Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 27
Kelopak mata Tsania sebenarnya telah bergerak pelan sejak sentuhan pertama jemari hangat itu mengusap pipinya. Aroma parfum woody berpadu aroma tembakau tipis, aroma khas yang sangat ia hapal luar kepala selama bertahun-tahun langsung menyergap indramu.
Arsen ada di sana. Pria yang paling ia takuti sekaligus pria yang pernah menjadi pusat semesta jiwanya kini berlutut tepat di samping tempat tidurnya.
Tsania memilih menahan napas. Ia membiarkan matanya tetap terpejam rapat, menahan getaran di tubuhnya agar Arsen tidak menyadari bahwa ia telah terbangun dari lelapnya. Tsania ingin tahu, ia butuh mendengar langsung dari mulut pria itu apa lagi alasan Arsen menyusup ke kamarnya di tengah malam liar ini? Apakah pria itu datang untuk memaki dirinya lagi? Ataukah untuk melemparkan tumpukan berkas baru yang siap menyiksa fisiknya yang masih rapuh?
Namun, bukannya bentakan dingin atau kata-kata sarat ancaman yang ia dengar, udara malam di kamar VVIP itu mendadak diisi oleh bisikan parau yang runtuh dan isakan tangis tanpa suara.
"Sayang..." bisik Arsen, suaranya pecah di tengah keheningan, sarat akan keperihan yang teramat amat masif.
Sentuhan jemari Arsen yang mengusap sisa air mata di pipi Tsania begitu pelan dan gemetar. Kehangatan yang sudah tiga tahun menghilang itu kembali meresap ke kulit Tsania, membuat batin wanita itu bergejolak hebat. Dari balik kelopak matanya yang terpejam, air mata baru kembali menetas perlahan, menyusur turun hingga membasahi jemari Arsen yang sedang menempel di pipinya.
Arsen meraih genggaman tangan kiri Tsania, menempelkan punggung tangan wanita itu ke pipinya sendiri yang sudah basah kuyup.
"Aku mendengarnya, Nia..." tangis Arsen rintih, dadanya naik turun menahan guncangan isakan yang berat.
"Aku mendengar semua bisikanmu tadi sore... Aku mendengar betapa kamu membenciku dan menyebutku monster..."
Tsania mencengkeram sprei di bawah tubuhnya secara sembunyi-sembunyi. Tangisan tanpa suara Arsen yang membasahi punggung tangannya terasa bagai lelehan timah panas yang membakar kulitnya. Hatinya menjerit bingung, bercampur aduk antara rasa trauma dan kebingungan luar biasa.
"Kamu benar, Nia... Aku memang monster," rintih Arsen lagi, mendekatkan bibirnya ke jemari Tsania dan mengecup setiap buku jarinya berkali-kali dalam kepasrahan yang hancur.
"Aku pria bodoh yang dibutakan oleh dendam palsu... Aku pria jahat yang menyalahkanmu tanpa pernah mau mendengarkan penjelasanmu... Aku membiarkan rasa sakitku menutup mata dan hatiku dari kebenaran."
Arsen menyandarkan dahinya di tepi kasur, tepat di samping lengan Tsania. Tubuh tegap CEO yang tak tersentuh itu kini terguncang hebat oleh tangisan penyesalan yang tak terbendung.
"Maafkan aku... demi Tuhan, maafkan aku, Tsania..." rintih Arsen, suaranya parau menembus pendengaran Tsania yang membeku.
"Aku tidak tahu kalau Papaku memukul ayahmu... Aku tidak tahu kalau kamu harus menguburkan ayahmu sendirian saat aku koma di Singapura... Kalau saja aku tahu neraka yang kamu lewati demi melindungiku, aku tidak akan pernah membiarkan tanganku ini menyakitimu walau cuma seujung kuku!"
Deg.
Dada Tsania bagai dihantam godam raksasa. Pertahanan batinnya runtuh seketika. Air mata Tsania menetes semakin deras menembus sudut matanya yang masih terpejam rapat.
Dia tahu...? Dan ternyata selama di Singapura dia juga mengalami koma, ternyata Arsen juga mengalami hal yang sangat sulit di sana. Walau dia tahu jika pak Bisma memang tak pernah merestui hubunganya, namun dia tak mengira kalau Pak Bisma juga menyiksa Arsen dengan foto-foto palsu dirinya. Hal yang sama dengan yang dia dapatkan, jika Arsen sudah bahagia dan, apalagi dia juga sudah kehilangan ayah dan segala sesuatu yang buruk hampir menimpanya. Sehingga Tsania lebih memilih menjauh dan bersembunyi.
Isakan Arsen di samping ranjangnya terdengar makin memilukan. Pria itu mengadahkan kepala kembali, jempolnya yang gemetar usang mengusap bibir Tsania dengan kelembutan yang teramat sangat.
Tsania harus menggigit bibir bawahnya sendiri kuat-kuat sampai rasa asin darah menyentuh lidahnya demi menahan agar isakan tangisnya tidak pecah mendadak. Seluruh badannya gemetar. Alasan di balik ketakutan dan penderitaannya selama ini, rahasia kematian almarhum ayahnya dan teror yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat demi menyelamatkan nyawa Arsen kini telah terbuka di depan pria itu.
"Sabtu malam nanti, Nia..." bisik Arsen, mendekatkan wajahnya di dekat telinga Tsania, membiarkan napas hangatnya yang sarat akan penyesalan menyentuh kulit leher Tsania.
"Sabtu malam nanti aku akan mengakhiri semua sandiwara ini. Aku akan membatalkan pertunangan dengan Aurelia di depan ratusan media. Aku akan membongkar seluruh kejahatan Papaku di hadapan publik... dan aku akan melepaskan nama Pratama yang sudah berlumuran dosa ini."
Arsen menggenggam erat jemari Tsania, menyalurkan tekad bulat yang tidak bisa diganggu gugat.
"Setelah malam itu... kalau kamu mau memukulku, menamparku, atau mengusirku dari hidupmu selamanya, aku akan menerimanya tanpa perlawanan," tutur Arsen penuh kepastian mematikan. "Tapi biarkan aku membayar semua rasa sakitmu dulu... Biarkan aku mengembalikan nama baikmu dan almarhum ayahmu ke tempat yang seharusnya."
Arsen membungkukkan tubuhnya lebih dalam, menempelkan bibirnya di dahi Tsania. Kecupan itu berlangsung lama, hangat, dan penuh doa serta permohonan ampun yang amat mendalam.
"Tidurlah yang nyenyak, Ratuku..." bisik Arsen pelan sebelum melepaskan genggaman tangannya dengan berat hati. "Mas Arsen ada di sini... menjaga tidurnya Tsania dari bayang-bayang."
Arsen perlahan berdiri, menyapu air mata di wajahnya dengan lengan jas, lalu melangkah mundur beberapa tapak secara perlahan sampai bunyi pintu mahoni terkuak dan terkunci kembali dari luar.
Ruangan VVIP 601 kembali hening sepenuhnya.
Saat memastikan langkah kaki Arsen telah benar-benar menjauh dan hilang di lorong rumah sakit, Tsania perlahan membuka matanya. Pandangannya buram total oleh genangan air mata.
Tsania memiringkan tubuhnya ke samping, membawa tangan kirinya yang bekas diecup dan digenggam erat oleh Arsen ke depan dadanya. Ia memeluk tangannya sendiri, membiarkan isakan tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah memenuhi ruangan yang sepi itu.
"Mas Arsen..." bisik Tsania di tengah Isakannya yang menyayat hati.
Ia menangis bukan lagi karena rasa takut atau trauma atas intimidasi Arsen, melainkan karena rasa sakit yang teramat luar biasa melihat pria yang dicintainya harus hancur oleh kebenaran yang mengerikan itu. Tsania menangisi takdir mereka yang begitu kejam, menangisi tiga tahun penuh dendam yang salah arah, dan menangisi keberanian Arsen yang siap memusnahkan hidupnya sendiri pada Sabtu malam mendatang demi menebus dosa-dosa keluarganya.