Seorang pemuda bernama Devan dia adalah seorang kurir paket yang hidup sederhana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah menemukan sebuah gelang giok misterius.
Sejak saat itu, keberuntungan mulai menghampirinya dan satu per satu wanita cantik memasuki kehidupannya.
Namun, siapa sebenarnya mereka dan mengapa semuanya terhubung dengan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Not men, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 : Saat Takdir Memilihku
Terlihat enam sosok cantik menghampiri Devan, yang sedang menunggu di kursi kebesaran nya, ditemani puluhan dayang di belakang nya, dan tentu di sisi nya ada sosok Manjo yang mengawal.
"Salam baginda raja!" ucap enam sosok wanita di hadapan Devan.
Setelah membalas salam dari ke enam sosok itu, Devan lantas bertanya. "Apa maksud kalian datang kemari? Dan siapa nama kalian?" tanya Devan.
"Perkenalkan aku bernama Lastri, dan ini Mayang, Ayu, Lasmi, Susi, Yayu dan Kami datang kemari, hanya untuk menyambut raja baru kami, sekaligus ingin meminta pertolongan Baginda!" jawab Salah satu dari mereka yang bernama Lastri.
"Pertolongan seperti apa yang kalian inginkan?"
"Kami meminta kepada mu dengan mohon baginda raja, kami meminta perlindungan di alam moana, karena di alam jin sedang terjadi kekacauan, mereka yang kuat menindas kami yang lemah ini, kami dari kaum siluman Buaya putih selalu menjadi sasaran kekejaman raja baru disana" jelas Lastri.
Setelah perbincangan yang cukup lama, Devan menyetujui permintaan mereka, dan mereka di ijinkan tinggal di alam moana, sementara Devan akan menyelidiki hal itu ke alam jin. Ternyata enam sosok itu adalah siluman buaya putih, yang menjadi sasaran empuk bagi penguasa pongah dan kejam. Lastri dan teman nya, di bebaskan untuk mendiami tempat di alam moana, selama itu tidak mengganggu rakyat nya disana.
"Manjo temani aku bersama Malea menuju alam jin, kita selidiki tempat yang di maksud Lastri" ajak Devan.
"Dengan senang hati, Baginda raja!" jawab Manjo.
"Jangan lupa kau rubah wujud mu" perintah Devan.
"Baik baginda!" jawab Manjo.
Setelah beberapa lama berbincang, Devan menuju ke arah taman di istana moana itu. Dia di temani Malea serta dayang yang lain nya. Dia duduk di sebuah kursi yang terbuat dari batu di tepian danau. Devan menatap ke arah langit, dirinya sekarang hidup di dua dunia yang berbeda, di alam nyata Devan hanya sebagai manusia biasa, sementara di alam moana ini Devan adalah seorang raja.
"Baginda raja, tak ingin kah kau memanjakan dirimu sejenak?" tanya Malea.
"Mungkin nanti, pikiran ku terasa berat sekali" jawab Devan.
"Maka dari itu mungkin kau perlu sedikit pijatan tuan?" sambung Malea seraya tersenyum penuh arti.
Devan hanya tertawa kecil seraya menjawab.
"Baiklah sebentar lagi, biarkan aku sejenak mendinginkan isi pikiran ku disini" jawab Devan dengan senyuman nya yang khas.
"Baiklah Baginda, sesuai permintaan mu"
Singkat waktu, Devan sudah berada di kamar nya, bersama dengan Malea serta tiga dayang lain nya, bernama Meysi, Yu-an, Rima. Malea adalah kepala dari seluruh dayang di istana, dan dia termasuk yang paling senior di antara dayang yang lain nya. Kini Devan sedang di pijat oleh empat dayang, yang dengan senang hati melayani nya, dari ujung kepala hingga kaki, Devan di berikan pijatan yang begitu nyaman,
Sementara itu, tangan Devan bergerak perlahan, menyusuri lekuk tubuh para dayangnya.
Arrghh!!
Erangan Malea seraya menggigit bibir bawah nya, ketika Devan menyentuh area intim nya. Kini mereka bergelut di dalam hangat nya ruangan itu, memadu kemesraan di atas ranjang mewah istana itu.
Setelah berganti hari, Devan bersiap untuk menuju alam jin, bersama Manjo serta Malea. Dan Devan pun membawa salah satu pengawal lain nya, untuk berjaga terlebih dia membawa keris yang di dalam nya, bersemayam siluman ular.
"Kalian sudah siap?" tanya Devan.
"Siap baginda! Kapan pun itu" jawab Manjo serta satu pengawal lain nya.
Setelah Devan membaca beberapa mantra, sebuah gerbang ghoib terbuka di hadapan nya, Devan serta Malea dan pengawal nya masuk kedalam gerbang ghoib itu.
Wuussshhhh!!
Suara gerbang ghoib itu saat tertutup, sementara Devan dan yang lain nya sudah sampai di sebuah tempat alam jin, dirinya menyapu ke sekitar wilayah itu, aura mistis serta magis begitu terasa kental disana.
"Tempat ini tak jauh berbeda dengan alam moana" ucap Devan.
"Benar baginda, namun disini adalah tempat siluman serta mahluk lemah, meskipun di alam moana terdapat banyak jin dan siluman, namun kekuatan kami berbeda" jelas Manjo.
Devan mengangguk mengerti, namun tak berselang lama setelah itu, tiba-tiba angin berhembus kencang, serta rintik hujan turun begitu saja. "Fenomena yang aneh" gumam Devan.
"Ini menandakan kedatangan kita, telah di ketahui oleh penguasa disini" jelas Malea.
Lalu mereka semua berjalan, menyusuri hutan itu, gelap dengan cahaya yang temaram, serta kabut tipis menyelimuti hutan itu, menambah kesan menyeram kan, jika di lewati manusia biasa.
Devan serta yang lain nya, merasakan bahwa mereka sedang di awasi mahluk lain nya, namun tentu tak ada yang berani mendekat saat tau, bahwa sang raja moana di kawal oleh siluman atau jin terkuat yaitu Manjo, terlebih tak akan ada yang berani menyentuh Devan.
"Kita sedang di awasi!" ucap Devan
"Biarkan saja mereka baginda, tak akan ada yang berani menyentuhmu" jelas Manjo.
Kini mereka pun tiba, di sebuah istana yang agak sedikit kecil, dari istana di alam moana.
Disana sudah berjejer beberapa prajurit pengawal istana, para pengawal istana itu terkejut saat melihat raja moana berada disana, terutama mereka mengenali sosok manjo dan pengawal lain nya, meskipun manjo merubah wujud nya, tetap saja dia dapat di kenali karena Manjo sering kali berurusan dengan alam mereka.
"Dimana raja kalian?" tanya Devan pada salah satu pengawal istana.
Pengawal yang Devan tanya itu, menunduk memberi hormat sebelum menjawab. Karena dia tau siapa Devan. "Salan raja moana! raja bon-teng ada di dalam istana, mari ikuti saya baginda!" jawab pengawal itu.
Devan pun mengekor di belakang pengawal itu, bersama yang lain nya menuju ke dalam istana. Terlihat disana sosok raja yang bernama bon-teng, berdiri tegap ke arah rombongan Devan.
"Hahahahaha, ada apa gerangan baginda raja dari moana mampir ke istana ku yang kecil ini?" ucap Raja bon-teng saat rombongan Devan tiba di dekat nya. "Duduklah terlebih dulu baginda! Mari silahkan" sambung nya kemudian.
"Kami datang kemari, hendak menanyakan sesuatu pada mu, raja Bon-teng" ucap Devan setelah duduk.
Raja bon-teng menyenderkan punggungnya, dan menatap menyelidik ke arah Devan "Apakah itu baginda raja?" tanya Raja bon-teng.
"Benarkah kau menindas, para siluman buaya putih raja bon-teng?" tanya Devan.
Raja bon-teng mengerutkan kening, dirinya seperti bingung saat mendengar itu. "Apa maksud mu baginda raja?, menindas siluman buaya putih? Bahkan aku serta prajurit ku tak pernah sekalipun bertindak semena
kepada rakyat ku" jawab Raja Bon-teng.
Devan pun jadi kebingungan, begitupun dengan Malea serta Manjo dan satu pengawal lain nya. "Seperti nya ini ada yang tidak beres disini, raja Bon-teng" jelas Devan.
"Apa yang kau maksud baginda raja?" tanya raja Bon-teng.
"Kau harus menyelidiki ini, seperti nya ada yang berusaha mengadu dombakan diri mu dengan rakyat mu, juga dengan diriku, tidak mungkin enam siluman buaya putih datang ke alam ku untuk meminta perlindungan, tanpa alasan yang jelas" jelas Devan panjang lebar.
Kini kedua nya sama-sama kebingungan, mereka harus bekerja sama untuk mengungkap hal ini.