NovelToon NovelToon
Pacar Gamerku Ternyata Bosku

Pacar Gamerku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:587
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.

​"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"

​"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"

​Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.

​Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara Di Balik Layar

​Pagi di kantor Apex Creative selalu dimulai dengan ketegangan yang sama: deru mesin kopi yang bekerja tanpa henti, tumpukan berkas di meja resepsionis, dan bisik-bisik panik para staf tentang sang CEO baru.

​Raka. Di usianya yang baru menginjak 26 tahun, putra mahkota dari konglomerat pemilik gurita bisnis Apex Group itu telah mengambil alih kemudi agensi. Ia dikenal sebagai sosok yang berdarah dingin dalam hal pekerjaan—sangat perfeksionis, bermata tajam, dan tidak segan-segan menolak mentah-mentah draf desain yang dianggapnya "tidak memiliki jiwa".

​Naomy menghela napas berat, menatap pantulan dirinya di cermin toilet kantor. Kantung matanya menghitam. Hari ini ada rapat evaluasi besar untuk proyek branding kosmetik terbaru, dan Raka sendiri yang akan memimpin jalannya presentasi.

​"Naom, buruan! Pak Raka udah masuk ruang rapat. Jangan sampai lo telat satu detik pun kalau masih mau kerja di sini," bisik Tasya—yang kini kebetulan magang di divisi humas perusahaan yang sama—sambil menarik lengan Naomy panik.

​Di dalam ruang rapat yang dingin dan berbau aromaterapi premium, Raka duduk di ujung meja jati yang panjang. Setelan jas abu-abu gelapnya tampak pas tanpa cela, membungkus tubuhnya yang tegap. Garis rahangnya yang tegas berpadu dengan tatapan matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai tipis. Ia sedang membaca draf desain di iPad-nya dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.

​"Desain ini terlalu biasa. Kurang berani," suara bariton Raka menginterupsi presentasi kepala divisi kreatif. Suara itu begitu dingin dan berwibawa, membuat seisi ruangan seketika menahan napas.

​Di barisan belakang, Naomy menunduk dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang. Suara bariton itu... entah mengapa terasa sangat familier di telinganya. Ada getaran frekuensi yang rasanya pernah ia dengar di suatu tempat. Namun, Naomy segera menepis pikiran konyol itu. Nggak mungkin. Mana ada hubungannya bos besar berdarah dingin ini dengan dunia nyataku.

​Malam harinya, setelah melewati hari yang melelahkan dan penuh tekanan di bawah tatapan tajam sang CEO, Naomy akhirnya bisa merebahkan tubuhnya di kasur kosannya yang sempit. Rasa suntuknya berada di titik maksimal. Tanpa ganti baju terlebih dahulu, ia langsung meraih ponsel dan membuka Arena of Fate.

​Sebuah undangan mabar langsung masuk dari akun @Rrrrarrkyyy. Tanpa ragu, Naomy menekan tombol terima. Begitu masuk ke lobi privat, ia langsung mengirimkan pesan suara dengan nada lelah yang dibuat-buat.

​"Rawwwrrr! Gila, hari ini gue capek banget. Bos baru di kantor gue beneran kayak monster. Dingin banget, kalau ngomong suka bikin jantungan!" keluh Naomy, menggunakan nama panggilan pelesetan "Rawwwrrr" yang biasa ia gunakan untuk meledek username rumit temannya itu.

​Di seberang sana, Raka yang baru saja selesai mandi dan kini hanya mengenakan kaus rumahan longgar, terkekeh mendengar pesan suara dari rekan mainnya. Ia merebahkan diri di sofa apartemennya yang luas, lalu menekan tombol rekam suara.

​"Oh ya? Se-seram itu bos baru lo, Non?" tanya Raka dengan suara baritonnya yang kini terdengar jauh lebih santai dan hangat—sangat kontras dengan suaranya saat memimpin rapat pagi tadi. Panggilan "Non" atau "Anonim" adalah sebutan khusus darinya untuk Naomy, karena gadis itu selalu menolak menyebutkan nama aslinya.

​"Banget! Dia itu anak konglomerat, masih muda sih katanya, tapi mukanya datar kayak tembok tripleks. Tadi pas rapat, semua orang di ruangan sampai lupa cara bernapas gara-gara aura mistisnya dia," gerutu Naomy lagi, mengirimkan pesan suara berturut-turut.

​Raka menaikkan sebelah alisnya. Rasa ingin tahunya tiba-tiba terusik. Selama ini mereka sepakat untuk tidak membahas dunia nyata terlalu dalam, namun mendengar keluhan gadis ini, Raka merasa ada hal yang sangat familier.

​"Memangnya lo kerja di perusahaan apa sih, Non? Sampai punya bos semenakutkan itu?" tanya Raka dengan nada santai, pura-pura iseng bertanya padahal dadanya mulai berdegup penasaran.

​"Gue kerja di agensi desain, namanya Apex Creative. Tahu nggak? Itu loh, yang baru aja diambil alih sama anak pemilik agensi induknya. Namanya Pak Raka. Ih, denger namanya aja udah bikin merinding!"

​Mendengar jawaban yang keluar dari pelantang suara ponselnya, Raka langsung terduduk tegak di sofanya. Matanya melebar. Apex Creative? Desainer? Pak Raka?

​Raka menatap layar ponselnya dengan tidak percaya. Gadis yang selama ini menjadi rekan mabar paling asyik, yang memiliki refleks luar biasa, dan yang setiap malam menemaninya mengusir penat... ternyata adalah salah satu karyawannya sendiri!

​Sebuah senyum geli sekaligus licik perlahan terukir di sudut bibir Raka. Ini adalah plot twist paling tidak terduga dalam hidupnya. Ia sangat ingin menanyakan nama asli gadis itu, namun ia segera menahan diri. Aturan permainan mereka sangat jelas: no real identity. Lagipula, jika ia memberi tahu identitas aslinya sebagai CEO sekarang, kenyamanan hubungan anonim yang sangat ia hargai ini pasti akan langsung hancur. Gadis itu pasti akan menjadi kaku dan sungkan padanya.

​Maka, Raka memutuskan untuk ikut bermain dalam sandiwara tak kasat mata ini.

​"Oh, Apex Creative? Gue pernah dengar sih, agensi besar itu," balas Raka lewat pesan suara, menahan tawa yang hampir meledak di tenggorokannya. "Mungkin bos lo itu cuma lagi stres karena tanggung jawab baru, Non. Jangan terlalu dimasukkan ke hati."

​"Ih, Rawwwrrr, lo gak ngerasain sih ditatap sama dia! Rasanya kayak mau di-eliminasi dari dunia nyata tahu nggak!" balas Naomy kesal, namun diiringi tawa renyah yang terdengar sangat manis di telinga Raka.

​Raka bersandar kembali di sofanya, menatap langit-langit apartemennya sambil tersenyum lebar. Mulai besok, pergi ke kantor tampaknya tidak akan sebosankan biasanya lagi. Ia akan memperhatikan satu per satu desainer perempuan di divisinya, mencari tahu siapa di antara mereka yang memiliki jemari lincah dan suara manis di balik akun @Nao_mii—sang "Anonim" yang kini telah mencuri perhatiannya.

1
dinda.glow
haloo izin mampir ya... saling mampir yuk
bsjelfjbrndsabdvr
nyimak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!