Angin malam berhembus dingin, membawa aroma pinus yang tajam menyapu halaman belakang sekte pinggiran. Lin Chen duduk bersila di atas batu basal yang dingin, menarik napas panjang. Malam ini terasa berbeda. Setelah bertahun-tahun menderita dan dihina oleh sesama murid, ia akhirnya bangkit dan menyadari satu kebenaran mutlak yang selama ini tertidur di dalam darahnya: tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Meridian yang selama ini tersumbat perlahan mulai beresonansi, menandakan ia telah melangkah mantap di tahap awal kultivasi, yakni ranah Penempaan Tubuh.
Ia membuka mata perlahan. Tepat pada saat itu, dari kejauhan di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sedang berdiri di anjungan tebing.
Gadis itu adalah Su Qingyue. Untuk pertama kalinya, Lin Chen melihatnya dari jarak sejauh ini, tampak sangat dingin dan cantik tiada tara, seolah-olah ia bukanlah makhluk yang berasal dari dunia yang fana ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Puncak Tangga Bintang
Tekanan di atas Tangga Bintang Penekan Jiwa benar-benar di luar nalar. Setiap kali sepatu menapak ke anak tangga giok berikutnya, gravitasi dan tekanan spiritual berlipat ganda, seolah ada godam tak kasat mata yang menghantam Lautan Kesadaran dan fisik secara bersamaan.
Baru mencapai anak tangga ke-20, ratusan jenius muda dari berbagai penjuru benua sudah bertumbangan. Suara retakan tulang dan jeritan tertahan menggema di udara. Bagi mereka yang terbiasa hidup nyaman dengan gelar "jenius" di kampung halamannya, kekejaman Akademi Bintang Tujuh adalah tamparan nyata yang sangat keras.
Diaken penerimaan yang berdiri di bawah tebing hanya mendengus dingin melihat pemandangan itu.
Di tengah lautan penderitaan itu, Su Qingyue melangkah dengan keanggunan yang menyilaukan mata. Aura es murni berputar di sekeliling tubuh rampingnya, menciptakan domain perlindungan yang membekukan tekanan spiritual sebelum sempat menyentuh jubah putihnya. Ia melangkah melewati anak tangga ke-50 tanpa setetes keringat pun, dengan mudah mengamankan status murid pelataran luar dan akses dasar ke Mata Air Spiritual.
Namun, gadis yang tampak seolah bukan berasal dari dunia fana itu tidak berhenti. Ia terus mendaki. 60, 70, hingga akhirnya langkahnya sedikit melambat di anak tangga ke-80. Di titik ini, ia menoleh perlahan ke belakang. Di balik wajahnya yang sedingin es, ada setitik kekhawatiran yang ia sembunyikan.
Pandangannya mencari satu sosok berjubah abu-abu.
Dan di sanalah Lin Chen berada.
Pemuda itu tidak menggunakan teknik meringankan tubuh. Ia tidak memancarkan perisai energi Qi spiritual sedikit pun. Lin Chen hanya melangkah setapak demi setapak, seperti manusia biasa yang sedang mendaki bukit. Namun, setiap kali kakinya berpijak, terdengar suara dentuman berat yang menggetarkan batu giok di bawahnya.
Diaken di bawah tebing menyipitkan matanya. "Bocah dari sekte pinggiran itu... dia menahan tekanan murni dengan kekuatan fisiknya? Benar-benar tubuh yang keras kepala."
Sementara itu, Zhu Da, pemuda gempal sahabat Lin Chen, sedang merangkak dengan susah payah di anak tangga ke-45. Sesuai pesan Lin Chen, ia tidak memaksakan diri memanjat terlalu cepat dan murni menggunakan lemak di tubuhnya sebagai bantalan penahan gravitasi. Dengan wajah pucat dan napas memburu, Zhu Da akhirnya berhasil melempar tubuh besarnya ke anak tangga ke-50, lalu terkapar tak berdaya sambil tertawa serak. Ia selamat.
Kini, perhatian seluruh alun-alun tertuju pada barisan depan.
Lin Chen melewati anak tangga ke-50, lalu ke-60, dan ke-70 dengan ritme yang mengerikan dan tak berubah. Teknik Penempaan Tubuh Gajah Purba yang telah ditempa dalam penderitaan kawah magma kini menunjukkan taring aslinya. Tulang-tulangnya yang sekeras baja beresonansi halus, justru menyerap tekanan gravitasi tersebut layaknya palu tempa untuk semakin memadatkan fondasi fisiknya.
"Bagus, Bocah!" suara Tua Hitam bergema di dalam Dantian-nya, berat dan penuh antusiasme. "Tekanan di tempat ini adalah tekanan yang sempurna. Jangan berhenti! Ingat, kau butuh anak tangga ke-90 untuk mendapatkan Token Murid Inti dan akses istimewa ke pusat Mata Air Spiritual!"
Lin Chen tidak membalas. Matanya terkunci pada anak tangga tertinggi, tempat kabut spiritual berpusar.
Di anak tangga ke-85, Lin Chen akhirnya berdiri sejajar dengan Su Qingyue. Napas gadis itu mulai sedikit tak beraturan, dan pedang di tangannya bergetar menahan tekanan jiwa yang mulai brutal.
"Kau keras kepala sekali, tidak mau menggunakan energi Qi," bisik Su Qingyue pelan tanpa menoleh, namun ada nada hangat dalam suaranya yang dingin.
"Kalau hanya untuk naik tangga, ototku sudah cukup," jawab Lin Chen dengan senyum tipis yang tenang. "Ayo. Puncak masih menanti."
Mendengar itu, entah mengapa beban di pundak Su Qingyue terasa sedikit lebih ringan. Mereka berdua melangkah bersama menembus batas ke-90.
BAM!
Begitu kaki mereka menyentuh anak tangga ke-90, sebuah lonceng energi raksasa berdentang di langit akademi. Cahaya keemasan dan biru es meledak bersamaan. Su Qingyue berhasil mencapai anak tangga ke-92 sebelum akhirnya berhenti, tidak mampu lagi menahan tekanan yang bisa menghancurkan Lautan Kesadarannya. Itu sudah merupakan rekor tertinggi bagi calon murid dalam sepuluh tahun terakhir!
Namun, Lin Chen belum berhenti.
Di bawah tatapan horor sang diaken dan ribuan calon murid, Lin Chen melangkah ke anak tangga ke-93. Kulitnya mulai memerah. Urat-urat di lehernya menonjol. Di anak tangga ke-95, suara retakan halus terdengar dari tulangnya.
"Sudah cukup, Bocah! Kau sudah dapat posisi Murid Inti!" peringat Tua Hitam.
"Belum," geram Lin Chen. "Tujuanku bukan hanya menjadi murid inti. Aku akan membuktikan bahwa langkah ini tidak akan berhenti sampai aku menembus puncak tertinggi!"
Lin Chen memejamkan mata. Ia membangkitkan seluruh sisa tenaga purba di dalam darahnya. Suara raungan gajah purba menggema dari dalam tubuhnya, menggetarkan tebing raksasa itu. Ia melangkah ke-96, 97, 98... dan dengan satu hentakan napas terakhir yang menyapu seluruh kabut di atas sana, Lin Chen menginjakkan kakinya di anak tangga ke-99.
Keheningan menyelimuti Akademi Bintang Tujuh.
Sang diaken penerimaan menjatuhkan gulungan perkamennya ke lantai batu giok. Sepanjang sejarah akademi, anak tangga ke-99 sangat mustahil dicapai murni dengan fondasi dasar tanpa perlindungan artefak tingkat tinggi. Hari ini, seorang pemuda tanpa latar belakang besar, murni dengan kekuatan fisiknya, telah menaklukkannya.
Di atas puncak yang tertiup angin bintang, Lin Chen berdiri tegak dengan napas berat namun punggung yang tak pernah merunduk.