NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 012: Es Madu Kopi

Kantor Pak Budiman Hartono berada di lantai tinggi sebuah gedung kaca di pusat Jakarta.

Dari jendela ruang rapat, Rian Prasetyo bisa melihat jalan raya seperti aliran hitam yang tidak pernah berhenti. Mobil, motor, bus, manusia, papan iklan, dan gedung lain bertumpuk dalam satu pemandangan yang membuat Kota Tanjung Emas terasa seperti halaman belakang.

Bagus.

Semakin besar panggung, semakin besar biaya.

Semakin besar biaya, semakin dekat dengan rugi.

Rian duduk dengan wajah tenang, sementara dompet pribadinya di saku terasa tipis seperti lelucon.

Bagas Wicaksono duduk di sebelahnya, memakai kemeja yang jelas baru disetrika dengan niat baik tapi hasil seadanya. Fajar Hidayat berada sedikit di belakang, membawa map dan mencatat apa pun yang menurutnya penting.

Pintu ruang rapat terbuka.

Pak Budiman masuk bersama seorang pria bertubuh besar, berwajah keras, dan tertawa sebelum duduk.

"Jadi ini anak muda yang bikin heboh itu?" pria itu berkata tanpa basa-basi. "Saya Wahyu Santoso. Orang bilang saya terlalu kasar. Jangan percaya. Saya jauh lebih kasar kalau sudah lihat laporan buruk."

Bagas langsung menunduk pura-pura memeriksa sepatu.

Rian berdiri dan menjabat tangannya. "Rian Prasetyo, Pak."

Pak Wahyu mencengkeram tangannya kuat. "Saya dengar kamu kasih pegawai gaji tiga kali standar industri. Jam kerja pendek. Bonus besar. Kamu ini orang suci atau orang bodoh?"

Ruang rapat mendadak sunyi.

Pak Budiman hanya tersenyum, seperti sengaja menunggu jawaban.

Rian berpikir sebentar.

Kalau ia menjawab jujur, "Saya ingin rugi," rapat ini mungkin selesai dengan ambulans.

Jadi ia memilih kalimat paling aman.

"Dua-duanya bukan, Pak. Saya hanya merasa itu yang benar."

Pak Wahyu memandangnya dua detik.

Lalu tertawa keras.

"Bagus! Jawaban orang gila yang punya prinsip. Saya suka."

Rian tidak tahu bagian mana yang harus ia syukuri.

Rapat dimulai.

Pak Budiman meminta Rian menjelaskan rencana bisnis di Jakarta. Rian membuka map kosong yang semalam ia isi dengan coretan tergesa-gesa. Ia sebenarnya belum punya rencana matang. Tapi setelah melihat pasar Jakarta, satu ide muncul sangat jelas.

Pasar minuman.

Kopi susu.

Teh.

Minuman manis.

Kedai kecil di setiap sudut.

Brand besar saling bunuh dengan diskon.

Pelanggan cepat bosan.

Kompetisi padat sampai sulit bernapas.

Tempat sempurna untuk mati.

"Saya ingin membuat jaringan minuman bernama Es Madu Kopi," kata Rian. "Konsepnya sederhana. Kopi madu, es kopi susu madu, teh madu lemon, es cokelat madu, dan beberapa minuman Nusantara modern."

Bagas langsung tegak. "Gue bisa desain resepnya, Bos. Madu asli, kopi yang nggak bikin lidah nangis, tekstur es pas, semua bisa."

Rian menatapnya cepat.

Jangan terlalu semangat.

Tapi sudah terlambat. Pak Budiman mencatat.

"Kenapa madu?" tanya Pak Budiman.

"Karena mudah diingat," jawab Rian. "Dan bahan bakunya lebih mahal daripada gula biasa."

Ia berhenti.

Kalimat terakhir keluar terlalu jujur.

Pak Wahyu menunjuknya sambil tertawa. "Lihat? Dia bahkan memikirkan diferensiasi dari sisi bahan baku. Bukan sekadar manis murah."

Rian menunduk sedikit.

Ya.

Tentu.

Itu yang kumaksud.

Pak Budiman bertanya, "Bagaimana harga jualnya?"

Inilah bagian favorit Rian.

Ia membuka halaman berikutnya.

"Harga dihitung dari biaya produksi ditambah dua puluh persen."

Pak Wahyu berhenti tertawa.

Pak Budiman menatapnya dalam.

Bagas berbisik, "Bos, ini murah banget."

Rian mengangguk pelan. "Benar."

Murah berarti margin tipis.

Margin tipis berarti ruang salah sedikit langsung berdarah.

Dengan sewa Jakarta, gaji tinggi, bahan madu, dan renovasi bagus, bisnis ini seharusnya berjalan menuju jurang dengan sepatu baru.

"Mayoritas kompetitor ambil margin jauh lebih tinggi," kata Rian. "Saya tidak ingin begitu."

Pak Budiman meletakkan pulpen.

Untuk sesaat, Rian berharap pria tua itu akan berkata, "Ini terlalu berisiko."

Pak Budiman malah menoleh kepada Pak Wahyu.

"Dia sedang memulai perang harga."

Pak Wahyu menyipitkan mata. "Margin tipis, volume besar, kualitas kuat. Kalau scale-nya cukup, kompetitor kecil akan sesak napas."

"Seperti Amazon," kata Pak Budiman pelan.

Rian menatap meja.

Tidak.

Bukan Amazon.

Ini hanya usaha bunuh diri memakai sedotan.

Pak Wahyu mengetuk meja. "Berapa dana yang kamu butuhkan?"

"Satu triliun sudah cukup," jawab Rian cepat.

Terlalu cepat.

Pak Budiman tersenyum.

"Mas Rian, Jakarta tidak bisa digerakkan setengah hati. Saya masuk satu triliun."

Rian mengangkat kepala.

Apa?

Pak Wahyu menyandarkan tubuh. "Kalau Budiman masuk satu, saya juga masuk satu. Saya mau lihat anak muda gila ini mengguncang pasar."

Rian merasa darahnya turun ke kaki.

Sistem memberinya satu triliun.

Dua investor menambah dua triliun.

Total tiga triliun.

Ia datang untuk mencari lubang.

Mereka memberinya sekop emas, truk, dan izin menggali seluruh kota.

"Pak," kata Rian pelan, "bukankah ini terlalu besar?"

Pak Budiman menjawab dengan tenang, "Justru karena besar, rencana Anda punya daya tekan."

Pak Wahyu tertawa. "Kalau kalah, kalah besar. Kalau menang, menang besar. Saya lebih suka begitu."

Rian memejamkan mata sebentar.

Kalau kalah besar, aku kaya.

Kalau menang besar, aku mati pelan-pelan.

Sayangnya, sejarah hidupnya akhir-akhir ini sangat tidak memihak.

Minggu pertama setelah rapat berubah menjadi badai.

PT Garuda Emas Group resmi dibentuk sebagai induk usaha. Dokumen perusahaan disiapkan, struktur bisnis dirapikan, dan semua unit yang sebelumnya terasa seperti proyek liar mendadak masuk ke dalam satu nama yang terlalu megah.

PT Garuda Emas Group.

Perusahaan emas milik orang yang ingin rugi.

Rian melihat nama itu di dokumen legal dan merasakan hinaan yang sangat administratif.

Es Madu Kopi pertama dibuka di dekat kawasan perkantoran.

Rian sengaja memilih lokasi dengan sewa tinggi. Renovasi dibuat bersih, terang, dan nyaman. Karyawan diberi gaji di atas rata-rata, shift manusiawi, BPJS, makan, dan pelatihan layanan yang membuat mereka menyapa pelanggan seperti menerima tamu keluarga.

Ia bahkan menolak desain kios kecil yang ditawarkan tim properti.

"Terlalu efisien," katanya.

Arsitek menatapnya bingung.

"Saya ingin pelanggan punya tempat duduk. Karyawan juga harus punya ruang istirahat yang layak. Gudang jangan sempit. Mesin jangan yang paling murah."

Di kepalanya, setiap kalimat berarti biaya.

Sewa lebih besar.

Renovasi lebih mahal.

Mesin lebih banyak.

Listrik lebih berat.

Pak Budiman mendengar daftar itu dan mengangguk puas. "Mas Rian menjaga pengalaman dari hulu ke hilir."

Pak Wahyu langsung menambahkan, "Saya setuju. Kalau mau perang, jangan pakai senjata mainan."

Rian merasa seperti orang yang sengaja menggali lubang, lalu dua orang datang membawa alat berat dan memuji kedalaman visinya.

Harga minuman dipasang rendah.

Es Kopi Madu Susu.

Es Teh Lemon Madu.

Kopi Hitam Madu.

Es Cokelat Madu.

Semua dihitung biaya plus dua puluh persen.

Rian berdiri di balik kaca pada hari pertama, menunggu kenyataan manis bernama kegagalan.

Lima menit pertama sepi.

Sepuluh menit pertama masih aman.

Menit kelima belas, seorang karyawan kantor masuk.

Ia membeli satu Es Kopi Madu Susu.

Menit kedua puluh, ia kembali bersama tiga temannya.

Menit ketiga puluh, antrean mulai keluar pintu.

Bagas di dapur kecil berteriak, "Tambah es! Tambah cup! Jangan pelit madu, ini identitas brand!"

Rian menempelkan tangan ke kaca.

Identitas brand.

Kata-kata itu menusuk.

Sore hari, media sosial mulai bergerak.

Kopi madu enak, harga waras.

Akhirnya ada minuman Jakarta yang tidak bikin dompet nangis.

Tempatnya nyaman, pegawainya ramah, rasanya premium.

Rian membaca komentar itu dengan wajah kosong.

Harga waras.

Itu seharusnya hinaan untuk margin.

Kenapa terdengar seperti pujian?

Besok paginya, Rian mencoba melakukan koreksi kecil.

"Bagas," katanya, "mungkin rasa madunya jangan terlalu kuat. Biaya bahan baku akan naik terus."

Bagas menatapnya seperti baru mendengar pengkhianatan nasional. "Bos, kalau nama brand kita Es Madu Kopi, madunya harus terasa. Kalau cuma lewat doang, itu bukan madu, itu rumor."

Fajar yang sedang menyusun modul pelatihan mengangkat tangan pelan. "Mas Rian, dari sisi komunikasi, kejujuran rasa justru penting. Pelanggan Jakarta cepat tahu kalau brand cuma menjual nama."

Rian memandang dua orang itu.

Ia mencoba mengurangi kualitas.

Mereka mengubahnya menjadi prinsip merek.

"Baik," katanya lemah. "Madu asli."

Bagas mengepalkan tangan. "Mantap."

Dalam satu minggu, Pak Budiman mengirim tim properti. Pak Wahyu mengirim jaringan pemasok. Bagas mengunci resep. Fajar mengurus catatan pelatihan layanan dan skrip komunikasi karyawan.

Rian hanya sempat berkata, "Jangan terlalu cepat."

Semua orang mendengarnya sebagai, "Pastikan ekspansi tetap terkendali."

Sebulan kemudian, seratus gerai Es Madu Kopi berdiri di berbagai titik Jakarta.

Di stasiun.

Di dekat kampus.

Di lantai dasar perkantoran.

Di samping minimarket.

Di depan pusat kebugaran.

Di gang kecil yang seharusnya tidak mungkin ramai, tapi tetap ramai karena seseorang mengunggah video, "Kopi madu tersembunyi paling murah di Jakarta."

Setiap kali Rian memilih lokasi yang menurutnya aneh, tim Pak Budiman menemukan alasan bagus.

"Dekat halte, bagus untuk pekerja."

"Dekat kampus, bagus untuk repeat order."

"Dekat rumah sakit, bagus untuk keluarga pasien."

"Dekat gedung pemerintah, bagus untuk pegawai."

Rian sampai menunjuk satu ruko di pojok yang jalannya sempit dan parkirnya buruk.

Pak Wahyu melihatnya lima detik, lalu berkata, "Ini cocok untuk layanan take away. Sewa mahal karena pemiliknya serakah, tapi arus pejalan kaki kuat."

Rian tidak lagi percaya pada peta.

Jakarta seperti bisa mencari alasan untuk membuat semua kesalahan menjadi peluang.

Rian mulai mati rasa.

Pada minggu keempat, ruang kerja baru PT Garuda Emas Group dipenuhi layar besar. Peta Jakarta terpampang di dinding, dengan titik-titik merah menandai lokasi gerai.

Titik itu terus bertambah.

Seratus lima puluh.

Dua ratus.

Tiga ratus.

Setiap titik adalah biaya sewa.

Setiap titik adalah gaji.

Setiap titik adalah renovasi.

Setiap titik seharusnya membantu Rian mendekati rugi.

Tapi laporan penjualan harian justru naik seperti orang sedang mengejek gravitasi.

Tiga bulan setelah ide itu diucapkan di ruang rapat Pak Budiman, angka di layar berhenti pada enam ratus.

Enam ratus gerai Es Madu Kopi.

Enam ribu lebih karyawan baru.

Tiga triliun dana operasional bergerak seperti mesin besar yang terlalu sehat.

Pak Budiman berdiri di samping Rian, matanya hangat. "Mas Rian, ini baru permulaan. Anda tidak membangun gerai. Anda membangun kebiasaan baru."

Pak Wahyu datang dari belakang dan menggenggam tangan Rian dengan semangat.

"Rian, enam ratus gerai hanya awal. Saya sudah hubungi kenalan di Surabaya dan Bandung. Es Madu Kopi harus nasional!"

Rian memaksa senyum.

"Pak Wahyu... Anda terlalu baik."

Pak Wahyu tertawa puas dan pergi memanggil asistennya.

Senyum Rian langsung hilang.

Ia menatap peta yang penuh titik merah.

Jakarta tidak menjadi lubang uang.

Jakarta menjadi kandang.

Kandang yang dindingnya terbuat dari omzet, loyalitas pelanggan, dan investor yang terlalu percaya.

Bagas berdiri di sebelahnya sambil membawa segelas Es Kopi Madu Susu.

"Bos, mau coba? Rasa batch terbaru lebih halus."

Rian menatap minuman itu.

Manis.

Dingin.

Murah.

Berbahaya.

"Bagas," katanya lemah, "kurasa aku terjebak."

Bagas mengangguk serius. "Dalam kesuksesan?"

Rian menatap enam ratus titik merah itu sampai matanya perih.

"Dalam penjara yang menghasilkan uang."

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!