Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi Berdarah Dingin
Ketegangan di ruang tengah mansion masih terasa sangat tebal meski Prilly baru saja menghentakkan kakinya keluar. Geovani berdiri mematung di dekat pintu, sementara Briella masih terpaku dengan jemari yang gemetar menyentuh pipinya yang memanas. Aroma parfum Prilly yang menyengat seolah masih tertinggal di udara, beradu dengan bau antiseptik yang menguar dari jubah bedah Geovani.
Pria itu berbalik dengan sorot mata yang sulit dibaca, menatap Briella yang tampak sangat rapuh sekaligus menyimpan bara amarah. Ia melangkah mendekat, namun Briella segera mundur satu langkah seolah menolak sentuhan apa pun setelah insiden memuakkan tadi. Geovani mendengus pelan, lalu merogoh saku jubahnya untuk mengambil ponsel satelitnya.
"Aku akan memastikan Prilly tidak kembali lagi hari ini dengan alasan pasien darurat di rumah sakit pusat," ujar Geovani sambil menekan beberapa digit di layar ponselnya.
"Kau pikir alasan pasien darurat akan membungkam mulutnya setelah dia melihatku di sini? Dia tidak bodoh, Geovani," sahut Briella dengan suara parau yang penuh dengan nada sinis.
Geovani tidak menjawab, ia justru sibuk memberikan instruksi kepada asistennya di rumah sakit dengan suara yang sangat tenang. Ia menyebutkan sebuah kode darurat bedah saraf yang mengharuskan kehadirannya segera, sebuah drama medis yang dirancang hanya untuk menyingkirkan Prilly dari jangkauan mansion ini. Setelah menutup telepon, ia kembali menatap Briella.
"Prilly memiliki ego yang lebih besar daripada logikanya. Jika aku memintanya untuk menjauh demi karierku, dia akan patuh sementara waktu karena dia haus akan status sebagai istri seorang dokter bedah terbaik di Etheria," Geovani menjelaskan sambil melepaskan jubah bedahnya yang tampak sedikit kusut.
"Kau memanfaatkannya demi menutupi keberadaanku, lalu kau memanfaatkanku demi penelitianmu. Kau benar-benar tidak punya celah untuk menjadi tulus, ya?" Briella berjalan menuju sofa, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan.
Geovani mendekati meja kecil dan menuangkan air mineral ke dalam gelas kristal, lalu menyodorkannya pada Briella. "Tulus adalah kelemahan di Upper-Chrome, Briella. Kau harus belajar itu jika ingin bertahan hidup lebih lama di sini, terutama setelah apa yang baru saja terjadi."
"Aku sudah cukup belajar hari ini. Aku belajar bahwa keselamatanku di sini hanyalah ilusi jika kau bahkan tidak bisa mengontrol siapa yang memegang kunci rumahmu sendiri," Briella menerima gelas itu namun tidak meminumnya, hanya menggenggamnya erat untuk menghentikan getaran tangannya.
"Keamanan biometrik sudah kuperbarui secara total dalam hitungan detik setelah dia pergi. Kunci cadangan fisik itu sudah dinonaktifkan dari server pusat. Kau aman sekarang," Geovani duduk di kursi seberang Briella, menatap tawar pada pipi gadis itu yang mulai sedikit membiru.
Briella meletakkan gelasnya di atas meja dengan denting yang cukup keras di tengah kesunyian ruangan. "Aman? Tidak ada kata aman selama Prilly masih bernapas dengan bebas di luar sana sambil membawa rahasia tentang janin ini. Dia akan menghancurkanku sebelum kau sempat menyelesaikan riset sialanmu itu."
"Itulah sebabnya aku memberimu penawaran tadi. Jika kau ingin dia berhenti mengganggumu, kau harus membantuku melumpuhkan posisinya tanpa dia sadari," Geovani memutar-mutar pena emas di jemarinya, memberikan aura predator yang sedang merencanakan mangsa.
"Aku tahu. Aku harus lebih cepat darinya. Aku harus menghancurkannya sebelum dia sempat menyusun rencana untuk melenyapkanku dari muka bumi ini," gumam Briella sambil menatap lurus ke arah pintu utama, membayangkan wajah angkuh Prilly yang tadi menamparnya.
Geovani berdiri, berjalan perlahan mengitari sofa tempat Briella duduk, lalu membungkuk untuk membisikkan sesuatu di telinganya. "Prilly bukan tandinganmu jika kau menggunakan otakmu, bukan hanya emosimu. Dia hanyalah boneka yang dibalut kain sutra mahal. Kau adalah penyintas, Briella."
"Jangan mencoba memotivasiku dengan kata-kata manis. Aku tahu kau hanya ingin memastikan 'objek penelitianmu' tetap utuh agar kau bisa terus bereksperimen," Briella memalingkan wajahnya, merasa muak dengan kedekatan fisik yang ditawarkan Geovani.
"Apapun alasanku, hasilnya tetap sama. Kita membutuhkan kehancuran Prilly untuk mengamankan posisi kita masing-masing. Sekarang, kembalilah ke kamarmu dan obati pipimu. Aku tidak ingin melihat cacat pada subjekku saat pemeriksaan malam nanti," perintah Geovani dengan nada dingin yang kembali muncul.
Briella bangkit dari sofa, menatap Geovani dengan sorot mata yang penuh kebencian sekaligus tekad yang baru. Ia menyadari bahwa posisinya kini benar-benar di ujung tanduk; rahasianya telah bocor ke tangan musuh terbesarnya. Jika ia tidak bertindak agresif, maka mansion mewah ini akan berubah menjadi peti matinya dalam waktu singkat.
"Aku akan melakukannya. Aku akan menghancurkannya dengan cara yang paling menyakitkan yang pernah dia bayangkan," ujar Briella sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang tengah.
Geovani memperhatikan punggung Briella yang menjauh dengan senyum tipis yang penuh misteri di sudut bibirnya. Ia tahu bahwa ia baru saja melepaskan seekor singa betina yang terluka ke arah lawan-lawannya. Baginya, konfrontasi berdarah dingin ini barulah awal dari simfoni kehancuran yang sudah ia susun dengan sangat rapi.
Di dalam kamarnya, Briella mengunci pintu dan bersandar di sana, membiarkan tubuhnya merosot ke lantai. Ia menatap ke arah jendela yang menampilkan pemandangan kota Etheria yang berkilauan namun busuk di dalamnya. Rasa takut yang tadi menyergapnya kini mulai bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap untuk membalas dendam.
"Kau salah jika berpikir tamparan itu akan membuatku tunduk, Prilly. Kau baru saja memicu kehancuran keluargamu sendiri," bisik Briella pada kesunyian kamar yang dingin.
Ia menyadari bahwa Geovani telah berhasil memanipulasi situasinya dengan sempurna; menjadikannya sekutu karena keterpaksaan. Namun, untuk saat ini, Briella tidak peduli siapa yang memanfaatkannya. Selama Prilly jatuh dan menderita, ia bersedia menjadi pion yang paling mematikan dalam papan catur yang dikendalikan oleh sang dokter bedah saraf.
Geovani di bawah sana mulai menghubungi beberapa kolega bisnisnya di rumah sakit, memastikan alasan "pasien darurat" miliknya terdengar valid di telinga dewan direksi. Ia bekerja dengan efisiensi seorang mesin, tanpa rasa bersalah sedikit pun karena telah berbohong pada tunangannya sendiri. Di dunia Geovani, hanya ada hasil akhir, dan Briella adalah hasil akhir yang paling ia inginkan.
Malam mulai turun, membawa hawa dingin yang menusuk dinding-dinding mansion yang terisolasi. Briella berdiri di depan cermin besar, melihat lebam di pipinya dan tanda-tanda kehamilan yang mulai terlihat jelas. Ia menyentuh perutnya, merasakan denyut kehidupan yang menjadi alasan sekaligus beban dalam pelariannya ini.
"Kita akan selamat, Nak. Dan mereka semua akan membayar setiap air mata yang jatuh di rumah ini," janji Briella kepada janin di rahimnya.
Ketegangan emosional yang melanda mansion seharian ini menyisakan kelelahan yang luar biasa bagi penghuninya. Namun, di balik kelelahan itu, sebuah rencana besar mulai berputar di kepala masing-masing. Geovani dengan ambisi medis dan obsesi gelapnya, serta Briella dengan dendam membara yang baru saja tersulut oleh tamparan Prilly.
Konfrontasi siang tadi telah mengubah segalanya; tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Perang antara mahasiswi dari distrik bawah dan ratu Upper-Chrome telah resmi dimulai, dengan seorang dokter jenius sebagai sutradara di balik layar. Dan Briella sudah siap untuk memainkan peran utamanya, bahkan jika ia harus mengotori tangannya dengan darah kedinginan yang sama dengan musuh-musuhnya.
"Besok akan menjadi hari yang berbeda," gumam Briella sambil mematikan lampu kamarnya, membiarkan kegelapan menyelimuti dirinya sebelum peperangan yang sesungguhnya pecah di Etheria.