NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Anak Kembar
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!

...

Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.

Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 // MBKCM

1 Jam kemudian...

​Bimo melangkah masuk ke dalam lobi mansion utama keluarga Arkatama dengan langkah yang tergesa-gesa. Rasa tidak sabar bergejolak hebat di dalam dadanya, membuat napasnya sedikit memburu. Namun, begitu melihat beberapa pelayan dan penjaga rumah berlalu-lalang, Bimo buru-buru mengatur ekspresi wajahnya menjadi senormal mungkin. Dia harus menahan diri. Kejadian yang baru saja dia saksikan di Rumah Sakit Cahaya Medika adalah sebuah rahasia besar yang belum terbukti, dan dia tidak boleh membiarkan orang-orang Paman Arya atau Kakek Wirya mencium hal ini terlebih dahulu.

​Bimo berjalan menuju ruang tengah dan menyerahkan paket obat herbal yang dibawanya kepada kepala pelayan. "Tolong berikan obat ini pada Pak Wirya setelah beliau selesai makan buah malam nanti," instruksinya dengan nada profesional.

​"Baik, Pak Bimo," jawab pelayan itu sopan.

​Setelah tugasnya selesai, Bimo tidak buang-waktu lagi. Dia segera menaiki anak tangga menuju lantai dua, tempat di mana kamar pribadi Ardan berada. Langkah kakinya yang cepat membawanya berhenti tepat di depan pintu kayu jati yang tertutup rapat. Tanpa mengetuk dengan ritme formal seperti biasanya, Bimo mengetuk pintu dengan tidak sabar. Ketukan beruntun yang langsung menandakan ada hal darurat yang terjadi.

​Tok! Tok! Tok!

​Dari dalam kamar, terdengar suara bariton Ardan yang sedikit berat. "Masuk."

​Begitu dipersilahkan masuk, Bimo segera menyelinap ke dalam, menutup pintu kayu itu kembali, dan mengunci pintu rapat-rapat dari dalam. Ardan yang saat itu sedang memeriksa laporan di tabletnya, mengernyitkan dahi melihat tingkah laku asisten pribadinya yang tampak sangat tegang.

​"Ada apa, Bimo? Kenapa wajahmu seperti baru melihat hantu?" tanya Ardan, meletakkan berkasnya ke meja.

​Bimo menarik napas dalam-dalam, melangkah mendekat ke arah Ardan. Dia tidak bisa lagi menahan berita besar ini. "Pak... ini tentang wanita itu. Kiana Mahira."

​Mendengar nama Kiana disebut, gerakan tangan Ardan langsung membeku. Sorot matanya menajam. "Kenapa dengan dia?"

​"Tadi, setelah saya mengambil obat untuk Pak Wirya, saya tidak sengaja melihatnya di Rumah Sakit Cahaya Medika, Pak. Dia berada di poli kandungan," ujar Bimo dengan suara ditekan serendah mungkin namun penuh penekanan. "Dia hamil, Pak. Dan dari apa yang saya lihat dari gerak-gerik temannya yang membawa foto hasil pemeriksaan, sepertinya dia hamil kembar. Pak Ardan... itu anak Anda."

​Deg.

​Jantung Ardan sesaat mencelos mendengar kata hamil kembar. Sebuah hantaman tak kasat mata seolah memukul dadanya hingga dia merasa pasokan oksigen di sekitarnya mendadak menipis. Bayangan Kiana yang siang tadi terlihat kurus dan pucat di Butik Elegance langsung berkelebat di benaknya. Jadi... karena itu dia kurus? Karena dia sedang mengandung?

​Namun, detik berikutnya, ego dan logika medis di otak Ardan segera mengambil alih. Rahangnya kembali mengeras. Dia teringat kembali pada dokumen-dokumen rekam medisnya yang terbaru di Singapura beberapa bulan lalu, yang bahkan kembali menyatakan dengan hasil laboratorium mutakhir bahwa dia mandul.

​Ardan membalikkan badannya, memunggungi Bimo. "Tidak mungkin, Bimo. Kamu tahu sendiri bagaimana hasil pemeriksaanku. Aku ini tidak bisa membuatnya hamil. Spermaku bermasalah, dan itu adalah vonis mati untuk kesuburanku. Hasil di Singapura kemarin tidak berubah."

​"Tapi Pak!" Bimo mencoba meyakinkan, melangkah satu langkah lebih dekat. "Yang saya tahu dari informasi latar belakangnya, Kiana itu gadis baik-baik. Dia bukan wanita malam atau model pergaulan bebas. Bisa saja ini sebuah keajaiban medis, Pak! Bukankah tidak ada yang mustahil di dunia ini?"

​Ardan mengepalkan tangannya di atas meja, menyangkal mati-matian rasa hangat yang sempat muncul di hatinya. "Kalau itu memang anakku, lalu kenapa dia tidak menemuiku untuk meminta pertanggungjawaban? Bahkan siang tadi dia diam saja saat bertemu denganku di butik. Dia justru terlihat ketakutan dan membuang muka. Jika seorang wanita hamil anak dari pria kaya, bukankah seharusnya dia langsung datang menjebakku?"

​Bimo menggelengkan kepala, merasa bosnya terlalu sinis menilai Kiana. "Mungkin dia takut, Pak. Mengingat bagaimana kasarnya Anda memperlakukannya malam itu. Lebih baik Anda temui dia malam ini juga, Pak. Bertanya langsung dan pastikan kebenarannya dari mulutnya sendiri sebelum semuanya terlambat."

​Ardan terdiam. Kata-kata Bimo seolah menjadi bahan bakar yang membakar habis sisa rasa penasarannya. Dia tidak akan bisa tidur malam ini jika tidak mendapatkan jawaban langsung dari Kiana.

​"Siapkan mobil," perintah Ardan akhirnya, suaranya terdengar dingin dan mutlak.

**

​Di malam hari yang semakin larut, suasana di dalam kamar kos kecil Kiana terasa begitu sunyi. Kiana sudah mengenakan baju tidurnya dan bersiap untuk tidur, mencoba mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat lelah setelah berjuang melawan mual seharian. Namun, tepat saat dia hendak mematikan lampu kamar, sebuah getaran panjang dari ponselnya memecah keheningan.

​Sebuah nomor asing yang tidak dikenal masuk ke ponselnya.

​Tubuh Kiana seketika bergetar hebat. Rasa trauma yang mendalam membuat pikirannya langsung melompat pada kemungkinan-kemungkinan buruk. Dia takut itu adalah Pak Adnan si tua bangka yang kembali menerornya, atau Dafa yang tiba-tiba muncul dari pelarian untuk memerasnya lagi.

​Dengan tangan gemetar, Kiana menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa bersuara.

📞 ​"Kiana Mahira."

​Suara bariton yang sangat dingin, berat, dan berwibawa itu langsung membuat napas Kiana tercekat. Itu bukan Dafa, bukan pula Pak Adnan. Itu adalah suara Ardan Arkatama.

​"P-Pak Ardan?" bisik Kiana, suaranya nyaris hilang di tenggorokan.

📞 ​"Keluar sekarang. Ada yang ingin aku bicarakan dengamu," ucap Ardan di seberang telepon, nadanya tidak menerima bantahan. "Aku menunggumu di dalam mobil di gang depan kosanmu."

​Klik.

​Sambungan telepon diputus sepihak. Jantung Kiana berdegup kencang, bertalu-talu dengan sangat keras hingga menimbulkan rasa nyeri di dadanya. Rasa takut yang teramat sangat menyergap dirinya. "Mengapa dia kemari malam-malam begini? Apa yang ingin dia bicarakan? Apakah ini akhir dari segalanya?"

​Kiana melirik ke arah jendela luar. Lampu kamar kos Saskia yang berada di sebelah kamarnya sudah mati, menandakan sahabatnya itu mungkin sudah tidur nyenyak karena kelelahan setelah menemaninya ke rumah sakit sore tadi. Kiana memutuskan untuk pergi sendiri. Dia tidak mau mengganggu atau melibatkan Saskia lebih jauh ke dalam masalah rumitnya ini.

​Dengan langkah kaki yang gemetar, Kiana berjalan menyusuri lorong kosan yang sepi, lalu melangkah keluar menuju gang depan yang remang-remang hanya diterangi lampu jalan yang temaram.

​Di sana, sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik sudah terparkir di bawah pohon. Bimo yang berada di luar, berdiri di samping pintu belakang mobil, langsung membungkuk sopan begitu melihat kedatangan Kiana.

​"Silakan masuk, Nona Kiana. Pak Ardan sudah menunggu di dalam," ucap Bimo dengan nada ramah namun serius.

​Kiana menelan ludahnya yang terasa pahit. Dia mengenali kendaraan ini dengan sangat baik. Ini adalah mobil yang sama saat malam terkutuk itu terjadi. Malam penuh dosa di mana seluruh kesuciannya direnggut tanpa ampun. Dengan rasa takut yang menjalar hingga ke tulang, Kiana membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang dingin oleh embusan pendingin ruangan.

​Pintu ditutup rapat oleh Bimo dari luar, menyisakan Kiana dan Ardan yang duduk berdampingan di kursi belakang yang luas. Suasana di dalam mobil seketika terasa sangat mencekam. Ardan duduk dengan posisi tegap, tatapan matanya lurus ke depan, memancarkan aura intimidasi yang luar biasa.

​Kiana meremas jemarinya di atas pangkuan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Ada... ada apa Anda mencari saya malam-malam begini, Pak?" tanya Kiana dengan suara bergetar.

​Ardan tidak berbasa-basi lagi. Dia memutar tubuhnya perlahan, menatap langsung ke dalam manik mata Kiana dengan sorot mata yang tajam seperti elang yang siap mencabik mangsanya.

​"Aku tahu kamu hamil, Kiana," tembak Ardan langsung, membuat dunia Kiana seolah berhenti berputar detik itu juga. Ardan memajukan tubuhnya, menekan Kiana dengan auranya. "Katakan padaku... siapa ayah dari anak yang ada di dalam kandunganmu itu?"

​Mendengar pertanyaan itu, seluruh tubuh Kiana bergetar hebat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Di dalam hatinya, Kiana ingin sekali berteriak, ingin sekali mengatakan, 'Ini anakmu, Mas Ardan! Ini anak kembar hasil dari malam itu!'

​Namun, lidahnya mendadak kelu. Bayangan tentang kekejaman Ardan malam itu, ancaman pemerasan, serta ketakutan bahwa Ardan yang berkuasa akan menyuruhnya membuang atau menggugurkan dua bayi tidak berdosa ini membuat Kiana mencengkeram kaosnya sendiri. Dia terlalu takut jika anak-anaknya dianggap sebagai ancaman bagi masa depan pertunangan Ardan dan Dania.

​Melihat Kiana yang hanya diam dan gemetar dengan air mata yang mulai luruh, amarah Ardan yang sejak tadi dia tahan akhirnya meledak. Dia membentak dengan suara rendah namun menggelegar di dalam mobil.

​"Katakan padaku, Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil?! Kamu tahu sendiri kan malam itu aku sudah menegaskan padamu bahwa aku ini mandul! Aku tidak bisa memiliki keturunan!" bentak Ardan, matanya memerah menahan emosi yang campur aduk. "Jadi anak siapa yang kamu kandung itu?!"

​Pertanyaan kasar dan bentakan itu seolah memicu naluri pelindung Kiana sebagai seorang ibu. Dia mendongak, menatap Ardan dengan tatapan terluka yang amat dalam. "Ini... ini tidak ada hubungannya dengan Anda, Pak Ardan," jawab Kiana dengan suara yang bergetar namun tegas.

​Jawaban itu seketika menyulut emosi Ardan hingga ke puncaknya. Logika pria itu benar-benar tertutup oleh rasa kecewa dan amarah yang tidak dia pahami sendiri. Di dalam benaknya, penolakan Kiana seolah membenarkan bahwa gadis ini memang telah tidur dengan pria lain setelah malam bersamanya.

​Ardan tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat kejam di telinga Kiana. "Oh, jadi tidak ada hubungannya denganku? Bagus sekali. Jadi setelah berhubungan denganku dan mendapat uang sepuluh juta malam itu, kamu langsung menjual dirimu lagi pada pria lain, begitu? Atau mungkin kamu memang sudah terbiasa melayani banyak pria demi uang?"

​Kata-kata itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tamparan fisik bagi Kiana. Dadanya berdenyut sangat perih, luka hatinya yang belum sembuh akibat malam itu kini seolah disiram oleh air raksa yang membakar habis harga dirinya. Kiana menahan perih di hatinya yang terdalam, mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Pria di depannya ini benar-benar tidak memiliki hati nurani.

​"Terserah Anda ingin bicara apa tentang saya, Pak Ardan," sahut Kiana, suaranya mendadak berubah menjadi datar dan dingin, dilapisi oleh keputusasaan yang teramat sangat. "Anda boleh menghina saya sekasar yang Anda mau. Yang pasti... anak-anak ini bukan anak Anda. Mereka tidak ada kaitannya dengan keluarga Arkatama yang terhormat."

​Ardan mendengus, membuang mukanya ke arah jendela dengan napas memburu. "Ternyata kamu memang sampah. Kamu tidak berbeda dengan wanita-wanita murahan di luar sana yang menggunakan tubuh untuk mencari keuntungan."

​Kata-kata kasar itu kembali menambah sakit di hati Kiana yang belum sembuh, meremukkan sisa-sisa rasa hormat yang sempat dia miliki untuk pria yang pernah dia panggil mas bidadari itu. Kiana memejamkan matanya, membiarkan air matanya mengalir deras tanpa suara.

​Ardan kembali menoleh, menatap Kiana dengan tatapan mengancam. "Ingat satu hal, Kiana Mahira. Jangan pernah sekalipun kamu berani muncul di hadapanku lagi setelah malam ini. Atau suatu hari nanti, jangan pernah kamu berani membawa anak-anak itu ke hadapan keluargaku hanya demi meminta uang atau memeras hartaku. Aku tidak akan segan-segan menghancurkan hidupmu jika kamu berani melakukannya."

​Kiana mengulas senyum getir di sela tangisnya. Dia menatap Ardan dengan pandangan yang kosong, seolah jiwanya sudah lelah untuk merasa takut lagi.

​"Tenang saja, Pak Ardan. Saya tidak akan pernah melakukan hal menjijikkan seperti itu," ucap Kiana dengan suara yang lirih namun sarat akan penekanan yang mutlak. Dia memegang gagang pintu mobil, bersiap untuk keluar dari neraka berjalan ini. Namun, sebelum membuka pintu, Kiana menoleh sekali lagi, menatap mata dingin Ardan untuk yang terakhir kalinya.

​"Jika Anda memang begitu menyesal telah pernah memiliki hubungan semalam dengan saya... harusnya malam, Anda biarkan saja saya jatuh dan tenggelam ke dalam sungai," bisik Kiana dengan nada yang sangat pilu, membuat dada Ardan mendadak berdesir aneh. "Setidaknya... jika Anda membiarkan saya mati malam itu, hidup saya yang malang ini sudah berhenti, dan saya tidak perlu merasakan sakit yang luar biasa ini akibat kata-kata kejam Anda."

​Setelah mengatakan hal itu, Kiana membuka pintu mobil dengan cepat dan melangkah keluar ke dalam kegelapan gang, meninggalkan Ardan yang seketika terpaku membeku di kursinya dengan perasaan berkecamuk yang mendadak terasa hampa dan sesak.

1
Lisa
Gmn tuh sadar atau g si Ardan klo twins benar² anaknya..
Lisa
Keras kepala banget si Ardan ini..msh blm mau mengakui klo twins adl anaknya
Lisa
👍 bagus Kiana..anggaplah si Ardan itu udh g ada..
Lisa
ya bener ceo koq g tegas sikapnya..periksa ke dokter yg lain donk..
Dewi Amalia
malass bca cerita nya msa ceo mudah di bohongi berkali-kali.. seharusnya gnti dg dokter yg lain...
jenny
menanti penyesalan Ardan 😁
Novaa: tunggu kelanjutannya ya, terimakasih sudah mampir 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!