Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlatih
"Aku akan mengatakannya nanti setelah kau selesai berlatih dan kau siap untuk membersihkan nama baik kedua orang tuamu," kata Arisuta.
Meskipun ada rasa kecewa dalam hatinya karena belum mengetahui siapa orang yang telah memfitnah orang tuanya, tapi Wira tidak mempermasalahkannya. Dia berpikir ada sisi positif dan negatifnya jika mengetahui nanti dari pada sekarang.
"Baiklah, Kek. Aku siap untuk berlatih sekarang. Masalah itu lebih baik aku tidak mengetahuinya sekarang, karena bisa mengganggu masa pelatihanku," ucap pemuda itu tenang.
Arisuta sedikit terkejut melihat perubahan besar dalam sikap Wira. Pemuda yang awalnya meledak-ledak itu tiba-tiba saja berubah begitu tenang.
"Pemuda ini mempunyai dua sisi sifat yang bertolak belakang. Dia akan begitu menakutkan jika tidak bisa mengontrol dirinya sendiri," ucapnya dalam hati.
"Kakek kenapa?"
Arisuta tersenyum dan sedikit menggeleng. "Wira ... sebelum aku menurunkan sedikit ilmu kanuragan padamu, ada baiknya kau dengarkan ucapanku terlebih dahulu," ucapnya sebelum menarik napas panjang.
"Apapun yang akan kau lakukan, gunakanlah akal sehatmu sebagai pedoman untuk mengambil keputusan. Jika kau menggunakan emosi untuk mengambil keputusan, maka hasilnya akan tidak baik untukmu," sambungnya.
Wira diam mencerna kata-kata yang diucapkan Arisuta. Dia sadar jika masih sering sembrono dan mengedepankan emosinya dalam mengambil keputusan. Seringkali dia bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu, dan itu merugikan dirinya sendiri.
Terakhir kali keputusan yang diambilnya tanpa berpikir adalah ketika dia berani melawan pemilik lapak dagangan, yang membuatnya hampir mati dikeroyok penduduk desa.
Pemuda berumur 20 tahun, berkulit kuning langsat, berhidung mancung dan memiliki rahang kokoh itupun menganggukkan kepalanya.
"Aku paham apa yang Kakek maksudkan. Aku berjanji kepada diriku sendiri dan alam semesta ini, kisah tragis yang terjadi pada kedua orang tuaku akan aku jadikan pedoman untuk selalu menegakkan kebenaran di muka bumi ini."
"Kau memiliki sifat kedua orang tuamu, Wira. Lebih tepatnya kau perpaduan dari mereka berdua. Sejak awal aku memiliki keyakinan jika kau memiliki jiwa suci seperti halnya kedua orang tuamu. Sekarang habiskan dulu ubi jalar ini, setelah itu aku akan mengajarimu ilmu kanuragan," ucap Arisuta senang. Senyumnya terkembang lebar menghiasi bibirnya.
Setelah merasa kenyang, Arisuta mengambil sebuah cangkul dan mengajak Wira menuju bagian belakang gubuk kecil mereka, lebih tepatnya ke sungai kecil dangkal tempat Wira membersihkan tubuhnya tadi.
"Hal pertama yang harus kau lakukan adalah membentuk otot dan tulangmu agar nanti bisa menyimpan tenaga dalam. Jadi untuk beberapa hari ke depan, aku akan melatih fisikmu agar lebih kuat dan kokoh," kata Arisuta sedikit menjelaskan.
"Baik, Kakek. Apapun yang Kakek perintahkan, aku akan menurutinya," sahut Wira tegas tanpa berpikir panjang. Dia sudah tidak sabar untuk menjalani pelatihan di bawah bimbingan Arisuta.
Latihan pertama yang harus Wira lakukan untuk membentuk otot dan tulangnya adalah membuat sebuah kolam kecil, sebagai tempat menampung aliran air sungai kecil yang dangkal namun jernih itu. Dan dia harus melakukannya hanya dalam waktu 7 hari saja.
Tanpa membantah dan mengeluh sedikitpun, Wira melaksanakan perintah Arisuta setelah lelaki tua itu memberinya sebuah cangkul yang dibawanya.
Hari demi hari dilalui Wira dengan penuh semangat. Peluh yang bercucuran membasahi pakaian dan rasa lelah yang mendera tubuhnya, tidak membuat semangat pemuda itu mengendur. Justru dia merasa terpacu untuk mempercepat penyelesaian pembuatan kolam kecil tersebut.
Tanpa terasa, pembuatan kolam yang diperintahkan Arisuta telah diselesaikan Wira sehari lebih cepat dari waktu yang ditentukan.
Arisuta yang melihat betapa kuatnya semangat pemuda itu lalu tersenyum kecil. Penyelesaian kolam yang seharusnya bisa memakan waktu 14 hari bagi orang biasa, bisa diselesaikan Wira dalam waktu 6 hari. Padahal dia memberi tenggat waktu kepada pemuda tersebut hanya 7 hari saja. Kini dia sepenuhnya yakin Wira akan bisa menguasai ilmu kanuragan yang akan diberikannya lebih singkat daripada semestinya.
Lelaki tua itu lalu memberikan waktu istirahat bagi Wira selama 2 hari lamanya. Setelah itu dia akan melatih beberapa jurus yang dimilikinya, termasuk ilmu meringankan tubuh.
Dua hari berikutnya, Arisuta dan Wira sudah berada di tanah lapang di sekitar gubuk. Posisi mereka saling berhadapan dan memandang satu sama lain.
"Wira, ada dua jurus pertarungan tangan kosong dan dua jurus pedang yang akan aku berikan kepadamu. Kedua jurus pedang itu akan sangat berfungsi untuk menyerang, baik serangan jarak jauh maupun jarak dekat, dan juga bisa untuk melawan lawan dalam jumlah banyak."
Lelaki tua itu kemudian menjelaskan satu per satu jurus yang akan diberikannya kepada Wira:
- Jurus Pukulan Tapak Naga Suci
- Cakar Naga Membelah Bumi
- Pedang Cahaya Pembasmi Iblis
- Pedang Seribu Cahaya Suci
Wira yang belum memiliki dasar sama sekali tentang ilmu kanuragan, awalnya dibuat kesulitan dengan pelatihan yang diberikan Arisuta. Gerakannya masih begitu kaku karena belum terbiasa. Namun seiring berjalannya hari, pemuda itu sudah bisa menyesuaikan diri dengan pelatihan yang dilakukannya. Perkembangannya pun terlihat pesat setelah memasuki bulan kedua pelatihan.
Tanpa terasa sudah lebih dari setahun Wira berlatih di bawah bimbingan Arisuta. Dia pun sudah menguasai sepenuhnya empat jurus yang diberikan Arisuta.
"Perkembanganmu lebih cepat dari perkiraanku, Wira. Namun untuk lebih menyempurnakan lagi 4 jurus yang sudah kau kuasai itu, kau harus berlatih tenaga dalam. Dan itu tidak bisa dilakukan di sini," ujar Arisuta. Dia lalu mengajak Wira menuju sebuah pohon paling besar yang ada di hutan tersebut.
"Bagi seorang pendekar, gerakan jurus dan tenaga dalam itu sangat erat kaitannya. Selain bisa digunakan untuk menyerang, tenaga dalam juga sangat berfungsi untuk bertahan," Arisuta terus menjelaskan dengan rinci setiap langkah yang harus dilakukan Wira untuk menguasai tenaga dalam.
Setelah itu, Wira memanjat pohon besar tersebut sampai ke atas dan kemudian duduk bersila di atas sebuah dahan yang besar. Dia memusatkan konsentrasinya untuk menarik unsur alam yang nantinya akan digabungkannya dengan energi murni di dalam tubuhnya.
Hari sudah bergerak menuju sore hari. Butuh waktu satu minggu lamanya bagi Wira bermeditasi di atas pohon besar tersebut untuk menyempurnakan pelatihan tenaga dalamnya. Setelah itu dia membuka matanya dan melompat turun dari atas pohon, lalu kembali menuju gubuk.
Sesampainya di dalam gubuk, terlihat Arisuta sudah menunggunya. "Akhirnya kau sudah menyelesaikannya. Aku merasakan tenaga dalammu meningkat pesat, dan itu suatu hal yang sangat positif untukmu."
Arisuta mengambil sebuah bungkusan kain yang terlihat panjang dan memberikannya kepada Wira.
"Bukalah!" perintahnya.
Wira membelalakkan matanya setelah membuka bungkusan kain panjang yang ternyata berisi sebuah pedang. "Bukankah ini pedang ayahku?"
"Kau benar. Kakek mengambilnya dari rumahmu setelah tahu kedua orang tuamu sudah meninggal. Sekarang pergilah dan selesaikan apa yang harus kau lakukan. Setelah itu, kembalilah ke sini! Ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan padamu sebelum kita harus benar-benar berpisah."
Wira termenung mendengar ucapan Arisuta. Sesungguhnya dia tidak ingin berpisah dengan lelaki tua itu, tapi pasti ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan gurunya tersebut sehingga mereka harus berpisah.
"Temuilah Ki Anom jika kau sudah sampai di desa. Dia akan memberitahumu siapa yang telah memfitnah kedua orang tuamu."
"Tapi, Kek ... apa beliau tidak akan melaporkan keberadaanku kepada penduduk desa?"
"Kenapa kau harus takut? Bukankah kau sudah memiliki kemampuan sekarang? Bilang saja kepada Ki Anom jika aku yang menyuruhmu menemuinya," jawab Arisuta.
Wira menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia keluar dari gubuk kecil tersebut dan kemudian berlari menuju desa.
Beberapa saat kemudian, ketika malam sudah menggantikan siang, Wira yang sudah sampai di desa langsung bergerak mengendap-endap menuju rumah Ki Anom. Tidak butuh waktu lama baginya untuk sampai di rumah lelaki tua yang juga sesepuh desa itu.
Setelah itu dia mengetuk pintu tersebut secara perlahan. Sesaat kemudian, pintu itupun terbuka lebar dan terlihat seorang lelaki tua berdiri di ambang pintu.
"Masuklah! Aku sudah lama menunggumu," kata lelaki tua tersebut.