NovelToon NovelToon
Surat Dari Cafe Senja

Surat Dari Cafe Senja

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis Singkat:*

Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.

Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.

Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18; Lamaran di Meja 7

setahun sejak Senja #2 buka di Seturan.

Kafe Senja sekarang punya dua cabang, karyawan 14 orang, dan daftar tunggu pembeli yang mau pesan kopi susu gula aren “Senja yang Tinggal”.

Buku kedua Alya, _Meja yang Tidak Kabur_, masuk nominasi penghargaan sastra independen.

Tapi malam ini, Alya nggak peduli semua itu.

Hari ini rasanya beda.

Dari pagi Revan aneh. Dia lebih rapi dari biasanya. Kemeja putih, celana bahan, rambut disisir rapi.

“Interview kerja lagi?” Alya ngeledek waktu lihat dia di dapur.

Revan cuma senyum misterius. “Iya. Interview buat jadi suami kamu.”

Alya ketawa, nggak ngerti maksudnya.

Dia kira itu cuma gombal biasa.

Malamnya, kafe tutup jam 8. Lebih cepat 1 jam dari biasa.

Mas Bayu pulang duluan dengan alasan “punggung sakit”. Padahal Alya tahu dia sengaja dikirim pulang duluan sama Revan.

Karyawan juga udah pulang. Lampu dimatikan setengah. Hanya lampu gantung di atas meja 7 yang masih nyala, temani dua lilin kecil.

Alya keluar dari dapur bawa nampan. Dua gelas wine anggur tanpa alkohol, brownies hangat, dan mawar merah satu tangkai.

“Kenapa tiba-tiba romantis banget?” tanyanya sambil naruh semuanya di meja 7.

Revan udah duduk di sana. Tenang. Tatapannya nggak bisa ditebak.

Dia nggak jawab langsung.

Ambil tangan Alya pelan, kecup punggung tangannya.

Dingin. Tapi bikin Alya merinding.

“Al,” suara Revan pelan, berat.

“Setahun lalu gue milih tinggal karena kamu.

8 bulan lalu gue tolak Bali karena kamu.

Hari ini gue nggak mau nunda lagi.”

Dia buka saku kemejanya, keluarin kotak beludru biru dongker kecil.

Di dalamnya, cincin perak sederhana. Ukiran di dalamnya kecil banget: _Meja 7_.

Alya langsung diem. Napasnya ketahan.

“Van… ini beneran?”

Revan ngangguk.

“Gue nggak mau janjiin hidup yang sempurna. Gue nggak kaya, nggak romantis kayak di film.

Tapi gue janji, selama kamu mau duduk di meja 7, gue bakal duduk di sebelah kamu.

Mau marah, mau nangis, mau stuck nulis novel jam 3 pagi. Gue tetap di sini.”

Alya ngerasa dadanya sesak.

Dia udah dibohongi, ditinggal, dikhianati.

Tapi di depan dia sekarang ada laki-laki yang milih tinggal, meski punya alasan buat pergi.

“Kalau gue bilang nggak?” tanya Alya pelan, setengah bercanda buat nyembunyiin gugup.

Revan ketawa kecil.

“Gue bakal nanya lagi besok. Dan besoknya lagi. Sampe kamu capek dan bilang iya.”

Alya nggak bisa nahan air matanya.

Dia angguk cepat.

“Iya, Van. Gue mau.”

Revan berdiri. Ambil cincin itu, pasang pelan-pelan di jari manis Alya.

Pas banget. Kayak udah ditakar buat dia.

Alya mau ngomong “makasih”, tapi belum sempet.

Revan udah narik pinggangnya pelan, narik dia berdiri, terus nunduk.

Ciumannya lembut.

Nggak terburu-buru.

Nggak rakus.

Tapi di dalamnya ada semua yang nggak bisa diucapin: lega, cinta, janji, dan rasa aman.

Alya balas peluk leher Revan.

Tangan Revan di punggungnya, hangat, kokoh.

Dunia di luar kayak mati. Yang ada cuma bau kopi, cahaya lilin, dan napas mereka yang nggak beraturan.

Pas mereka lepas, kening mereka masih nempel.

Alya nggak berani buka mata dulu.

“Romantis nggak?” bisik Revan pelan, suara serak.

Alya ketawa kecil, masih malu.

“Romantis banget. Tapi curang. Pake ciuman biar gue nggak bisa bilang nggak.”

“Strategi,” jawab Revan sambil usap air mata Alya pake jempol.

“Supaya kamu nggak kabur lagi.”

Alya pukul pelan dadanya.

“Gue nggak bakal kabur lagi, Van. Janji.”

Revan senyum.

“Gue pegang janji itu ya.”

Mereka duduk lagi di meja 7.

Alya nunjukkin cincinnya ke cahaya lilin.

“Kecil ya. Nggak berlian.”

Revan nyengir.

“Nanti kalau kafe udah punya 10 cabang, gue beliin berlian. Sekarang yang penting, kamu mau sama yang punya cincinnya.”

Alya ketawa.

“Gue mau sama kamu. Titik.”

Mereka ngobrol sampe jam 11 malam.

Nggak bahas nikah. Nggak bahas masa depan.

Cuma duduk, pegangan tangan, sesekali nyuapin brownies.

Kadang Revan nyuri kecupan kecil di pipi Alya.

Alya balas cubit pelan.

Di luar hujan turun pelan.

Di dalam, meja 7 jadi tempat paling hangat di Jogja.

Tempat di mana dua orang yang dulu pengen kabur, akhirnya milih pulang. Pulang ke satu sama lain.

---

*[Bersambung: ]*

---

1
Nobitaku
baca dari awal sampai akhir mewek mulu, gimana ini thor
Murti Ningsih
sampai disini ceritanya lumayan bagus
Febriana Hanifah: halo kak, Terimakasih sudah membaca Karya saya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!