NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 13

“Denger, ya. Gue nggak pernah nelantarin Alyra, gue mau bertanggung jawab. Tapi Lo yang tiba-tiba muncul dan ngerebut posisi itu—”

PLAK!!

Velisa sudah kepalang emosi usai mendengar ucapan sang suami.

“Bertanggung jawab, kamu bilang?!” geramnya seraya menatap tajam. Baru saja ia layangkan satu tamparan yang mendarat tepat sasaran.

“Sa ….” Ervin menoleh, pupilnya membesar.

“Apa? Nggak terima? Mau balik nampar?!” Suara Velisa meninggi, raut wajah kian memerah.

Wanita berperangai bengis itu beralih, kini menatap sengit perempuan yang telah resmi menjadi adik ipar.

“Semua ini gara-gara Lo, Alyra! Dasar Jalang! Wanita sialan!” berangnya tak tertahan. Sama sekali tak memandang atau pun segan terhadap sang mertua, Velisa memekik sejadi-jadinya.

“Dari dulu sampai sekarang ... Lo itu selalu jadi benalu! Gangguin hidup gue, selalu jadi batu besar yang ngehalangin jalan gue. Aarrrgghh!!!!”

Pyar!

Ia melempar mangkuk porselen berisi kuah panas, nyaris mengenai Alyra yang masih duduk di kursi makan. Namun Erlan bergerak sigap, langsung menghadang di depan sang istri, menepis mangkuk itu dengan lengan yang terbalut jaket kulit.

Beruntung, sejak tiba ia belum melepas jaketnya.

Semua mata membelalak, wajah tercengang, beberapa bibi berteriak terkejut.

Zaskia menutup mulut dengan kedua tangan, mata tak henti-henti mendelik.

“Kamu nggak apa-apa?” Tak langsung memeriksa tangannya, Erlan lebih dulu memastikan Alyra baik-baik saja.

Alyra masih bergeming, matanya membulat. Tak menyangka sang suami akan sesigap itu melindunginya.

“Aku nggak apa-apa.” Alyra menganggukan kepala.

Perempuan berbadan dua itu menggeser pandangan, langsung tertuju pada punggung tangan suami yang sudah memerah akibat terkena kuah panas.

“Tanganmu,” ucap Alyra, buru-buru ia sentuh dengan lembut tangan pemuda yang masih mencondongkan tubuh, melindunginya dari serangan amukan istri Ervino.

Erlan menelan ludah, jarak keduanya semakin terkikis. “Aku nggak apa-apa, cuma luka kecil.”

Ia kemudian menarik diri, membidik sang kakak ipar dengan tatapan setajam ujung belati.

“Dengar semuanya,” ucap Erlan penuh penekanan. “Aku nggak peduli, entah lelaki atau perempuan. Siapa pun yang berani menyentuh apalagi menyakiti istriku … dia akan berurusan denganku. Termasuk kamu, Velisa. Aku akan memperhitungkan semua perbuatanmu yang hampir melukai Alyra!”

Begitu tegas suara itu menggema, bagaikan anak panah yang menusuk gendang telinga Velisa.

Wanita temperamental itu telah berencana menjadikan diri sebagai menantu sekaligus nyonya yang berkuasa, tetapi, ia tak berkutik kala Erlando melontarkan kata-kata tajam, yang menjuru seperti sebuah ancaman.

Ia langsung diam, meneguk ludah kasar.

Tak mendapat pembelaan, semua orang memilih diam. Tak satu pun berani menyela ucapan Erlando, terlebih pemuda itu mengatakannya dengan ekspresi dingin serta amarah yang tampak ditahan mati-matian.

“Ayo kita ke kamar,” ucapnya lembut pada sang istri, Erlan tak lagi menatap setajam tadi.

Alyra patuh, bangkit dari kursi, jemari digenggam erat oleh suami.

.

.

.

“Makasih, ya, Mbok.” Alyra menatap sayu pada sosok paruh baya yang datang membawa semangkuk air dingin beserta handuk kecil.

Mbok Tum tersenyum hangat. “Sama-sama, Nyonya muda,” sahutnya, netra sendu melirik sekilas pada sosok yang duduk membelakangi pintu. Ia menghela napas, lalu pamit undur diri.

Setelahnya, Alyra segera mendekati pria yang masih duduk dengan raut datar, tangannya yang nyaris melepuh masih mengepal erat.

“Lepas dulu jaketmu, Mas,” pintanya lembut pada sang suami.

Mendengar panggilan ‘mas’ membuat Erlan yang sedari tadi mematung menahan kesal, seketika menoleh.

Ia tatap netra teduh sang istri, iris pekat berbinar membuat dadanya berdesir.

“Lepas dulu jaketnya, biar aku kompres dengan air dingin sebelum melepuh dan meninggalkan bekas luka di tanganmu.” Kedua kalinya Alyra meminta dengan lembut.

Erlan tak menjawab, ekor matanya sibuk melirik, menyapu seisi ruangan.

“Nggak ada siapa-siapa di kamar ini, kenapa Lo masih ngomong dengan santai dan sok bersikap manis?” tanya Erlan.

“Supaya terbiasa. Kan nggak lucu kalau saat berada di luar lalu aku keceplosan manggil kamu curut.” Alyra mengatupkan bibir, menahan tawa.

"Memangnya kenapa? Kamu nggak suka aku bersikap santai?" lanjutnya.

Erlan membalas dengan seringai tipis. Namun patuh, lalu melepas jaketnya. "Terserah, suka-suka Lo aja, deh."

“Astaga … sampai kayak gini??” Pupil Alyra membesar tatkala melihat punggung tangan hingga siku Erlan memerah. “Kita ke dokter aja, ya.”

Erlan menggeleng cepat. “Nggak perlu, jangan buang-buang waktu.”

Alyra hanya menghela napas, ia tak mau memaksa, mengetahui bahwa perasaan suaminya tengah terguncang, usai pertengkaran hebat di meja makan.

Ia akhirnya duduk dengan lutut tertekuk di hadapan sosok bertubuh atletis, tak ada bagian yang kendur, tubuh pria itu terlihat padat dengan otot-otot tegas yang berhasil tercetak dari rajinnya olah raga.

Alyra meraih handuk kecil, mencelupkan ke dalam mangkuk berisi air dingin yang tadi dibawakan oleh mbok Tum.

Dengan lembut ia mulai mengompres tangan Erlan yang terluka.

“Lain kali … kamu nggak perlu maju untuk melindungiku,” kata Alyra pelan. Tangan masih sibuk mengompres. “Aku bisa mengatasinya sendiri. Perihal Velisa … aku sudah terbiasa menghadapi perempuan sinting itu sejak masa kuliah.”

“Kenapa gue nggak boleh melindungi—”

“Aku cuma nggak mau berhutang budi atau apapun,” sela Alyra, kini mendongak, menatap netra legam milik Erlan. “Ingat saja tujuan awal kita. Nggak perlu berlebihan dalam berakting.”

“Akting?” Erlan menyeringai tipis. “Lo bilang gue akting?”

Alyra kembali mendongak, kelopak berkedip penuh tanya. “Lalu … apa yang terjadi tadi, bukanlah akting?”

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!