Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 010
Dua Ibu, Satu Rencana
“Minggu depan.”
Wulan mengulang dua kata itu keesokan paginya sambil menyusun fotokopi dokumen di meja makan.
Laras berdiri di ambang dapur dengan rambut masih berantakan. “Mama juga tahu?”
“Bu Ratna menelepon sebelum kamu pulang.”
Di atas meja sudah ada salinan KTP, kartu keluarga, akta kelahiran, dan beberapa pasfoto yang bahkan tidak Laras ingat pernah diberikan kepada Wulan.
“Mama menyiapkan semua ini sejak kapan?”
Wulan mendorong secangkir teh hangat ke arahnya. “Sejak kamu bilang iya.”
“Aku baru bilang iya tengah malam.”
“Mama bisa bergerak cepat kalau perlu.”
Laras duduk dan memegang cangkir dengan kedua tangan. “Ternyata bukan cuma Arkan yang menakutkan.”
Wulan tersenyum, tetapi tatapannya segera berubah serius. “Kalau kamu merasa terlalu cepat, bilang sekarang. Dokumen bisa disimpan lagi.”
“Aku nggak mau mundur.”
“Yakin?”
Laras mengangguk.
Wulan duduk di sebelahnya. Jemarinya merapikan tepi salinan akta kelahiran Laras, lalu berhenti pada nama keluarga Anjani.
“Sebelum kamu menikah, ada sesuatu yang harus Mama ceritakan utuh.”
Laras tahu apa yang akan datang. Luka dari reuni belum benar-benar surut. Tiga kata yang diteriakkan Vina masih muncul setiap kali ia memejamkan mata.
“Tentang Papa?”
Wulan tidak pernah menyebut Darmawan dengan panggilan itu. Hanya Laras yang sesekali memakainya untuk menandai hubungan darah yang tidak pernah terasa seperti keluarga.
“Tentang pernikahan Mama.”
Wulan menarik napas pelan. Ia menikah dengan Darmawan secara sah ketika keduanya masih membangun hidup dari bawah. Laras lahir dalam pernikahan itu. Pada tahun-tahun awal, nama Prawira melekat pada mereka bertiga dan tak seorang pun mempertanyakannya.
Lalu Vania masuk.
“Mama tahu hubungan mereka setelah semuanya berjalan cukup lama,” ujar Wulan. “Waktu itu Vania sudah hamil Tiara.”
Laras menekan bibir.
“Darmawan memilih dia?”
“Dia memilih hidup yang menurutnya lebih menguntungkan.” Senyum Wulan tipis dan pahit. “Keluarga Vania punya koneksi bisnis yang dia butuhkan. Mama diminta menerima atau pergi.”
“Dan Mama pergi tanpa apa-apa.”
“Mama membawa kamu.”
Jawaban itu membuat dada Laras sakit.
Wulan menjelaskan bagaimana cerita kemudian diubah. Lingkungan keluarga Prawira diperkenalkan pada Vania seolah perempuan itu telah lebih dulu bersama Darmawan. Vania bahkan mengubah catatan usia Tiara menjadi satu tahun lebih tua, membuat orang mengira Wulan dan Laras datang belakangan.
“Jadi itu sebabnya mereka selalu bilang aku anak pelakor.”
“Karena kebohongan yang diulang keluarga besar lebih mudah dipercaya daripada perempuan yang pergi tanpa uang dan tanpa kuasa.”
“Kenapa Mama nggak melawan?”
Wulan menunduk pada kedua tangannya. “Waktu itu Mama cuma ingin memastikan kita punya tempat tinggal dan kamu tetap sekolah. Sebagian dokumen lama tertinggal. Orang-orang yang tahu memilih diam. Mama pikir menjauh akan membuat semuanya berhenti.”
“Tapi nggak berhenti.”
“Nggak.”
Laras memikirkan meja sekolah, tas yang dicoret, dan bisikan di reuni. “Kalau suatu hari aku ingin membuktikannya?”
Wulan menatapnya lama. “Mama akan berdiri di sampingmu. Tapi jangan lakukan hanya untuk membuat orang seperti Vina percaya. Lakukan karena kamu ingin nama kita kembali.”
Laras menggenggam tangan ibunya. Untuk pertama kalinya, seluruh susunan kebohongan itu terlihat jelas. Kebenaran belum berada di tangannya dalam bentuk dokumen, tetapi kini ia tahu bagian apa yang suatu hari harus dicari.
Tiga hari kemudian, ruang tamu rumah Wulan berubah menjadi tempat lamaran sederhana.
Ratna datang bersama Arkan menjelang siang. Ia mengenakan kebaya modern berwarna biru gelap dan membawa beberapa bingkisan, bukan rombongan besar. Begitu melihat Laras, wajahnya langsung melunak.
“Akhirnya ketemu juga, Nak.”
Laras mencium tangan Ratna dengan sopan. “Senang bertemu, Bu Ratna.”
“Bu Ratna dulu saja,” katanya sambil tersenyum. “Nanti kita lihat kamu mau memanggil apa setelah akad.”
Pipi Laras menghangat.
Wulan keluar dari dapur dan memeluk Ratna. Keakraban mereka jauh dari pertemuan formal dua calon besan.
“Kalian sebenarnya kenal dari mana?” tanya Laras.
“Arisan,” jawab Wulan.
“Awalnya arisan,” koreksi Ratna. “Lalu Mama kamu mengajak saya mencoba kopi dari kedai kecil di Bogor. Setelah itu kami sering pergi sendiri.”
Arkan meletakkan bingkisan terakhir di meja. “Dan merencanakan hidup anak-anaknya.”
“Kalau menunggu kamu, Mama cuma dapat jadwal terbang,” balas Ratna.
Makan siang berlangsung hangat. Pembicaraan resmi dimulai setelah hidangan utama tersaji. Ratna menyampaikan maksud keluarga Wibisana untuk melamar Laras, lalu menanyakan sekali lagi apakah keputusan itu benar-benar datang dari Laras sendiri.
“Iya, Bu,” jawab Laras. “Saya setuju.”
Barulah mereka membicarakan mahar, akad, dokumen KUA, dan daftar keluarga inti yang akan hadir. Laras meminta semuanya sederhana. Mahar disepakati berupa seperangkat alat salat dan emas, sementara rincian administrasi diserahkan kepada kedua keluarga untuk diperiksa bersama petugas KUA.
Arkan tidak banyak bicara. Namun, ketika Laras kesulitan mengupas udang karena tangannya terkena saus, ia mengambil piring kecil itu tanpa bertanya. Beberapa menit kemudian, udang yang sudah bersih kembali ke depan Laras bersama segelas air baru.
Ratna melihatnya dan menahan senyum.
“Sejak kapan kamu bisa mengupas udang untuk orang?”
“Sejak ada yang terlalu lama memegang satu udang,” jawab Arkan.
Laras menunduk agar tidak terlihat tersenyum.
Setelah tanggal akad disepakati, pembicaraan beralih kepada keluarga Wibisana. Sebuah foto lama di ponsel Ratna memperlihatkan laki-laki berseragam TNI-AU berdiri di samping pesawat.
“Itu ayah Arkan,” katanya. “Almarhum Letkol Pnb Yudha Wibisana.”
Yudha meninggal dalam penerbangan uji. Pesawatnya mengalami masalah di udara, tetapi ia mempertahankan kendali cukup lama untuk menjauh dari kawasan permukiman sebelum jatuh.
Ratna menyampaikan kisah itu tanpa menangis. Hanya ibu jarinya yang berhenti terlalu lama di tepi layar.
“Setelah itu saya tidak ingin Arkan mendekati kokpit,” ujarnya.
Arkan diam.
“Eyang Broto yang membelanya,” lanjut Ratna. “Beliau bilang melarang Arkan terbang tidak akan menghidupkan ayahnya. Akhirnya Eyang yang mengurus sekolahnya di luar negeri.”
Laras memandang Arkan. Di balik ketenangannya, ada seorang anak yang kehilangan ayah lalu memilih langit yang sama.
Untuk sesaat ia ingin menyentuh tangannya. Ia menahan diri dan hanya menggeser gelas air ke arah Arkan ketika menyadari gelas laki-laki itu kosong.
Tatapan mereka bertemu.
Arkan menerima gelas itu tanpa kata, tetapi sorot matanya melunak.
Menjelang sore, Ratna dan Wulan kembali memeriksa daftar dokumen di ruang tengah. Laras mengantar Arkan sampai teras.
“Kamu masih kaget soal minggu depan?” tanyanya.
“Sedikit.”
“Masih bisa diubah.”
“Nggak usah.” Laras menatapnya. “Aku cuma belum terbiasa melihat hidupku bergerak secepat jadwal penerbanganmu.”
Arkan hampir tersenyum. Lalu pandangannya turun ke kartu identitas AirNav yang masih tergantung di tas kerja Laras.
“Aku baru kepikiran sesuatu.”
“Apa?”
“Nilaimu dulu bagus.” Arkan menyandarkan bahu pada tiang teras. “Kenapa kamu pilih jadi ATC?”
Senyum Laras membeku.
Karena kamu.