Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sebelas
Kehidupan terus berjalan, hari hari bu Soraya terus di sibukan dengan warung yang semakin ramai, Ares pun berhenti dari kerjaannya, atas permintaan sang mama, dia tidak ingin anaknya terlalu sibuk bekerja, apa lagi sejak dia tau anaknya akan mengikuti lomba Matematika, pasti butuh waktu untuk belajar lebih fokus.
Namun tidak dengan pak Galih, mulai galau karena tingkah anak dan istrinya, sejak pertemuannya dan anak anaknya saat menjemput ke dua keponakannya itu, anak anaknya tidak lagi banyak bicara dan bahkan sejak hari itu, anak anak seperti menjaga jarak darinya, begitupun dengan sang istri, bicara pun seperlunya, bahkan kini jarang mengeluh tentang uang, biasanya selalu mengeluh beras habis, minyak habis atau gas habis, kini tidak pernah lagi.
"Kamu kenapa sih, Galih. Beberapa hari ini ibu perhatikan mukanya kusut terus, ada masalah di kerjaan? " tanya bu Hindun melihat anaknya beberapa hari ini tidak bersemangat.
"Haaa.... Bukan di kerjaan bu, tapi di rumah." keluh Pak Galih kepada sang ibu.
"Ada apa lagi anak istri mu itu, dasar miskin tidak tau diri." sinis bu Hindun memaki menantu dan cucu cucunya.
Pak Galih hanya diam mendengar istri dan anak anaknya di hina oleh ibunya.
"Kenapa lagi sama mereka? " ulang bu Hindun.
"Anak anak melihat ku waktu menjemput Alika dan Roy di sekolah waktu itu." keluh pak Galih.
"Masalahnya apa klau kamu menjemput keponakan keponakan mu, anak anak kamu saja yang sifatnya terlalu iri, semua pasti didikan dari ibunya." kesal bu Hindun dengan otak bodohnya.
"Entah lah bu, sekarang setiap pulang kerumah, anak anak seperti menjauh dari ku, bahkan Soraya ikut mendiamkan ku." keluh pak Galih lagi yang tidak merasa bersalah, justru merasa orang yang paling tersakiti.
"Halah.... Biarin aja, sebentar lagi juga minta uang bulan, nggak usah aja di kasih sekalian, biar tau rasa, bisa bisanya mendiamkan suami." kesal bu Hindun, dia tidak tau saja sekarang, Soraya dan anak anaknya tidak butuh uang receh dari anaknya itu.
"Ha.... Ibu benar, sekarang mungkin uang belanjanya masih ada, makanya sok cuek sama aku." ucap Pak Galih penuh semangat.
"Lihat saja nanti, klau aku gajian, biarin saja mereka mau mengemis seperti apa, aku nggak akan ngasih uang bulanan untuk bulan ini, biar tau rasa mereka." sombong pak Galih, dia tidak tau sang istri dan anak anaknya tidak lagi berharap uang receh darinya, bahkan pendapatan sehari bu Soraya berkali kali lipat dari uang bulanan yang di berikan oleh pak Galih.
"Bener tuh, nggak usah aja di kasih uang sekalian, biar tau rasa." hasut bu Hindun dengan tidak tau dirinya.
"Alhamdulillah.... Ya ma, pendapatan kita makin hari makin banyak." ucap Ares memeluk uang hasil jualan sang mama, yang baru saja dia hitung modal dan modalnya.
"Iya, Alhamdulillah.... Semua berkat do'a dan kerja keras kita." ucap bu Soraya tersenyum penuh syukur.
"Sebagian keuntungan mama mau tabung untuk bayar modal yang di pinjamkan tante Rini ke kita." ucap bu Soraya lagi memberitahu putra sulungnya.
"Iya ma, semoga modal yang di pinjamkan tante Rini cepat di keluarkan." ucap bu Ares dan di angguki oleh bu Soraya.
"Ini jatah kakak." ucap bu Soraya menyodorkan uang seratus ribuan ke arah sang anak.
"Ma, nggak usah, uang yang kemaren mama kasih masih ada." tolak Ares.
"Nggak apa apa, ambil saja, bisa abang tabung uangnya." ucap bu Soraya.
"Terimakasih mama." ucap Ares mengambil uang yang di berikan oleh mamanya itu.
Ting....
Satu pesan masuk ke telpon seluler bu Soraya.
*Mbak, lusa bisa pesan nasi paket ayam bakar seratus box.* begitu bunyi pesan yang masuk ke dalam telpon seluler bu Soraya.
"Maa Syaa Allah..... " puji syukur bu Soraya memeluk HP bututnya dengan mata berkaca kaca.
"Ada apa ma? " tanya Ares menatap sang mama.
"kita dapat pesanan nasi bakar untuk lusa seratus box, bang." ucap bu Soraya dengan senyum haru.
"Alhamdulillah..... " Ares pun ikut mengucap syukur mendengar jawaban sang ibu.
*Gimana mbak, bisa? * satu pesan kembali masuk ke telpon seluler itu, saking senangnya, bu Soraya jadi lupa untuk membalas pesannya.
*Bisa bu, bisa banget.* jawab bu Soraya.
*Ok, tolong di total ya, sekalian kirim nomor rekening, saya mau kirim tanda jadinya.*
*Per boxnya 20.000, jadi total 2.000.000 rupiah ya bu.* balas bu Soraya, lalu mengirimkan nomor rekeningnya.
*Ok, mbak. Lusa jam 12:30 wib saya ambil ya mbak.*
Ting....
Lalu masuk lah transferan ke dalam rekening bu Soraya sebesar 1.000.000 rupiah.
*Tanda jadinya sudah saya kirim ya mbak, terimaksih.*
*Baik bu, terimakasih." balas bu Soraya berkaca kaca.
"Ma, nanti lusa mama nggak buka warung dong, klau dapat pesanan? " tanya Ares.
"Nggak dong tetap buka, cuma tidak bikin banyak menu seperti biasa, hanya dua atau tiga macam, klau tutup, sayang pelanggan kita." ucap bu Soraya.
"Mmm.... Sepertinya mama sudah mulai cari satu orang untuk bantu bantu mama di warung." ucap Ares lagi.
"Iya, mama juga sudah memikirkannya, kasihani juga tante Rini setiap hari membantu mama." sahut bu Soraya. Ares mengangguk tanda mengerti.
"Ya sudah, kita pulang." ajak bu Soraya.
"Mama duluan aja, abang mau beli martabak dulu, tadi Gibran minta di belikan martabak." ucap Ares.
"Ya sudah, abang hati hati bawa motornya, jangan ngebut ngebut." ujar bu Soraya.
Bersambung.....
yg bnyyyykkkk doooongggg
hal yang dah gak pernah terjadi sekarang di rasakan lagi. tapi apa semua akan kembali kesemula atau dah terlambat??
gimana galih, anak yang masih kecil aja paham duwit yang kamu kasih tak seberapa, tapi sakit ya luar biasa karena uang itu
kaka mu tak berani nanya, tapi kamy luar biasa berani😘
pucat pasi atau serangan jantung🤭
jangan sampai nyesel nanti