitam belum juga kembali?" keluh Lin Hu sambil membanting cangkir araknya ke meja.

Brak.

"Ketua mereka berjanji akan membawakan kepala sampah itu sebelum matahari terbenam." lanjut Lin Hu dengan nada kesal.

"Mungkin bocah cacat itu berlari terlalu jauh ke dalam hutan karena ketakutan, Kakak Hu." jawab salah satu bawahannya sambil tertawa.

"Benar, menangkap tikus cacat di hutan besar tentu butuh sedikit waktu." sahut bawahan satunya.

Lin Hu mendengus pelan dan kembali menuangkan arak ke dalam cangkirnya.

"Tuan Muda Jian sudah tidak sabar melihat kepala Lin Xiao diletakkan di dalam kotak kayu ini." ucap Lin Hu sambil menepuk sebuah kotak di sebelahnya.

"Dia ingin memberikan kotak itu sebagai hadiah kejutan untuk Lin Tianhai besok pagi." tambah Lin Hu sambil tertawa meremehkan.

Tap. Tap.

Suara langkah kaki yang sangat pelan terdengar dari arah pintu depan kedai yang terbuka separuh.

Ketiga pelayan Klan Lin itu menoleh secara bersamaan ke arah pintu masuk.

Seorang pemuda berjubah hitam usang yang dipenuhi noda darah kering melangkah masuk ke dalam kedai.

Wajah pemuda itu tertutup oleh tudung jubah yang besar, menyembunyikan identitas aslinya dari pandangan mereka.

"Hei, kedai ini sudah kami sewa seluruhnya hari ini!" bentak Lin Hu sambil berdiri menunjuk pemuda itu.

"Pergi dari sini sebelum kami mematahkan kedua kakimu!"

Pemuda berjubah itu sama sekali tidak mempedulikan ancaman Lin Hu dan terus berjalan mendekati meja mereka.

Sring.

Dua bawahan Lin Hu langsung mencabut pedang mereka dan maju menghadang langkah pemuda misterius itu.

"Kau tuli ya? Kakak Hu menyuruhmu pergi!" teriak salah satu bawahan sambil mengayunkan pedangnya ke bahu sang pemuda.

Namun sebelum pedang itu sempat mendarat, sebuah tangan pucat melesat keluar dari balik jubah hitam.

Tangan itu menangkap pergelangan tangan sang bawahan dengan kecepatan kilat.

Krak.

"Aaaargh!" jerit pelayan itu saat tulang pergelangannya remuk seketika di bawah cengkeraman yang sangat kuat.

Lin Hu melebarkan matanya terkejut melihat kekuatan fisik yang ditunjukkan oleh pemuda berjubah tersebut.

"Siapa kau sebenarnya? Beraninya kau mencari masalah dengan anggota Klan Lin!" ancam Lin Hu mencatut nama klannya.

Pemuda itu perlahan-lahan mengangkat kepalanya dan menurunkan tudung jubahnya ke belakang.

Sepasang mata sedingin es menatap lurus ke arah Lin Hu dengan niat membunuh yang sangat pekat.

"Kalian sedang menungguku, bukan?" ucap Lin Xiao dengan suara datar dan berat.

Wajah Lin Hu dan kedua bawahannya langsung berubah sepucat kertas saat mengenali wajah pemuda di depan mereka.

"Lin... Lin Xiao? Bagaimana mungkin kau ada di sini?" gagap Lin Hu dengan kaki mulai gemetar.

"Bukankah kau seharusnya sudah mati di Hutan Kabut Berdarah?"

Lin Xiao tersenyum sinis sambil melepaskan tangannya dari pelayan yang sedang mengerang kesakitan itu.

"Tentara bayaran yang kalian sewa sudah berangkat ke neraka lebih dulu." jawab Lin Xiao dengan santai.

"Mereka menitipkan salam perpisahan untuk kalian." lanjut pemuda itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya.

Wush.

Sebuah bayangan merah berkelebat dari tangan Lin Xiao.

Cras.

Kepala pelayan yang tadi pergelangan tangannya dipatahkan langsung terlepas dari tubuhnya dan menggelinding di lantai kedai.

Darah segar menyembur mewarnai dinding kayu dan meja tempat mereka minum arak.

"Lari!" teriak Lin Hu dengan panik saat menyadari bahwa Lin Xiao di depannya ini adalah monster pembunuh sungguhan.

Pelayan kedua yang berdiri di dekat Lin Hu berbalik dan mencoba melarikan diri ke arah dapur kedai.

Brak.

Lin Xiao menendang sebuah kursi kayu tepat ke arah kaki pelayan yang sedang berlari itu.

Bruk.

Pelayan itu tersandung jatuh tengkurap dengan keras hingga hidungnya patah menghantam lantai batu.

Sebelum dia sempat merangkak bangun, Lin Xiao sudah berada di atasnya dan menginjak punggungnya kuat-kuat.

Krak.

Tulang belakang pelayan itu patah menjadi dua bagian, membunuhnya secara seketika tanpa sempat menjerit.

Lin Hu yang baru mencapai pintu belakang kedai mendadak menghentikan langkahnya karena kakinya terasa kaku.

Ketakutan yang luar biasa membuat pria itu mengompol di celananya sendiri.

"Lin Xiao, tolong ampuni aku...!" mohon Lin Hu sambil berbalik dan langsung berlutut di lantai.

"Aku hanya menjalankan perintah dari Tuan Muda Jian, aku tidak ada kaitannya dengan rencana membunumu!"

Lin Xiao berjalan mendekati Lin Hu dengan langkah pelan dan berirama.

Setiap langkahnya terdengar seperti ketukan palu kematian di telinga pelayan pengecut tersebut.

"Kau sangat pandai mencari alasan saat kematian sudah berada di depan matamu." ucap Lin Xiao dengan dingin.

"Tapi sayang sekali, aku tidak membutuhkan alasanmu itu."

Srak.

Lin Xiao mencengkeram kerah baju Lin Hu dan mengangkat tubuh pria dewasa itu hanya dengan satu tangan.

1
Reed
Wah /Hunger/
Reed
Akhirnya update /Drool/
Reed
Lanjutkan Kak /Smile/
Reed
Wah /Hunger/
Reed
Kok belum up Kak /Whimper/
Jujun Adnin
lanjut
Cecilia
gagal jdi yg pertama
Yui: hentikan kak/Curse//Curse/
total 1 replies
Kak Seto Kangen Band
Ckckck... gak sabar nunggu adegan insect.
Yui: ini cerita biasa doang sensei/Facepalm/
total 1 replies
@Han Boshalvaya ୧⍤⃝🍌
Blep
@Han Boshalvaya ୧⍤⃝🍌 : Its Canon Event
total 4 replies
Reed
Sasuga /Determined//Determined//Determined/
Yui: apa yang kalian lakukan kak/Curse//Curse/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!