Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Reyhan
Setelah beberapa menit berjalan bersama, langkah mereka terhenti di persimpangan jalan karena arah rumah yang berbeda.
"Kalau begitu aku duluan ya, Ga," pamit Dimas.
Arga mengangguk. "Ya, hati-hati di jalan."
"Siap."
Setelah memperhatikan kepergian Dimas, Arga melanjutkan perjalanannya menyusuri trotoar. "Masih jauh lagi. Jam segini angkot sudah susah," gumamnya.
Saat ia sedang menghela napas, sebuah mobil dari arah belakang tiba-tiba memelankan lajunya tepat di sampingnya.
Arga menoleh sekilas. Bentuk mobil itu terasa tidak asing di ingatannya. 'Kayaknya pernah lihat mobil ini...'
Pintu kemudi terbuka, menampilkan sosok pria tampan berpakaian kantoran yang tampak geram.
"Dari mana saja kamu, Arga?! Kenapa keluyuran sampai jam segini?! Bukannya belajar yang benar, apa kamu tidak tahu seberapa mahalnya biaya sekolahmu itu?!" bentak pria itu langsung.
Orang ini adalah kakak pertama Arga, namanya Reyhan Aditya Wijaya.
Untuk saat ini, dia memang masih bekerja di perusahaan ayahnya.
Namun di masa depan nanti, dia akan sukses besar dengan perusahaan yang ia bangun sendiri.
Di kursi penumpang sebelah Reyhan, terdapat seorang wanita cantik dengan pakaian yang agak seksi. 'Kalau gak salah ingat, itu pacarnya yang ke berapa, ya? Parah nih orang, suka mainin hati wanita. Perasaan di keluarga ini gak ada yang bener, kecuali diriku dan mendiang Kakek,' batin Arga.
Arga menghela napas panjang tanpa minat. "Gak usah urus hidupku lah! Malas banget dengerin omonganmu itu," ketusnya.
Reyhan tersentak kaget. Baru kali ini adiknya yang biasanya penurut berani bersikap sekasar itu.
Tanpa memedulikan sang kakak, Arga kembali berjalan menjauh, bahkan dengan santai mengeluarkan rokoknya yang kelima dari saku untuk dinyalakan.
Mata Reyhan melotot melihatnya. "Sejak kapan anak itu merokok?!"
Wanita di sampingnya berusaha menenangkan. "Sayang, sudah... Jangan terlalu emosi, namanya juga remaja labil."
Reyhan mengabaikan ucapan pacarnya. Ia melajukan mobilnya perlahan mengikuti langkah kaki Arga. "Sudah berani ya kamu merokok! Nanti kalau Ayah dan Mama tahu, habis kamu! Buang rokokmu sekarang!"
"Halah, banyak bacot banget nih orang. Kamu sendiri juga suka celup sana celup sini, terus apa masalahnya kalau aku merokok? Masih mending merokok daripada ngelakuin hubungan gak sehat kayak gitu. Jadi urus saja hidupmu sendiri! Repot banget," cibir Arga tanpa beban.
Mendengar itu, Reyhan langsung terkejut.
Sementara wanita di sebelahnya spontan menoleh tajam ke arah Reyhan. "Celup sana celup sini? Apa maksudnya, Rey?! Apa kamu... kamu suka main wanita di belakangku?!"
Reyhan membentak frustrasi, "Diamlah! Dia cuma asal bicara." Arga hanya menggelengkan kepala melihat kepanikan kakaknya.
Reyhan kemudian menatap Arga lagi dengan gusar. "Arga! Cepat naik, kita pulang!"
"Wow, tumben nih ngajak. Biasanya boro-boro mau ngajak, masuk ke mobil mahalmu saja kamu sudah marah. Tapi, thank you," sahut Arga santai. Ia membuka pintu mobil lalu langsung duduk di kursi belakang.
"Buang dulu rokokmu!" perintah Reyhan tajam.
Arga mendelik malas, lalu melempar rokoknya keluar jendela. "Udah tuh. Puas?"
Setelah itu, mobil melaju kencang. Mereka sempat menurunkan wanita tadi di pinggir jalan sebelum akhirnya sampai di depan gerbang sebuah rumah mewah.
"Turun!" ketus Reyhan begitu memarkirkan mobil.
Arga turun dengan santai. Reyhan berjalan duluan di depan, menyuruh satpam membuka pintu rumah utama.
"Ayo ikut! Akan kulaporkan kelakuanmu ke Ayah dan Mama!" ancam Reyhan.
Arga mengikuti dari belakang dengan langkah malas-malasan. "Iya deh, anak mama."