NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Tanpa Bakat

Jalan Pedang Tanpa Bakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
​Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Benturan Emas dan Kayu Hitam

​BHOOOM!

​Dua kekuatan yang saling bertolak belakang bertabrakan di tengah lautan debu merah. Gelombang kejut seketika meledak, menyapu bersih sisa-sisa debu di udara dan menciptakan kawah selebar sepuluh meter tepat di bawah kaki mereka.

​Kayu Besi Hitam yang tumpul beradu langsung dengan sepasang kapak berlapis energi emas.

​Mata Wu Kang terbelalak. Ia bisa merasakan getaran mengerikan menjalar dari gagang kapaknya. Tenaga fisik pemuda fana ini... jauh lebih tidak masuk akal daripada rumor yang beredar! Kapak emasnya, yang bisa membelah baja spiritual tingkat rendah, tidak mampu menembus serat Kayu Besi Hitam tersebut.

​Namun, Wu Kang adalah penguasa Puncak Tingkat Sembilan. Kapasitas Qi di dalam Dantiannya nyaris menyentuh wujud cair.

​"Mati kau, Serangga!" aum Wu Kang.

​Ia memompa Qi Elemen Logam secara gila-gilaan dari Dantiannya ke kedua lengannya. Tekanan energi itu tiba-tiba berlipat ganda, menciptakan ledakan cahaya emas yang membutakan.

​BAM!

​Untuk pertama kalinya sejak ia memasuki reruntuhan, tubuh Awan terdorong mundur. Tumitnya terseret di atas bebatuan sejauh lima meter, meninggalkan parit dangkal. Asap putih mengepul dari dada dan lengannya yang bergesekan dengan aura tajam elemen logam milik Wu Kang.

​"Hahaha! Hanya ini batas ototmu?!" Wu Kang tertawa bengis, merasa di atas angin. "Adikku kalah karena tubuhnya terlalu lemah menahan benturan balik! Tapi aku adalah pewaris Seni Tubuh Kera Emas! Pertahanan dan seranganku adalah yang terkuat di Sekte Luar!"

​Wu Kang tidak memberi Awan waktu untuk mengatur napas. Ia kembali melesat, kapak gandanya berputar seperti baling-baling mematikan, menciptakan badai bilah emas yang menyapu area sekitarnya.

​"Badai Pemotong Logam!"

​Awan memicingkan mata, menatap rentetan serangan yang datang bagai gelombang tsunami.

​Jika lawannya adalah Wu Jian yang mengandalkan kecepatan, Awan masih bisa mencari celah dari aliran angin. Tapi Wu Kang bertarung dengan gaya beringas; ia menggunakan gelombang kejut Qi untuk menghancurkan segalanya dalam radius lima meter.

​Awan tahu, jika ia menangkis secara konstan, getaran Qi logam itu akan merusak pedang kayunya dan menguras staminanya.

​Jangan lawan tekanannya. Mengalirlah ke pusat gravitasi.

​Awan menghentikan langkah mundurnya. Ia menancapkan kaki kirinya dalam-dalam ke tanah, menurunkan titik berat tubuhnya hingga batas maksimal menggunakan Langkah Besi Jatuh. Alih-alih menghindar ke belakang, ia justru menunduk tajam dan menerjang maju, langsung menembus badai tebasan emas itu.

​Srat! Srat!

​Bilah-bilah Qi emas menyayat bahu, punggung, dan paha Awan. Namun, berkat penyiksaan di dalam tong Teratai Magma, otot Awan kini sepadat zirah perunggu. Sayatan yang seharusnya membelah tulang itu hanya mampu merobek kulit dan daging luarnya, memercikkan darah segar tanpa melambatkan pergerakannya sedikit pun.

​Melihat manusia fana itu menerobos badai serangannya tanpa peduli pada rasa sakit, kilat kepanikan melintas di mata Wu Kang. "Orang gila!"

​"Menangkis," bisik Awan tenang.

​Tepat saat kapak kanan Wu Kang turun untuk membelah kepalanya, Awan tidak menahannya secara frontal. Ia memiringkan Kayu Besi Hitamnya pada sudut empat puluh lima derajat, membiarkan kapak itu meluncur di atas punggung pedang kayunya, membelokkan arah hantaman Wu Kang ke tanah.

​KRAK! Kapak Wu Kang menghancurkan ubin batu di sebelah kaki Awan.

​Kini, pertahanan dada Wu Kang terbuka lebar.

​Pinggul Awan berputar dengan kecepatan kilat, mentransfer seluruh momentum larinya ke bahu, lalu ke lengannya. Urat-urat di tangan kanannya menonjol hitam. Gagang Kayu Besi Hitam ditarik ke belakang, dan ujung kayunya yang tebal didorong ke depan dalam satu tusukan mematikan.

​Jurus Dasar: Menusuk!

​DHUAAGH!

​Ujung Kayu Besi Hitam itu menghantam tepat di tengah dada Wu Kang. Zirah Qi Emas yang sangat dibanggakan oleh jenius Klan Wu itu berderit keras menahan beban puluhan ton tenaga kinetik yang terpusat di satu titik.

​"Uhukk!"

​Mata Wu Kang melotot, memuntahkan seteguk darah. Namun, Zirah Qi Emasnya tidak hancur. Zirah itu sangat lentur dan tebal, menyerap sebagian besar kerusakan mematikan itu, menyelamatkan jantung Wu Kang dari kehancuran.

​"Kau tidak bisa menembusnya, Bajingan!" Wu Kang mengamuk, membuang kapak kanannya yang tersangkut di tanah, lalu menggunakan tangan kosongnya yang terbungkus Qi untuk mencengkeram erat pedang Kayu Besi Hitam milik Awan.

​Wu Kang bermaksud mengunci senjata Awan, sementara tangan kirinya mengangkat kapak yang tersisa tinggi-tinggi, mengincar leher Awan yang kini tak berpelindung.

​"Ini akhirmu!"

​Kapak emas itu turun dengan kecepatan yang merobek udara.

​Di momen yang memisahkan hidup dan mati itu, wajah Awan sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Alih-alih mencoba menarik pedang kayunya dari cengkeraman Wu Kang, Awan melepaskan tangan kanannya dari gagang pedang.

​Wu Kang tertegun. Dia melepas senjatanya?!

​Kehilangan beban tahanan secara tiba-tiba membuat keseimbangan Wu Kang sedikit goyah ke belakang. Itu adalah celah sebesar lubang jarum, namun bagi seorang pandai besi yang terbiasa mencari titik lemah besi panas, itu sudah lebih dari cukup.

​Tanpa senjata di tangannya, Awan melangkah satu langkah penuh ke dalam zona pertahanan Wu Kang. Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa inci.

​Tangan kanan Awan yang kini kosong mengepal keras. Ia tidak menggunakan teknik sihir, ia murni meminjam prinsip dari pukulan godam baja. Menarik napas panjang, ia membiarkan organ dalamnya yang telah disucikan memompa darah dengan daya ledak maksimal.

​Seni Langkah Besi Jatuh: Hantaman Jangkar!

​Awan menghantamkan tinju kanannya dari bawah ke atas, sebuah pukulan uppercut yang memusatkan seluruh daya tolak bumi, momentum pinggul, dan massa ototnya ke satu titik terkecil: rahang bawah Wu Kang.

​DUAAAAK!

​Bukan suara daging yang dipukul, melainkan suara ledakan meriam yang memekakkan telinga.

​Zirah Qi Emas di rahang Wu Kang hancur berkeping-keping layaknya kaca rapuh. Pukulan Awan yang membawa bobot setara jatuhnya sebongkah batu raksasa menghantam tulang rahang Wu Kang hingga hancur menjadi bubuk tulang.

​Gigi-gigi Wu Kang berhamburan ke udara, lehernya memuntir pada sudut yang tidak wajar akibat gaya dorong yang terlalu brutal. Tubuh besar kultivator Puncak Tingkat Sembilan itu terangkat dua meter ke udara, sebelum akhirnya jatuh menghantam bebatuan keras dengan bunyi debuman yang menyedihkan.

​Kapak emasnya terlepas, berdenting membentur tanah berbatu.

​Wu Kang tergeletak tak berdaya. Matanya berputar ke atas, dan darah segar menyembur dari hidung, mulut, dan telinganya. Organ dalamnya bergetar hebat akibat efek rambatan pukulan tersebut, membuat Qi di dalam Dantiannya seketika hancur berantakan. Ia belum mati, namun sistem sarafnya lumpuh total.

​Awan berdiri di tengah debu yang perlahan mengendap. Ia menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya yang menderu. Ia melangkah mendekati pedang Kayu Besi Hitamnya yang tergeletak di tanah, memungutnya, lalu berjalan perlahan menghampiri Wu Kang.

​Jenius arogan Klan Wu itu menatap Awan dengan sudut matanya. Tidak ada lagi kesombongan di sana. Yang ada hanyalah horor murni, ketakutan absolut yang mencengkeram jiwanya saat melihat manusia fana yang tidak bisa ia bunuh dengan segala kekuatan puncaknya.

​"T-Tidakkk... Ampu—" Suara Wu Kang hanya berupa gumpalan darah yang keluar dari rahangnya yang hancur.

​Awan menatap Wu Kang tanpa ekspresi.

​"Sekte ini mengajariku bahwa tanpa Qi, aku bukanlah manusia," ucap Awan pelan, mengangkat Kayu Besi Hitamnya dengan kedua tangan. "Tapi hari ini aku belajar... bahwa dengan otot yang cukup padat, bahkan Qi milik langit pun bisa diremukkan."

​Tanpa keraguan sedikit pun, Awan mengayunkan pedang kayunya ke bawah.

​PRAK.

​Kehidupan Wu Kang, sang bintang masa depan Klan Wu, berakhir dengan kejam di dasar ngarai tak bernama, dihancurkan oleh sepotong kayu yang digenggam oleh seorang mantan pelayan sekte.

​Setelah memastikan tidak ada pergerakan lain, Awan bersandar pada sebuah batu besar dan merosot duduk.

​"Hah... hah..." napasnya memburu. Latihan neraka dengan Teratai Magma benar-benar menyelamatkan nyawanya hari ini. Jika bukan karena kepadatan ototnya yang meningkat dua kali lipat, badai kapak emas tadi pasti sudah memotong tubuhnya menjadi puluhan bagian.

​Ia memeriksa luka-luka di tubuhnya. Meski dangkal, jumlah sayatannya cukup banyak. Awan segera merobek jubah birunya, mengikat luka-lukanya agar tidak terus mengeluarkan darah, lalu memakan sepuluh butir Pil Penyembuh tingkat rendah yang ia rampas dari pembunuh sebelumnya.

​Tubuhnya berdengung, menyerap pil itu dengan rakus untuk memperbaiki sel-sel kulitnya.

​Setelah staminanya sedikit pulih, Awan mendekati mayat Wu Kang. Prioritas utamanya sekarang adalah menyingkirkan alat pelacak yang terus mengundangnya ke dalam bahaya.

​Ia menemukan sebuah piringan perak di balik sisa jubah Wu Kang. Itu adalah Kompas Pelacak Darah. Di tengah piringan itu, terdapat setetes darah hitam milik Awan yang telah mengering, dilindungi oleh segel kaca kecil.

​Awan menekan jarinya, meremukkan kaca tersebut, dan menggosok sisa darahnya hingga hancur tak berbekas. Jarum kompas itu seketika berputar liar dan kehilangan arah.

​"Sekarang, tidak ada lagi yang bisa melacakku," gumamnya puas. Ia tidak membuang kompas itu, melainkan menyimpannya. Alat ajaib selalu memiliki nilai jual yang tinggi di mata pedagang kota.

​Selanjutnya, ia mengambil Kantong Penyimpanan milik Wu Kang dan keempat bawahannya yang hancur tertimpa batu.

​Sebagai anggota inti Klan Wu, kekayaan Wu Kang sangat mengejutkan. Di dalam kantongnya, Awan menemukan lebih dari delapan ratus Batu Roh tingkat menengah, puluhan gulungan teknik sihir (yang sayangnya tidak bisa ia gunakan), tiga senjata spiritual tingkat menengah, dan beberapa peta rinci mengenai struktur Reruntuhan Lembah Angin.

​Namun, perhatian Awan tertuju pada sebuah botol giok kecil yang memancarkan hawa dingin yang menusuk.

​Awan membuka sumbat botol itu dengan hati-hati. Di dalamnya, terdapat cairan biru kental yang memancarkan aroma manis bercampur dengan hawa buas yang mengerikan.

​"Ini... Esensi Darah Siluman Angin tingkat tiga," mata Awan sedikit melebar.

​Siluman tingkat tiga setara dengan kultivator di Alam Fondasi Roh! Esensi darah ini sangat berharga, biasanya digunakan oleh kultivator elemen angin untuk mempercepat pembukaan meridian mereka. Bagi manusia fana, meminum ini setara dengan menelan racun maut pembeku jantung.

​Namun, bibir Awan justru melengkung membentuk senyuman mengerikan.

​"Rebusan Teratai Magma membuat tubuhku terlalu panas dan kaku seperti besi tempa yang belum dicelupkan ke air," gumamnya. "Esensi darah ini... adalah air pendingin yang sempurna untuk mematangkan struktur ototku."

​Awan menyimpan botol giok itu dengan hati-hati. Ia tidak akan meminumnya sekarang. Di tempat yang penuh bahaya ini, ia butuh tempat yang sangat tertutup.

​Ia menatap peta reruntuhan peninggalan Wu Kang. Di bagian tengah peta tersebut, terdapat sebuah tanda merah besar yang dikelilingi peringatan bertuliskan: Menara Warisan Pusat - Bahaya Tingkat Tinggi.

​"Semua kultivator berbakat pasti akan menuju ke sana," pikir Awan. Mengikat kembali pedang kayunya, ia bangkit berdiri, tubuhnya yang berdebu merah kini sepenuhnya membaur dengan lingkungan Lembah Angin.

​"Mari kita lihat harta karun apa yang disembunyikan langit di tempat ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!