NovelToon NovelToon
Takhta Di Balik Seragam

Takhta Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Action / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:658
Nilai: 5
Nama Author: Hailwise

SMA Merdeka bukan sekadar tempat belajar. Di balik pagar tinggi dan seragam rapi, ada hierarki tak tertulis yang mengatur segalanya. Di puncak kekuasaan terdapat "Lima Raja" — pemimpin dari lima kelompok besar yang menguasai setiap sudut sekolah, dari kantin, lapangan olahraga, hingga koridor kelas. Peraturan mereka lebih ditakuti daripada peraturan sekolah, dan ketertiban di sekolah itu dijamin lewat kekuatan fisik dan kesetiaan.

Rio Adhitama, siswa pindahan dari kota lain, datang dengan niat sederhana: ingin bersekolah dengan tenang dan lulus dengan nilai bagus. Ia berjanji pada ibunya yang sedang sakit untuk tidak mencari masalah. Namun, nasib berkata lain. Penampilan Rio yang dingin, tatapan tajamnya, dan naluri bertarung yang ia sembunyikan sejak lama membuatnya menjadi pusat perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hailwise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Raja yang Merasa di Injak

Langkah kaki Raka terasa begitu berat, seolah setiap kakinya menginjak tanah yang basah dan lengket. Ia berjalan mendahului rombongannya, punggungnya tegap dan kekar, namun siapa pun yang jeli bisa melihat bagaimana kepalan tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, dan bagaimana rahangnya mengeras seolah sedang mengunyah batu keras. Napasnya keluar pendek-pendek dan berat, mengembuskan uap amarah yang terasa menyengat di udara sore yang mulai dingin itu.

Di belakangnya, berjalan tertatih-tatih anak buahnya yang terluka—Kevin, Anto, dan belasan pemuda lainnya yang masih memegangi bagian tubuh yang sakit, wajah mereka penuh ketakutan dan rasa bersalah. Mereka berjalan menunduk, tidak berani menatap punggung pemimpin mereka, karena mereka tahu betul: saat ini, di belakang wajah dingin dan tampan Raka, tersimpan amarah yang bisa meledak kapan saja dan menghancurkan siapa saja yang ada di dekatnya.

Sesampainya di lorong sepi yang jauh dari jangkauan pandangan siapa pun, tepat di bawah gedung tua yang menjadi markas rahasia Naga Hitam, Raka tiba-tiba berhenti berjalan. Ia berhenti begitu mendadak hingga anak buah di belakangnya hampir menabrak punggungnya.

Suasana hening seketika. Tidak ada suara burung, tidak ada suara langkah kaki siswa lain, hanya ada suara napas tertahan dari puluhan anggota Naga Hitam yang kini berjejer kaku menunggu hukuman.

Untuk beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam, Raka hanya berdiri diam, memunggungi mereka. Bahunya naik turun dengan cepat, menahan gejolak batin yang luar biasa. Di dalam kepalanya, ribuan pikiran berputar kacau, semuanya berisi rasa malu, marah, benci, dan rasa ingin membunuh.

“Sialan… SIALAN BESAR!” teriak Raka dalam batinnya, giginya bergemeretak menahan emosi. “Gimana bisa? Gimana bisa kejadian sialan ini nimpa gue?! Gue, Raka… pemimpin Naga Hitam, salah satu dari Lima Raja, orang yang namanya aja udah bikin sekolah ini gemetar… harus mundur dan pergi cuma gara-gara mulut lonte Bara? Dan itu terjadi di depan anak buah gue sendiri?! Di depan anak buah musuh?! Di depan anak baru sialan itu?!”

Rasa malu itu membakar ulu hatinya lebih panas daripada api neraka. Selama bertahun-tahun memegang kendali, Raka selalu ditakuti, selalu dituruti, dan selalu dianggap sebagai hukum mutlak. Tidak ada yang berani menatap matanya lebih dari tiga detik, tidak ada yang berani membantah kata-katanya. Namun sore ini, semuanya runtuh. Di halaman belakang GOR tadi, ia dipermalukan dua kali: pertama oleh Rio yang berani melawan dan mengalahkan pasukannya, kedua oleh Bara yang dengan santai dan mengejek memaksanya mundur menggunakan logika dan aturan yang tidak bisa ia bantah.

“Bara sialan…,” batin Raka penuh kebencian, matanya menatap kosong ke dinding tembok di depannya seolah bisa menembus hingga ke tempat Bara berada. “Lo pikir lo pinter banget ya main kata-kata? Lo pikir lo pahlawan? Lo cuma pengecut yang hobi nyelamatin orang lain biar dianggap hebat. Lo pikir gue gak tau niat lo? Lo mau bikin gue kelihatan lemah, kelihatan pengecut, kelihatan gak berkuasa di depan semua orang. Lo mau ambil alih posisi gue pelan-pelan. TAPI GAK AKAN GUE IZININ!”

Tiba-tiba, Raka mengangkat tangannya dan—BRUK!—tinjunya menghantam tembok beton di sebelahnya sekuat tenaga. Suara benturan itu bergema keras, membuat seluruh anak buahnya tersentak dan menunduk semakin dalam. Ujung jarinya sedikit berdarah, tapi Raka sama sekali tidak merasakan sakitnya. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit karena harga dirinya yang diinjak-injak.

Ia berbalik perlahan menghadap pasukannya. Wajahnya yang tampan kini berubah menjadi sangat mengerikan. Matanya melotot merah, nadanya rendah namun bergetar menahan amarah yang siap meledak.

"KALIAN SEMUA..." suaranya terdengar parau dan berat, membuat bulu kuduk siapa saja yang mendengarnya meremang. "KALIAN SEMUA ITU SAMPAH TAU GAK?!"

Tidak ada yang berani menjawab. Hening mutlak.

"Belasan orang... lebih dari lima belas orang anak buah gue, yang gue latih, yang gue kasih makan, yang gue lindungin... dikalahin sama SATU orang? SATU ANAK BARU YANG GAK ADA APA-APANYA?!" Raka melangkah maju mendekati Anto yang berdiri paling depan, wajahnya mendekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Lo, Anto... lo kan andalan gue? Lo kan petarung terkuat di kelompok kita selain gue? Gimana bisa lo jatuh? Gimana bisa lo dikasih pelajaran sama anak kemarin sore itu? Lo bikin malu gue, lo bikin malu nama Naga Hitam, lo bikin malu diri lo sendiri!"

Anto, si petarung besar yang biasa saja membuat orang lain gemetar, kini gemetar ketakutan di hadapan Raka. Ia menunduk dalam, keringat dingin bercucuran di dahinya. "Ma... maaf, Bang Raka... dia... dia jago banget gerakannya. Cepat, pas, dan dia tau banget titik lemah kita. Gue gak nyangka..."

"GAK NYANGKA?!" potong Raka keras, menampar pipi Anto cukup keras hingga kepala pemuda itu terhempas ke samping. "Alasan sampah! Seharusnya lo yang jadi yang gak terduga! Seharusnya lo yang jadi yang paling kuat! Lo itu pemimpin pasukan, bukan cuma otot doang! Otak lo mana?! Kenapa lo biarin dia ngomong, kenapa lo biarin dia punya waktu buat ngelawan?! Harusnya lo udah hancurin dia pas pertama kali dia buka mulut!"

Raka berjalan mondar-mandir di hadapan anak buahnya yang tertunduk lesu, matanya berputar liar penuh rencana jahat. Ia berhenti di depan Kevin, pemuda yang awalnya mengusulkan rencana ini. Kevin terlihat paling ketakutan, wajahnya pucat pasi.

"Dan lo..." ucap Raka pelan, nadanya berubah lebih rendah dan lebih mengerikan lagi. "Lo yang ngajuin ide buat panggil dia ke belakang GOR. Lo yang bilang lo bisa atur semuanya. Lo yang bilang anak baru itu bakal gampang ditundukin. Hasilnya apa? Lo yang jatuh duluan. Lo yang bikin dia makin berani. Lo yang bikin gue harus turun tangan dan akhirnya dipermalukan Bara."

Kevin gemetar hebat, kakinya lemas seolah mau copot. "Ma... maaf Bang... gue salah... gue gak nyangka dia seberani itu... gue pikir dia bakal takut..."

"Pikiran lo pendek banget, Kevin! Lo kira dunia ini cuma isinya anak penakut kayak yang biasa lo temuin?!" Raka menyeringai sinis, menatap tajam ke arah lorong tempat mereka melihat Bara dan Rio pergi tadi. "Lo salah nilai dia, dan itu kesalahan fatal. Rio Adhitama... dia bukan anak baru biasa. Dia punya kemampuan, dia punya nyali, dan yang paling bahaya... dia punya PRINSIP. Orang yang punya prinsip itu jauh lebih susah dilawan daripada orang yang cuma punya otot atau uang. Karena dia gak bisa dibeli, gak bisa ditakutin, dan gak gampang nyerah."

Raka diam sejenak, menyilangkan tangannya di dada sambil mengerutkan kening dalam-dalam. Kemarahannya perlahan berubah menjadi perhitungan dingin. Ia sadar, kemarahan saja tidak akan menyelesaikan masalah. Ia harus berpikir. Ia harus menyusun strategi baru. Rio bukan lagi sekadar gangguan kecil. Rio kini adalah ancaman nyata, apalagi setelah pemuda itu secara terbuka bersekutu dengan Bara dan Macan Putih.

“Bara udah nyambungin diri dia sama Rio,” pikir Raka dengan tajam. “Itu bahaya banget. Bara emang dari dulu pengen ngejatuhin gue, tapi dia gak pernah punya modal yang cukup. Pasukannya banyak sih, tapi gak sekuat pasukan gue. Tapi kalau Bara punya Rio... anak yang jago berantem, cerdas, dan dihargai banyak orang... itu bisa jadi awal dari akhir kekuasaan gue. Gue gak boleh ngebiarin itu kejadian. Rio harus dimusnahkan. Bara harus dihancurin. Dan gue harus lakuin itu sebelum mereka makin kuat.”

Raka menoleh kembali ke anak buahnya yang masih menunggu hukuman. Wajahnya kembali tenang, namun ketenangan ini jauh lebih menakutkan daripada kemarahan tadi.

"Dengerin semuanya baik-baik," perintah Raka dengan tegas dan dingin. "Kejadian tadi... kegagalan besar, penghinaan parah. Tapi gue gak bakal hukum kalian sekarang, karena gue butuh tenaga kalian buat balas dendam."

Mata Anto dan Kevin langsung terangkat, ada sedikit harap yang muncul di wajah mereka.

"Rio Adhitama sekarang udah jadi musuh nomor satu kita," lanjut Raka, matanya menyala penuh api kebencian. "Dia udah gabung sama Macan Putih. Dia udah jadi wakil Bara. Dia udah nentang gue. Dan gue pastiin... dia bakal jadi orang paling nyesel di dunia pernah lahir ke dunia ini."

Raka melangkah mendekat, suaranya mengecil menjadi bisikan namun terdengar oleh semua orang.

"Gue gak bakal nyerang dia pake cara kasar kayak tadi. Cara itu udah gagal, udah kelihatan kalah. Mulai sekarang, kita pake cara gue. Cara Naga Hitam. Cara yang beneran mematikan."

Raka tersenyum miring, senyum yang penuh intrik dan kejahatan.

"Kevin, lo dengerin. Lo kan satu kelas sama dia? Lo tau kebiasaan dia, lo tau jadwal dia, lo tau siapa aja yang deket sama dia, kan? Mulai besok, lo harus ngawasin dia 24 jam. Gue mau tau segalanya tentang Rio. Di mana dia tinggal, siapa keluarganya, ada masalah apa sama keluarganya, apa kelemahan dia, siapa aja temen dia... SEMUANYA. Gue mau data lengkap besok pagi. Paham? Kalau ada yang kurang, lo tau sendiri nasib lo."

Kevin mengangguk cepat, wajahnya berseri-seri karena diberi kesempatan menebus kesalahan. "Siap, Bang! Gue bakal kerjain secepatnya! Gue bakal cari tau semuanya sampai ke akar-akarnya!"

Raka mengalihkan pandangannya ke Anto.

"Anto, lo kumpulin semua kepala wilayah kita. Gilang sama Dika juga harus ditarik ke sisi kita. Rian si ketua Serigala Abu-abu udah pasti ada di pihak kita karena dia utang budi sama gue. Gilang si Elang Merah dan Dika si Singa Hitam... kita harus pastiin mereka gak pindah kubu. Besok siang, adain rapat darurat di gudang belakang. Gue mau kita gabungkan kekuatan kita sepenuhnya. Kita harus nunjukin kalau Naga Hitam itu tetep yang paling kuat, dan siapa aja yang berani temenan sama Macan Putih bakal kita musnahin."

Anto mengangguk hormat. "Siap, Bang! Semua bakal gue siapin. Kita bakal nunjukin ke mereka siapa beneran penguasa di sini."

Raka berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah atap sekolah, tempat ia melihat Bara, Rio, dan Dinda berdiri berdiskusi tadi. Dari kejauhan, ia melihat mereka tertawa dan berbicara seolah sedang merencanakan kemenangan. Raka mencengkeram pinggiran jendela hingga catnya terkelupas.

“Nikmatin kemenangan kecil kalian selagi bisa,” batin Raka dengan penuh dendam. “Besok, atau lusa... gue bakal hancurin semuanya. Gue gak cuma bakal hancurin Rio secara fisik, gue bakal hancurin mental dia, hancurin harga diri dia, hancurin masa depan dia, dan hancurin semua orang yang dia sayang. Gue bakal bikin dia milih: jadi budak gue, atau hancur lebur.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!