Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi Gelap
Sisa-sisa amukan semalam masih berserakan di lantai kamar pribadi Geovani. Pecahan kristal dari vas mahal memantulkan cahaya lampu koridor yang remang, sementara aroma mawar yang layu dan bau debu dari perabotan yang hancur memenuhi udara. Briella berdiri di tengah kekacauan itu, napasnya mulai teratur meski matanya masih bengkak dan merah karena tangis histeris yang baru saja reda.
Geovani bersandar di ambang pintu, memperhatikan setiap gerak-gerik wanita di depannya dengan ketenangan yang menakutkan. Ia tidak memedulikan kerugian materi akibat barang-barangnya yang hancur. Baginya, melihat Briella hancur secara mental adalah investasi yang jauh lebih berharga daripada koleksi kristal mana pun di mansion ini.
"Sudah selesai dengan drama penghancurannya, Briella?" tanya Geovani dengan suara bariton yang rendah dan berwibawa.
Briella perlahan berbalik, menatap pria yang selama ini ia anggap sebagai penculik sekaligus pelindung kasarnya. Ia melangkah melewati serpihan kaca dengan kaki telanjang, seolah rasa sakit fisik tidak lagi berarti dibandingkan api yang membakar batinnya. Ia berhenti tepat satu langkah di depan Geovani, mendongak untuk menatap mata gelap itu.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu, Dokter. Aku butuh kehancuran mereka secara total," desis Briella dengan nada yang sangat dingin.
"Menghancurkan keluarga sekuat Adijaya tidak bisa dilakukan dengan hanya memecahkan barang-barang di kamarku. Kau butuh strategi, sumber daya, dan kesabaran," sahut Geovani sambil melipat tangannya di depan dada.
"Maka ajari aku. Berikan aku kekuatan yang kau miliki untuk menarik mereka turun ke neraka yang selama ini aku tinggali," Briella mencengkeram lengan kemeja Geovani, jari-jarinya bergetar karena emosi yang tertahan.
Briella berlutut di depan Geovani, sebuah tindakan penyerahan diri yang paling ekstrem yang pernah ia lakukan seumur hidupnya. Di bawah cahaya lampu yang temaram, ia menatap sang dokter bedah saraf itu dengan pandangan yang kosong namun penuh dendam. Ia telah melepaskan sisa-sisa harga dirinya demi satu tujuan utama.
"Gunakan aku, Dokter. Hancurkan mereka melaluiku. Lakukan apa pun yang kau mau pada tubuhku atau hidupku, asalkan mereka kehilangan segalanya," mohon Briella dengan suara yang parau.
Geovani sedikit membungkuk, mengangkat dagu Briella dengan jari-jarinya yang dingin dan beraroma antiseptik. Ia menatap ke dalam mata gadis itu, mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kegelapan yang pekat. Senyum tipis yang penuh kemenangan tersungging di sudut bibir pria itu.
"Kau tahu apa yang kau minta, Little One? Menjadi alatku berarti kau harus melepaskan kebebasanmu sepenuhnya. Kau harus patuh pada setiap instruksiku tanpa pertanyaan," Geovani memperingatkan dengan nada yang mengancam.
"Aku sudah tidak punya kebebasan sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di sini. Kebebasan tidak ada artinya jika musuhku masih tertawa di atas penderitaan ibuku," jawab Briella tanpa ragu sedikit pun.
"Bagus. Aku menerima tawaranmu. Kita akan membentuk aliansi yang akan diingat oleh seluruh Etheria sebagai akhir dari dinasti Adijaya," ujar Geovani sambil menarik Briella untuk berdiri kembali.
Geovani membawa Briella menuju meja kerjanya yang masih bersih dari kekacauan. Ia menarik sebuah kursi untuk Briella, lalu berdiri di belakangnya seolah sedang membimbing seorang murid. Bau maskulin dari tubuh Geovani yang biasanya mengintimidasi kini terasa seperti selimut pelindung bagi Briella yang sedang haus darah.
"Syarat pertamaku adalah kepatuhan total. Kau tidak boleh bertindak tanpa izinku. Kau adalah senjataku, dan senjata tidak bergerak atas kemauannya sendiri," kata Geovani sambil menatap pantulan Briella di cermin dinding.
"Aku mengerti. Apa pun yang kau perintahkan, akan kulakukan," sahut Briella pendek, matanya tertuju pada dokumen digital di monitor.
"Syarat kedua, kau akan tetap menjadi objek penelitianku di depan publik. Status kehamilanmu adalah tameng terbaik agar kau tetap berada di dekatku tanpa dicurigai sebagai ancaman oleh ayah Prilly," lanjut Geovani dengan nada teknis.
Briella mengangguk pelan, menyentuh perutnya yang masih rata namun berisi benih pria di belakangnya. "Apapun untuk membuat mereka lengah. Prilly pasti berpikir aku hanyalah pelacur yang kau kurung. Biarkan dia tetap berpikir begitu."
"Tepat sekali. Biarkan mereka meremehkanmu sampai saatnya kita menarik pelatuknya. Aku akan memberimu identitas baru di balik layar, sebagai konsultan pribadiku dalam urusan strategis," Geovani meletakkan tangannya di bahu Briella, mencengkeramnya dengan dominasi yang kuat.
"Kapan kita mulai? Aku ingin melihat Prilly menangis seperti saat dia menamparku siang tadi," tanya Briella, ada nada haus akan pembalasan dalam suaranya.
"Segera. Aku sedang menyiapkan jalur komunikasi yang tidak bisa dilacak untuk menyusup ke dalam server bisnis ayah Prilly. Kita akan merusak fondasi mereka dari dalam," jawab Geovani sambil menyalakan perangkat enkripsi tambahan.
Briella menatap layar monitor yang menampilkan grafik saham dan struktur perusahaan keluarga Adijaya. Ia merasa seolah sedang memegang bom waktu yang siap diledakkan. Di bawah bimbingan Geovani, ia bukan lagi mahasiswi malang yang bisa ditindas; ia adalah predator yang sedang belajar mengasah taringnya.
"Aku tidak menyangka dokter sepertimu punya sisi gelap sedalam ini, Geovani," gumam Briella sambil memperhatikan cara Geovani bekerja dengan data sensitif.
"Di Upper-Chrome, setiap orang punya sisi gelap, Briella. Perbedaannya hanyalah siapa yang lebih cerdas dalam menyembunyikannya dan siapa yang cukup kuat untuk mengeksekusinya," sahut Geovani tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Malam itu, di tengah puing-puing barang yang hancur, sebuah aliansi gelap resmi terbentuk. Briella telah menjual jiwanya kepada sang iblis demi kesempatan untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Tidak ada lagi air mata kesedihan, yang tersisa hanyalah kalkulasi dingin dan rencana jahat yang mulai merayap di kegelapan mansion.
Geovani menatap Briella sekali lagi, memastikan bahwa gadis itu benar-benar siap untuk peran barunya. Ia menyentuh bekas lebam di pipi Briella dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang terasa intim sekaligus mengerikan. Ketegangan seksual yang biasanya ada di antara mereka kini bercampur dengan ambisi kekuasaan yang liar.
"Besok kau akan kembali ke dunia luar dengan topeng yang baru. Pastikan kau tidak mengecewakanku, Little One," bisik Geovani tepat di depan wajah Briella.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, Dokter. Aku akan menjadi mimpi buruk yang paling indah bagi keluarga Adijaya," balas Briella dengan senyum yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Keheningan kembali menyelimuti ruang kerja itu, namun atmosfernya kini berbeda. Ada rasa aman yang berbahaya bagi Briella dan ada kepuasan yang brutal bagi Geovani. Mereka adalah dua orang yang terluka oleh sistem yang sama, dan kini mereka bersatu untuk meruntuhkan sistem tersebut dari akarnya.
Di luar, angin malam Etheria bertiup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon di sekitar mansion. Namun di dalam, suhu terasa panas oleh rencana balas dendam yang sedang digodok. Aliansi gelap ini adalah awal dari kehancuran yang akan mengguncang status quo kaum elit.
"Tidurlah. Kau butuh tenaga untuk peperangan yang dimulai besok pagi," perintah Geovani sambil mematikan monitor utamanya.
Briella bangkit dari kursi, menatap Geovani sejenak sebelum berjalan menuju pintu. Ia tahu bahwa mulai saat ini, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri, melainkan milik pria yang baru saja ia ajak bersekutu. Dan ia sama sekali tidak menyesalinya, selama tujuan akhirnya tercapai.
"Selamat malam, Dokter," ujar Briella sebelum menghilang di balik pintu.
Geovani berdiri sendirian di ruangan itu, menatap meja yang berantakan dengan tatapan puas. Ia telah berhasil mendapatkan kepatuhan total yang ia inginkan dari Briella. Kini, permainan catur yang sesungguhnya telah dimulai, dan ia tidak akan berhenti sampai raja lawan jatuh di tangannya.