"Sepuluh tahun lalu, Alvin Alexander dinyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan tragis. Dunia melupakannya, dan keluarganya menghapus jejaknya."
Namun, kenyataan jauh lebih dingin. Bocah lima tahun itu tidak mati. Ia diselamatkan dan ditempa oleh Revan,seorang pemimpin mafia kejam,menjadi sebuah senjata tak kasat mata yang mematikan. Kini, Alvin kembali ke kota kelahirannya. Bukan untuk mengemis kasih sayang yang telah hilang, melainkan untuk mengamati dari dekat runtuhnya sebuah memori.
Di rumah lamanya, posisi Alvin telah digantikan dengan sempurna oleh Levin, si anak angkat. Bahkan sang kakak, Christy, menatapnya tanpa mengenali sepasang mata adik kecilnya dulu. Sementara foto-fotonya telah dibuang ke tempat sampah, Alvin memilih mengenakan seragam putih-abu-abu dan duduk tenang di barisan tengah kelas 10-2, menyembunyikan identitas aslinya sebagai The Quiet Predator.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saksi Bisu di Kedai Bakso
Datang lima belas menit lebih awal sebelum bel istirahat kedua berbunyi membuat suasana kantin sekolah masih sangat sepi. Lorong-lorong kantin yang biasanya penuh sesak dan bising, kini tampak lengang. Alvin berjalan sembari sedikit mempercepat langkah kakinya, mengedarkan pandangan ke sekeliling area stan makanan.
"Ooh, itu dia!" mata Alvin seketika berbinar cerah saat menangkap sebuah spanduk kain bertuliskan 'Bakso Mas Joko'. "Itu dia tempatnya," ucap Alvin bersemangat dengan air liur yang nyaris menetes.
Tanpa membuang waktu, Alvin langsung menghampiri stan tersebut dan memesan menu unik rekomendasi dari Bagas tadi. "Bang, baksonya satu, ya. Pakai nasi," pinta Alvin mantap.
Setelah memesan, Alvin bergegas mencari tempat duduk yang paling nyaman di sudut kantin yang sepi. Sembari menunggu penjual menyiapkan semangkuk bakso pesanannya, pandangan Alvin menerawang kosong menatap meja kayu di depannya. Pikirannya kembali melompat pada kejadian di tangga tadi.
"Hmm... jadi penasaran gue," gumam Alvin lirih, menopang dagunya dengan sebelah tangan sembari mulai menyusun kepingan teka-teki di kepalanya.
'Ketua kelas Anindia katanya sakit. Terus Ervan si anak kelas 12 itu kelihatan jelas banget lagi menekan Anindia. Itulah kenapa Anindia bersikap aneh dan ketakutan setiap dekat Ervan, semuanya karena alasan rekap absen itu. Tapi... maksud dari 'kartu as' yang dipegang Ervan ini apa sebenarnya?'
Alvin mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, mencoba mencerna situasi. Mengingat statusnya yang masih murid baru di SMA ini, ruang geraknya tentu terbatas untuk mencari tahu rahasia anak kelas 12. Namun, sebuah kilasan ingatan mendadak melintas di benaknya.
'Ah, iya... Luna kan teman sebangkunya Anindia,' batin Alvin teringat posisi duduk di kelasnya tadi. Alvin mengulas senyum tipis. 'Gue jadi makin penasaran. Kayaknya nanti gue harus coba nanya-nanya sedikit sama Luna.'
Tidak lama kemudian, semangkuk bakso hangat beraroma gurih lengkap dengan sepiring nasi putih diantarkan langsung ke meja Alvin. Pak Joko, sang penjual bakso, ikut berjalan mendekat lalu memilih untuk duduk di kursi kosong tepat di depan Alvin untuk mengajaknya mengobrol.
"Haha, ada-ada aja ya, Tong. Makan bakso kok pakai nasi," ujar Pak Joko tertawa kecil melihat kombinasi makanan di atas meja.
Alvin yang sedang meniup kuah bakso panas di sendoknya langsung menyahut santai, "Soalnya lapar banget, Pak."
Pak Joko kembali tertawa mendengar kejujuran sang murid baru. "Haha, sejauh ini baru ada dua anak yang hobi makan bakso pakai nasi di sekolah ini. Yang satu namanya Bagas, kalau anak itu makan bakso di sini pasti wajib pakai nasi."
'Bagas lagi, Bagas lagi...' Alvin tertawa geli di dalam hati sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Pak Joko kemudian mengamati wajah Alvin dengan saksama. "Saya baru lihat kamu. Kamu anak baru pindahan, ya?"
"Iya, Pak. Saya anak baru," jawab Alvin dengan sikap yang ramah.
"Tapi, kenapa kok jam segini udah keluar kelas aja? Bel istirahat kan belum bunyi," tanya Pak Joko lagi, penasaran.
Alvin mengulas senyum bangga yang tipis. "Tadi di kelas ada kuis siapa cepat dia dapat dari Ketua OSIS, Pak. Cuma satu pertanyaan. Kebetulan saya beruntung bisa jawab dengan benar, jadi dikasih hadiah boleh keluar duluan deh, hehe."
Pak Joko manggut-manggut sembari terkekeh mendengar cerita Alvin. "Oalah, begitu. Saya kira kamu anak bandel yang sengaja cabut kelas seperti mereka-mereka itu."
Mendengar kata 'mereka-mereka itu', kening Alvin seketika mengernyit. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Alvin sengaja diam dan mendengarkan dengan baik saat Pak Joko mulai bercerita panjang lebar. Rupanya, di balik ketenangannya, sekolah ini menyimpan banyak cerita kelam mulai dari perundungan hingga kenakalan murid yang bermacam-macam.
"Tapi yang paling terkenal bandel dan ditakuti di sini itu namanya Ervan," lanjut Pak Joko dengan nada suara yang sengaja dikecilkan.
Mendengar nama itu disebut, gerakan tangan Alvin yang hendak menyuap bakso langsung terhenti. Dia sedikit terkejut, namun dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya agar Pak Joko tidak curiga.
"Si Ervan itu dengan bangganya sering memalsukan absen sekolahnya," bisik Pak Joko serius. "Saya pernah dengar sendiri dengan jelas apa yang dia bicarakan bersama antek-anteknya pas mereka lagi makan bakso di stan saya ini. Katanya, dia bisa ngatur semua itu lewat Anindia."
Otak Alvin langsung berputar cepat. Informasi ini klop dengan apa yang dia dengar di tangga tadi. Guna menggali informasi lebih dalam, Alvin sengaja memancing dengan pertanyaan ringan agar Pak Joko terus bercerita. "Memangnya mereka berdua ada hubungan apa, Pak? Kok Anindia mau nurut?"
Pak Joko menghela napas pendek, lalu sedikit memajukan badannya ke arah Alvin. "Nah, itu dia yang misterius. Jadi waktu itu, pas saya sudah mau bersiap pulang sore-sore, saya lihat Ervan dan antek-anteknya lagi mencegat seorang gadis di dekat gerbang sekolah. Gadis itu gak sendirian, dia lagi bersama adiknya yang masih SMP."
Alvin menyimak dengan pandangan mata yang menajam.
"Dari kejauhan, saya lihat gadis itu wajahnya ketakutan sekali dan kelihatan sangat gak nyaman di depan Ervan," tutur Pak Joko dengan raut wajah prihatin. "Karena curiga, akhirnya saya samperin mereka. Tapi pas saya mendekat, si Ervan dan antek-anteknya langsung pura-pura gak ada apa-apa, terus mereka buru-buru pergi dari sana."
Pak Joko menjeda ceritanya sejenak, mengingat-ingat kejadian sore itu. "Setelah bajingan-bajingan itu pergi, saya sempat nanyain ke si gadis, nanya dia gak apa-apa atau ada masalah. Dia bilangnya gak ada apa-apa, Pak. Tapi saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, tangan gadis itu mencengkeram erat banget tangan adiknya itu karena gemetaran. Habis itu, dia buru-buru permisi pulang."
"Ehhmmm..." Alvin bergumam lihir. Fokusnya kini benar-benar terarah penuh pada cerita Pak Joko. Naluri bertarung dan analisisnya mulai tergelitik. "Jadi, Pak... adiknya gadis itu sekolah di SMP mana?"
Pak Joko menimpali dengan cepat, "SMP sini juga, Tong. Kan satu kompleks yayasan sama SMA kita ini."
"Ooh, gitu ya, Pak," Alvin mengangguk-angguk paham. Otaknya langsung mencatat informasi penting tersebut. "Apa anak itu pernah mampir ke kedai bakso Pak Joko ini?"
Pak Joko tampak berpikir sejenak sambil mengetuk dagunya. "Wah, kalau itu gak tahu juga, Tong. Ya... saya juga lupa-lupa ingat, namanya juga anak sekolah banyak yang jajan di sini."
"Ehhmm, gitu ya, Pak..." Alvin kembali menyuap baksonya, meresapi informasi baru yang berhasil dia dapatkan.
Tidak lama setelah obrolan mereka menggantung, suara nyaring yang ditunggu-tunggu oleh seisi sekolah akhirnya bergema membelah keheningan koridor.
Kringgg... Kringgg...!!!
"Waah, udah bel istirahat, Tong! Saya mesti siap-siap dulu, biasanya setelah ini langsung rame serbuan anak-anak," ucap Pak Joko sembari buru-buru menepuk kedua lututnya dan bersiap untuk berdiri.
"Iya, Pak," jawab Alvin sopan.
Tepat sebelum melangkah kembali ke stan baksonya, Pak Joko mendadak menghentikan gerakannya. "Ooh iya, Tong. Dari tadi kita asyik ngobrol, tapi saya belum tahu nama kamu siapa?"
Alvin mengulas senyum ramah yang tulus. "Alvin Alexander, Pak."
Pak Joko langsung tersenyum lebar mendengar jawaban itu, guratan ramah tercetak jelas di wajah tuanya. "Oke, Alvin. Semoga kamu betah sekolah di sini, ya. Dan jangan lupa, harus jadi langganan setia di stan bakso saya!"
Alvin yang mendengar todongan promosi itu langsung tertawa kecil. Dengan dahi sedikit terangkat, dia memberikan usulan kocak. "Boleh aja, Pak. Tapi kasih kupon dong, Pak! Jadi setiap makan satu mangkok bakso dapet satu kupon. Nah, terus kalau udah kekumpul sepuluh kupon, dapet gratis satu mangkok bakso lagi, hehe."
Mendengar ide sistem loyalty gratisan dari murid baru di depannya, Pak Joko seketika menghentikan langkahnya. Pria paruh baya itu melongo selama dua detik sebelum akhirnya menepuk jidatnya sendiri dengan keras.
"Waduh, si Atong! Baru juga hari pertama jadi murid baru, udah pinter ya nyari celah biar dapet gratisan!" seru Pak Joko dengan tawa yang berderai renyah. Pria paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepala, merasa gemas dengan kepolosan sekaligus kecerdikan Alvin.
"Gak sekalian aja kamu minta gratisan minum es teh seumur hidup, Ha? Ya wis, nanti kalau kamu bisa bawa Bagas dan anak-anak kelasmu buat borong bakso di sini tiap hari, baru bapak pikirin soal kupon gratisannya! Bapak balik ke stan dulu ya, Vin!"
Sembari terkekeh, Pak Joko melambaikan tangannya lalu bergegas kembali ke balik meja stannya untuk menyambut serbuan murid-murid yang mulai terdengar berisik berjalan menuju kantin. Sementara itu, Alvin hanya bisa tersenyum puas, bersiap menghabiskan sisa bakso pakai nasinya sebelum Bagas datang menagih pesanan jumbo.
misalnya kek gini.
"akhirnya saya/aku balik juga ke kota."
cuma ngasi saran saja. 🙏
terima banyak,udah baca karya saya