NovelToon NovelToon
The CEO'S Private Doctor

The CEO'S Private Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

​"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."

​Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.

​Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Jejak Digital

Malam itu, langit Jakarta seolah ikut berduka. Hujan badai akhirnya tumpah, menyiram kaca-kaca raksasa penthouse dengan hantaman air yang kasar. Di dalam ruangan, lampu-lampu gantung kristal yang biasanya memancarkan kemegahan kini sengaja diredupkan. Hanya ada pendar cahaya dari layar tiga monitor besar di ruang kerja Arka yang menyinari ketegangan tiga manusia di dalamnya.

Arka, Ayana, dan Karina tidak tidur. Jam digital di dinding menunjukkan pukul dua dini hari.

"Saya sudah melacak hulu dari artikel ini, Pak," ujar Karina, jemarinya menari dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik. Di bawah bimbingan tim siber dari Singapura yang dihubungi Arka beberapa jam lalu, mereka berhasil menembus lapisan pelindung IP anonim yang digunakan untuk mengunggah artikel fitnah tersebut. "Server aslinya tidak berada di Indonesia. Artikel itu diunggah melalui jaringan privat virtual (VPN) berlapis yang berpusat di sebuah perusahaan cangkang di Kepulangan Cayman. Dan tebak siapa pemilik saham minoritas tersembunyi di perusahaan cangkang itu?"

Ayana yang sedang menyeduh kopi hitam pekat di sudut ruangan menoleh. "Elena Pradipta?"

"Tepat, Dokter Ayana," Karina membalikkan salah satu monitor agar menghadap Arka dan Ayana. "Nama aslinya disamarkan di bawah nama yayasan amal palsu, tapi nomor registrasi hukumnya cocok dengan salah satu rekening luar negeri milik Tante Elena yang pernah kami investigasi dua tahun lalu saat kasus sengketa lahan Surabaya."

Arka berdiri di belakang meja kerjanya, menopang tubuhnya dengan kedua telapak tangan yang terbuka. Kemeja putihnya sudah berantakan, lengan bajunya ditarik kasar hingga ke siku, dan urat-urat di lehernya masih menegang. Namun, tidak ada lagi jejak panik di matanya. Yang tersisa hanyalah kalkulasi dingin seorang predator bisnis yang sedang mengunci sasaran tembaknya.

"Satu bukti ini saja sudah cukup untuk menyeretnya ke pengadilan distrik atas tuduhan sabotase korporasi dan manipulasi pasar saham," suara berat Arka memecah keheningan dengan intonasi yang mutlak. "Tapi saya tidak mau dia hanya berakhir di penjara dengan jaminan, Karina. Saya mau dia kehilangan seluruh hak suaranya di Pradipta Group. Saya mau dia dikeluarkan secara tidak hormat dari silsilah keluarga besar oleh Kakek besok pagi."

Arka kemudian melirik ke arah Ayana yang sedang berjalan mendekat sembari membawa seangkir kopi hangat untuknya. "Bagaimana dengan persiapanmu, Ayana? Besok dewan komisaris akan menyerang profesimu. Mereka membawa perwakilan dari asosiasi medis untuk mempertanyakan kompetensimu."

Ayana meletakkan cangkir kopi itu di atas meja, lalu mengeluarkan sebuah berkas tebal dari dalam tas jinjingnya. Di sampul berkas itu tertulis: "Laporan Klinis Penanganan PTSD Eksperimental Berbasis Terapi Paparan Audio Terkontrol - Pasien VIP 001."

"Saya tidak takut, Pak Bos," jawab Ayana dengan senyuman tipis yang sarat akan keteguhan. "Semua rekam medis, grafik respons syaraf Anda dari volume lima persen sampai lima belas persen sore tadi, hingga jurnal ilmiah internasional yang mendukung metode ini sudah saya rangkum di sini. Saya juga sudah berkoordinasi dengan Profesor neuropsikiatri di Singapura. Beliau siap memberikan kesaksian via panggilan video langsung di depan dewan komisaris besok pagi bahwa tindakan saya sepenuhnya legal, etis, dan justru menyelamatkan fungsi kognitif CEO mereka."

Ayana mengetuk berkas tersebut dengan ujung pulpen gel hitamnya. "Kita tidak sedang menyembunyikan penyakit Anda, Arka. Besok, kita akan mengubah narasi mereka. Kita tidak akan membiarkan mereka menyebut PTSD Anda sebagai 'gangguan jiwa' atau 'kecacatan'. Kita akan menunjukkan kepada dunia bahwa Anda adalah seorang penyintas yang sedang berjuang menyembuhkan luka masa lalu demi memimpin perusahaan ini dengan kapasitas seratus persen."

Arka menatap Ayana. Di bawah temaram lampu kerja, keberanian wanita itu tampak begitu bersinar. Di saat semua orang di sekelilingnya—termasuk keluarganya sendiri—selalu memandang traumanya sebagai kelemahan terlarang yang harus disembunyikan dengan obat-obatan kimia, Ayana adalah satu-satunya orang yang berani mengangkat trauma itu ke permukaan, membersihkannya, dan menjadikannya sebuah simbol perjuangan.

"Kamu benar-benar luar biasa, Ayana," bisik Arka, mengabaikan kehadiran Karina di ruangan itu. Tangannya bergerak, menyentuh ujung jemari Ayana yang berada di atas meja, memberikan remasan lembut yang penuh dengan rasa terima kasih yang tak terhingga.

Karina yang melihat momen intim itu berdeham canggung, buru-buru memalingkan wajahnya kembali ke layar monitor. "Ehem... Pak, tim hukum dari Singapura baru saja mengirimkan draf final untuk berkas gugatan besok pagi. Semuanya sudah siap. Sekarang, sebaiknya Anda berdua istirahat selama beberapa jam. Pertempuran besok pagi akan membutuhkan energi fisik yang sangat besar."

Rabu pagi, pukul delapan lewat tiga puluh menit.

Pelataran Pradipta Tower sudah dipenuhi oleh puluhan mobil van dari berbagai stasiun televisi swasta dan puluhan jurnalis bisnis yang membawa kamera besar. Berita tentang runtuhnya saham Pradipta Group sebesar delapan persen pada pembukaan pasar saham pagi ini membuat situasi semakin liar. Isu tentang 'CEO yang tidak stabil' telah menjadi topik utama di seluruh saluran televisi nasional.

Sebuah mobil Rolls-Royce Phantom hitam membelah kerumunan wartawan, berhenti tepat di depan lobi privat. Pintu mobil terbuka, dan Arkananta melangkah keluar terlebih dahulu.

Pagi ini, ia mengenakan setelan jas hitam pekat dengan kemeja putih bersih dan dasi sutra merah marun—pilihan warna yang melambangkan kekuasaan mutlak dan keberanian. Di sampingnya, Ayana melangkah dengan anggun, mengenakan celana kain berpotongan tinggi dan blazer biru dongker yang memberikan kesan profesional, cerdas, dan tak tersentuh. Rambut cokelatnya dicepol rapi di belakang kepala, menampilkan wajah tegasnya tanpa keraguan sedikit pun.

Kilatan lampu kilat kamera (flash) menyergap mereka bertubi-tubi bagai badai petir saat mereka berjalan melewati barikade pengaman lobi menuju lift khusus. Arka sama sekali tidak menoleh ke arah kamera, wajahnya datar bagai pahatan marmer, sementara tangan kirinya secara implisit memposisikan diri sedikit di belakang tubuh Ayana—sebuah gestur protektif instan yang memastikan sang dokter tidak terganggu oleh agresivitas para pemburu berita.

Begitu pintu lift privat lantai lima puluh terbuka, suasana di depan ruang rapat pleno terasa mencekam. Empat pengawal bertubuh kekar menjaga pintu kayu jati tersebut.

Karina menyambut mereka dengan wajah tegang namun penuh determinasi. "Semua anggota dewan komisaris sudah di dalam, Pak. Termasuk Tante Elena... dan Kakek."

Ayana tersentak kecil mendengar kata 'Kakek'. "Tuan Besar Hermawan juga hadir?"

"Beliau terbang langsung dengan jet pribadi dari Singapura subuh tadi begitu mendengar saham turun delapan persen," bisik Karina. "Beliau yang memimpin jalannya sidang darurat ini."

Arka memejamkan matanya selama satu detik, menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma dingin sisa minyak esensial racikan Ayana yang masih menempel di pergelangan tangannya. Fokusnya terkunci sempurna.

"Buka pintunya, Karina," perintah Arka dingin.

Pintu jati raksasa itu terbuka lebar. Di dalam ruang rapat pleno yang megah, suasana terasa sangat dingin. Di ujung meja bundar, duduk Hermawan Pradipta di atas kursi roda elektriknya, wajah tuanya tampak sekeras batu karang di tengah badai, dengan kedua tangan bertumpu pada tongkat kayu berkepala naga emas. Di sisi kanannya, Elena Pradipta duduk dengan senyuman penuh kemenangan yang teramat kentara, dikelilingi oleh jajaran direksi dan dua perwakilan dari komite etik kedokteran nasional.

"Selamat pagi, Kakek... dan para anggota dewan yang terhormat," suara berat Arka menggelegar di dalam ruangan, meruntuhkan keangkuhan atmosfer yang sempat dibangun oleh faksi Elena.

Elena berdiri dari kursinya dengan gerakan dramatis. "Arka! Akhirnya kamu berani memunculkan wajahmu setelah menghancurkan nilai kapitalisasi pasar perusahaan kita sebesar puluhan triliun rupiah dalam waktu semalam! Dan kamu... kamu masih berani membawa dokter gadungan ini ke dalam ruang suci Pradipta Group?!" Elena menunjuk wajah Ayana dengan jari telunjuknya yang dipenuhi cincin berlian.

Ayana tidak mundur satu senti pun. Ia melangkah maju ke depan meja bundar, meletakkan berkas medis tebalnya dengan ketukan yang solid, lalu menatap Elena dengan sepasang mata bulatnya yang memancarkan kilat kecerdasan yang mematikan.

"Ibu Elena Pradipta," suara Ayana terdengar jernih, tenang, namun memiliki frekuensi otoritas yang sanggup membuat ruangan itu seketika hening. "Saya berada di sini bukan sebagai pesakitan, melainkan sebagai Kepala Otoritas Medis Sah dari CEO Arkananta Pradipta. Dan sebelum Anda melayangkan tuduhan tidak berdasar tentang kompetensi saya... mari kita lihat siapa yang sebenarnya telah melakukan kejahatan kriminal nyata terhadap perusahaan ini."

Ayana melirik ke arah Karina, dan dalam sekejap mata, layar proyektor raksasa di balik kursi Hermawan Pradipta menyala, menampilkan seluruh data digital, nomor rekening luar negeri, dan jejak IP pelacak yang membuktikan secara mutlak bahwa Elena Pradipta adalah otak di balik pengunggahan artikel fitnah tersebut.

Wajah Elena yang tadinya dipenuhi kemenangan seketika berubah menjadi pucat pasi bagai mayat, membuat skenario licik yang telah ia susun dengan rapi di Menteng malam itu hancur berantakan di depan mata sang naga tua, Hermawan Pradipta. Babak eksekusi yang sesungguhnya telah resmi dimulai.

Bersambung.

1
yeyen Hondro
Ceritanya bagus banget.....👍👍👍
neyrfly: makasi ya kakk😍
total 1 replies
Alissia
awas lo arka nanti kamu jatuh cinta sama doktet aya🤭🤭🤣🤣
Wardah Wilda
wuuiihh..Thor..kata2 nya bagus banget ..sangat presisi .akurat..tanpa membuat bingung...alur nya jelas..👍👍
good job Thor..up yg banyak LG ya Thor...👍👍🙂🙂👏👏
Hennyy exo
wah makin banyak musuhnya ayana
Hennyy exo
wow arka aku padamu😍
Hennyy exo
ingin sekali ku tampar bibi elena 🤣
Hennyy exo
wow alurnya makin menarik

btw terima kasih thor upnya🤭
Susilawati Susilawati
up lagi thor
neyrfly: syiapp🫡
total 1 replies
Wardah Wilda
up nya yg banyak dong thor..biar semangat baca nya... please...🙏🙏
neyrfly: siap kakk🫡
total 1 replies
Hennyy exo
thor pliss up yg banyak ya🤭
💪💪
neyrfly: siap kakk🫡
total 1 replies
Hennyy exo
suka banget sama alur ceritanya😍
neyrfly: makasih kakk😍🙏
total 1 replies
Hennyy exo
ahh suka banget sama alurnya thor
Hennyy exo
awas ya Arka nanti kamu jatuh cinta loh sama dokter aya🤣🤣
Hennyy exo
awal yg bagus thor
Wardah Wilda
awas ya Thor..klau up nya lama..🤭🤭🤭
neyrfly: siap kakk😍🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
baru baca seru cerita na
neyrfly: makasi kakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!