"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pagi itu, sinar matahari baru saja mengintip dari balik gedung-gedung tinggi Jakarta, tapi kesibukan di dalam penthouse Azel sudah terasa sejak subuh. Runa baru saja selesai mandi ketika ia melihat Azel sudah berdiri di ruang tengah, sibuk melakukan "inspeksi" terakhir pada tas kerja Runa.
"Laptop?" tanya Azel dingin, tapi tangannya sangat telaten memasukkan perangkat itu ke dalam tas empuk.
"Udah, Zel..."
"Powerbank? Botol minum yang ada madunya? Bekal sup iga?" Azel kembali mengecek isi tas Runa satu per satu. Ia bahkan memasukkan satu kotak kecil berisi vitamin tambahan dan beberapa lembar tisu basah.
Runa yang sedang memakai sepatu hanya bisa menghela napas. "Zel, aku ini mau mengawas ujian, bukan mau kemping ke hutan. Kamu masukin semuanya ke tas aku, berat tahu!"
"Lebih baik berat daripada kamu kebingungan di sekolah karena lapar atau haus," sahut Azel tanpa bantahan. Ia menyampirkan tas Runa di bahunya sendiri. "Ayo berangkat. Aku tidak mau kamu telat."
Perjalanan menuju sekolah terasa tenang sampai mobil mereka hampir sampai di gerbang SD Pelita Harapan. Dari kejauhan, mata tajam Azel menangkap sesosok pria tegap yang sedang memarkirkan sepeda motor trail-nya tepat di depan gerbang.
Itu Pak Dimas. Guru olahraga itu tampak segar dengan jaket olahraganya, siap menyapa siapa saja yang lewat.
Azel mendengus. Rahangnya mengeras seketika. "Kenapa dia harus sampai barengan dengan jam kedatangan kita?" gumam Azel dengan nada tidak suka.
Azel tidak berhenti di titik penurunan seperti biasanya. Ia justru memutar setir dan masuk lebih dalam, memarkirkan mobil mewahnya tepat di samping area parkir motor.
"Zel, kamu turun?" Runa kaget melihat Azel mematikan mesin.
"Iya. Tasmu berat, aku yang bawakan sampai ke dalam," jawab Azel singkat, padahal alasan sebenarnya adalah ia tidak mau Runa berjalan di koridor sekolah hanya berdua dengan Pak Dimas.
Begitu pintu mobil terbuka, Azel turun dengan wibawa yang luar biasa, memegang tas guru milik Runa di satu tangan. Ia berjalan memutari mobil dan menggandeng tangan Runa erat, tepat saat Pak Dimas baru saja melepas helmnya.
"Pagi, Bu Runa! Pak Azel!" sapa Pak Dimas ramah.
Azel hanya mengangguk sedikit, tanpa senyum, dan mempercepat langkahnya membawa Runa masuk ke lobi. Para guru yang sedang piket pagi itu langsung menoleh, tertegun melihat sang CEO turun tangan membawakan tas istrinya.
Di depan ruang guru, Azel berhenti. Ia membalikkan tubuh Runa menghadapnya, mengabaikan tatapan penasaran rekan-rekan Runa.
"Dengarkan aku," ucap Azel dengan suara yang cukup keras agar terdengar orang sekitar, suaranya persis seperti orang tua yang sedang menasihati anak TK. "Botol minumnya di kantong kanan. Jangan sampai tertukar dengan botol orang lain. Bekalnya dimakan jam 12 tepat, jangan ditunda. Vitaminnya diminum setelah makan siang, jangan sampai lupa lagi seperti kemarin."
"Zel... malu dilihat orang," bisik Runa dengan wajah merah padam, mencoba menarik tasnya dari tangan Azel.
"Dan satu lagi," lanjut Azel, ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan selembar jaket tipis. Ia memakaikannya ke bahu Runa. "AC di ruang ujian biasanya dingin. Jangan sampai menggigil. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku. Mengerti?"
Runa hanya bisa mengangguk pasrah, sementara Bu Ratna di belakang mereka sudah menutup mulut menahan tawa.
"Anak pintar," gumam Azel. Ia mencium kening Runa cukup lama—seolah sedang menandai wilayahnya di depan Pak Dimas yang baru saja lewat masuk ke ruang guru. "Aku jemput jam 4. Jangan coba-coba pulang naik ojek atau bareng orang lain."
Azel akhirnya memberikan tas itu pada Runa, menatap istrinya masuk ke ruang guru dengan tatapan protektif, sebelum ia berbalik dan berjalan pergi dengan langkah angkuh yang seolah mengatakan: Wanita itu milikku, jangan ada yang berani mendekat.
Runa masuk ke ruang guru dengan wajah yang masih terasa panas. "Ya ampun, Run... Pak Azel itu beneran kayak lagi nganter anak sekolah ya," goda Bu Ratna langsung. "Detail banget!"
Setelah memastikan Runa masuk ke dalam ruang guru dengan selamat—dan memastikan Pak Dimas melihat dengan jelas siapa pemegang otoritas tertinggi di hidup Runa—Azel kembali ke mobilnya. Suasana hatinya sedikit membaik, tapi insting kompetisinya masih menyala.
Begitu duduk di kursi kemudi, Azel tidak langsung menjalankan mobil. Ia bersandar sejenak, mengambil ponsel dari saku jasnya, dan membuka aplikasi catatan rahasia yang kini sudah memiliki folder khusus bernama "ANCAMAN: GURU OLAHRAGA".
Dengan wajah serius seperti sedang menyusun strategi akuisisi perusahaan, jemarinya menari di atas layar:
Catatan Strategis - 24 April:
Target: Dimas (Guru Olahraga).
Analisis Saingan: Postur atletis, sering menebar senyum (tekhnik manipulatif untuk menarik perhatian), punya akses fisik yang sering (lapangan/koridor).
Kelemahan Saingan: Naik motor (berdebu, tidak aman untuk Runa), tidak punya stok air jahe madu, tidak tahu jadwal maag Runa.
Tindakan: Pastikan Runa selalu kenyang agar tidak tergiur diajak jajan di kantin. Tingkatkan frekuensi antar-jemput sampai ke depan pintu kelas jika perlu.
Instruksi Tambahan untuk Runa:
√ Ingatkan Runa lagi: Bau keringat pria setelah olahraga itu beracun untuk pernapasan. (Cari jurnal ilmiahnya untuk memperkuat argumen).
√ Cek apakah sekolah butuh donasi gedung olahraga baru yang tertutup—biar aktivitas mereka tidak terlihat dari ruang guru.
Azel menutup aplikasi itu dengan perasaan puas. Baginya, bisnis dan cinta tidak ada bedanya: kamu harus memetakan kompetitor dan menutup semua celah mereka untuk menang.
Ia kemudian beralih ke folder utama, "Runa’s Manual Book", dan menambahkan baris baru untuk hari ini:
'Catatan: Tadi pagi dia malu saat aku ingatkan soal vitamin di depan orang. Kesimpulan: Runa tipe "shy-sweet". Besok lakukan lagi dengan lebih lembut tapi tetap tegas. Dia harus tahu kalau perlindunganku adalah hak paten yang tidak bisa diganggu gugat.'
Azel menyimpan ponselnya, menghidupkan mesin mobil, dan melesat pergi menuju kantornya. Di sepanjang jalan, pikirannya sudah menyusun rencana lain. Jika Pak Dimas pamer motor trail, mungkin Azel perlu mengirimkan satu bus sekolah baru yang super mewah hanya agar Runa punya alasan untuk bilang: "Maaf Pak Dimas, aku sudah dijemput kendaraan yang ada AC dan stok vitaminnya."
Sementara itu di ruang guru, Runa baru saja membuka botol minumnya dan menemukan sebuah sticky note kecil yang ditempel Azel di balik tutup botol tanpa ia sadari tadi:
"Jangan terlalu banyak tersenyum pada orang yang bukan suamimu. Itu boros energi. Fokus saja pada soal ujianmu. Love, A."
Runa hampir tersedak air madunya. "Zel... kamu benar-benar anggap Pak Dimas saingan bisnis ya?" gumamnya sambil menahan senyum yang justru merekah lebar. Rasa ragu dan kesepiannya perlahan terkikis oleh tingkah posesif suaminya yang luar biasa ajaib itu.
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣