NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Zombie / Misteri / Horor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novelisnewbie

Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.

Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10: Ramuan Pertama Sang Awakener

19 Juni 2026 menjadi garis tipis yang memisahkan seorang manusia biasa dari takdir yang akan mengubah dunia. Selama dua hari terakhir, Arga nyaris tidak mengenal waktu selain matahari terbit dan tenggelam. Ia terus berpindah dari satu lokasi infeksi ke lokasi berikutnya dengan peta lusuh yang semakin dipenuhi coretan merah, seolah setiap detik adalah perlombaan melawan musuh yang tidak pernah berhenti bernapas.

Pagi tanggal delapan belas dimulai di sebuah klinik penelitian kecil di pinggiran Jakarta. Bangunannya masih berdiri utuh, tetapi pintu depannya telah terlepas dari engsel, sementara dinding lorong dipenuhi bekas peluru yang menghitam. Begitu melihat pola tembakan yang tersisa, Arga langsung mengetahui bahwa seseorang telah tiba lebih dahulu di tempat itu.

Tap...

Sepatu botnya menginjak genangan darah yang mulai mengering, memunculkan aroma besi yang bercampur dengan bau busuk yang perlahan memudar. Di salah satu ruangan, tiga mayat zombie tergeletak tanpa kepala, sementara bagian tengkoraknya telah dibelah dengan sangat rapi. Arga berjongkok memeriksa luka pada salah satu mayat dan mendapati rongga tempat kristal seharusnya berada telah kosong, bahkan sisa jaringan otaknya pun dibersihkan hingga nyaris tidak meninggalkan jejak.

"Terlambat lagi..."

Ia mengembuskan napas pelan sambil bangkit berdiri. Cara kerja seteliti itu hanya mungkin dilakukan oleh Organisasi Hitam yang kini memburu kristal dengan kegigihan yang sama seperti dirinya. Semakin sering ia menemukan lokasi yang telah dibersihkan, semakin jelas bahwa Ghost Collector tidak lagi berburu sendirian. Di balik setiap langkahnya, ada tim lain yang bergerak dengan tujuan serupa, hanya saja mereka memiliki lebih banyak orang, perlengkapan, dan sumber daya.

Menjelang siang, Arga tiba di fasilitas kedua. Berbeda dengan lokasi pertama, tempat ini masih diselimuti kesunyian. Pintu gudang tergembok dari luar, sementara jendela-jendelanya tertutup debu tebal hingga bangunan itu tampak telah lama ditinggalkan.

Krek...

Begitu pintu belakang berhasil dibuka menggunakan linggis kecil yang dikeluarkan dari Ruang Dimensi, bau kematian langsung menyergap wajahnya. Aroma itu tidak lagi asing baginya. Selama sepuluh tahun bertahan hidup di dunia yang telah runtuh, bau tersebut telah menjadi bagian dari udara yang ia hirup setiap hari.

Di balik rak penyimpanan terdengar suara gesekan pelan.

Srek...

Srek...

Arga tidak tergesa-gesa menghampiri sumber suara itu. Ia menarik napas panjang, mengendurkan bahunya, lalu menggenggam parang dengan posisi yang telah diulang ribuan kali dalam kehidupan sebelumnya. Beberapa detik kemudian, sesosok pria bertubuh kurus keluar dari balik rak dengan langkah terseret. Seragam laboratoriumnya penuh sobekan, separuh wajahnya telah berubah menjadi daging membusuk, dan mata putih keruhnya langsung mengunci sosok Arga sebelum mulutnya terbuka lebar.

"Grrraaah!"

Zombie Tier 1 itu menerjang tanpa peringatan. Arga memutar tubuhnya ke samping sehingga cakar lawannya hanya menyapu udara kosong, lalu menghantam lutut zombie menggunakan palu baja.

Buk!

Sendi kaki makhluk itu patah seketika. Saat tubuhnya kehilangan keseimbangan, parang Arga sudah lebih dahulu berkelebat membentuk garis perak di udara.

Sret!

Kepala zombie terkulai, disusul tubuhnya yang ambruk menghantam lantai. Tanpa membuang waktu, Arga segera membelah bagian belakang tengkoraknya dan mengambil kristal abu-abu yang mulai mengeras di dalam jaringan otaknya. Setelah membersihkan kristal tersebut menggunakan air mineral, ia menyimpannya ke dalam Ruang Dimensi dengan gerakan yang cepat, efisien, dan hampir tanpa emosi.

"Itu yang keenam."

Meski gerakannya tetap mantap, napas Arga terdengar jauh lebih berat dibanding beberapa hari sebelumnya. Keringat mulai membasahi pelipisnya, sementara otot-otot tubuh mudanya perlahan mencapai batas kemampuan. Pengalaman memang mampu mengalahkan teknik, tetapi pengalaman tidak pernah bisa menggantikan stamina.

Sore harinya, Arga mendatangi dua lokasi infeksi lain. Salah satunya telah berubah menjadi tempat pembantaian. Bekas ban kendaraan besar masih membekas di tanah, selongsong peluru berserakan di halaman, dan di sudut bangunan ia menemukan sebuah lencana hitam dengan lambang yang telah dikenalnya. Organisasi itu bergerak semakin agresif, memaksa Arga menyadari bahwa perlombaan sesungguhnya kini bukan lagi melawan waktu, melainkan melawan manusia-manusia yang telah memahami nilai kristal jauh lebih awal daripada sejarah yang pernah ia kenal.

"Aku harus lebih cepat."

Hari berganti menjadi tanggal sembilan belas. Langit Jakarta tertutup awan kelabu ketika Arga memasuki lokasi infeksi terakhir dalam daftar yang berhasil ia susun. Gudang tua yang dahulu menjadi tempat penyimpanan bahan biologis milik sebuah universitas kini berdiri sunyi, tetapi nalurinya mengatakan bahwa bangunan itu masih menyimpan ancaman.

Duk...

Duk...

Duk...

Suara benturan pelan terdengar dari ruang pendingin bawah tanah. Arga menuruni tangga dengan hati-hati, sementara gema langkahnya memantul di sepanjang lorong sempit yang terasa semakin menyesakkan. Begitu pintu pendingin berhasil dibuka, udara dingin langsung menerpa wajahnya.

Di dalam ruangan berdiri dua zombie yang masih mengenakan pakaian teknisi. Gerakan mereka melambat akibat suhu rendah, tetapi begitu melihat Arga, keduanya menggeram hampir bersamaan.

"Graaah!"

"Rrraagh!"

Lorong sempit justru menjadi keuntungan bagi Arga karena kedua zombie tidak dapat menyerang berdampingan. Ia memancing salah satunya maju lebih dulu, lalu memanfaatkan tubuh zombie pertama sebagai penghalang bagi rekannya.

Dent!

Palu menghantam pelipis lawan hingga tubuhnya limbung.

Sret!

Parang menembus tengkoraknya tanpa memberi kesempatan untuk bangkit kembali. Zombie pertama roboh, sementara yang kedua baru berhasil melewati tubuh rekannya beberapa detik kemudian. Arga segera memutar tubuh memanfaatkan momentum ayunan, lalu menghunuskan parangnya dari bawah ke atas.

Crak!

Retakan memenuhi tulang rahang zombie sebelum bilah parang menghancurkan bagian belakang kepalanya. Tubuh itu jatuh tanpa sempat menyentuh Arga. Ia kemudian berlutut di lantai yang dingin, membelah kepala kedua zombie, dan menemukan dua kristal kecil yang selama ini dicarinya.

Ketika kedua kristal itu disandingkan dengan delapan kristal lain di dalam Ruang Dimensi, jumlahnya akhirnya genap menjadi sepuluh. Arga memandangi kesepuluh Kristal Tier 1 yang memantulkan cahaya abu-abu redup, lalu senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, syarat terpenting untuk mengubah takdir akhirnya terpenuhi.

"Sudah waktunya."

Malam itu, kamar kos sempit yang selama ini menjadi tempat persembunyiannya berubah menjadi laboratorium paling berharga di dunia. Tidak ada mesin canggih, tabung reaksi, ataupun alat penelitian bernilai miliaran rupiah. Yang tersedia hanyalah sebuah kompor portabel, panci stainless sederhana, air murni, garam dapur, daun mint segar, dan sepuluh kristal yang kelak akan mengubah sejarah umat manusia.

Klik.

Kompor menyala dan api biru mulai menari pelan di bawah panci. Arga memanaskan air lebih dahulu sebelum memasukkan daun mint agar minyak alaminya larut sempurna, kemudian menambahkan garam dalam takaran yang tepat. Setelah semua sesuai urutan yang diingatnya, barulah sepuluh kristal itu dimasukkan satu per satu.

Plung...

Plung...

Plung...

Kristal-kristal abu-abu itu tenggelam ke dalam air mendidih. Beberapa menit kemudian, permukaannya mulai melunak. Benda-benda itu tidak meleleh seperti es, melainkan perlahan terurai menjadi partikel-partikel cahaya yang menyatu dengan air.

Hum...

Aroma mint memenuhi seluruh ruangan, bercampur dengan bau mineral yang sulit dijelaskan, seolah hujan pertama turun di atas bebatuan purba yang telah menyimpan rahasia selama ribuan tahun. Arga duduk diam di depan kompor tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Sementara jam terus berdetak pelan...

Tik...

Tik...

Tik...

...kenangan dari kehidupan sebelumnya bermunculan satu demi satu di benaknya. Ia teringat pada ilmuwan tua yang gugur setelah percobaan keempat ratus, tabib perempuan yang kehilangan kedua tangannya akibat ledakan kristal, hingga ratusan relawan yang rela menyerahkan nyawa demi menyempurnakan ramuan sederhana itu. Resep tersebut tidak lahir dari kecerdasan satu orang, melainkan dibayar dengan gunung mayat yang tak pernah diketahui dunia.

"Pengorbanan kalian..."

gumam Arga pelan.

"...tidak akan sia-sia kali ini."

Di saat yang sama, beberapa kilometer dari sana, tiga kendaraan hitam berhenti di depan bangunan penelitian yang baru saja ditinggalkan Arga kurang dari lima belas menit sebelumnya. Lampu sorot menyapu area sekitar, sementara anggota Ghost Collector bergerak cepat memeriksa setiap ruangan. Salah seorang pria berlutut di samping mayat zombie yang masih hangat, menyentuh luka pada tengkoraknya, lalu mengangkat sedikit darah yang belum sepenuhnya membeku.

"Baru mati."

"Kurang dari dua puluh menit."

Pimpinan operasi mengamati sekeliling dengan mata tajam. Bekas langkah kaki masih terlihat jelas menuju pintu belakang, tetapi setelah itu jejak tersebut menghilang begitu saja.

"Sama seperti sebelumnya."

Seorang anggota lain menyerahkan tablet berisi peta digital.

"Target selalu tiba lebih dulu."

"Bahkan sebelum tim pengintaian kita menerima laporan."

Kerutan muncul di dahi pimpinan operasi. Informasi mengenai lokasi infeksi seharusnya hanya dimiliki organisasi mereka, sehingga keberadaan penyusup itu terasa mustahil untuk dijelaskan. Keheningan baru pecah ketika seorang pria berambut perak yang sejak tadi diam akhirnya berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

"Ada satu kemungkinan."

Semua mata langsung tertuju kepadanya.

"Dia mengetahui lokasi-lokasi ini..."

"...sebelum insiden terjadi."

Ruangan mendadak sunyi. Pimpinan operasi menggeleng pelan karena hipotesis itu terdengar terlalu gila untuk dipercaya. Namun pria berambut perak tetap memperbesar jalur pergerakan Ghost Collector dan penyusup misterius tersebut sebelum akhirnya mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan kehilangan suara.

"Seolah-olah..."

"...dia memiliki informasi dari masa depan."

Tidak seorang pun mampu membantah. Semakin banyak bukti yang mereka kumpulkan, semakin sulit pula menyangkal kemungkinan yang terdengar mustahil itu.

Tepat satu jam setelah kompor dinyalakan, cairan di dalam panci akhirnya berhenti bergejolak. Warna abu-abunya berubah menjadi kebiruan lembut dan memancarkan cahaya redup yang membuat seluruh kamar terasa hangat.

Hum...

Arga mematikan api, lalu menuangkan cairan tersebut perlahan ke dalam sebuah botol kaca bening. Cahaya kebiruan dari dalam botol memantul di matanya, membangkitkan kembali seluruh kenangan tentang kota yang runtuh, jeritan manusia, tubuh Sari yang perlahan mendingin di pelukannya, hingga kematiannya sendiri di atas atap gedung sambil berharap diberi satu kesempatan lagi.

Kini kesempatan itu benar-benar berada di tangannya. Arga mengangkat botol tersebut setinggi dada, sementara cahaya kebiruan memantul di wajahnya yang perlahan dipenuhi tekad.

"Awakener pertama..."

Ia menarik napas panjang, lalu menggenggam botol itu semakin erat.

"...akan lahir malam ini."

1
arya_v2
lanjutkan terus ceritanya💪🏻
Rene
kalo dia mau jadi Awakener seharusnya gak terlalu butuh obat"an biasa kan?
Rene
ada cctv🤭
Rene
harusnya dikutil aja dikit dikit🤭 kan punya ruang dimensi
novelisnewbie: sikap macam apa itu, nanti kena pelanggaran kalo ngutil barang umum, tapi kalo ngutil punya villain gpp sih🤣
total 1 replies
Rene
kalo ngomong paling dibilang orang gila🤣
Rene
buat top up🤭
Rene
jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin
Rene
nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭
Rene
ya gak papa mau nagis lagi juga🤭
Rene
subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor
Rene: siap💪
total 2 replies
Rene
mampir dulu🤭
Blueria
mantap, latar Indonesia 💪
novelisnewbie: iyaa karena saya udah muak sama pemerintah jadi saya buat aja genre kiamat biar kalang kabut tuh pemerintahnya wkwk, btw terimakasih banyak semoga betah👍
total 1 replies
adib
bagus..
novelisnewbie: terimakasih banyak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!