NovelToon NovelToon
Aku Harus Mengulang Tiga Tahun Masa SMA

Aku Harus Mengulang Tiga Tahun Masa SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Slice of Life / Komedi / Time Travel
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: RS Star

Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

...Beberapa detik sebelum kejadian, sesaat setelah seorang gadis mengataiku dengan kata 'sial'...

"Hei, cepat kemari! Jangan kabur!" bentak gadis itu padaku. Aku terkejut sampai refleks mengerem langkah kaki mendengar lengkingan suaranya.

Aku mendengar suara derap langkah kaki yang mengentak lantai, makin lama makin dekat dari arah belakangku. Gadis itu mungkin berusaha mengintimidasi pria tulen ini, tetapi dia tidak tahu kalau aku ini tipe orang yang tidak perlu dibentak untuk sekadar dibuat gemetar ketakutan. Di dalam kepala, imajinasiku sudah liar membayangkan skenario terburuk; dipukul, dijambak, atau diseret ke kantor polisi atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan. Lebih jauh lagi, aku yakin dia akan memeras isi dompetku yang pas-pasan ini sebagai uang tutup mulut.

Dalam hati aku menangis meratap, 'Apakah ini babak pembuka dari alur pemerasan fiksi kriminal?! Tolooong...!'

Perlahan aku memutar badan sambil celingukan menoleh ke kanan dan kiri, mencoba mencari bantuan dari pengunjung lain. Sialnya, sepanjang mata memandang, koridor rak buku ini mendadak sepi seperti kuburan. Hanya ada aku dan gadis ajaib ini. Karena jaraknya sudah terlalu dekat, kesempatan untuk kabur atau berteriak minta tolong resmi tertutup.

"Kamu... sudah melihatku, ya? Mau ngomong apa?" tanya gadis itu sedikit terbata-bata. Aku malah makin bingung harus merespons apa dengan pertanyaan seaneh itu.

"A... aku... enggak paham kamu ngomong apa. Mungkin bisa kita lupakan saja kejadian barusan dan kembali menjalani hidup masing-masing dengan damai serta sentosa?" jawabku gemetaran. Jangankan menatap matanya, aku bahkan memutar bola mataku ke segala arah asal tidak beradu pandang langsung dengannya.

"Cih!" Bentakan ketusnya itu sukses membuat bulu kudukku berdiri. Mengerikan! Detik itu juga aku merinding, membayangkan dia akan menjentikkan jari lalu segerombolan anak nakal akan muncul dari balik rak untuk memukuliku beramai-ramai.

"RAKA! Tadi kamu memperhatikanku, kan?!" bentaknya terdengar sangat murka.

Aku langsung menggelengkan kepala secepat baling-baling bambu, sementara kedua tanganku sibuk memberi gestur menyangkal. Aku harus segera membersihkan namaku sebelum salah paham ini meluncur ke tingkat yang lebih berbahaya.

"En-enggak! Enggak! Tidak! Aku tidak akan melakukan hal kurang kerjaan seperti itu padamu! Tadi itu murni karena kamu tidak sengaja masuk ke radius jarak pandangku saja, kok! Aku enggak berpikir yang aneh-aneh, jadi aku mohon lupakan saja keja... Eh, tunggu sebentar. Kamu sebut namaku tadi?" Kalimat pembelaan diriku mendadak terhenti. Otakku baru saja memproses satu detail penting: dia tahu namaku. Aku pun memberanikan diri untuk mengangkat pandangan dan menatap langsung wajah gadis di hadapanku ini.

"Hah?! Elma?!" Aku terlonjak kaget begitu menyadari siapa sosok di balik pakaian modis itu. Aku benar-benar tidak menyangka kalau Elma, cewek yang terkenal nakal dan populer di kelasku, sedang berdiri di sarang wibu sambil mendekap beberapa manga romantis komedi di dadanya. Kombinasi yang sungguh di luar nalar.

"Hah, apanya?! Eh, jangan-jangan sejak awal kamu enggak sadar kalau ini aku?!" bentak Elma lagi, wajahnya makin merona karena kesal. Aku hanya bisa mengangguk pasrah beberapa kali.

"Sial, tahu begitu harusnya aku diam saja tadi..." keluh Elma agak bergumam. Dia menutupi wajahnya yang memerah menggunakan tangan kiri yang memegang buku. Tapi ya percuma saja, kan? Nasi sudah menjadi bubur, dan aku sudah melihat semuanya dengan mata kepala sendiri secara jernih beresolusi tinggi.

"Yah, lagian aku enggak bakal ke pikiran kalau kamu bakal main ke tempat seperti ini. Lagi pula, kamu sedang ngapain di sini?" tanyaku heran.

Dia membuang muka sambil mengumpat, "Cih!" Setelah terdiam sejenak untuk menata harga dirinya yang runtuh, dia kembali bersuara.

"Memangnya enggak boleh? Toh, kamu sendiri juga ada di sini!" ucap Elma sambil mendongakkan kepala di hadapanku, mencoba membangun kembali aura superioritasnya untuk memandangku rendah. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.

"Ya, kalau aku, dilihat dari sudut mana pun pasti tipe makhluk yang bakal kamu temukan di habitat seperti ini, kan?" sindirku telak. Elma seketika bungkam dan perlahan menundukkan kepalanya.

"Jadi... kamu suka manga bergenre rom-kom begitu?" tanyaku memuaskan rasa penasaran.

Elma melirik tiga tumpuk manga di tangan kirinya. Detik berikutnya, dengan gerakan panik bercampur malu, dia berjalan cepat menuju rak terdekat lalu melemparkan buku-buku itu ke atas tumpukan komik lain dengan kasar sampai menimbulkan suara berdentum.

"Be... Berisik! Enggak ada urusannya sama orang madesu (Masa Depan Suram) kayak kamu!" bentaknya luar biasa galak. Namun, aku bisa melihat dengan jelas rona merah padam yang menjalar hingga ke telinganya. Tipikal karakter tsundere yang sedang sekarat karena gengsi.

"Oi, oi, kembalikan ke tempat semula kalau memang enggak niat beli. Lagian, aneh aja melihat kamu membaca manga dengan genre semanis itu. Bukankah minggu lalu kamu bilang 'Jijik' saat melihatku membaca manga serupa di kelas?" sindirku balik. Aku bisa melihat tubuh Elma mendadak kaku seperti batu akibat serangan fakta barusan.

"Ma... mau bagaimana lagi! Habisnya aku penasaran dengan apa yang kamu baca! Tapi saat aku baru mau ikut baca, tiba-tiba kamu menoleh dan menatapku! Aku kan jadi panik dan harus memikirkan kata apa saja yang pas untuk diucapkan saat itu!" jelasnya dengan kalimat yang agak belepotan karena malu.

Dalam hati aku ingin protes, 'Dari sekian miliar kosakata yang ada di dalam kamus bahasa Indonesia, kenapa otakmu harus memilih kata "Sial" untuk menyapa orang?!' Tapi ya sudahlah, di mata cewek gaul seperti dia, makhluk sepertiku mungkin memang magnet kesialan.

"Aku mengerti. Kelompok bermainmu di kelas kan tidak ada tanda-tanda suka manga atau hal sejenisnya. Pasti bakal merepotkan kalau sampai kamu ketahuan menjadi wibu. Mereka pasti akan menghina dan menjauhimu," ucapku mencoba menganalisis situasinya secara logis. Elma kembali menatapku, namun perlahan kilatan galak di matanya meredup, digantikan tatapan yang agak melunak.

Dengan gerakan jari telunjuk yang melambai misterius, Elma memberi tanda agar aku mendekat. Aku pun menurut dan melangkah maju, meskipun di dalam hati sempat terbersit pikiran buruk kalau dia sengaja memancingku mendekat agar jarak tembak pukulannya lebih akurat. Tapi pikirku, dipukul sekali dua kali masih jauh lebih baik daripada diseret ke kantor polisi atas tuduhan palsu sebagai penguntit, kan?

"Apa?" tanyaku ketika jarak kami sudah terpangkas. Dia kembali membuat gestur tangan, memintaku mendekatkan telinga seolah ingin membisikkan rahasia negara.

"Kamu seharusnya paham situasi ini, kan, Raka?" bisik Elma tepat di samping telingaku. Aku langsung menarik kepala dan menggeleng mantap.

"Enggak. Bicara yang jelas saja." jawabku

"Cih! Dengar, ya. Jangan bilang siapa-siapa di sekolah. Kamu mengerti?" ancam Elma dengan nada perintah yang mutlak. Aku menghela napas panjang, memasang raut wajah menyindir, lalu sengaja melangkah mundur untuk mengembalikan jarak aman di antara kami.

"Memangnya di kelas aku terlihat seperti orang yang punya teman untuk diajak berbagi gosip?" sindirku, meratapi status sosialku sebagai serigala penyendiri demi menenangkannya. Elma menatapku dengan raut wajah super kesal. Sangat terlihat kalau dia sedang menahan tangannya agar tidak melayang ke wajahku saat ini juga.

"Haah... aku benar-benar sedang sial hari ini..." keluh Elma sambil menghela napas pasrah. Seketika ego pribadiku terusik.

"Hei! Harusnya aku yang bilang begitu!" bentakku tidak terima.

"Hmp! Ngomong apa kamu? Bisa mengobrol santai dengan gadis cantik sepertiku di tempat umum saat akhir pekan, terlebih aku sedang memakai baju terbaikku di hadapanmu... bukankah ini momen keberuntungan protokol protagonis pria di manga romantis? Harusnya kamu sujud syukur karena merasa beruntung!" ucapnya dengan rasa percaya diri yang melambung tinggi ke angkasa.

Aku melongo. Apa yang sebenarnya ada di dalam kepala gadis ini? Kenapa sifat PD-nya (Percaya Diri) ini mendadak terasa agak mirip dengan Maya? Jangan-jangan semua gadis populer punya genetik seperti ini?

"Hah?! Kamu bicara apa, sih?! Dari sudut pandangku, justru akhir pekanku yang damai ini hancur berantakan karena mendadak bertemu cewek nakal sekolah! Aku ini definisi nyata dari tokoh utama manga komedi yang sedang dikutuk dewi kesialan, tahu!" seruku sambil membayangkan dompetku diperas habis-habisan olehnya. Bagaimanapun, reputasinya di sekolah sebagai cewek galak bukan sekadar isapan jempol.

"Pokoknya jangan bilang siapa-siapa. Dah!" celetuknya memutus pembicaraan, lalu membalikkan badan bersiap pergi meninggalkanku. Namun, baru dua langkah dia berjalan, aku berinisiatif untuk menghentikannya.

"Hei." seruku, dia tidak bergeming dan tetap melangkah, sampai akhirnya aku menambahkan,

"Bukumu ketinggalan tuh." ucapku tegas

Langkah kaki Elma langsung terkunci seketika. Tubuhnya tersentak hebat, tampaknya dia mengalami syok berat karena kelalaiannya sendiri.

"Kalau memang enggak jadi dibeli, biar aku yang rapikan dan kembalikan ke raknya," ucapku lagi karena dia hanya mematung membelakangiku seperti patung Liberty. Cukup lama dia terdiam tanpa pergerakan berarti, sampai akhirnya terdengar suara gumaman pelan.

"Jangan... aku jadi beli, kok..." gumam Elma pasrah.

Dia berbalik dengan langkah gontai, berjalan kembali menuju rak tempat dia melempar komik tadi, lalu memungutnya satu per satu dengan wajah menahan malu yang luar biasa.

"Oh," celetukku pendek.

Begitu buku-buku itu sudah kembali ke dekapannya, dia langsung memasang wajah sangar, mencoba melayangkan ancaman terakhirnya padaku.

"RAKA! Awas saja kalau sampai kamu membicarakan kejadian hari ini kepada anak-anak di sekolah! Aku pukul kamu sampai babak belur!" bentaknya sambil memeluk erat tiga buku manga tersebut. Aku menghela napas lelah.

"Ya, ya. Sana pergi." ucapku, Elma mengentakkan kakinya ke lantai dengan kesal, lalu berlari kencang meninggalkanku sendirian.

Kedamaian akhirnya resmi kembali menjadi milikku setelah sosok Elma menghilang di belokan menuju kasir. Dari kejauhan, aku sempat melirik dan melihat dia benar-benar menuntaskan transaksi pembayaran untuk tiga manga romantis komedi tersebut. Mengenai tiga judul pilihan Elma, aku tahu betul kalau serial-serial itu adalah karya berkualitas yang nantinya akan memiliki banyak sekuel dan berumur panjang di industri. Buku-buku itu memang bagus. Harus kuakui, dalam hal ini selera kami sama persis.

Sebenarnya aku ingin berteriak padanya, 'Pilihan yang bagus! Serial itu akan terus populer sampai tiga tahun ke depan!' Tapi ya sudahlah, bukan salahku juga kalau dia lebih memilih mematok mode permusuhan denganku daripada mengobrol santai.

Aku pun akhirnya menjatuhkan pilihan pada satu manga dengan genre serupa, namun dengan judul yang berbeda demi menjaga harga diri agar tidak dicap sebagai penguntit Elma. Tapi kalau dipikir-pikir kembali, fakta bahwa Elma memiliki hobi tersembunyi yang sama denganku benar-benar mengejutkan. Mengingat perangainya di kelas yang terkenal liar dan berandal bersama kelompok bermainnya, fenomena ini sama sekali tidak pernah terjadi di kehidupan pertamaku dulu.

...Seandainya dulu juga seperti ini...

Mungkin, kalau di kehidupan pertamaku aku mengetahui rahasia ini lebih cepat, aku dan Elma bisa saja menjadi teman satu lingkaran yang asyik membicarakan anime, manga, dan novel bergenre romantis komedi bersama di kelas. 'Ah, mana mungkin,' bantahku tegas dalam hati.

Aku menghancurkan fantasi indah itu sebelum berkembang terlalu jauh. Aku tahu diri kalau aku ini terlalu banyak berharap. Bagaimanapun, Elma adalah salah satu komoditas gadis tercantik di kelas. Meskipun dia agak berandal, pesona visualnya jelas tidak bisa didebat oleh siapa pun.

Elma pasti akan mengunci rapat-rapat fakta mengenai kecintaannya pada budaya pop Jepang dan kisah-kisah romantis komedi seperti itu dari dunia luar. Aku pasti benar. Mustahil dia repot-repot mau mengajakku mengob-

...Tunggu sebentar...

Sebuah pemikiran mendadak menyengat otaknya. Ini tentang garis waktu di kehidupan sebelumnya.

Pada masa SMA di kehidupan pertamaku, aku seharusnya menghabiskan satu tahun penuh sebagai teman sekelas Elma. Sosok secantik dan semenonjol itu... meskipun aku seorang serigala penyendiri yang tidak pernah terlibat percakapan dengannya, sangat tidak masuk akal jika aku yang sekarang... sama sekali tidak memiliki memori visual atau ingatan konkret mengenai bagaimana jalannya kehidupan sekolah Elma sepanjang kelas satu SMA dulu.

Aku... benar-benar tidak mengingat apa pun tentang Elma sepanjang tahun itu, melainkan hanya momen saat dia berdiri memperkenalkan diri di depan kelas pada hari pertama. Kenapa bisa begitu?

Apakah ini efek samping atau kerusakan memori akibat jiwaku yang dipaksa melakukan perjalanan lintas waktu? Atau, apakah karena aku sudah mengambil pilihan berbeda di kehidupan kedua ini—seperti mengobrol dengan Luna—yang secara otomatis memicu efek domino, mengubah jalannya sejarah, dan menghapus beberapa memori penting dari lini masa sebelumnya?

Aku rasa aku harus segera mendiskusikan fenomena aneh ini dengan Maya pada pertemuan hari Senin besok. Mungkin saja, dia juga mengalami distorsi ingatan yang sama denganku.

1
Chizuru
cekatan sama pesimis beda tipis gak sih 🤣🤣🤣🤣🤣
SS Star
tuh kan Raka!!! /Sob//Sob/ hasil dari suicide mission lo buat nyelametin orang malah bikin lo berakhir jadi public enemy dibenci satu sekolah, iih kzl!! /Sob//Sob//Sob/ elma juga napa diem bae, gak sadar apa ya kalau dia baru aja bikin raka dapet villain role sewilayah sekolah? gw sekarang literally jadi paham banget gimana perasaan maya, instinct buat nampol raka tuh emang sekuat itu rasanya /Sob//Sob//Brokenheart/
SS Star
iih lowkey kzl bet sama raka!!! /Sob//Sob/ kek gak ada cara buat save elma yang lebih gentle apa ya? /Sob//Sob/ meskipun gw kagum sih dia masih care dan mau bantu elma biar kejadian drop out itu gak keulang, tapi ya mikir dikit kek. minimal cari cara yang lebih cool dan berestetika gito loh/Sob//Sob/ rakaaa!!!
Cece
tragis bgt 🤣.. udahlah reinkarnasi Krn Maya...masih di bully habis2an SMA mayaaa....🤣🤣
You Know me So well
sadizz coeg 🤣🤣
i'm your
ampun dah, kesian bet sama raka/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
Fatieh
tutup MBG, biarkan Maya dan Elma yang memasak 🔥🔥🔥
Raudhatul
elma gak enakan orangnya🤣🤣🤣
Chizuru
mayaa badash🤭🤭🤣
BiNtAnG kEjOrA
lanjutkan Maya...jangan berhenti😄😄😄😄
H5 (halima) :v
Maya sadiiiissss 🤣🤣🤣
i'm your
wkwkwk kesian amat
You Know me So well
ya ya ya bangga aja udah gpp 🗿🗿
Silvia: ayo Qt beri tepukan...😄
total 2 replies
SS Star
sari apaan sih, fix kesel banget sama nih orang /Panic//Panic//Panic/ keliatan banget kalah saing sama elma sampai harus playing dirty buat jatuhin dia /Panic//Panic/ tapi jujurly gw penasaran banget sih sama next move yang bakal raka lakuin buat mutar roda kenangan dia, lagian maya udah meremehkan raka banget ya, tapi aku kalau jadi maya sama aja sih responnya /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ which is emang bener sih raka tuh keliatan useless banget dan gak guna sama sekali jadi manusia /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
SS Star
udah baca sejauh ini dan gw dapet konklusi: Raka emang takdirnya buat ditampol massal /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ Elma, Maya, sekarang Sari, semuanya punya insting yang sama buat ngeplak si raka/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ tapi jujurly alurnya makin seru pas masuk ke misteri hilangnya memory kehidupan pertama dia, fix ini sih topik yang bakal seru banget buat diexplore ke depannya, semngat Thorku /Determined//Determined//Determined/
SS Star
eh ko tumben ch ini agak deep, tapi seru sih jadinya gak bercanda mulu /Facepalm//Facepalm/ agak mempertanyakan kok raka bisa lupa sama Elma padahal teman sekelas, padahal diawal dia kyk dapet flashback sama kehidupan pertamanya gitu kan /Shy//Shy//Shy//Shy/ tapi ttp ya, point minusnya itu elma gak nampol raka ditempat /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ padahal aku menantikan itu loo thor, sepanjang ch ini raka pure bikin emosi jiwa /Facepalm//Facepalm/
pie gemilang
jangan berharap banyak Raka...sepertinya kamu akan mendengar kalimat itu setiap saat!🤣💪
Kerak Telor
🤣🤣🤣terjebak situasi apa lagi Raka ini?😄😄
Cece: kaga ada yg bener cara Raka ketemu cewek 🤣
total 1 replies
Kenzie
elma suka raka?? hmm.. maya terus gimana thor??
4rafah: Maya SMA Elma berantemin aja.🤣🤣🤣
total 2 replies
pie gemilang
go ahead maya🤣🤣🤣💪💪💪...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!