Novel ini menceritakan seorang gadis bernama BIANCA yang masih kebingungan antara BARRA cinta lamanya yang berakhir karena kesalapahaman yang di buat oleh AZA teman kecil dari BARRA , atau LEO orang baru yang membuat DIA bangkit kembali menjalani hari hari dengan ceria. namun bukan kisah cinta mereka saja yang rumit , Bianca juga menjalani hidup yang tidak mudah di mana dia seorang anak yatim piatu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yolanda Fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#PUTUS
Kisah ini berawal dari saat Bianca sedang duduk di taman dan menerima sepucuk surat dari Aza yang isinya berbunyi:
Untuk Bianca,
Bi, aku rasa hubungan kita harus berakhir sampai di sini saja karena aku harus pergi. Maaf jika aku menyampaikannya lewat surat seperti ini, karena aku tidak sanggup melihatmu terluka dan menangis. Sekali lagi aku minta maaf ya.
Salam sayang,
Barra
Seketika air mata Bianca menetes membasahi kedua pipinya.
"Kenapa dia tidak pamit langsung pada gue? Padahal masalah ini kan bisa kita bicarakan baik-baik, bukan?" gumam Bianca lirih.
Melihat Bianca yang menangis tersedu-sedu, Aza berusaha menenangkannya sambil berkata, "Mungkin ini memang keputusan terbaik buat kalian berdua. Dia melakukan ini karena dia tidak ingin menyakitimu lebih dalam lagi."
"Tapi tetap saja, ini menyakitkan hati gue. Dia pergi begitu saja tanpa kejelasan apa-apa. Gue tidak akan pernah melupakan kejadian ini. Gue benci dia!" ucap Bianca dengan nada bicara yang penuh amarah dan kekecewaan.
Akhirnya mereka berdua pun pergi meninggalkan taman itu.
Keesokan harinya Bianca menjalani hari-harinya dengan perasaan sedih yang mendalam. Namun dia sadar dia harus tetap melanjutkan hidupnya, yaitu kuliah sambil bekerja untuk membiayai pendidikannya sendiri. Karena Bianca dibesarkan di panti asuhan dan tidak memiliki keluarga, jadi dia harus berusaha sendiri untuk bertahan hidup.
Satu bulan kemudian...
Akhirnya Bianca diterima di Universitas BIM melalui jalur beasiswa. Di universitas inilah berkumpul anak-anak orang kaya yang lebih mementingkan gelar, derajat, dan kekuasaan.
Pada hari ini, tepatnya Senin pagi, Bianca harus berangkat ke kampus. Namun dia malah kesiangan karena pulang larut malam tadi. Memang begitulah nasibnya jika bekerja sebagai kurir makanan, jam kerjanya tidak menentu dan seringkali membuatnya kelelahan. Bianca berlari tergesa-gesa menuju ruang kelasnya sampai tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang berjalan di depannya.
"Maaf, maaf ya, gue buru-buru sekali," ucap Bianca sambil menundukkan kepalanya dan langsung berlalu pergi meninggalkan pria yang ditabraknya itu. Pria itu hanya menatap kepergian Bianca dengan wajah yang sangat datar dan dingin.
Sesampainya di dalam kelas, Bianca duduk di bangku paling depan dan meletakkan kepalanya di atas meja karena sangat kelelahan.
Praaakkk! Terdengar suara bentakan keras saat meja di depannya dipukul. Bianca seketika terkejut dan mendongakkan kepalanya.
"Hei! Siapa yang menyuruh Lo duduk di sini?" ucap Ella dengan nada ketus dan tajam.
"Tidak ada yang menyuruh, karena tempat ini kosong jadi gue yang mengisinya," jawab Bianca berani sambil menatap tajam ke arah Ella.
"Lo tidak tahu ya kalau tempat duduk di sini diatur sesuai dengan kasta dan kekuasaan orang tuanya? Melihat penampilan Lo yang begini, mustahil sekali Lo anak orang kaya, kan?" ejek Ella meremehkan Bianca.
Bianca yang tidak ingin membuat keributan dan menjadi pusat perhatian di hari pertamanya kuliah pun langsung berdiri dan berjalan menuju bangku paling belakang meninggalkan Ella sambil berkata singkat, "Maaf."
Ella merasa tidak terima diperlakukan begitu saja oleh Bianca. Dia langsung menarik rambut Bianca dengan keras. Terjadilah adegan tarik-menarik rambut dan perkelahian kecil di dalam ruang kelas pada hari pertama Bianca kuliah.
Bianca dipanggil ke ruangan dosen, namun dia merasa bingung kenapa hanya dirinya saja yang dipanggil? Kenapa Ella tidak dipanggil juga?
"Namamu Bianca, bukan?" tanya Ibu Rima, dosen pembimbing di kelas Bianca.
"Iya, Bu," jawab Bianca dengan hormat.
"Bianca, kamu sebagai penerima beasiswa jangan membuat masalah yang bisa menyebabkan beasiswamu dicabut. Kamu tahu tidak kalau anak yang kamu jambak tadi itu orang tuanya adalah salah satu donatur terbesar di kampus ini? Beasiswamu bisa saja langsung dicabut sewaktu-waktu jika mereka mengeluh kepada direktur kampus ini," ucap Ibu Rima dengan nada tegas.
Bianca sangat kaget mendengar pernyataan Ibu Rima yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.
"Bukan saya yang mulai duluan, Bu. Tapi Ella duluan yang menjambak rambut saya, saya membalasnya hanya untuk melindungi diri saya sendiri, Bu," bantah Bianca membela dirinya.
"Cukup, Bianca. Semua anak-anak di kelas bersaksi kalau kamulah yang memulai duluan. Saran Ibu, lebih baik kamu fokus belajar saja dan jauhi mereka yang berusaha menjatuhkanmu. Sejujurnya Ibu percaya padamu, tapi sayangnya situasi saat ini sangat memberatkanmu. Jadi lebih baik kamu jauhi saja mereka dan jangan berurusan dengan mereka lagi ya," ucap Ibu Rima sambil mengelus lembut kepala Bianca.
Bianca pun pamit dan pergi meninggalkan ruangan Ibu Rima dengan perasaan kesal dan sedih karena dia dianggap bersalah padahal dia tidak memulainya duluan.