Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 HARAPAN BARU
Pagi itu, suasana rumah baru keluarga Abdul terasa jauh berbeda dibandingkan rumah lama mereka di Gang Seng.
Sinar matahari masuk melalui jendela-jendela besar yang dipasang menghadap taman kecil di halaman depan. Udara segar mengalir bebas ke dalam ruang keluarga yang luas. Tidak ada lagi suara mesin jahit yang menderu di teras rumah, tidak ada lagi suara tetangga yang bertengkar dari balik dinding tipis, dan tidak ada lagi kebocoran atap yang membuat mereka harus menaruh ember saat musim hujan tiba.
Bagi Abdul, ketenangan seperti ini adalah kemewahan yang selama bertahun-tahun hanya bisa ia bayangkan.
Namun pagi itu pikirannya tidak sedang tertuju pada rumah mewah yang baru selesai dibangun.
Fokusnya hanya satu.
Kesembuhan bapaknya.
Abdul berdiri di depan jendela ruang keluarga sambil memperhatikan sang bapak yang sedang duduk di kursi roda. Di sampingnya, Ibu Abdul dengan sabar membantu menyuapi sarapan.
Meski kondisi Bapak Abdul jauh lebih baik dibandingkan beberapa bulan lalu, tubuh bagian kanannya masih belum bisa digerakkan dengan normal.
Berjalan sendiri masih menjadi sesuatu yang mustahil.
Melihat pemandangan itu, dada Abdul terasa sesak.
Rumah baru sudah ada.
Usaha sudah berjalan.
Uang di rekeningnya bahkan sudah jauh melebihi kebutuhan hidup mereka.
Namun semua itu terasa belum lengkap selama bapaknya masih terjebak di atas kursi roda.
"Pak."
Bapak Abdul menoleh perlahan.
"Iya..."
"Abdul udah bikin janji sama dokter spesialis saraf terbaik di kota. Hari ini kita berangkat periksa lagi ya."
Mata pria tua itu membesar sedikit.
"Dokter... besar?"
Abdul mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, Pak. Kata orang-orang, beliau salah satu dokter terbaik. Kita coba ikhtiar lagi."
Bapak Abdul tidak langsung menjawab.
Tangannya yang masih berfungsi perlahan menggenggam lengan kursi roda.
Lalu ia tersenyum tipis.
"Susahin kamu..."
Mendengar itu, Abdul langsung berjongkok di depan kursi roda bapaknya.
"Tidak ada yang nyusahin, Pak."
Suara Abdul terdengar pelan.
"Kalau Abdul bisa sampai sejauh ini, itu semua karena Bapak sama Ibu."
Mata Bapak Abdul mulai berkaca-kaca.
Ia hanya mengangguk pelan.
Dua jam kemudian, sebuah mobil keluarga berwarna hitam melaju menuju pusat kota.
Abdul duduk di kursi depan.
Di belakang, Ibu Abdul menemani sang bapak.
Rumah sakit tujuan mereka adalah salah satu rumah sakit swasta terbesar di kota.
Bangunannya menjulang tinggi dengan puluhan lantai.
Begitu mobil memasuki area parkir, Abdul bisa melihat ekspresi kagum sekaligus gugup di wajah kedua orang tuanya.
"Ya Allah..." gumam Ibu Abdul.
"Rumah sakitnya gede banget."
Abdul tersenyum.
"Dulu waktu Abdul kerja di pabrik, Abdul juga cuma lihat rumah sakit kayak gini dari luar."
Mereka kemudian masuk ke dalam gedung utama.
Lantai marmer mengkilap.
Pendingin ruangan yang sejuk.
Petugas yang berpakaian rapi.
Semuanya terasa berbeda dari fasilitas kesehatan yang biasa mereka datangi.
Tak lama kemudian, mereka dipanggil masuk ke ruang konsultasi.
Dokter spesialis saraf yang menangani mereka adalah seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan wajah ramah dan kacamata tipis.
Setelah membaca seluruh hasil pemeriksaan lama dan melakukan beberapa tes sederhana, dokter itu duduk kembali di kursinya.
Abdul menahan napas.
"Bagaimana, Dok?"
Dokter tersenyum tipis.
"Kabar baiknya, kondisi ayah Anda masih memiliki potensi pemulihan."
Ibu Abdul langsung menutup mulutnya.
"Beneran, Dok?"
"Iya."
Dokter mengangguk.
"Memang kerusakan saraf akibat stroke tidak bisa hilang sepenuhnya. Tapi berdasarkan hasil pemeriksaan yang saya lihat, peluang perbaikan fungsi motorik masih cukup baik."
Mata Abdul langsung berbinar.
"Jadi Bapak bisa jalan lagi, Dok?"
Dokter tidak langsung menjawab.
"Jangan terlalu berharap instan."
Beliau tersenyum bijak.
"Tapi saya bisa bilang peluangnya ada."
Kalimat sederhana itu membuat suasana ruangan mendadak berubah.
Harapan.
Sesuatu yang selama ini terasa sangat jauh.
Kini mulai terlihat.
Dokter kemudian menjelaskan berbagai program rehabilitasi.
Mulai dari fisioterapi rutin.
Terapi keseimbangan.
Latihan otot.
Sampai penggunaan alat rehabilitasi modern.
Biayanya tidak murah.
Bahkan sangat mahal.
Namun Abdul tidak peduli.
Selama masih ada peluang bagi bapaknya untuk kembali berjalan, ia siap membayar berapa pun.
Menjelang siang, mereka akhirnya pulang.
Di dalam mobil, suasana jauh lebih cerah dibandingkan saat berangkat.
Ibu Abdul terus membicarakan kemungkinan-kemungkinan kecil yang mulai muncul.
Sementara Bapak Abdul tampak lebih bersemangat dari biasanya.
Sesekali pria tua itu memandang keluar jendela sambil tersenyum sendiri.
Seolah untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia berani membayangkan masa depan.
Ketika mereka sampai di rumah, Abdul membantu mendorong kursi roda bapaknya menuju ruang keluarga.
"Pak."
"Iya?"
"Kita mulai terapinya minggu depan."
Bapak Abdul mengangguk.
"Baik."
Lalu, setelah terdiam beberapa saat, ia menambahkan dengan suara pelan.
"Terima kasih ya, Dul."
Abdul tersenyum.
Namun di dalam hatinya, justru rasa bersalah yang muncul.
Karena menurutnya, semua yang ia lakukan sekarang masih belum cukup.
Belum cukup untuk membalas pengorbanan kedua orang tuanya selama ini.
Malam tiba.
Setelah makan malam bersama keluarga, Abdul masuk ke kamarnya.
Meski rumah baru mereka jauh lebih nyaman, kebiasaannya belum berubah.
Ia tetap menyukai kamar yang sederhana.
Tidak terlalu banyak perabot.
Tidak terlalu mewah.
Abdul merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Pandangannya menatap langit-langit kamar.
Pikirannya kembali teringat pada ucapan dokter tadi siang.
"Peluangnya masih ada."
Kalimat itu terus terngiang.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Abdul merasa memiliki harapan nyata untuk melihat bapaknya berjalan kembali.
Ia memejamkan mata.
Lalu berdoa pelan.
"Ya Tuhan..."
"Kalau memang masih ada kesempatan buat Bapak sembuh..."
"Tolong mudahkan jalannya."
Setelah itu, tubuhnya perlahan rileks.
Napasnya menjadi teratur.
Kesadarannya tenggelam perlahan ke dalam dunia mimpi.
Di dalam mimpinya, Abdul mendapati dirinya berdiri di depan sebuah kompleks bangunan raksasa berwarna putih.
Di atas gerbang besar bangunan itu tertulis:
PUSAT REHABILITASI MEDIS NASIONAL
Puluhan pasien berjalan di halaman.
Beberapa menggunakan tongkat.
Beberapa menggunakan kursi roda.
Namun semuanya tampak berlatih dengan penuh semangat.
Abdul melangkah masuk.
Di tengah gedung utama, ia melihat sebuah layar digital raksasa.
Pada layar tersebut terpampang daftar paket rehabilitasi medis lengkap.
Matanya langsung tertuju pada satu angka yang bersinar terang di bagian paling atas.
Rp1.500.000.000
Angka itu terlihat begitu jelas.
Begitu nyata.
Seolah sengaja ditunjukkan kepadanya.
Sebelum Abdul sempat memahami apa artinya, seluruh dunia mimpi itu perlahan berubah menjadi cahaya putih yang sangat terang.
Dan kesadarannya mulai tenggelam semakin dalam menuju tidur yang benar-benar nyenyak.
Sementara itu, jauh sebelum fajar menyingsing...
Di atas meja kecil di samping tempat tidurnya...
Layar ponsel milik Abdul perlahan menyala.
Memancarkan cahaya keemasan yang kini terasa jauh lebih terang dibandingkan sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya...
Sistem tampak bekerja dengan intensitas yang berbeda.