NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:415
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Minnie

Silvia kembali ke kamarnya dan menatap bingkai-bingkai foto yang sebelumnya sudah dirapikan oleh Nelia. Sudut yang dulu dipenuhi kenangan kini terlihat kosong. Seluruh kamar itu tiba-tiba terasa jauh lebih sepi.

Setiap kalimat yang ia dengar dari stan pameran terus terngiang di kepalanya. Ekspresi Nelia yang murung, rasa bersalah yang sulit dijelaskan dari Adrian. Semuanya membuat Silvia terjebak di tengah-tengah, seolah tidak bisa bergerak ke mana pun.

Keesokan harinya.

Untuk pertama kalinya, Silvia datang lebih awal dan duduk di meja makan. Ia hanya diam menunggu hidangan disajikan di hadapannya.

Rambut Adrian disisir rapi ke belakang tanpa menyisakan satu helai pun yang berantakan. Penampilannya benar-benar berbeda dari gaya anak anjing kecil yang biasanya ia tunjukkan.

Silvia diam-diam melirik gaya rambutnya. Tanpa mengatakan apa-apa ia kembali menundukkan kepala. Entah kenapa, ia merasa Adrian hari ini sedikit berbeda.

“Adrian?” Suara Nelia yang terdengar ceria muncul dari ujung meja makan.

Nelia menatap Adrian yang penampilannya berubah total dengan ekspresi tidak percaya.

Ia kemudian duduk di samping Silvia, tatapannya masih tertuju pada rambut Adrian, keningnya berkerut, “Adrian, kamu mau kencan hari ini?”

Adrian mengangkat pandangan dan bertemu dengan tatapan penasaran Nelia. Namun, ia segera menundukkan kepala lagi, ujung telinganya perlahan memerah. Ia pura-pura galak dan melotot ke arah Nelia, “Bukan urusanmu!”

Suara roda kecil Fray terus bergema di lantai. Robot itu mondar-mandir merapikan berbagai barang di dalam rumah. Untuk ketiga kalinya, Fray mengatur ulang karpet di dekat pintu masuk. Setelah itu, ia membetulkan posisi vas bunga dan bahkan mengelap gagang pintu dengan sangat teliti.

Nelia memperhatikan kesibukannya dan tidak tahan untuk berkomentar, “Fray, kamu salah program hari ini?”

Nelia mengacak rambutnya sendiri dengan kesal, lalu menatap Fray yang terus bergerak ke sana kemari, “Fray, kamu bisa berhenti sebentar nggak?! Kamu bikin aku pusing!”

Fray akhirnya memperlambat gerakannya. Dengan hati-hati, ia memasukkan bunga mawar yang baru dipetiknya ke dalam vas.

Nelia mengernyitkan kening, ia menoleh kepada Silvia, “Napa dia?”

Silvia melirik pipi Adrian yang tampat sedikit memerah, “Akan ada seseorang yang datang hari ini.”

“Siapa? Teman kencannya Adrian?”

Silvia menyendok bubur ke dalam mangkuknya, lalu membawanya ke mulut, “Tidak tahu.”

Nelia kembali menatap Adrian yang sejak tadi terus menundukkan kepala. Ia menjulurkan kakinya dan menendang Adrian pelan.

Adrian meliriknya, “Kamu…”

“Ding-dong—”

Nelia langsung meletakkan sendok dan sumpitnya, lalu berlari menuju pintu.

Fray segera kembali ke stasiun pengisian dayanya. Ia duduk manis di sana, hanya memperlihatkan sepasang mata elektronik bulat yang diam-diam mengintip kea rah pintu.

Silvia melirik Adrian sekali. Saat itu, ia sudah bisa menebak siapa yang datang.

“Tok—”

Bibi Clara yang sedang berada di dapur mengeringkan tangannya dengan kain. Ia juga menoleh kea rah pintu, “Siapa?”

Silvia bersandar santai pada dinding, “Minnie.”

Seorang Wanita dengan rambut dikuncir tinggi berdiri di depan pintu. Penampilannya sederhana tetapi rapi. Tatapannya tajam dan dingin, sementara posturnya tegak lurus, seperti seseorang yang telah menjalani pelatihan profesional selama betahun-tahun.

Minnie Vera melepas kacamata hitamnya dan mengangguk kepada Silvia, “Silvia.”

Kemudian, ia menatap Nelia dari atas ke bawah. Tatapannya membuat Nelia tanpa sadar mundur setengah Langkah, “Kamu…Nona Nelia yang sering disebut Chris dan Silvia itu?”

Nelia refleks memeluk kedua lengannya sendiri. Ia menatap Minnie dengan waspada, “K-kamu mau ngapain? Jangan dekatin aku?!”

Minnie hanya menatapnya selama beberapa detik sebelum berjalan melewatinya. Ia kemudian mengangguk singkat kepada Bibi Clara dan langsung menuju meja makan.

Adrian berdiri tegak di samping meja, tatapannya terus tertuju pada Minnie, bibirnya sedikit terbuka. Ia jelas sudah menyiapkan banyak hal untuk dikatakan, namun semuanya seakan tersangkut di tenggorokannya. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya hanya satu kalimat yang berhasil keluar, “Minnie…kamu sudah kembali.”

Nelia berdiri di balik dinding sambil diam-diam mengintip situasi di depannya. Ia menarik pergelangan tangan Silvia dan berbisik di dekat telinganya, “Sil, dia siapa?”

Silvia melipat kedua tangannya di depan dada, jawabannya begitu tenang, “Orang yang diam-diam disukai Adrian.”

Mata Nelia langsung berbinar, ia menatap Adrian yang menundukkan kepala. Kemudian beralih melihat Minnie yang kini duduk di kursinya tadi.

Kakak ini keren banget!

Beberapa orang di meja makan mulai makan dalam diam, tidak ada yang banyak bicara. Nelia sesekali mengangkat kepala.

Entah kenapa, semakin lama suasana di meja makan terasa semakin aneh. Nelia menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke Silvia, “Sil…”

“Hm?”

“Kamu nggak merasa ada sesuatu?”

“Sesuatu apa?”

“Suasana yang…agak romantic.”

Nelia melirik Adrian di sampingnya. Kemudian ia melihat Minnie di Seberang meja. Akhirnya ia tidak tahan lagi, “Kak, sebenarnya kamu ini siapa?”

Minnir meletakkan sumpitnya, tangannya secara refleks menyentuh pergelangan tangan kirinya. Di sana terpasang sebuah pelindung pergelangan tangan berwarna hitam yang sudah sedikit using.

“Aku adalah teman…”

Minnie berhenti sejenak ketika menyebut nama Chris, ia diam-diam melirik ekspresi Silvia sebelum melanjutkan, “Teman Chris ketika dia berada di luar negeri.”

“Teman?” Nelia mengangguk sambil berusaha mencerna jawabannya,

“Silvia, aku dengar dari Adrian kalau kamu berencana pergi ke luar negeri?” Sudut bibir Minnie perlahan turun.

Keningnya berkerut, tatapannya menjadi serius saat melihat wajah Silvia yang tetap tenang.

Silvia hanya mengangguk singkat, “Ya.”

Ia meletakkan sumpit di samping mangkuk.

Minnie menundukkan kepalanya sejenak. Kemudian, sudut bibirnya sedikit terangkat, “Aku akan sering menghubungimu. Urusan di luar negeri, aku jauh lebih paham daripadamu.”

“Nona Minnie, kamu sering tinggal di luar negeri?” Pipi Nelia menggembung, mulutnya masih dipenuhi dengan daging yang baru saja ia makan. Sepasang matanya yang berbinar menatap Minnie dengan rasa penasaran yang terang-terangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!