Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Dansa dan Tatapan Hazel
Dentum bass dari musik deep house yang diputar DJ di sudut penthouse itu terasa begitu nyata, menggetarkan lantai beton yang dipoles hingga getarannya merambat naik melalui tumit sepatu hak tinggi Kiandra, langsung menghujam ke ulu hatinya.
Cahaya lampu neon berwarna ungu dan biru menyapu ruangan dalam ritme yang hipnotis, menciptakan siluet-siluet manusia yang bergerak seperti gelombang di bawah langit-langit industri yang tinggi.
Kiandra menarik napas panjang, mencoba menenangkan paru-parunya yang mendadak terasa sempit. Ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Blake Harrington, memberikan senyum sopan yang ia harap terlihat cukup meyakinkan untuk menutupi kegugupannya.
"Aku hanya ingin belajar masak, Monsieur Harrington," jawab Kiandra, mencoba menjaga nada suaranya tetap santai di tengah kebisingan pesta. "Paris adalah tempat terbaik untuk itu, bukan?"
Blake terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat jernih dan berkelas, seolah-olah ia sedang menertawakan kepolosan yang baru saja Kiandra tunjukkan.
Ia melangkah satu langkah lebih dekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga Kiandra bisa mencium aroma parfumnya yang mahal—campuran antara citrus segar dan leather yang maskulin.
"Jawaban yang sangat diplomatis, Kiandra," ucap Blake, matanya yang biru es menyipit penuh minat. "Tapi aku yakin ada gairah yang lebih besar di balik wajah tenangmu itu. Bagaimana kalau kita berdansa? Lagu ini terlalu sayang untuk dilewatkan hanya dengan berdiri di dekat bar."
Kiandra ragu sejenak. Ia melirik cemas ke arah meja sudut tempat teman-temannya berada. Di sana, Diya Kapoor menangkap pandangannya. Bukannya memberikan bantuan, Diya justru memberikan isyarat tangan mengusir yang sangat jelas, menyuruh Kiandra pergi berdansa dengan sang pangeran dari Sciences Po itu.
Mei Ling bahkan terlihat sedang menahan tawa sambil mengacungkan jempolnya secara sembunyi-sembunyi.
"Aduh, teman-teman macam apa mereka ini? Aku sedang dikepung serigala aristokrat dan mereka malah asyik menonton!" batin Kiandra merana.
Ia mengembuskan napas pelan, menyadari bahwa menolak Blake di depan umum hanya akan menciptakan drama yang tidak perlu. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia meletakkan telapak tangannya di atas uluran tangan Blake yang terbuka.
"Hanya satu lagu," ucap Kiandra pelan.
Blake tersenyum penuh kemenangan. Ia menuntun Kiandra menuju tengah lantai dansa dengan gaya yang sangat percaya diri, seolah-olah ia sedang memandu seorang putri di sebuah pesta dansa kerajaan.
Begitu mereka sampai di tengah kerumunan, Blake meletakkan tangan kanannya di pinggang Kiandra. Sentuhannya sopan namun tegas, memberikan tekanan yang cukup untuk membuat Kiandra menyadari dominasinya.
Kiandra meletakkan tangan kirinya di bahu Blake, berusaha menjaga jarak aman agar tubuh mereka tidak terlalu menempel. Namun, gaun slip dress satin hijau zamrud yang ia kenakan terasa sangat tipis, membuatnya bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Blake.
Musik mulai melambat, berubah menjadi ritme yang lebih sensual dan mengalir. Blake memulai langkah dansanya, bergerak selaras dengan musik dengan keanggunan seorang atlet anggar yang terlatih.
"Gaun hijau itu sangat cocok denganmu, Kiandra. Kamu terlihat seperti permata yang tersesat di tengah tumpukan kerikil malam ini," bisik Blake, wajahnya merunduk sedikit agar suaranya bisa terdengar jelas di telinga Kiandra.
Kiandra tersipu tipis, memusatkan pandangannya pada kerah kemeja putih Blake yang kaku agar tidak perlu menatap mata biru es pria itu secara langsung.
"Terima kasih, Monsieur Harrington. Kamu juga sangat pandai berdansa. Apa semua mahasiswa International Relations diajarkan ini di kampus?"
Blake tersenyum percaya diri, lalu memutar tubuh Kiandra perlahan di bawah siraman lampu neon yang berkedip. Kiandra berputar dengan mulus, kain satin gaunnya berkibar lembut menyentuh kakinya. Namun, tepat saat ia berputar kembali menghadap Blake, matanya tanpa sengaja menyapu area VIP yang terletak di balkon dalam ruangan yang agak tinggi.
Kiandra membeku seketika. Seluruh saraf di tubuhnya seolah mengalami korsleting total.
Di sana, duduk santai di atas sofa kulit hitam yang mewah, adalah Enzo Romano.
Pria itu mengenakan setelan jas gelap yang sangat pas di bahu lebarnya, namun ia tidak mengenakan dasi, membiarkan dua kancing teratas kemejanya terbuka—memberikan kesan berantakan yang sangat maskulin dan berbahaya. Ia sedang mengobrol dengan seorang wanita cantik bergaun merah menyala yang duduk sangat dekat di sebelahnya.
Jantung Kiandra anjlok hingga ke dasar perut. Rasa panas menjalar dari leher hingga ke wajahnya.
"Pria itu... tadi dia masih santai di apartemen tanpa baju, cuma pakai piyama, rambutnya masih basah! Dan sekarang dia ada di sini? Dengan setelan jas mahal dan wanita cantik?" batin Kiandra berteriak histeris.
Ia merasa sangat bodoh karena tadi sore sempat pamit secara resmi padanya, seolah-olah ia adalah anak kecil yang sedang meminta izin pada walinya. Ternyata, sang "wali" sendiri punya agenda pesta yang jauh lebih glamor.
Seolah memiliki radar yang sangat tajam, Enzo menoleh pelan. Mata hazel-nya yang tajam langsung menemukan sosok Kiandra di tengah lantai dansa yang padat. Kontak mata itu terjadi begitu saja, mengunci Kiandra dalam keheningan yang mencekam di tengah kebisingan musik.
Kiandra menahan napas, tidak bisa memutus kontak mata dengan dosennya itu. Ia merasa seperti tertangkap basah sedang melakukan kesalahan besar, padahal ia hanya sedang berdansa.
Enzo tidak menunjukkan ekspresi marah atau terkejut. Sebaliknya, sudut bibirnya menyunggingkan senyum miring yang sangat provokatif—sebuah seringai yang seolah berkata, "Hai, Piccola?"
Lalu, dengan gerakan yang sangat santai dan menyebalkan, Enzo mengangkat gelas wine kristalnya perlahan ke arah Kiandra. Ia memberikan gestur 'cheers' yang mengejek dari kejauhan sebelum menyesap wine-nya tanpa melepaskan pandangan dari Kiandra.
Pikiran Kiandra korslet total. Aksi santai Enzo benar-benar menghancurkan konsentrasinya. Ia merasa seperti sedang dipermainkan di depan umum.
"Sialan! Dia sengaja melakukannya! Dia sengaja mau bikin aku panik!" geram Kiandra dalam hati.
Akibat kehilangan fokus, ritme dansa Kiandra menjadi kacau. Ujung sepatu hak tingginya tidak sengaja menginjak sepatu kulit mahal milik Blake dengan cukup keras.
"Ah!"
Kiandra terhuyung ke depan karena kehilangan keseimbangan. Tubuhnya menabrak dada bidang Blake dengan canggung, membuat tangannya secara refleks mencengkeram lengan pria itu untuk mencari pegangan.
Blake dengan sigap menahan pinggang Kiandra, menariknya lebih dekat agar gadis itu tidak jatuh. Ia terkekeh pelan, suaranya terdengar sangat dekat di dahi Kiandra.
"Gugup, Kiandra? Atau lantai ini memang terlalu licin untuk langkahmu yang cantik?" tanya Blake dengan nada menggoda.
Kiandra segera memundurkan wajahnya dengan panik, pipinya kini sudah semerah kepiting rebus. "Maaf! Aku benar-benar minta maaf, Monsieur Harrington. Aku... aku tiba-tiba hilang fokus. Kepalaku agak pening."
Blake tidak langsung melepaskan pegangannya. Matanya menyempit, mengikuti arah pandangan Kiandra ke area VIP tadi sebelum ia kembali menatap Kiandra dengan tatapan menyelidik.
"Melihat seseorang yang kamu kenal di sana? Kamu terlihat seperti baru saja melihat hantu," ucap Blake, suaranya mengandung nada kecurigaan yang halus.
Kiandra menggeleng cepat, suaranya sedikit bergetar karena panik yang belum reda. "Bukan. Bukan siapa-siapa. Aku hanya... mungkin aku butuh udara segar."
***
Di meja sudut, Mei Ling menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah balkon VIP. Ia menyikut lengan Adele Moreau dengan sangat keras hingga gadis itu nyaris menjatuhkan gelasnya.
"Adele! Lihat ke atas sana! Bukannya itu Enzo? Chef Romano?" bisik Mei Ling dengan nada yang sangat heboh.
Adele memperbaiki letak kacamatanya, memperhatikan sosok pria di sofa kulit itu dengan saksama, lalu mengangguk pelan. "Iya... itu benar-benar dia. Aku tidak salah lihat."
Juliette Laurent menyesap sampanyenya dengan tenang, namun matanya tetap terkunci pada area VIP. "Iya, itu Chef Romano. Dia memang sering terlihat di acara-acara kelas atas seperti ini. Keluarganya di Italia punya pengaruh besar di industri wine."
"Tapi tadi!" Mei Ling menunjuk dengan dagunya ke arah Kiandra yang masih berada di lantai dansa. "Tadi dia mengangkat gelas ke arah Kiandra, kan? Aku nggak salah lihat, kan?"
Adele mengangguk lagi, matanya membulat tak percaya. "Iya... dia memberikan gestur 'cheers' ke arah Kiandra. Dan aku yakin, gara-gara itu gerakan dansa Kiandra tadi mendadak kacau sampai dia menabrak Blake."
Diya Kapoor tersenyum penuh arti, melipat tangan di depan dadanya yang dibalut gaun mewah. Matanya berkilat penuh kemenangan, seolah-olah ia baru saja menemukan potongan terakhir dari sebuah puzzle yang rumit.
"Ada rahasia besar yang disembunyikan anak baru itu," gumam Diya pelan.
"Dosen dingin yang tidak pernah melirik mahasiswi, tiba-tiba memberikan gestur akrab di tengah pesta? Ini bukan sekadar kebetulan."
***
Lagu berganti tempo menjadi lebih cepat dan menghentak. Kiandra segera memanfaatkan momen itu untuk melepaskan diri dari Blake.
"Terima kasih untuk dansanya, Blake. Maaf soal sepatumu," ucap Kiandra cepat tanpa menunggu jawaban.
Blake mengangguk sopan, meski ia melepaskan pinggang Kiandra dengan gerakan yang tampak enggan. "Tentu. Aku akan mencarimu lagi nanti setelah kamu merasa lebih baik."
Kiandra berjalan cepat meninggalkan lantai dansa, menghindari tatapan Enzo yang ia tahu masih mengawasinya dari atas sana. Ia meremas ujung gaun satinnya, merasakan hawa panas menjalar di lehernya karena panik yang bercampur dengan rasa kesal yang luar biasa.
"Berengsek kamu, Enzo! Kenapa harus muncul di sini dan bikin semuanya jadi rumit! Lagian kalau mau datang kenapa tidak bilang? Aku jadi kayak orang bego karena meminta izin," umpatnya dalam hati.
Ia berdoa dengan sangat khusyuk agar teman-temannya tidak melihat insiden memalukan barusan, namun harapannya pupus seketika saat ia tiba di meja sudut.
Empat pasang mata—Mei Ling, Diya, Adele, dan Juliette—sudah menatapnya dengan intensitas interogasi tingkat tinggi yang membuat Kiandra merasa seperti sedang berdiri di depan regu tembak.
"Duduk, Kiandra Zanitha," ucap Diya dengan nada yang sangat tenang namun mematikan. "Kita punya banyak hal yang harus dibicarakan tentang 'Tuhan Dapur' yang baru saja menyapamu dari atas sana."