Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: KANCING GAUN BERDARAH
Pagi. Jam 6. Matahari udah nembak dari balik gorden tebel, tapi gue nggak tidur. Semaleman gue cuma merem, kepala di dada Mas Arga. Denger detak jantungnya, denger napasnya teratur. Dia juga nggak tidur. Tangannya nggak lepas dari punggung gue, ngelus-ngelus pelan kayak nenangin anak kecil.
"Sayang, tidur lagi," bisiknya pas gue gerak dikit. "Masih pagi."
"Ngga bisa, Mas," jawabku lirih. "Kepikiran kamera tadi. Jijik."
Rahang Mas Arga mengeras. Aku ngerasain di bawah pipiku. "Udah aman. Elang udah ngejagain di luar sama 10 orang. Nggak ada yang bisa masuk."
Tapi gue tau dia bohong. Matanya merah, ada urat nongol di pelipis. Dia marah. Marah banget. Tapi ditahan karena nggak mau gue takut.
Jam 7, room service ngetok. Sarapan. Mas Arga bangun duluan, pake jubah mandi hotel, bukain pintu. Dia nggak ngizinin gue keluar kamar sebelum dia mastiin aman.
Gue duduk di ranjang, masih pake kimono. Gaun pengantin gue tergantung di dalem lemari kaca. Putih, megah, tapi sekarang keliatan kayak kain kafan. Gara-gara Clarissa.
Mas Arga balik bawa nampan. Bubur, roti, buah, jus jeruk. Dia naruh di meja, terus nyamperin lemari. "Gue suruh orang hotel bawa baju ganti buat lo. Nggak mungkin lo pake gaun itu terus."
Dia buka lemari, mau ngambil gaunnya. Jarinya nyentuh kain... terus berhenti. Keningnya kerut.
"Sayang," panggilnya, suaranya tiba-tiba dingin. "Sini deh."
Gue turun dari ranjang, nyamperin. "Kenapa, Mas?"
Dia nunjuk kancing paling atas di bagian dada gaun. Kancing mutiara, gede, keliatan mewah. "Lo liat ini. Ada yang aneh."
Gue deketin. Sekilas kancing biasa. Tapi... di tengahnya ada titik item kecil banget. Kayak lubang jarum. Dan kalo diperhatiin, ada kilatan merah samar.
Darah gue surut. "Mas... jangan-jangan..."
Mas Arga nggak jawab. Dia rogoh saku jubah, ngeluarin cutter kecil yang selalu dia bawa. KREK. Dia congkel kancing itu.
Isinya kebuka. Dan bener. Kamera. Lebih kecil dari kamera semalem. Seukuran biji kacang ijo. Lampu merahnya kedip-kedip. Nyala. Ngerekam.
GUE JERIT. Jerit kenceng banget sampe gelas di meja geter. "MAS! MAS ARGA!"
Mas Arga langsung buang kancing itu ke lantai, terus INJEK. KRAK! Pecah. Tapi mukanya... anjir, gue nggak pernah liat dia semurka ini. Matanya merah darah, urat lehernya keluar semua, napasnya ngos-ngosan kayak banteng mau nyeruduk.
"ELANG!" Teriakannya bikin kaca kamar geter. Pintu kebanting kebuka, Elang masuk sama 5 bodyguard, semua udah siap senjata.
Mas Arga nunjuk pecahan kamera di lantai. Suaranya rendah, tapi tiap kata kayak piso: "Siapa. Yang. Masang. Gaun. Ini. Tadi. Malem."
Elang pucet. "T-Tuan, gaun dianter langsung dari butik langganan. Dianter sama Mbak Lia, asisten MUA. Dia udah kerja sama kita 3 tahun, Tuan."
"PANGGIL DIA SEKARANG! GUE NGGAK PEDULI DIA LAGI DI MANA! SERET KE SINI! SEKARANG!"
Elang langsung nelpon, tangannya gemeteran.
Gue jatuh duduk di lantai. Nangis. Nggak kuat. Berarti... berarti dari akad, dari resepsi, dari gue ganti baju, dari gue... dari gue di gendong Mas Arga... semua kerekam. Dadaku. Bahuku. Bagian atas lingerie gue. Semua.
"Sayang," Mas Arga jongkok, peluk gue. Tangannya gemeteran juga. Marah. Tapi suaranya dipaksa lembut. "Sayang, liat Mas. Liat Mas."
Gue ngangkat muka. Air mata sama ingus kecampur.
"Lo nggak salah. Lo korban. Yang salah itu gue. Gue nggak teliti. Gue nggak ngejagain lo bener-bener." Dia ngusap air mataku pake jempol. "Tapi Mas janji. Video itu nggak bakal kesebar. Kalaupun udah kesebar, Mas bakal bakar semua orang yang nonton. Mas bakal bikin Clarissa nyesel dilahirin."
10 menit kemudian, Mbak Lia diseret masuk. Mukanya pucet, nangis. "Tuan! Saya sumpah, Tuan! Saya nggak tau apa-apa! Saya cuma disuruh anter gaun! Saya nggak masang apa-apa!"
Mas Arga berdiri. Auranya ngebunuh. Dia nyamperin Mbak Lia pelan-pelan. "Lia. Lo kerja sama gue 3 tahun. Gaji lo 15 juta sebulan. Anak lo gue sekolahin. Ibu lo gue biayain berobat. Kurang apa gue ke lo?"
Mbak Lia jatoh dengkul, nangis kejer. "Tuan... saya khilaf, Tuan... Saya... Clarissa nawarin 500 juta, Tuan. Buat operasi jantung ibu saya. Saya kepepet, Tuan! Dia cuma bilang mau pasang peniti buat... buat jimat! Katanya biar Tuan langgeng sama Nyonya! Saya nggak tau itu kamera, Tuan! Sumpah!"
Mas Arga diem. Lama. Terus dia ketawa. Ketawa dingin. Nggak ada lucunya sama sekali. "500 juta ya? Nyawa sama kehormatan istri gue lo jual 500 juta."
"Tuan, ampun Tuan! Saya..."
"Elang," potong Mas Arga, nggak ngeliat Mbak Lia lagi. "Pecat. Blacklist dari semua hotel, semua butik, semua WO se-Jakarta. Laporin ke polisi. Pasal UU ITE sama ikut serta percobaan penyebaran konten asusila. Kasih pengacara terbaik biar hukumannya maksimal."
Mbak Lia pingsan. Diseret keluar sama bodyguard.
Mas Arga jalan balik ke gue. Dia berlutut di depan gue, pegang kedua tanganku. "Maafin Mas, Sayang. Mas gagal jaga lo. Di hari pernikahan kita."
Gue geleng kenceng sambil nangis. "Bukan salah Mas! Salah dia! Salah Clarissa! Kenapa dia jahat banget, Mas? Kenapa dia nggak biarin kita bahagia?"
Mas Arga narik gue ke pelukannya. "Karena dia nggak pernah bahagia, Sayang. Orang yang nggak bahagia, maunya orang lain hancur juga. Tapi denger Mas." Dia ngangkat dagu gue, maksa mata kita ketemu. "Mulai detik ini, perang udah beda. Kemarin Mas masih kasih dia napas karena dia cewek. Sekarang... nggak lagi."
Dia ngeluarin HP, nelpon seseorang. "Pak Kapolres? Arga Pratama. Iya. Tambahin pasal percobaan pembunuhan buat Clarissa. Dia mau bunuh istri saya secara mental. Bukti udah ada. Iya. Saya mau dia busuk di penjara. Nggak pake remisi. Nggak pake kunjungan. Terima kasih."
Telepon ditutup. Mas Arga nunduk, nyium kening gue lama banget. "Udah ya, Sayang. Jangan nangis lagi. Air mata lo mahal. Jangan dibuang buat sampah kayak dia."
Gue meluk dia erat. "Mas... aku takut. Gimana kalo videonya udah kesebar?"
Dia ngusap punggungku. "Kalo kesebar, Mas beli semua server internet di Indonesia. Mas bakar. Mas bikin dunia gelap kalo perlu. Asal nama lo bersih. Asal lo nggak kenapa-kenapa."
Gila. Om-om ini kalo bucin udah nggak ada obatnya. Tapi justru itu yang bikin gue ngerasa aman.
"Mas," bisikku. "Aku nggak mau tunda lagi malam pertama. Aku takut... takut besok ada masalah lagi. Aku mau sekarang. Sama Mas. Biar Clarissa tau, dia nggak bisa ngancurin kita."
Mas Arga diem. Nafasnya berat. Dia natap gue dalem-dalem. "Lo yakin, Sayang? Setelah ini? Lo nggak trauma?"
Gue ngangguk, senyum sambil nangis. "Yakin. Karena yang nyentuh aku Mas. Bukan kamera. Bukan Clarissa. Mas Arga. Suami aku."
Mas Arga merem, narik napas panjang. Pas buka mata lagi, sorotnya beda. Lembut, tapi ada api. "Kalo gitu..." Dia gendong gue lagi, tapi kali ini direbahin pelan-pelan ke ranjang. "Pintu gue kunci. HP gue matiin. Elang gue suruh jaga 1 lantai full. Nggak ada Clarissa. Nggak ada kamera. Nggak ada dunia."
Dia naikin badannya ke atas ranjang, ngurung gue di antara dua lengannya. "Cuma ada Mas... sama Sayang."
Dan detik itu, gue tau. Perang sama Clarissa baru aja dimulai. Tapi perang di ranjang... juga baru dimulai. Dan gue siap. Karena gue Nyonya Arga Pratama. Dan nggak ada yang bisa ngancurin ratu di kerajaannya sendiri.