Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilas Kecerdasan
Sinar matahari pagi yang cerah kembali menembus gorden beludru kamar utama, namun kehangatan yang dibawanya sama sekali tidak mampu mencairkan atmosfer dingin yang membeku di dalam ruangan itu.
Saat Chloe perlahan membuka matanya, rasa lelah psikologis akibat ketakutan semalam masih menggelayuti pundaknya. Dia mengembuskan napas pelan, lalu menoleh ke arah sudut kamar tempat meja kerja kecil berbahan kayu ek hitam berada. Jantungnya seketika mencelos.
Di sana, Asher Sterling sudah duduk dengan tegap. Pria itu mengenakan kemeja putih kasual dengan lengan yang digulung hingga ke siku, menampilkan urat-urat menonjol di lengan kekarnya. Sepasang mata kelabunya menatap tajam ke arah layar laptop di hadapannya, sementara jemari panjangnya mengetik dengan ritme yang konstan namun terasa berat. Dahinya mengernyit dalam, menciptakan gundukan kecil di antara kedua alis tebalnya. Wajah tampannya mengeras, memancarkan aura frustrasi yang tertahan akibat sesuatu yang sedang ia kerjakan.
Melihat sosok suaminya, tubuh Chloe refleks bergidik ngeri. Ingatan tentang jeritan histeris, suara tamparan, dan hantaman pukulan mentah yang dia dengar dari balik pintu ruang kerja Asher semalam mendadak berputar kembali di kepalanya seperti kaset rusak. Pria yang kini duduk dengan tenang di depannya adalah monster yang sama yang semalam memerintahkan pematahan jari tangan seorang manusia tanpa berkedip sedikit pun.
Mencoba menguasai rasa takutnya, Chloe bergegas turun dari ranjang. Dia sebisa mungkin mengacuhkan keberadaan Asher, memalingkan wajahnya, dan melangkah cepat masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia membutuhkan siraman air hangat untuk membasuh rasa ngeri yang masih melekat di kulitnya.
Tiga puluh menit berlalu. Chloe keluar dari kamar mandi dengan handuk putih kecil yang melilit rambut cokelat panjangnya yang basah. Dia mengenakan gaun rumah sederhana berwarna biru muda. Saat melangkah keluar, pandangannya kembali terjatuh pada Asher.
Pria itu ternyata masih berada di posisi yang sama, fokus seutuhnya di depan layar laptop. Keningnya semakin mengernyit dalam, dan sesekali jemarinya memijat pangkal hidungnya dengan kasar. Asher tampak sedang berusaha memecahkan sebuah permasalahan rumit, sebuah teka-teki data yang tampaknya menolak untuk tunduk pada perintahnya.
Sembari berjalan menuju meja rias, Chloe tidak sengaja melewati bagian belakang kursi Asher. Sepintas, matanya yang jeli menangkap pantulan angka-angka, grafik fluktuasi, dan barisan formula logistik yang rumit di layar laptop suaminya. Format data itu tampak sangat familier di mata Chloe.
Dia menghentikan langkahnya sejenak, menyipitkan matanya untuk membaca lebih jelas dari jarak aman. Itu adalah data rekonsiliasi manifes pelabuhan dan arus kas internal yang tidak sinkron—sebuah kekacauan sistematis yang sengaja dibuat oleh seseorang untuk menyembunyikan selisih angka. Dan entah mengapa, dalam sekali lirik, Chloe merasa dia tahu persis di mana letak kesalahan formula tersebut dan bagaimana solusinya.
Rasa takut semalam mendadak tersisih oleh insting akademisnya yang mendadak bangkit. Chloe menarik napas dalam-dalam, mencoba memberanikan diri. Alih-alih menjauh, dia justru melangkah mendekat ke sisi meja kerja Asher.
Dengan gerakan yang sangat sopan dan rendah hati, Chloe perlahan mendudukkan tubuh mungilnya di atas lantai marmer, tepat di dekat kaki meja, di samping kursi tempat Asher duduk. Tindakan pasrah ini dia lakukan agar tidak terlihat mengintimidasi sang bos mafia.
Asher menghentikan pergerakan jemarinya di atas papan ketik. Dia menoleh ke bawah, menatap Chloe dengan sepasang mata kelabunya yang tajam, dingin, dan sarat akan tanda tanya yang menuntut penjelasan atas kelancangan gadis itu.
Chloe mendongak, menatap mata kelabu itu dengan tatapan rusa jernihnya, mencoba menyembunyikan getaran gugup di suaranya. "Asher... bolehkah aku meminta izin untuk melihat dan mencoba mengerjakan data itu? Aku... aku rasa aku tahu di mana letak kesalahan hitungan pada datamu."
Keheningan yang mencekam sempat tercipta selama beberapa detik. Asher tidak langsung menjawab. Sorot matanya menyiratkan keraguan yang mendalam, bercampur dengan rasa tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang gadis tawanan yang dia beli dari lantai kasino mengaku bisa menyelesaikan permasalahan data logistik rumit milik organisasi Sterling yang bahkan membuat kepala divisi keuangannya gemetar ketakutan?
Namun, melihat binar kejujuran dan keyakinan di mata jernih Chloe, Asher akhirnya mengembuskan napas pendek melalui hidungnya. Dia menggeser laptopnya sedikit ke arah tepi meja, lalu memutarnya ke hadapan Chloe, memberikan gadis itu sebuah kesempatan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Chloe tersenyum tipis. Tanpa membuang waktu, jemari mungilnya yang lentik langsung mengambil alih papan ketik laptop.
Dengan cekatan dan penuh percaya diri, Chloe mulai menelusuri barisan angka di dalam dokumen tersebut. Matanya bergerak dengan kecepatan luar biasa, membaca setiap sel data dengan ketelitian seorang profesional. Dia menemukan bahwa formula yang digunakan sebelumnya sengaja diubah menggunakan algoritma pembagi yang salah untuk menyamarkan hilangnya sepuluh persen pasokan barang—hal yang memicu keributan semalam.
Tap. Tap. Tap. Tap.
Suara ketukan jari Chloe di atas papan ketik terdengar berirama dan sangat cepat di dalam keheningan kamar. Dia menghapus formula lama yang cacat, lalu menggantinya dengan kombinasi rumus rekonsiliasi linier yang jauh lebih efektif dan akurat. Hanya dalam hitungan menit, secepat kilat, Chloe menyelesaikan permasalahan hitungan pada data Asher yang rumit tersebut.
Enter.
Jari manis Chloe menekan tombol terakhir. Seketika itu juga, seluruh grafik di layar laptop berubah secara otomatis, menampilkan visualisasi arus kas yang kini sinkron sempurna, mengungkap dengan jelas di mana titik kebocoran dana dan manipulasi data yang terjadi selama ini. Semua kekacauan itu terselesaikan secara instan di bawah jemari mungil Chloe.
Chloe melepaskan tangannya dari laptop, lalu mendongak menatap Asher dengan napas yang sedikit terengah karena konsentrasi penuh. "Sudah selesai... Semua angkanya sekarang sudah seimbang, dan kau bisa melihat di kolom merah itu adalah lokasi manipulasi yang sebenarnya."
Asher mencondongkan tubuh masifnya ke depan, menarik kembali laptopnya untuk memeriksa hasil kerja Chloe. Sepasang mata kelabunya menelusuri setiap baris data yang kini telah tertata rapi tanpa cela. Rahang tegas pria itu yang tadinya mengeras, perlahan-lahan mengendur.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Chloe, di dalam kedalaman mata kelabu Asher yang sedingin es, muncul sedikit rasa takjub yang tidak bisa ia sembunyikan. Kecepatan dan ketepatan analisis yang ditunjukkan oleh gadis mungil ini benar-benar berada di luar ekspektasinya. Chloe baru saja menyelesaikan sebuah masalah besar yang bahkan gagal dipecahkan oleh tim analis terbaiknya dalam waktu dua hari penuh.
Melihat Asher yang terpaku menatap layar, Chloe merasa tugasnya telah selesai. Dia perlahan bangkit berdiri dari lantai marmer, merapikan gaun rumahnya, lalu berjalan kembali menuju meja riasnya. Dia mengambil handuk putih kecilnya dan mulai mengeringkan rambut cokelat panjangnya yang basah dengan gerakan yang tenang.
Asher menutup layar laptopnya dengan bunyi klik yang pelan. Dia membalikkan kursinya, menatap punggung kecil Chloe yang membelakanginya di depan cermin meja rias.
"Dari mana kau tahu cara mengerjakan hal semacam ini?" tanya Asher tiba-tiba. Suara baritonnya terdengar rendah, memecah kesunyian, tidak sedingin pagi kemarin namun tetap sarat akan otoritas yang kuat.
Chloe menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengeringkan rambut. Dia menatap pantulan dirinya dan Asher di dalam cermin sebelum akhirnya menjawab dengan nada suara yang sedikit lirih. "Dulu... aku sempat berkuliah di jurusan akuntansi dan analisis data di salah satu universitas negeri terbaik. Aku sangat menyukai dunia angka."
Chloe menundukkan kepalanya sedikit, seulas senyuman pahit terukir di bibirnya saat mengingat masa lalunya yang hancur. "Aku bahkan sempat mendapatkan beasiswa prestasi selama tiga semester awal. Namun... aku tidak bisa menyelesaikannya. Kuliahku terhenti di tengah jalan karena terhalang biaya, setelah ayahku mulai tenggelam dalam dunia judi dan menghabiskan seluruh tabungan yang ditinggalkan oleh almarhumah ibuku."
Rasa sedih dan sesak kembali merayap di dada Chloe saat dia menceritakan penggalan hidupnya yang menyakitkan itu. Dia menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk meneruskan kata-katanya mengenai bagaimana ayahnya akhirnya membawa dirinya ke dalam pusaran utang yang berujung pada sangkar emas ini.
Namun, belum sempat Chloe meneruskan kata-katanya, terdengar suara gesekan kursi yang digeser dengan kasar.
Asher Sterling telah berdiri dari tempat duduknya. Pria itu merapikan kemeja biru tuanya, meraih ponsel pintar dan kunci mobilnya di atas meja tanpa memandang ke arah Chloe lagi. Topeng sedingin es itu tampaknya telah kembali terpasang sempurna di wajah tampannya, menutup rapat rasa takjub yang sempat muncul beberapa saat lalu.
Tanpa berkata apa pun, Asher melangkah tegap menuju pintu utama kamar. Jangankan memberikan pujian atau kalimat penyemangat atas cerita sedih istrinya, sebuah ucapan terima kasih yang paling sederhana pun tidak keluar dari bibir tipis pria berhati batu itu.
Cklek. Klik.
Pintu kamar terbuka dan tertutup kembali dengan cepat, meninggalkan Chloe yang terpaku di depan meja riasnya dalam kebingungan yang luar biasa. Dia menatap pintu yang kini tertutup rapat dengan pandangan kosong. Sikap Asher yang begitu cepat berubah kembali menjadi dingin dan abai, memotong kalimatnya seolah kisah hidupnya tidak lebih dari angin lalu, membuat Chloe menyadari satu hal yang menyakitkan: tidak peduli seberapa cerdas atau bergunanya dia membantu pria itu, di mata Asher Sterling, dia tetaplah tidak lebih dari seonggok barang tebusan yang tidak berhak mendapatkan setetes pun rasa empati kemanusiaan.