Setelah diputuskan tiga tahun yang lalu oleh mantan kekasihnya dan menutup diri dari pria manapun, Anata Yulia gadis 24 tahun itu, tiba-tiba saja dijodohkan dengan seorang pria yang tidak dikenal oleh kedua orang tuanya.
"Kamu harus mau Nat, sebentar lagi kamu 25 tahun, usia yang rawan dan sudah pantas untuk menikah. Maka, kamu harus mau, ya, kami jodohkan dengan pria tampan dan mapan." Sang Ibu membujuk dengan memohon.
Namun, siapa sangka pria yang akan dijodohkan dengannya ternyata adalah....
"Nata nggak mau, Bu?"
"Kenapa?"
"Karena...."
Yuk, pengen tahu kelanjutan kisahnya? Tentu bakal bikin penasaran. Ikuti kisahnya di "Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih"
Ikuti Auhto di
FB " Tupar Nasir
WA 089520229628
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Batasan dan Malam Yang Seru
"Aku di sofa ini tidurnya, dan kamu pria, tetap di ranjang kamu yang king size itu. Aku mengalah karena aku baru masuk ke dalam kamar ini," atur Anata sambil meraih satu selimut dan bantal, lalu ia tempatkan di atas sofa di dalam kamar itu.
Kafeela tersenyum geli, dia yang punya kamar kenapa sekarang Anata yang mengatur dirinya. Sebagai seorang lelaki sekaligus suami, ia tidak mau diatur perempuan selama peraturan itu aneh.
"Sebentar. Siapa suruh kamu tidur di sofa? Pindah dan kita tidur dalam satu ranjang," tegur Kafeela, suaranya rendah namun tegas.
Anata menghentikan tangannya yang tadi sedang mengatur letak bantal di atas sofa, lalu ia membalikkan badan.
"Satu ranjang?" kejutnya merasa enggan.
"Iya, satu ranjang. Kita, kan suami istri," tekan Kafeela.
Anata tertegun, betul juga apa yang dikatakan Kafeela, mereka kini suami istri. Tapi, masalahnya Anata hatinya masih kecewa dengan keputusan Kafeela dulu yang pernah memutuskannya.
Meskipun Kafeela kini sudah jadi suaminya akibat sebuah perjodohan, tapi rasa sedih itu justru semakin terasa.
"Baik. Tapi, kita tidur pakai batasan, maksud aku, kita tidur pakai pembatas. Guling itu sebagai pembatasnya," ujarnya sambil menunjuk guling yang sudah dipakaikan sarung guling berwarna hijau botol.
Kafeela memberikan kesempatan lebih dahulu agar Anata naik duluan ke atas ranjang.
"Sayang, kamu mau tidur di samping kiri atau kanan?" sela Kafeela.
Anata menoleh lalu berpikir sejenak. "Aku di kiri saja." Akhirnya Anata memilih ranjang sebelah kiri, karena ia kurang suka kalau tidur harus berhadapan dengan pintu kamar, meskipun pintu itu cukup jauh dari ranjang.
"Baiklah." Kafeela setuju, senyumnya terbit di sana.
Sebelum menaiki ranjang, Kafeela keluar kamar. Anata tidak menghiraukannya, yang penting malam ini ia bisa tidur tanpa gangguan apapun.
Tadi, saat di kamar yang dipilihnya, Anata mendengar suara-suara aneh. Seperti tiupan angin, tapi disertai suara daun kering yang terinjak manusia disusul suara langkah kaki di depan pintu kamarnya, sehingga membuatnya takut.
Padahal bisa jadi semua adalah pergerakan manusia. Namun, rasa takut siang tadi sudah menjalar dadanya, sehingga Anata berpikir kalau suara-suara itu adalah hantu.
"Ohhh...nyaman banget tidur di atas ranjang ini. Aku bisa tidur nyenyak," gumam Anata seraya membaringkan tubuhnya yang memang lelah dan ngantuk.
Sedangkan Kafeela yang tadi keluar kamar, ia bergegas menuruni tangga. Di teras depan, ia bertemu dengan Mang Nano.
"Mang Nano, terima kasih, ya. Ini bonus buat Mang Nano," ujar Kafeela seraya menyodorkan amplop berisi uang untuk Mang Nano.
"Siap, Den. Terima kasih banyak. Kalau ada apa-apa, Den Kafee bisa hubungi saya." Mang Nano merunduk penuh hormat, lalu memasukkan amplop itu ke dalam saku celananya.
"Baiklah. Mang Nano boleh pulang. Tapi, jika mau nginap tidak masalah."
"Sepertinya tidak, Den. Kebetulan cucu saya si Ridwan sedang nginap di rumah. Dia datang tadi sore, pengen minum dengan saya kakeknya." Mang Nano menolak dengan halus.
"Baiklah terserah Mang Nano saja. Tapi, sebelum pulang, periksakan semua pintu dan jendela sudah dikunci dan teralis aman," peringat Kafeela, kemudian beranjak kembali menuju tangga.
Mang Nano patuh, sebelum pulang ke rumahnya yang hanya beberapa menit dari rumah Kafeela, Mang Nano melaksanakan tugas yang diberikan Kafeela. Setelah semua aman, Mang Nano menghampiri Bi Neni istrinya di belakang.
"Neni, Akang dapat bonus dari Den Kafee, lumayan buat simpanan," ujar Mang Nano bahagia.
Bi Neni tidak kalah bahagia menerima kabar suka itu. "Yang benar Kang. Alhamdulillah. Berapa, sini Neni lihat." Bi Neni menadahkan tangannya dan meraih amplop di tangan Mang Nano.
"Wah, lumayan. Buat celengan." Bi Neni sumringah melihat isi amplop.
"Ya sudah, simpan baik-baik duit itu. Terserah kamu mau dicelengin atau dibelikan apa. Akang harus pulang, si Ridwan kasihan pasti menunggu."
"Baiklah, Akang memang harus segera pulang. Tapi, sebentar. Neni sudah siapkan makanan dan kue untuk cucu kita. Tadi, ada sisa makanan lumayan banyak, terlebih Bu Cladi mengirim bolu dan kue lainnya yang tidak mungkin kemakan sama Den Kafee dan Non Anata."
Mang Nano senang bukan main. Setelah semua siap, ia pun segera pamit pada Bi Neni dan pulang.
"Hati-hati, Kang." Bi Neni menatap kepergian Mang Nano sampai pagar rumah itu kembali tertutup rapat.
Kembali ke kamar Kafeela. Kafeela sudah memasuki kamarnya. Di dalam kamar itu hening, hanya suara deru napas yang teratur milik Anata.
Kafeela menatap lekat tubuh istrinya sambil mengulum senyum. "Dia benar-benar lelah."
Kafeela menaiki ranjang, berbaring di samping Anata yang dibatasi guling. Namun, perlahan guling itu ia singkirkan dan memeluk Anata dari belakang. Tangan Kafeela melingkar memeluk perut Anata. Tapi, Anata tidak merasa terganggu.
"Maafkan Sayang, atas keputusanku dulu, sehingga membuat kamu masih kesal padaku," gumamnya lalu ikut terlelap.
Malam semakin larut. Anata mulai gelisah. Tangannya meraih tubuh Kafeela, lalu dipeluknya sebagai guling. Setelah itu ia kembali terlelap.
Kafeela sama sekali tidak menduga kalau posisi mereka kini bak perangko nempel pada amplopnya. Ia senang bukan main, tanpa ia minta, Anata malah nempel sendiri.
"Uuhh...."
Anata bergerak, tangannya bergeliat seperti merasa kegerahan, dalam keadaan setengah sadar ia tiba-tiba membuka kancing atas piyamanya.
Kafeela sempat kaget dan melongo, tapi ia sangat senang. Dua kali keberuntungan didapatnya. Tanpa ia paksa, apa yang seharusnya jadi haknya, kini justru diperlihatkan dengan sendirinya.
"Ternyata Anata kalau tidur tidak pakai kacamata dalam? Bagus deh. Sangat ranum dan kencang," gumamnya nakal.
"Uhhh...ahhh...."
Berulang kali dalam tidurnya Anata mengigau seperti itu.
"Ahhhh."
Subuh pun tiba. Anata mulai bangun. Saat ia hendak meregangkan tangan, sesuatu seperti menahannya. Kalau guling biasanya bisa dengan mudah disingkirkan, tapi ini tidak. Tangan dan kakinya seperti terkunci.
"Eh, kok. Dadaku seperti di...."
Anata mulai membuka matanya penuh dan melihat ke sekitarnya.
"Awwww...." Anata menjerit, ia sangat kaget saat melihat ternyata dirinya tidur justru sedang memeluk Kafeela bukan guling yang semalam jadi pembatasnya. Dan yang membuat ia semakin shock, tangan kanan Kafeela berada tepat di dada kirinya.
"Bangun, lepaskan...." Anata menyingkirkan tangan Kafeela yang berada di dadanya. Dengan perasaan kacau, ia mulai berkaca-kaca.
Kafeela mulai bergerak, ia pun terbangun dari tidur nyenyaknya semalam.
"Hoammm...."
"Bangun, jangan pura-pura. Aduhh...kenapa malah kamu re~massss?" Anata memekik lalu melenguh ketika secara spontan tangan kekar suaminya malah meremasnya.
"Sayang, kamu sudah bangun? Ada apa?" Kafeela masih dalam keadaan setengah sadar.
"Lepaskan, ini kenapa tangannya di sini?" Anata marah, kilatan matanya menandakan ia sangat kesal dan malu.
Kafeela tersadar dan menjauh. Tapi wajahnya begitu tenang dan sangat bahagia.
Anata segera menjauh, ia segera merapikan piyamanya.
"Kamu sudah melanggar batas tidur kita. Aku kecewa," ucap Anata sambil terisak.
"Sayang, siapa yang melanggar batas? Bukankah kamu sendiri yang semalam menarik tubuh Abang lalu memeluknya sangat erat kayak perangko?"
"Apa?" Anata terkejut.
"Iya, kamu semalam menarik tubuh Abang, kamu kegerahan membuka kancing piyama, lalu menarik tangan Abang dan diletakkan di dada kamu," terang Kafeela sambil tersenyum.
Anata terhenyak sekaligus malu, gara-gara tidurnya tidak bisa diam, yang dia peluk bukannya guling, justru guling hidup. Anata berlari ke kamar mandi, menyembunyikan rasa malunya di hadapan Kafeela.
Kafeela terkekeh melihat tingkah lucu Anata. "Sungguh malam yang seru."
Ibu..... anaknya nanti tolong di kasih tau ya... Feeling ibu tepat banget, kalau Si Jin itu suka sama Kafee. Jadi nasehati Bu jangan jadi pelakor ya anaknya.... Jangan bikin malu. Ini udah bikin kasus kayak gini. Padahal itu video bapaknya sendiri lo.... diedit lagi pelukan sama istri anak buahnya ckckck....
Memang harus tegas Kafee. Kasih tau papa si jin Jeny. Biar di ganti aja. Jangan karena masalah kayak gini malah menghancurkan rumah tangga mu