NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Persekutuan yang Tak Terduga

Hutan Kabut Hitam bukan sekadar tempat berlindung; itu adalah penjara beracun. Kabut hijau kekuningan yang menyelimuti area ini tidak hanya mengaburkan pandangan, tetapi juga mengandung spora jamur parasit yang dapat menembus kulit dan memakan energi Qi korban dari dalam.

Lin Fan duduk bersila di atas dahan pohon raksasa yang tertutup lumut tebal, jauh dari tanah lembap. Ia telah menghabiskan dua hari terakhir hanya dengan bertahan hidup. Makanannya adalah akar tanaman obat pahit yang ia temukan, dan airnya adalah embun pagi yang ia kumpulkan dengan kain sutra lalu dimurnikan melalui Manik Giok.

Tubuhnya kurus, pipinya cekung, tapi matanya semakin tajam. Residu kutukan pedang telah sepenuhnya terserap dan diubah menjadi ketajaman indra baru. Ia bisa merasakan niat jahat dari beast atau manusia sebelum mereka muncul. Ini adalah keuntungan besar di hutan yang penuh predator ini.

Namun, persediaannya menipis. Pil penyembuh hampir habis. Dan yang lebih buruk, jejak energinya mulai sulit disembunyikan. Spora jamur di udara bereaksi terhadap Qi murni Manik Giok, menciptakan cahaya samar di sekitar tubuhnya jika ia tidak berhati-hati.

"Aku harus pindah," gumam Lin Fan. "Tempat ini terlalu pasif. Aku butuh sumber daya aktif."

Ia memutuskan untuk bergerak ke pusat Hutan Kabut Hitam, di mana konon terdapat Danau Jiwa Terkutuk. Legenda mengatakan danau itu adalah tempat berkumpulnya roh-roh gelisah, tapi bagi alkimia, air danau itu mengandung esensi spiritual murni yang bisa digunakan untuk membuat pil pemulihan tingkat tinggi.

Perjalanan menuju danau memakan waktu setengah hari. Medan semakin berat. Pohon-pohon di sini berbentuk aneh, seperti tangan-tangan raksasa yang mencengkeram langit. Suara-suara bisikan terdengar di telinga Lin Fan, mencoba menggoda ketakutannya.

"Kau sendirian... Kau lemah... Menyerahlah..."

Lin Fan mengabaikan suara-suara itu, fokus pada langkah kakinya. Tiba-tiba, ia berhenti.

Di depan, di tepi sebuah rawa hitam, terdapat seorang gadis muda yang sedang bertarung melawan seekor Buaya Rawa Berkepala Tiga. Beast tingkat menengah akhir, setara dengan kultivator Level 8.

Gadis itu mengenakan jubah putih yang sudah kotor dan robek. Rambutnya diikat kuda, dan di tangannya, ia memegang sebuah cambuk bercahaya biru. Gerakannya lincah, tapi terlihat kelelahan. Setiap serangan cambuknya mengeluarkan suara pecutan yang keras, memukul sisik keras buaya itu.

Sret! Sret!

Buaya itu meraung, menyemburkan lendir asam dari ketiga mulutnya. Gadis itu melompat menghindari semburan itu, tapi salah satu tetesan lendir mengenai bahunya. Jubahnya mendesis, asap naik.

"Gah!" Gadis itu meringis kesakitan, tapi tidak mundur. Dia terus menyerang, mencari celah di mata beast itu.

Lin Fan mengamati dari balik semak. Dia bisa membantu. Dengan Tinju Embun Beku, dia bisa membekukan sendi buaya itu, memberi gadis itu kesempatan mematikan. Tapi mengapa dia harus repot-repot? Menghabiskan energi untuk orang asing di hutan berbahaya adalah tindakan bodoh.

Namun, sesuatu tentang gaya bertarung gadis itu membuatnya tertarik. Itu bukan gaya bertarung Clan besar yang kaku. Itu gaya bertarung jalanan—liar, efektif, dan putus asa. Mirip dengannya.

Selain itu, Lin Fan melihat kalung di leher gadis itu. Sebuah liontin berbentuk bunga lotus es. Simbol Sekte Lembah Es, sekte elemen Yin kecil yang hancur lima tahun lalu dalam perang dengan Sekte Langit Merah.

Sekte Lembah Es...

Jika gadis ini adalah survivor dari sekte itu, dia mungkin memiliki informasi tentang Sekte Langit Merah. Informasi yang sangat berharga bagi Lin Fan sekarang.

Keputusan dibuat.

Lin Fan melesat keluar dari persembunyian.

"Hei! Awas kiri!" teriak Lin Fan.

Gadis itu terkejut mendengar suara asing, tapi instingnya membuatnya berguling ke kanan. Tepat saat itu, ekor buaya yang besar menyapu tempat dia berdiri sebelumnya.

Lin Fan tidak berhenti. Ia menggunakan Teknik Langkah Bayangan, muncul di samping kepala tengah buaya. Tinju kanannya bersinar putih dingin.

Tinju Embun Beku!

Bum!

Tinjunya menghantam rahang buaya. Es menyebar cepat, membekukan mulut beast itu dan menjalar ke lehernya. Buaya itu meraung tertahan, gerakannya melambat drastis karena dingin yang menusuk tulang.

"Sekarang! Serang matanya!" perintah Lin Fan kepada gadis itu.

Gadis itu tidak membuang waktu. Dengan teriakan marah, ia melecutkan cambuknya. Ujung cambuk yang runcing menusuk tepat ke mata kiri buaya yang terbuka lebar.

Plak!

Cairan hitam menyembur. Buaya itu mengamuk liar, menghantam-hantamkan tubuhnya ke tanah, tapi gerakan-gerakannya sudah kacau dan lambat akibat pembekuan sebagian tubuh.

Lin Fan melihat peluang. Ia mengumpulkan semua sisa Qi-nya, memusatkan energi es ke telapak kakinya, dan melompat tinggi.

"Turun!"

Ia menendang puncak kepala buaya dengan kekuatan penuh. Tulang tengkorak beast itu retak dengan suara mengerikan. Buaya itu roboh, kejang-kejang beberapa kali, lalu diam.

Hening kembali menguasai rawa.

Lin Fan mendarat dengan ringan, meski napasnya tersengal-sengal. Penggunaan teknik itu menguras banyak energinya.

Gadis itu berdiri terpaku, cambuknya masih bergetar di tangan. Dia menatap Lin Fan dengan campuran rasa takut dan curiga.

"Siapa kau?" tanyanya, suaranya serak. Matanya waspada, siap menyerang jika diperlukan.

"Orang yang baru saja menyelamatkan nyawamu," jawab Lin Fan datar, sambil memeriksa mayat buaya untuk mengambil kantung empedunya (bahan obat berharga). "Namaku Lin Fan."

Gadis itu menurunkan cambuknya sedikit, tapi tidak sepenuhnya tenang. "Aku Xue Ying. Dan aku tidak meminta bantuanmu."

"Terserah," kata Lin Fan, memasukkan kantung empedu ke tasnya. "Kalau begitu, aku pergi."

Ia berbalik untuk pergi.

"Tunggu!" panggil Xue Ying.

Lin Fan berhenti, menoleh setengah badan. "Ada apa?"

Xue Ying menggigit bibirnya, tampak berjuang dengan egonya. Akhirnya, dia menghela napas. "Aku... aku terluka. Racun asam buaya itu meresap ke dalam meridianku. Aku tidak bisa membersihkannya sendiri. Jika kau punya obat atau kemampuan pemurnian, aku akan membayar."

Lin Fan tersenyum tipis. "Apa yang bisa kau bayar? Di hutan ini, uang tidak berguna."

Xue Ying merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah gulungan jade tua yang retak. "Ini adalah peta menuju ruang rahasia guru Sekte Lembah Es. Di dalamnya, terdapat warisan teknik kultivasi 'Seni Cambuk Frost Lotus'. Dan ada juga catatan tentang siapa yang sebenarnya menghancurkan sekte kami."

Mata Lin Fan berbinar. Catatan tentang penghancur Sekte Lembah Es. Kemungkinan besar, itu berkaitan dengan Sekte Langit Merah.

"Tunjukkan padaku," kata Lin Fan, mendekat.

Xue Ying ragu sejenak, lalu mengangguk. Lin Fan menempatkan tangannya di punggung Xue Ying. Ia mengalirkan Qi-nya, memandu energi es Manik Giok untuk mengejar racun asam di meridian gadis itu.

Prosesnya lebih mudah daripada yang ia kira. Tubuh Xue Ying memiliki bakat es alami, sehingga Qi Lin Fan diterima dengan baik. Dalam sepuluh menit, racun itu berhasil dimurnikan dan dikeluarkan sebagai uap hitam.

Xue Ying menghela napas lega, warna wajahnya membaik. Dia menatap Lin Fan dengan kekaguman yang tertahan. "Kemampuan pemurnianmu itu luar biasa. Bahkan elder sektorku dulu tidak bisa melakukannya secepat itu."

"Itu rahasia dagang," jawab Lin Fan singkat. "Sekarang, peta itu."

Xue Ying memberikan gulungan jade itu. Lin Fan memeriksanya sekilas. Energinya stabil. Itu asli.

"Kenapa kau sendirian di sini?" tanya Lin Fan tiba-tiba. "Sekte Lembah Es sudah hancur. Survivor biasanya bersembunyi atau bergabung dengan sekte lain."

Wajah Xue Ying menjadi gelap. "Aku tidak bergabung dengan siapa pun. Aku memburu mereka. Orang-orang yang menghancurkan rumahku. Aku tahu mereka bekerja sama dengan seseorang dari dalam Kota Qingyun. Seseorang yang kuat."

Lin Fan merasa merinding. "Siapa?"

"Aku tidak tahu namanya," kata Xue Ying. "Tapi aku tahu lambangnya. Bulan sabit terbelah dan naga api."

Sekte Bulan Terbelah dan Sekte Langit Merah.

Lin Fan mengepalkan tinjunya. Konspirasi itu lebih besar dari yang ia kira. Elder Mo mungkin hanya pion. Atau mungkin mitra bisnis. Tapi jelas, ada aliansi gelap antara pembunuh bayaran, sekte api agresif, dan pengkhianat di dalam kota.

"Kita memiliki musuh yang sama," kata Lin Fan pelan.

Xue Ying menatapnya tajam. "Apa maksudmu?"

"Aku juga diburu oleh mereka," jawab Lin Fan jujur. "Dan aku butuh sekutu. Kau butuh perlindungan dan sumber daya. Aku butuh informasi dan kekuatan tempur jarak jauh. Cambukmu berguna."

Xue Ying mempertimbangkan tawaran itu. Dia melihat Lin Fan—pria muda yang lelah, kotor, tapi matanya bersinar dengan kecerdasan dan tekad yang sama dengannya.

"Jika kau mengkhianatiku," kata Xue Ying dingin, "cambuk ini akan mencabut nyawamu."

"Jika kau mengkhianatiku," balas Lin Fan, "es akan membekukan darahmu sebelum kau sempat berkedip."

Mereka saling menatap selama beberapa detik. Lalu, secara bersamaan, mereka mengangguk.

Persekutuan yang rapuh namun potensial telah terbentuk. Dua jiwa yang terluka, disatukan oleh dendam dan kebutuhan untuk bertahan hidup.

"Malam ini kita berkemah di sini," kata Lin Fan. "Besok, kita akan mencari jalan keluar dari hutan ini. Ada tempat yang harus kita kunjungi."

"Ke mana?" tanya Xue Ying.

Lin Fan menatap ke arah utara, ke pegunungan yang tertutup salju abadi.

"Ke reruntuhan Kuil Es Kuno. Jika peta itu benar, di sana ada warisan yang bisa membuat kita cukup kuat untuk menghadapi mereka."

Angin malam berhembus, membawa kabut hitam yang semakin pekat. Tapi kali ini, Lin Fan tidak merasa sendirian.

1
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
✅️
Daryus Effendi
masih lai bosan baca nya jarna mulai bab ini mulai bertele tele.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!