Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.
Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.
Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.
Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat istriku setuju bercerai
Kentang di tanganku sudah berkali-kali ku cuci ulang. Tanganku terasa kehilangan kendali, tiba-tiba kaku setelah beberapa waktu lalu gemetaran. Mataku terasa panas dan perih, bukan hanya karena kurang tidur, tapi juga karena aku mulai kesulitan untuk fokus. Sesekali, bayangan di depanku berputar seperti ombak yang bergulung, memaksaku untuk menutup mata sebentar sebelum kembali melanjutkan.
Sudah puluhan menit dua buah kentang belum selesai ku kupas.
Aku ingin membuatkan perkedel kentang untuk Gavin. Bukan lauk terbaik yang bisa dibuat seseorang, tapi ini yang terbaik yang bisa aku buat untuknya. Bentuknya mungkin tidak sempurna, tapi aku sudah berusaha membuatnya semampuku. Aku ingin membuatkan makanan kesukaan Gavin, sebelum semuanya berakhir.
Tanganku berhenti.
Aku menatap kentang yang sudah ku haluskan di dalam mangkuk, lalu ke jam kecil di dinding dekat kulkas. Sudah lewat jam 09.00 pagi. Aku harus segera menyelesaikan ini.
Sakit kepalaku mendadak terasa berat, seolah ada sesuatu yang menghantam bagian belakangnya. Pandanganku mulai kabur, dan aku hampir tak sadar ketika sesuatu yang hangat mengalir dari hidungku.
Darah.
Aku buru-buru mengangkat kepala, tanganku menyeka cairan merah yang menetes ke daster yang ku kenakan. Aku menggigit bibir, menahan napas sejenak agar pendarahan ini segera berhenti. Ini bukan pertama kalinya. Tapi sungguh aku berharap ini akan segera membaik.
Aku menarik napas dalam, mencoba mengingat kembali apa yang tadi ingin ku lakukan. Tapi otakku terasa seperti kabut tebal, sulit menembusnya.
Aku sudah memberi garam, bukan? Atau belum?
Aku memandang adonan perkedel, mencoba memeriksa teksturnya. Aku mengingat dengan jelas bahwa aku sudah membumbui dan tinggal membentuk adonannya....atau memang belum?
Aku menggigit bibir. Kenapa aku mulai sering lupa?
Aku pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa darah di hidungku. Di kamar mandi aku menatap pantulan diriku di cermin wastafel. Wajahku pucat, bibirku kering, dan mataku tampak kosong. Aku terlihat seperti seseorang yang nyaris kehilangan segalanya.
Tapi aku tidak boleh kehilangan kesempatan ini.
Aku bergegas kembali ke dapur. Aku harus menyelesaikan makan siang ini sebelum Gavin menceraikan ku.
Aku tahu, pada akhirnya aku tidak akan bisa mempertahankannya. Pernikahan ini sudah mati sejak awal, dan aku pun tak memiliki cukup alasan untuk tetap bertahan. Tapi sebelum dia benar-benar menghapus keberadaanku dari hidupnya, aku ingin memberi sesuatu yang spesial.
Aku ingin dia menerima niat baikku, bahkan jika nanti pun dia membuangnya.
Aku hanya ingin dia tahu, jika aku pernah ada dalam hidupnya.
Sudah jam 11.00 siang, aku buru-buru menyusun makanan yang kubuat ke kotak bekal. Tapi tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar diiringi oleh suara seseorang yang memanggil namaku.
"Azalia, buka pintu..."
"Ya!" Sahutku dengan terburu-buru menuju pintu depan.
Rambut panjangku aku ikat asal. Kutaruh kotak bekal yang sudah kusiapkan di atas meja sambil berjalan keluar.
"Mama? Kenapa Mama datang menemui ku?"
Mama mendengkus. Dia mendorong ku masuk, melihat sekeliling. "Dimana suamimu? Dia tidak pulang?"
"Di kantor, Ma. Aku baru saja ingin mengantar makan siang."
"Azalia, kita sudah membicarakan ini kemarin. Sekarang bagaimana, kau sudah berhasil membujuk Gavin untuk memberikan suntikan dana ke perusahaan keluarga kita?"
Aku menggeleng. "Kami belum sempat bicara, Ma."
"Azalia!" Mama membentakku, keras sekali. "Sudah 3 hari ini dan kau masih belum membicarakannya dengan suamimu? Apa maksudmu sebenarnya? Kau Ingin membuatku mati lebih cepat, hah?!"
Aku diam, menelan semuanya.
"Apa yang kau lakukan, Azalia... Kau ini nyonya Gavin! Seharusnya kau bisa melakukan ini dengan mudah. Dan apa ini? Rumah macam apa ini? Aku sudah bilang padamu, mintalah apartemen mewah pada suamimu! Paling tidak penthouse! Kenapa kau mau saja tinggal di rumah kecil ini bertahun-tahun? Suamimu itu kaya raya! Kenapa kau tidak bisa memanfaatkannya dengan baik? Kau sungguh bodoh, Azalia!"
Mama melipat tangannya di dada, melihat sekeliling ruangan yang tampak hampa.
" Ma, akan ku usahakan bicara dengan Gavin secepatnya."
"Halah! Terus saja itu yang bisa kau ucapkan. Kamu sungguh tak berguna, aku muak sekali dengan janjimu. Besok sore jika kau tetap tidak mendapatkan persetujuan dengannya, maka aku sendiri yang akan bicara pada suamimu. Siapapun dia, dia tetap menantu keluarga Sanjaya, dan dia bertanggung jawab untuk membantu keluarga kita."
Terserah apa yang mau Mama katakan. Kepalaku kembali terasa berat, dan terus memberat. Seperti ada beban bertonton yang menimpa kepalaku.
Mama pergi begitu saja, meninggalkanku dalam keheningan.
Dengan kondisiku yang semakin tak bisa kukendalikan aku tetap nekat pergi ke kantor Gavin, namun kali ini aku meminta satpam untuk mengantarkan makanan untuknya, sungguh aku sedang tidak bisa berhadapan secara langsung dengan kondisiku yang sekarang.
Pulang dari kantor Gavin aku menghabiskan waktu lebih banyak di atas tempat tidur. Rasanya lelah sekali.
Aku baru keluar setelah merasa lebih baik. Saat aku akan ke kamar mandi, ada suara deru mobil terdengar dari luar.
Kusingkap sedikit tirai jendelaku, dan melihat bahwa itu mobil Gavin.
Gavin pulang?
Buru-buru aku membuka pintu, keluar untuk menyambutnya. Senyumku mengembang. Aku benar-benar bahagia melihatnya di depan mataku saat ini. Tidak peduli sedingin apa reaksi wajahnya untukku.
"Gavin, kau pulang?"
Gavin terlihat sangat tampan di mataku. Dia berdiri tepat di depanku menjulang seperti menutupi langit-langit.
"Aku sudah mengirimkan pesan. Kau tidak melihatnya?"
Benarkah?
Kapan?
"Cepat masuk, aku akan menyiapkan sesuatu untukmu."
Gavin sangat jarang pulang, ini hanya ke empat kalinya semenjak dua tahun terakhir.
Sialnya, ternyata benar dia sudah mengirim pesan padaku jika dia akan pulang malam ini. Dan aku sudah membuka pesan tersebut, tapi sekali lagi, aku melupakannya.
Dokter Wahyu memang pernah mengatakan padaku jika aku mungkin akan kehilangan ikatanku secara bertahap. Namun anehnya, aku tidak pernah lupa untuk mengirim pesan pada Gavin setiap sore, menanyakan apa dia pulang atau tidak nanti malam.
Karena aku lupa, maka malam ini aku benar-benar tidak tahu apa yang akan ku hidangkan untuk Gavin.
Hanya ada mie instan dan telur. Apakah Gavin mau makan makanan seperti ini?
Gavin sudah duduk di kursi meja makan, melepas jas nya. Ragu-ragu aku mendekat, meletakkan mie instan dan telur mata sapi yang baru ku masak.
"Maafkan aku, aku tidak melihat pesan balasan mu, hanya ini yang bisa ku sajikan."
Aku memberanikan diri duduk di sisinya, memandanginya saat dia menggenggam garpu dan sendok. Gavin baru memakan beberapa suap, saat tiba-tiba mendorong piring itu menjauh dari hadapannya. Tidak tahu apa yang salah. Ekspresinya juga berubah masam sebelum dia meneguk air minum dengan buru-buru.
"Aku pulang karena ada yang ingin ku bahas denganmu."
Kata selanjutnya... Aku bisa menebak.
"Aku ingin kita bercerai."
Gavin duduk tenang, tatapannya datar, seolah kata perceraian itu begitu mudah lolos dari mulutnya. Karena memang aku sungguh tak berarti.
"Sejak awal pernikahan ini bukan aku yang menginginkan. Kalian menjebakku, dan sudah saatnya mengakhiri permainan ini. Besok, aku akan mengirim gugatan cerai padamu. Aku juga akan memberimu kompensasi, dan setelah ini kuharap kau serta keluargamu tidak menggangguku lagi."
Setelah mengatakan itu, Gavin berdiri dan pergi begitu saja, tanpa bertanya aku bersedia atau tidak.
Padahal aku sudah tahu Gavin pasti akan meminta cerai. Tapi dada ini tetap berdenyut nyeri. Rasa sakitnya tetap susah sekali menghilang.
Tanganku menarik piring berisi mie yang ku masak untuknya, menyendok perlahan dan memasukkannya kedalam mulut ku.
Asin. Sangat asin. Lidahku kebas, tapi air mataku meleleh.
kalaupun azalia tinggal kenangan,please thor..tinggal kn lh kenangan Azalia bersama Gavin berupa sosok seorang bayi mungil. anak mereka.
kalau pun ad kerajaan, sembuhkan lh azalia. nth dgn pencangkokan ginjal atau bangun lgi setelah koma..