NovelToon NovelToon
Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.

"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."

"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"

Bagaimana kelanjutannya..?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Riyan berdiri di depan sebuah ruko berlantai tiga yang cat dindingnya sudah mengelupas di daerah buah batu, Bandung. Di papan nama depan ruko tertera tulisan yang agak miring: "Hancur Lebur Sinema - Rumah Produksi Film Independen".

Dari namanya saja, Riyan sudah merasa sangat cocok. Ini adalah tempat yang paling tepat untuk memusnahkan uang setengah triliun rupiah miliknya.

[Sisa Waktu Misi Utama: 15 Jam : 30 Menit]

[Target Pengeluaran Minimum: 500 Miliar Rupiah]

Jam digital transparan di pelupuk matanya kembali berkedip kejam. Riyan menarik napas dalam-dalam, memantapkan hatinya, lalu mendorong pintu ruko tersebut.

Begitu masuk, aroma kopi instan murah dan kepulan asap rokok langsung menyambut hidungnya. Ruangan itu berantakan dengan tumpukan naskah lama, kabel-kabel kamera yang melilit seperti ular, dan beberapa poster film indie yang sepertinya tidak pernah ditonton oleh siapa pun kecuali keluarga si sutradara sendiri.

Di balik sebuah meja kayu yang dipenuhi puntung rokok, duduk seorang pria berambut gondrong acak-acakan dengan kacamata bulat tebal.

Pria itu sedang menatap layar laptop tuanya dengan wajah frustrasi, sesekali menjambak rambutnya sendiri sangat mirip dengan kelakuan Riyan beberapa jam yang lalu.

"Permisi," kata Riyan sambil melangkah masuk, masih dengan setelan kaus kuli proyek andalannya.

Pria gondrong itu mendongak, memandang Riyan dengan malas.

"Ya? Nyari siapa? Kalau mau nawarin jasa renovasi ruko, kami lagi gak punya duit. Kantor ini aja udah nunggak sewa tiga bulan."

Riyan justru tersenyum lebar mendengar kalimat itu. Nunggak sewa? Sempurna! batinnya bersorak kegirangan.

"Bukan mau renovasi. Gua ke sini mau nyari sutradara. Nama lo siapa?" tanya Riyan sambil menarik sebuah kursi plastik kosong dan duduk di depan pria itu.

Pria gondrong itu menghela napas, lalu mematikan rokoknya di asbak.

"Nama gua Joko Anarki. Gua sutradara, produser, penulis naskah, sekaligus marbot di studio film ampas ini. Kenapa? Lu mau bikin video klip dangdut buat hajatan kampung lu?"

Riyan menggelengkan kepalanya dengan tegas.

"Kekecilan! Gua ke sini mau invest duit buat bikin film. Bukan film indie murah, gua mau bikin film Blockbuster Sci-Fi fiksi ilmiah terbesar dalam sejarah Indonesia!"

Joko Anarki langsung tertegun. Dia menatap Riyan dari atas ke bawah, melihat noda semen di baju Riyan, lalu tertawa terbahak-bahak sampai batuk-batuk.

"Hahaha! Uhuk! Lu bercanda ya? Kuli bangunan mau bikin film fiksi ilmiah? Lu tahu gak berapa biaya buat bikin CGI pesawat luar angkasa? Minimal butuh puluhan miliar, Bro! Duit dari mana? Nemu di adonan semen?"

Riyan tidak emosi. Dia sudah hafal skenario ini. Dengan gerakan santai yang kini sudah mulai terbiasa, dia mengeluarkan ponsel pintarnya yang layarnya retak seribu. Riyan membuka aplikasi Mobile Banking, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Joko.

"Gua gak punya puluhan miliar," ucap Riyan tenang. "Gua cuma punya ini. Cukup gak buat bikin film paling ampas sedunia?"

Tawa Joko Anarki langsung terhenti seketika. Matanya melotot tajam menatap deretan angka nol yang berjejer panjang di layar ponsel Riyan.

Kacamata bulatnya sampai melorot ke ujung hidung. Mulutnya menganga lebar, dan laptop tuanya hampir saja tersenggol jatuh dari meja.

"T-Triliun...?! Ini beneran uang asli?! Lu gak lagi pakai aplikasi prank kan?!" suara Joko mendadak melengking tinggi, nadanya bergetar hebat karena syok.

"Asli. Gak pakai bohong," kata Riyan sambil menarik kembali ponselnya.

"Gua mau invest lima ratus miliar rupiah tunai hari ini juga ke studio lo. Tapi, gua punya beberapa syarat mutlak yang gak bisa diganggu gugat oleh siapa pun."

Joko langsung berdiri dari kursinya, menjatuhkan semua egonya sebagai sutradara idealis. Dia membungkuk hormat, menyeka keringat di dahinya, dan menatap Riyan bagaikan melihat Dewa Penyelamat dari langit.

"P-Pak Konglomerat! Jangankan syarat, Bapak suruh saya kayang sambil nyutradarai film juga saya siap! Apa saja syaratnya, Pak?"

Riyan berdeham, memasang wajah serius.

"Pertama, gua mau film ini jadi film paling gagal dalam sejarah. Lu harus bikin jalan cerita yang paling gak masuk akal, paling membosankan, dan bikin penonton pengen muntah di bioskop."

Joko mengernyitkan dahi, bingung. "Hah? Maksudnya film komedi satir, Pak?"

"Bukan komedi! Ini film fiksi ilmiah serius! Judulnya: 'Invasi Alien Jengkol dari Galaksi Dago'. Ceritanya tentang alien berbentuk jengkol yang mau menjajah bumi tapi gagal karena ketabrak angkot," jelas Riyan asal-asalan, memberikan premis paling bodoh yang bisa dipikirkan oleh otaknya.

Joko menelan ludah. Sebagai lulusan sekolah film, idealisme seninya menjerit mendengar judul sekonyol itu. Tapi melihat angka lima ratus miliar di depan mata, idealismenya langsung hancur berkeping-keping menjadi debu.

"O-Oke... premis yang sangat... out of the box, Pak. Lalu syarat kedua?"

"Syarat kedua, lu harus sewa peralatan kamera paling mahal di dunia, kalau perlu sewa teknologi kamera yang biasa dipakai Hollywood. Sewa aktor dan aktris paling kaku yang aktingnya kayak manekin toko baju. Dan yang paling penting: sewa animator CGI paling payah yang baru belajar edit video di ponsel! Intinya, gua mau duit lima ratus miliar ini habis total buat biaya produksi, tapi hasil filmnya harus sampah masyarakat! Paham?!"

Joko Anarki melongo. Dia menyadari satu hal: pria di depannya ini bukan sekadar orang kaya baru, melainkan seorang Crazy Rich eksentrik tingkat tinggi yang sedang bosan dengan hidupnya dan ingin menjerembabkan industri perfilman Indonesia ke titik nadir demi sebuah lelucon.

"Paham, Pak! Saya kenal banyak aktor modal tampang yang aktingnya kayak kayu tripleks! Saya juga punya temen kuliah yang hobi bikin animasi CGI jelek tapi tarifnya mahal karena dia pakai komputer server sewaan!" jawab Joko dengan semangat membara. Bagi Joko, ini adalah kesempatan langka untuk membakar uang orang kaya secara legal.

"Bagus! Kirim nomor rekening studio lo sekarang!" desak Riyan.

Proses transfer pun dilakukan. Uang sebesar lima ratus miliar rupiah resmi berpindah dari rekening Riyan ke rekening

"Hancur Lebur Sinema". Begitu transaksi berhasil, Riyan langsung merasakan beban di pundaknya sedikit terangkat. Saldo di rekening M-Banking-nya berkurang drastis, meskipun sisa uangnya masih sangat banyak.

[Denting Sistem! Transaksi Konsumsi Terdeteksi!]

[Inang telah mengeluarkan dana sebesar 500 Miliar Rupiah untuk sektor industri kreatif hiburan non-produktif.]

[Status Misi Sampingan: Berhasil! Target pengeluaran minimum terpenuhi.]

[Efek: Saldo Anda tidak akan dikunci saat menghadiri perjamuan Keluarga Zevan malam ini. Sisa waktu menuju batas akhir misi utama: 14 Jam : 10 Menit.]

Riyan langsung bersorak kegirangan di dalam hatinya. Yes! Akhirnya gua berhasil buang duit dengan benar! Film sampah kayak begitu dijamin gak bakal ada yang mau nonton di bioskop. Gak bakal ada aset fisik yang tersisa, gak bakal ada keuntungan sepeser pun! Gua pasti lolos dari kutukan mati ini!

Riyan berdiri dari kursinya, menepuk bahu Joko Anarki yang masih gemetaran menatap saldo rekening studionya yang kini terisi setengah triliun rupiah.

"Joko, gua pegang janji lo ya. Bikin film itu sejelek mungkin. Gua mau malam ini pergi ke Lembang dengan tenang," kata Riyan dengan senyum penuh kemenangan.

"Siap, Pak Produser Agung! Saya akan pastikan film ini menjadi bencana terbesar dalam sejarah sinema dunia!" jawab Joko penuh dedikasi.

Riyan berjalan keluar dari ruko itu dengan langkah kaki yang ringan. Langit sore kota Bandung mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Riyan meraba saku kaus oblongnya, mengeluarkan kartu nama hitam berlapis emas milik Kezia Zevan.

Malam telah tiba, dan sekarang saatnya Riyan menghadiri perjamuan makan malam Keluarga Zevan di Lembang sebagai seorang "Miliarder Jenius" yang baru saja membakar uang setengah triliun untuk film alien jengkol.

Riyan belum tahu saja, kalau tindakan absurdnya memborong studio film itu justru akan memicu kepanikan baru di antara empat keluarga rahasia yang mengira Riyan sedang membangun imperium propaganda media massa.

1
adib
oke. alur awal terlalu cepat.. jadi nggak berasa .. tp udah cukup unik jalur ceritanya
Bang Haji
Kalo bikin cerita pake otak dong ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!