Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.
Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...
Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.
Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 : HARUS JAGA JARAK DI KANTOR
Pagi itu kantor terasa berbeda. Udara AC yang biasanya dingin sekarang terasa lebih dingin. Suasana yang biasanya ramai dengan suara keyboard dan obrolan karyawan sekarang terasa hening.
Kirana melangkah masuk ke ruang kerjanya dengan langkah yang sedikit ragu. Tiga hari cuti sudah berakhir. Hari ini dia harus kembali ke rutinitas. Ke tumpukan berkas. Ke suasana kantor yang dingin. Kemarin sebelum kembali kekantor Kirana
berpesan ke Arga. Untuk sedikit menjaga jarak selama berada di Kantor. Mereka harus bisa profesional, tidak melibatkan kepentingan pribadi selama bekerja. "Semua dilakukan agar bisa jadi teladan yang baik buat karyawan lain."
"Selama di kantor Aku dan Arga harus sedikit jaga jarak ," pikir Kirana sambil menarik napas panjang.
Baru saja Kirana meletakkan tas di meja, pintu ruangan terbuka. Arga masuk dengan membawa map dokumen dan secangkir kopi hitam.
“Selamat pagi, Kirana. Bagaimana perasaanmu hari ini, udah nggak pusing ..??” tanya Arga seperti biasa. Suaranya tenang. Profesional.
Kirana mengangguk pelan. “Sudah lebih baik. Terima kasih, Arga.”
Arga meletakkan map dan kopi di meja Kirana. “Ini laporan revisi kontrak yang harus dicek hari ini. Juga kopi hitamnya. Pake sedikit gula, seperti biasa.”
Kirana menatap Arga sekilas. "Dia... berbeda."pikir Kirana.
Tiga hari di rumah, Arga terlihat lebih hangat. Lebih santai. Lebih... manusiawi. Tapi sekarang, Arga kembali seperti Arga yang dulu. Dingin. Jaraknya terjaga. Tidak ada senyum kecil. Tidak ada tatapan yang lama.
"Kenapa rasanya... kosong?"pikir Kirana dalam hati.
“Kirana, apa ada yang salah?” tanya Arga melihat Kirana diam.
Kirana cepat-cepat menggeleng. “Ti...Tidak ada.Terima kasih untuk kopinya.”
Arga mengangguk singkat lalu berbalik menuju mejanya. “Kalau begitu aku kerja dulu. Ada meeting dengan tim legal jam sepuluh.”
Pintu tertutup. Tinggallah Kirana sendirian di ruangan.
Kirana menatap cangkir kopi di depannya. Hangat. Sama seperti tiga hari lalu. Tapi sekarang, tidak ada Arga yang duduk di sampingnya sambil memastikan dia makan.
"Astaga Kirana, ayo fokus Kirana fokus...ini di kantor harus profesional. Jaga jarak. Jangan baper," gumam Kirana pada dirinya sendiri seraya menepuk nepuk kedua pipinya. Tapi hatinya terasa berat.
Siang hari, kantor tetap berjalan seperti biasa. Kirana sibuk dengan revisi kontrak. Arga sibuk dengan meeting dan presentasi. Mereka berdua sesekali bertemu di koridor atau ruang rapat. Bahkan tak jarang mereka berpapasan dan hanya bisa saling sapa dengan anggukan saja. Sekalipun berbicara hanya masalah pekerjaan.
“Kirana, file proposalnya sudah aku kirim ke emailmu.”
“Baik, Arga. Nanti aku cek.”
“Oke.”
Percakapan yang singkat dan formal. Tidak ada basa-basi.
Kirana menatap punggung Arga yang berjalan menjauh. "Kenapa rasanya... aneh?" pikir Kirana. "Tiga hari lalu dia bisa memasak sup untukku. Tiga hari lalu dia bisa memijat kakiku saat aku mengeluh pegal. Tapi sekarang... dia seperti orang asing." Pikiran dan Hati Kirana
terus berperang.
Kirana menghela napas. "Aku yang minta ini. Aku yang bilang kita harus profesional. Jadi kenapa aku harus merasa kecewa?" pikir Kirana sambil menggigit bibirnya.
Sore hari, jam menunjukkan pukul enam sore. Karyawan mulai pulang satu per satu. Tapi Kirana masih duduk di meja kerjanya. Layar laptopnya menyala. Berkas kontrak masih terbuka.
Arga yang melihat itu berjalan menghampiri. “Kirana, sudah jam enam. Kamu harus pulang.”
Kirana menoleh. “Aku belum selesai, Arga. Aku mau selesaikan revisi ini dulu.”
Arga mengernyit. “Kamu lupa dengan peraturan baru Papa..? Maksimal lembur jam tujuh. Dan kamu baru saja sembuh Kirana. Kamu gak boleh lembur.”
Kirana terdiam. "Dia benar. Tapi kenapa nadanya terdengar seperti... khawatir?" pikir Kirana.
“Aku baik-baik saja, Arga. Aku hanya mau menyelesaikan ini cepat,” jawab Kirana.
Arga menarik kursi dan duduk di depan Kirana. Tatapannya serius. “Kirana, tiga hari lalu kamu pingsan karena kerja terlalu keras. Aku nggak mau itu terulang lagi.” Ucap Arga lembut.
Kirana menatap Arga. "Tiga hari aku sakit... dia yang menjagaku. Tiga hari lalu dia juga bilang aku bukan robot kerja."pikir Kirana. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Arga...” panggil Kirana pelan.
“Hmm?” Arga menoleh.
Kirana ingin mengatakan sesuatu. Ingin bilang kalau dia rindu suasana tiga hari lalu. Ingin bilang kalau dia tidak nyaman dengan jarak ini. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.
“Tidak... tidak apa-apa,” jawab Kirana sambil mengalihkan pandangan. “Aku akan pulang sekarang.” akhirnya Kirana nurut.
" Iya udah ayo pulang..!!"
Arga berdiri , Dia membantu merapihkan meja kerja Kirana. Setelah memastikan semua rapi Arga dan Kirana berjalan keluar ruangan. Tapi sebelum keluar, dia berkata pelan. “Kirana...mulai sekarang kamu gak boleh memaksakan tubuhmu lagi !! kamu harus tau Papa sangat kawatir sama kamu......a..aku juga” ucap Arga hampir seperti berbisik di kalimat terakhir. Tapi masih bisa terdengar oleh Kirana.
Pipi Kirana terasa hangat, detak jantungnya tak beraturan. Dia tak berani menatap mata Arga.
"Aku.. aku tau" Jawab Kirana singkat. Dia tak tau harus jawab apa. Semua kata kata seperti tak bisa ia rangkai.
"Aku tunggu di lobby ..!!" ucap Arga.
Arga keluar ruangan lebih dulu. Tinggallah Kirana sendirian lagi.
Kirana menatap pintu yang sudah tertutup. "Arga kawatir padanya...benarkah dia kawatir, atau hanya sekedar rasa tanggung jawab" kalimat itu muncul seperti tanda tanya yang terus berputar di kepalanya.
"Kenapa kalimat sesederhana itu terdengar lebih hangat dari apapun?" pikir Kirana sambil memegang dada. Jantungnya berdetak tidak beraturan.
"Tapi Kirana, hari ini kamu kenapa sih..? Kenapa kamu merasa nggak nyaman saat Arga menjaga jarak? Apa aku... sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya? Apa aku... mulai menyukainya?" pikir Kirana.
" nggak ... itu nggak mungkin, itu cuma perasan yg wajar karena kemarin kita bareng terus." Kirana menggelengkan kepalanya. Dia ingin menepis semua pikirannya.
Kirana cepat-cepat menggeleng. "Lagipula, mana mungkin. Ini hanya pernikahan kontrak. Ini hanya perasaan sementara karena dia baik padaku saat aku sakit," gumam Kirana dalam hati. Tapi semakin dia menyangkal, semakin hatinya tidak tenang.
Malam itu, Mereka pulang lebih awal. Tidak banyak percakapan selama perjalanan pulang. Sesampainya di rumah Pak Harsono, Kirana langsung masuk ke kamar.
Bi Rina yang melihat itu hanya menggeleng. “Non Kirana kenapa ya? Biasanya pulang kantor masih semangat. Sekarang kok terlihat murung?”
Arga yang mendengar itu hanya diam. Dia masuk kedalam rumah sambil membawa tas kerja nya.
"Kirana terlihat tidak nyaman hari ini. Apa aku terlalu dingin padanya? Tapi ini semua kan permintaan kirana. Kita harus profesional selama di kantor. Selain itu Kita hanya suami istri kontrak," pikir Arga berfikir logis.
"Tapi kenapa rasanya... aku juga tidak nyaman dengan jarak ini?"pikir Arga sambil memejamkan mata.
Di kamar, Kirana berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit. Tidur tidak kunjung datang. Pikirannya terus teringat Arga.
"Arga yang memasak sup untukku."
"Arga yang memijat kakiku."
"Arga yang bilang aku bukan robot kerja."
"Arga yang bilang Dia juga kawatir padanya."
"Kenapa semua hal tentang Arga sekarang terasa berbeda? Kenapa hatiku berdetak lebih cepat setiap kali mengingatnya?" pikir Kirana sambil memegang dada.
Kirana menutup mata. "Kirana, sadarlah. Ini hanya kontrak. Jangan baper. Jangan jatuh cinta pada suami kontrakmu sendiri, Lagipula di dalam kontrak setelah satu tahun kita akan berpisah." Tapi semakin dia mengingat kontrak itu kenapa hatinya terasa sakit. Ada apa dengannya, dia tidak boleh melanggar kontrak yang Dia buat sendiri.
Dan untuk pertama kalinya... Kirana merasa takut dengan perasaannya sendiri.
[BERSAMBUNG...]
jadi orang kaya gak perlu sombong.
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"