Hidup bukan sekadar berjalan mengikuti arus dunia, melainkan tentang bagaimana jiwa menemukan jalan pulang kepada Sang Pencipta.
Fazam Arjuna mengira hari-harinya hanya akan diisi dengan kesederhanaan hidup dan secangkir kopi di rumah bersama keluarga tercinta. Namun, takdir membawanya pada sebuah panggilan batin yang jauh lebih dalam—sebuah perjalanan laku spiritual yang menguji keteguhan hati, kesabaran, dan keikhlasan.
Di tengah sunyinya jalan setapak pencarian hakikat diri, langkah Fazam tidak berjalan sendirian. Ia ditemani oleh rahasia semesta yang terbentang, pengawalan batin dari sosok harimau putih, hingga bimbingan penuh kearifan dari Eyang Semar yang menuntunnya menembus tirai gaib kehidupan.
Bagaimana kisah Fazam dalam menyucikan hati dan menemukan cahaya sejati di tengah liku-liku batinnya?
Ikuti perjalanan penuh hikmah dan misteri batin dalam Perjalanan Laku Spiritual. Temukan jawabannya di setiap lembarnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Mbah Tunggal — Yang Selalu Membisik di Hati
Sore itu matahari mulai turun perlahan, langit berwarna jingga kusam. Fazam berjalan menyusuri jalan setapak yang sepi, ladang di kiri kanan membentang luas. Di bawah pohon asam tua yang rindang di pinggir jalan, duduk sesosok orang tua. Pakaiannya lusuh, rambutnya kusut masai menutupi separuh wajah, tongkat kayu di sampingnya. Penampilannya seperti orang terlantar yang tidak punya siapa-siapa. Orang lewat memalingkan muka, ada yang berjalan cepat menjauh.
Tapi saat Fazam melihatnya dari kejauhan, hatinya langsung bergetar — bukan takut, justru rasa damai yang tiba-tiba memenuhi dada. Wujudnya mungkin sederhana, bahkan terlihat hina di mata dunia — tapi getaran di sanubari ini sudah ia kenal sejak lama. Suara lembut yang sering membisik di dalam hatinya saat ia ragu, saat ia lelah, saat ia hampir menyerah — suara itu sama persis.
Fazam melangkah mendekat pelan, tidak terburu-buru. Ia berhenti di depan orang tua itu, menatapnya lekat-lekat, lalu matanya berkaca-kaca.
"Assalamualaikum... Mbah Tunggal..." ucap Fazam lembut, hampir berbisik.
Orang tua itu mendongak perlahan. Matanya menyipit, lalu tertawa — ha ha ha — tawanya kasar tapi anehnya langsung meneduhkan hati Fazam. Wajahnya penuh kerut, tapi di balik kerut-kerut itu bersinar cahaya yang hangat dan akrab.
"Waalaikumsalam, Le! Kau kenal aku ya? Padahal aku cuma orang gila duduk di bawah pohon!" sahut Mbah Tunggal lantang sambil menepuk-nepuk tanah di sebelahnya, "Duduk! Duduk di sini! Jangan malu — kita sudah lama bicara tanpa mulut!"
Fazam tersenyum haru, lalu duduk di tanah di hadapannya — sama rata, tidak merasa lebih bersih atau lebih tinggi. "Hamba kenal suara Mbah. Selama ini saat hamba berjalan sendirian, saat hamba bingung, saat hati hamba gelap — Mbah selalu bisik di dalam hati hamba. Hamba tidak salah kan?" tanya Fazam lembut namun yakin.
Mbah Tunggal melotot sebentar, lalu tertawa lagi lebih keras — hiihihi — sampai badannya bergoyang. "Hah! Bisik katanya! Bukan aku yang bisik! Aku cuma corong! Yang bicara itu Gusti Allah! Akalku sudah ditarik — jadi aku cuma jalan! Apa yang lewat — lewat saja!" jawabnya sambil menunjuk dada Fazam dengan jari keriputnya.
"Selama ini Mbah selalu bersama hamba ya? Tidak pernah pergi?" tanya Fazam pelan.
Mbah Tunggal mendekatkan wajahnya, menatap mata Fazam lekat-lekat seakan menembus sampai ke sanubari. Lalu dia tersenyum miring — senyum yang nyeleneh tapi penuh kasih sayang.
"Bersama? Aku tidak pernah pergi! Aku di sini, di dada kiri! Tapi bukan aku — yang ada di sana itu Dia! Panggil aku saja Mbah Tunggal, tapi aku cuma bayangan! Yang nyata itu Gusti Allah! Dan ketahuilah — aku ini orang gila! Dunia bilang aku gila karena akalku sudah ditarik Gusti Allah! Jadi aku tidak pakai logika dunia lagi! Apa yang aku katakan — tidak masuk akal menurutmu, tapi justru itulah yang benar!" ucapnya tegas.
Fazam mengangguk pelan, meresapi setiap kata. "Akal ditarik Gusti Allah..." ucapnya pelan.
"Iya! Ditarik! Dikait! Ditarik ke atas!" sahut Mbah Tunggal sambil menarik tangannya ke atas seakan menarik sesuatu yang berat, "Dunia ini pakai akal yang kecil — menghitung untung rugi, menghitung tinggi rendah, menghitung siapa hebat siapa tidak. Tapi kalau akal sudah ditarik sama Gusti Allah — kau tidak pakai hitungan itu lagi! Kau melihat apa yang Dia lihat! Kau mencintai apa yang Dia cintai! Dan logikanya — di luar logika manusia biasa!"
"Bagaimana rasanya akal ditarik itu, Mbah?" tanya Fazam tulus ingin tahu.
Mbah Tunggal menepuk keningnya pelan, lalu menatap langit sore yang mulai gelap. "Rasanya? Rasanya dunia jadi kecil sekali. Yang dulu kau anggap penting — harta, pujian, kedudukan — semuanya terasa seperti debu di ujung jari. Yang dulu kau takutkan — sakit, miskin, dihina — semuanya terasa ringan. Karena akal sudah tidak di sini lagi — sudah pindah ke hati, dan di hati itu Gusti Allah yang mengatur," jawabnya lalu menunjuk dada kirinya dengan kuat.
"Tapi kalau akal ditarik — kita tidak jadi bodoh?" tanya Fazam jujur.
Mbah Tunggal tertawa terbahak-bahak sampai badannya bergoyang. "Bodoh? Justru baru jadi pintar sejati! Orang yang akalnya tidak ditarik — dia pintar di mata dunia tapi bodoh di hadapan Allah. Orang yang akalnya ditarik — dia tampak bodoh di mata dunia, tapi justru itulah yang paling dekat dengan kebenaran! Karena dia tidak lagi berpikir untuk dirinya sendiri — dia membiarkan Gusti Allah yang berpikir lewat dirinya!" ucapnya lantang.
Fazam terdiam sejenak, lalu bertanya pelan. "Jadi selama ini Mbah bukan orang asing — Mbah selalu ada di jalan hamba, menuntun tanpa pernah terlihat?" tanya Fazam lembut.
"Betul sekali!" sahut Mbah Tunggal sambil menepuk paha Fazam keras-keras, "Aku tidak datang kemari dari jauh! Aku sudah ada sejak kau melangkah di jalan ini! Karena dunia gila — dunia mengejar bayangan dan lupa pada benda aslinya! Jadi kalau kau tidak ikut gila sama dunia — dunia yang menganggap kau gila! Kau jalan lurus — dunia bilang kau sesat. Kau rendah hati — dunia bilang kau lemah. Kau tidak mau harta — dunia bilang kau bodoh. Padahal siapa yang sebenarnya bodoh?"
Mbah Tunggal lalu mendekat lagi, suaranya berubah lembut namun dalam — suara yang sama persis dengan bisikan di hati Fazam selama ini.
"Dengarkan wejangan ini baik-baik, Le — sebelum akal kau masih di sini, sebelum kau ikut arus dunia," ucapnya pelan.
"Hamba dengar, Mbah," jawab Fazam sambil menatapnya penuh perhatian.
"Pertama — jangan percaya akal sendiri terlalu banyak. Akal itu bagus, tapi kecil. Seperti gelas air dibandingkan laut. Kalau kau cuma percaya akal sendiri — kau tidak akan pernah mengenal Dia. Serahkan akal itu kepada-Nya — biar Dia yang mengarahkan," ucap Mbah Tunggal tegas.
"Kedua — kalau hatimu bertentangan dengan akal dunia — ikuti hatimu. Karena akal dunia sering kali menipu. Hati yang sudah bersih — itu cahaya dari-Nya," sahutnya sambil menunjuk dada Fazam.
"Ketiga — orang yang akalnya sudah ditarik Gusti Allah — dia tidak lagi membedakan kaya miskin, mulia hina, teman lawan. Semua sama di matanya. Karena dia sudah tidak melihat dengan mata — dia melihat dengan hati," ucap Mbah Tunggal lembut.
Fazam menunduk, air mata menetes pelan di pipinya. Kata-kata itu nyeleneh, tidak pakai logika biasa — tapi justru itulah yang paling benar. "Terima kasih, Mbah Tunggal. Hamba paham sedikit — paham bahwa akal hamba ini kecil, dan hamba harus menyerahkannya kepada-Nya," ucap Fazam dengan suara bergetar.
Mbah Tunggal tersenyum — senyum yang tulus dan damai. Ia meletakkan tangannya yang keriput di atas kepala Fazam. "Pergilah. Dan ingat — kalau suatu saat orang bilang kau gila karena kau tidak ikut cara dunia — ingatlah Mbah Tunggal yang duduk di bawah pohon asam ini. Akalmu sudah ditarik — tinggal kau ikuti jalan yang Dia tunjuk," ucapnya lembut.
Fazam mencium tangan itu dengan penuh hormat. Saat ia melangkah pergi, langkahnya terasa berbeda — lebih ringan, lebih mantap. Di dalam hatinya tumbuh kesadaran baru: hidup ini tidak bisa dihitung pakai logika dunia semata. Harus ada hati yang menyerahkan akal kecil itu kepada Pemilik segala akal.
Dan di dalam sanubarinya, di antara langkah kaki yang perlahan di bawah langit malam, zikir lembut terus mengalir — akal ditarik, hati diserahkan, dan Dia yang memimpin: