NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: TRAGEDI ROK SPAN YANG SOBEK

Anaya menatap nanar tumpukan map tebal di atas meja kopi dengan perasaan dongkol setengah mati. Di luar jendela kaca besar, langit Jakarta sudah berubah warna menjadi ungu gelap, menandakan waktu lembur paksa ini resmi dimulai. Grup obrolan WhatsApp alumni D3-nya sudah ramai membagikan foto-foto keseruan mereka di restoran Senopati. Ada yang pamer menu steik, ada yang pamer swafoto, dan sialnya, mantan pacar Anaya zaman kuliah dulu kelihatan makin modis di dalam foto grup tersebut.

"Sialan. Gara-gara bos purba ini, saya cuma bisa makan angin malam di ruang kerja," gerutu Anaya sambil membolak-balik halaman laporan keuangan dengan kasar.

Bima sendiri sudah kembali duduk di kursi kebesarannya, kini sudah rapi mengenakan kemeja cadangan berwarna putih bersih yang tiga kancing teratasnya sengaja dibiarkan terbuka. Pria itu tampak sangat fokus mengetik sesuatu di iPad pribadinya, seolah insiden drama kopi tumpah dan pengurungan di kamar mandi tadi sama sekali tidak memengaruhi kinerja otaknya. Namun, sesekali matanya tetap mencuri pandang ke arah sofa, memastikan kalau sekretarisnya tidak melarikan diri lewat jendela.

"Anaya, draf revisi anggaran kuartal tiga yang dikirim divisi pemasaran kemarin mana? Saya butuh data digital mentahannya dari kamu sekarang," tanya Bima tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya.

Anaya menghela napas panjang, mencoba mengingat-ingat letak dokumen tersebut. "Ada di dalam flashdisk perak saya, Pak. Bentar, saya cari dulu di tas."

Anaya membongkar isi tas kerjanya dengan gerakan terburu-buru. Sialnya, karena tangannya masih agak gemetar akibat sisa kegugupan dari kamar mandi tadi, benda kecil berwarna perak itu malah tersenggol jemarinya saat baru saja dikeluarkan. Flashdisk itu meluncur mulus dari atas meja, jatuh ke karpet bulu, dan menggelinding jauh masuk ke kolong bawah sofa kulit tempat Anaya duduk.

"Aduh, malah masuk ke kolong lagi," gumam Anaya kesal.

Tanpa pikir panjang, Anaya langsung berlutut di atas karpet. Mengingat kolong sofa tersebut sangat rendah, dia terpaksa menundukkan tubuhnya dalam-dalam, menungging dengan posisi pinggul yang mencuat ke atas demi bisa menjangkau area bawah sofa dengan tangan kanannya.

Anaya lupa satu hal yang sangat krusial hari ini. Rok span hitam yang dikenakannya sore ini adalah rok berpotongan sangat ketat yang tidak dirancang untuk aktivitas akrobatik seperti berburu flashdisk di kolong furnitur.

KRAKKKK.

Suara robekan kain yang cukup nyaring dan tegas mendadak memecah keheningan ruangan kerja CEO yang kedap suara itu.

Anaya langsung menghentikan gerakan tangannya di bawah kolong sofa. Tubuhnya membeku seketika. Jantungnya terasa berhenti berdetak selama beberapa detik. Suara barusan itu terdengar sangat familier di telinganya, namun dia sangat berharap kalau itu hanyalah suara karpet yang bergeser.

Secara perlahan dan penuh rasa horor, Anaya menggerakkan tangan kirinya untuk meraba bagian belakang rok span-nya. Dan benar saja, sebuah lubang menganga yang cukup panjang—sekitar lima belas sentimeter—terasa tepat di sepanjang jahitan tengah bagian belakang roknya, membelah kain ketat itu tanpa ampun.

Sementara itu, Bima yang awalnya hanya melirik karena mendengar suara aneh, kini matanya melotot sempurna dari balik meja kerjanya. Dari sudut pandang tempatnya duduk, posisi Anaya yang sedang menungging membelakanginya itu memberikan pemandangan yang sukses membuat seluruh pasokan darah di tubuh Bima langsung naik drastis ke kepala.

Sobekan rok hitam itu melebar dengan sangat tidak sopan, memperlihatkan hamparan kulit mulus pinggul Anaya, dan yang paling parah: memamerkan seutas thong tali berbahan renda hitam pekat yang membungkus aset pribadi sekretarisnya dengan sangat minim.

Deg!

Tenggorokan Bima langsung terasa kering kerontang seolah dia baru saja berjalan di padang pasir Sahara selama tiga hari tiga malam. Mata elangnya mendadak menggelap sempurna oleh gairah yang meledak instan. Detak jantungnya bergemuruh hebat, meletupkan sensasi panas menjalar yang langsung membuat napas pria itu memburu kasar.

"Gusti... demi apa rok saya harus sobek sekarang?!" bisik Anaya panik setengah mati. Wajahnya dalam sekejap berubah menjadi merah padam sampai ke ujung telinga. Dia tidak berani bergerak dari posisinya, apalagi untuk berdiri, karena dia tahu betul kalau dia berdiri sekarang, bagian belakang tubuhnya akan terpampang nyata di depan bosnya.

Sebelum Anaya sempat memikirkan cara untuk membalikkan tubuh, sebuah bayangan besar mendadak mendekatinya dengan langkah kaki yang terburu-buru.

Sreet!

Sebuah jas wol mahal berwarna hitam milik Bima tiba-tiba dilemparkan dari atas, jatuh dengan pas menutupi seluruh area pinggul dan paha bagian belakang Anaya yang terekspos.

Bima langsung berlutut di samping Anaya, mencengkeram kedua bahu wanita itu dan membantunya berdiri dengan gerakan cepat yang sedikit memaksa. Wajah Bima saat ini terlihat sangat tegang, rahangnya mengeras kokoh, dengan urat-urat halus di pelipisnya yang tampak menegang menahan gejolak emosi dan darah tinggi yang mendadak menyerangnya.

"Pak... Pak Bima, saya bisa jelasin—"

"Diam, Anaya. Gak usah banyak omong sekarang," potong Bima dengan suara yang terdengar sangat parau, berat, dan dipenuhi oleh sisa-sisa kepanikan hewani yang dia tahan setengah mati di dalam dadanya.

Bima menarik kedua lengan jas mahalnya yang kini melilit pinggang Anaya, lalu mengikatkan kedua lengan jas tersebut di bagian depan perut Anaya dengan ikatan yang sangat kencang, memastikan kalau seluruh bagian belakang sekretarisnya tertutup rapat oleh kain jasnya.

Anaya hanya bisa menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang sudah matang seperti udang rebus di balik pundak Bima. "Maaf, Pak... saya beneran gak sengaja. Roknya ternyata gak kuat pas saya mau ambil flashdisk."

Bima menarik napas dalam-dalam lewat hidung lalu mengembuskannya perlahan, mencoba menenangkan debaran jantungnya sendiri yang masih berantakan. Mata pria itu melirik tajam ke arah tas Anaya, mencoba mengalihkan fokus otaknya dari bayangan renda hitam yang baru saja tercetak permanen di memori geniusnya.

"Kamu... kamu benar-benar cobaan terberat dalam karier bisnis saya, Anaya," umpat Bima pelan dalam hati, mengutuk takdir yang rasanya sengaja menguji tingkat keimanan dan pertahanan dirinya hari ini. Pria itu berdeham keras, mencoba mengembalikan wibawa CEO-nya meski suaranya masih terdengar agak serak. "Sekarang kamu duduk di sofa. Jangan berdiri atau bergerak ke mana-mana sampai saya selesai menelepon butik langganan Mama saya untuk mengantarkan rok baru ke sini. Mengerti?"

Anaya mengangguk pasrah dengan cepat, buru-buru mendudukkan dirinya di atas sofa sambil merapatkan jas Bima yang melilit tubuhnya. Rasa malunya malam ini benar-benar sudah melampaui batas galaksi, sementara Bima berjalan kembali ke mejanya sambil mengusap wajahnya yang terasa sangat panas, menyadari kalau proses ketegangan di antara mereka berdua kini semakin mmebuncah dan bisa berubah menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Tunggu kelanjutannya besok, bakal rilis 2 bab tiap harinya jam 08.00 dan 11.00. Stay tune ya kakak, boleh juga kasih hadiah dan dukungannya juga kalau berkenan. Thank uuu

-

-

1
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!