"lumpur hitam akan selama nya hitam meski telah di rendam dengan emas dan berlian" celetuk nyonya Sin sinis saat melihat Orjioh keluar dari mobil mewah keluaran terbaru berwarna hitam, seketika senyumnya hilang dan moodnya pun berubah. ia tidak menyangka bahwa ternyata gadis yang ingin di kenalkan Jonathan kepadanya adalah Orjioh, teman sekolah Jonathan ketika mereka masih tinggal di kampung dulu, yang menurut nyonya Sin tidak selevel dengan keluarga nya yang seorang pengusaha dan juga memiliki sebuah restoran mewah yang dilengkapi dengan penginapan kelas atasnya sekaligus. "benar" sambung In su setuju dengan kakaknya padahal tadinya dia sempat sedikit senang karena ternyata keponakan dekat dengan orang berpengaruh, pikir in su saat mobil yang dikendarai oleh Orjioh berhenti dibelakang mobil Jonathan, ia bahkan sudah sempat berangan-angan untuk menjilat, namun semua itu sirna ketika ia melihat Orjioh keluar dari mobil itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina Kotto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cinta semusim 13
"Pernikahan asli pun tidak ada ubahnya dengan pernikahan palsu, suatu hari jika sudah tidak sejalan tetap akan berakhir! tapi mengenai bahwa kau adalah putri semata wayang ayahmu, itu adalah nyata, tidak akan pernah bisa dipungkiri!" tutur ibu tiri Or jl ji oh seperti sudah sangat berpengalaman, ditambah lagi dulu Or ji oh juga pernah menipunya dengan pernikahan palsu, selain itu ayah Or ji oh juga terlihat tidak terlalu perduli tentang kabar pernikahan putrinya dengan putra dari keluarga oh tersebut.
Seketika alis sebelah kanan Or ji oh terangkat ke atas, "apa kau tidak lelah selama ini terus berperan sebagai istri dan ibu tiri yang baik? Aku rasa sekali-kali kau bisa mengganti peranmu menjadi ibu tiri yang kejam, itu pasti akan sangat menantang!" sindir Or ji oh karena sedikit merasa jengah, karena merasa ibu tirinya terlalu ikut campur. Ditambah lagi Or ji oh juga memang tidak menyukai ibu tirinya karena usia mereka yang terbilang dekat, hanya beda sepuluh tahun saja.
"aku tulus atau tidak! kau pasti lebih tahu." mendengar itu Or ji oh tertegun, tentu saja Or ji oh lebih tahu, ia bahkan melihat sendiri bagaimana wanita itu terus menjaga dan merawat ayahnya ketika koma dulu, bahkan tidak sedikitpun ia berpikir untuk mengambil alih perusahaan. "lagi pula Tuhan juga tidak memberiku anak, jadi bagaimana mungkin aku bisa mengganti peran sebagai ibu tiri yang kejam." lanjutnya membuat kening Or ji oh kembali mengernyit, jadi karena dia tidak punya pilihan. Or ji oh ingat ibu tirinya memang tidak bisa memiliki anak, karena rahimnya bermasalah dan harus diangkat sekitar lima tahun lalu.
"lagi pula aku juga tidak ingin menghabiskan masa tuaku hanya dengan kesepian hingga ajal menjemput, setidaknya sama sepertiku saat ini, meski kau tidak suka aku akan terus mengunjungi mu, dan aku harap kau juga akan melakukan hal yang sama padaku kelak." tuturnya dengan diiringi sedikit senyuman, mengingat bagaimana ia menghabiskan masa tuanya nanti, tangannya bahkan tidak berhenti memeriksa setiap ujung selimut dan juga alas tempat tidur Or ji oh, memastikan semua itu bersih dan juga nyaman untuk ditiduri.
"kau bahkan masih sangat muda, bagaimana mungkin berpikir tentang hari tua, lagi pula belum tentu juga kau akan kesepian, di luar sana pasti ada banyak pria yang mau dengan wanita kaya seperti mu, karena saat ayahku tidak ada nanti kau juga akan mewarisi seperempat dari hartanya!" celetuk Or ji oh benar-benar blak-blakan seperti biasa, sembari kembali melihat kearah buku yang tadi ia baca.
"huft" Mendengar itu ibu tiri Or ji oh hanya bisa narik nafas panjang, ia berhenti memeriksa selimut dan juga alas tempat tidur Or ji oh, memiliki anak tiri yang nyaris seumuran dengan nya memang benar-benar sulit. "sudahlah aku tidak akan lagi berbicara padamu." ujarnya kesal, lalu meletakkan sebuah kunci disebelah Or ji oh, "hanya 10 menit dengan berjalan kaki dari kampus, nomor 110." katanya sebelum pergi meninggalkan Or ji oh.
Or ji oh memandang kunci itu, mengambilnya lalu menyimpannya.
Hari-hari berlalu begitu cepat berganti bulan dan tahun, tak terasa sudah tiga tahun berlalu.
Tiga tahun kemudian sebelum kejadian ditempat parkir.
Oh pil sun baru saja selesai rapat, saat ia sampai diruangan ia langsung melihat pada kalender di mejanya. "Kim, apakah kamu sudah mengirim uang bulanan pada nyonya muda bulan ini?" tanyanya setelah melihat tanggal yang belum ia lingkari dengan pena berwarna merah, karena biasanya setiap tanggal lima ia pasti akan menyuruh kim untuk mengirimkan uang pada Or ji oh, meski Or ji oh tidak pernah mengirim pesan apa lagi menghubunginya.
Semua itu ia lakukan hanya sebagai tanggung jawab, "sudah tuan muda, tapi nyonya muda kembali mengembalikannya seperti biasa." jelas Kim menjawab pertanyaan Oh pil sun "lagi?!" ujar Oh pil sun tak percaya dan terlihat kesal, ia bahkan sampai melempar berkas ditangannya kembali ke atas meja. "hmm, hanya dalam hitungan detik setelah uang itu masuk." jawab Kim membenarkan sembari menyerahkan bukti transferan.
"sebetulnya apa maunya? apa dia ingin membuatku menjadi suami yang tidak bertanggung jawab di mata ayahnya?!" gerutu Oh pil sun kesal, mengingat bagaimana reaksi presdir Ma setiap sekali tidak sengaja bertemu dengan nya. "pasti itu tujuannya, jika tidak dia pasti akan menerima uang itu!" lanjut Oh pil sun melihat kearah Kim "sepertinya tidak seperti itu tuan muda." ujar Kim menanggapi perkataan Oh pil sun.
"pasti seperti itu, coba pikirkan! Jika dia tidak menerima uang bukankah itu arti selama ini ia hidup dengan uang kiriman dari ayahnya. Lalu bukankah itu artinya secara tidak langsung dia telah mengatakan kepada ayahnya bahwa aku adalah laki-laki tidak bertanggung jawab!" lanjut Oh pil sun dengan segala pikiran negatif di kepalanya.
"hmm, sepertinya nyonya muda hanya ingin mengatakan bahwa dia tidak butuh uang dari anda tuan muda!" ujar Kim betul-betul jujur dan tidak pandai berbohong untuk menghibur Oh pil sun, membuat Oh pil sun semakin kesal, "kalau betul seperti itu, kenapa dia tidak mengatakannya secara langsung?!" Oh pil sun semakin kesal, ia bahkan sampai menggebrak meja, seketika menyadarkan Kim bahwa ia telah salah bicara.
"maaf tuan muda, sepertinya saya harus keluar sekarang, masih ada yang harus saya kerjakan." kata Kim buru-buru ingin segera kabur dari ruangan Oh pil sun, "tunggu!" namun Oh pil sun segera menahannya. "ada apa tuan muda?" tanya Kim dan terlihat sedikit tidak mengerti mengapa bosnya menahannya.
"cari tahu kapan study nya akan selesai, dan kapan dia akan kembali?" perintah Oh pil sun pada Kim, "ssst, bukankah dulu dia bilang hanya tiga tahun???" ujar Oh pil sun lagi sembari mengingat apa yang dikatakan oleh Or ji oh ketika itu, "nyonya muda tidak pernah bilang tentang berapa lama dia akan disana, dia hanya bilang bahwa dia telah mendapatkan biaya siswa untuk study masternya dan mungkin akan langsung berlanjut ke program doctor, nyonya muda tidak pernah menjelaskan berapa lama dia disana." tutur Kim mengoreksi dan menjelaskan, karena ia sangat mengingat semua yang dikatakan oleh istri bosnya ketika malam itu.
Seketika kerutan di kening Oh pil sun semakin bertambah, "itu artinya masih belum diketahui berapa lama dia akan berada disana?!" ujar Oh pil sun tak percaya, sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dibelakangnya. "hmm, ya, kurang lebih seperti itulah." jawab Kim dengan sedikit ragu-ragu, takut jawabannya akan membuat Oh pil sun semakin kesal, karena ekspresi wajah Oh pil sun sudah tidak enak dilihat.
"hahahaha" alih-alih marah Oh pil sun justru tertawa, "hebat!" kata nya disela tawanya, ia menegakkan punggungnya dan mengambil buku agenda kerjanya, ia merasa seperti dipermainkan oleh semua orang disekitarnya, sementara Kim hanya menunduk, ia tahu ini tidak baik-baik saja. "sungguh hebat!" ulangnya lagi terlihat tidak terima, saat menikah orang yang seharusnya menikah dengannya tidak datang, hingga ia harus menikah dengan wanita lain, setelah menikah istri yang tidak di inginkannya pun langsung terbang keluar negeri meninggalkannya.
"SUNGGUH BENAR-BENAR HEBAT!" BRAK! teriaknya akhirnya dengan melemparkan buku agenda kerjanya ke lantai, didepan nya.