"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 2. Rumah kakek.
Kara sudah memasukan semua barang - barang bawaan nya kedalam jok tengah mobil sedan warna hitam milik ayah nya. Sebenar nya rumah Kara yang itu juga merupakan rumah besar yang tergolong mewah dengan rumah utama dua lantai dan satu bangunan kecil terpisah yang merupakan tempat tinggal pekerja nya. Rumah itu berada di komplek perumahan, ayah nya bahkan memiliki seorang pembantu yang sudah bekerja di sana sejak Kara kecil dan kini pembantunya itu terpaksa harus di berhentikan.
Kara memandangi rumah nya yang penuh dengan kenangan bersama keluarga nya itu, suara tawanya dengan sang kakak, suara ribut pertengkaran nya dengan sang kakak, dan semua kilasan - kilasan kenangan indah nya bersama keluarga nya saat itu memutar di kepala Kara, membuat Kara sedih..
"Hati - hati di jalan ya, dek.. semoga kamu betah di rumah barumu nanti." Ucap pembantu rumah tangga nya yang biasa Kara panggil bude.
Kara menatap perempuan yang umur nya sudah tidak muda lagi itu, yang sudah menjaga dan merawat dia dan kakak nya sejak mereka kecil.. Kara lalu memeluk bude sambil sedih karena pada akhir nya dia dan bude juga akhir nya harus berpisah karena bude tidak bisa ikut dengan Kara.
"Makasih ya bude.. udah jagain aku sama kakak sejak kecil, semoga bude juga dapet majikan baru yang lebih baik lagi nanti nya." Ucap Kara sambil memeluk bude.
"Aaminn.. adek jaga diri baik - baik ya.. ndak boleh tinggalin sholat, jangan lupa juga mengaji." Ucap bude, Kara mengangguk sambil tersenyum tappi sambil berkaca - kaca juga.
"Bude, ini gaji terakhirmu sama bonus nya. Terimakasih ya sudah bersama keluarga kami sejak dulu, bude sangat berjasa buat kami." Ucap ayah Kara, bude hanya bisa mengangguk - angguk dengan sopan.
"Terimaksih, pak." Ucap bude, ayah Kara tersenyum.
"Titip rumah ini ya, nanti kalau ada pembeli kabari saya." Ucap ayah Kara, bude mengangguk.
"Iya, pak. Hati - hati di jalan pak, semoga selamat sampai tujuan." Ucap bude, ayah Kara manggut - manggut.
"Ayo, nduk.. masuk mobil." Ucap ayah Kara, Kara mengangguk.
"Pergi ya, bude.." Ucap Kara, bude mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, hati - hati di jalan dek." Jawab bude.
Kara kemudian masuk kedalam mobil sedan hitam ayah nya, dia duduk di depan di samping kemudi karena ayah nya sendiri yang akan mengemudikan mobil itu. Tak lama mobil pun pergi dari sana.. meninggalkan bude yang hanya bisa menatap sedih atas kepindahan majikan nya.
Bude berbalik menatap kebelakang.. ke rumah itu, rumah yang sudah menjadi tempat nya bekerja selama puluhan tahun. Tidak dia sangka juga pada akhir nya kedua majikan nya itu akhir nya bercerai dan rumah itu pada akhir nya di tinggalkan, bude sangat menyayangkan atas perjuangan majikan laki - laki nya yang sama sekali tidak mendapat hasil.
Saat bude mengedarkan pandangan nya ke setiap sudut rumah itu, tiba - tiba dia menyipitkan matanya saat dia melihat ke jendela pojok rumah yang merupakan jendela kamar majikan nya, bude melihat seperti ada seorang perempuan yang sedang menatap nya.
"Heh! Sopo kui, kok iso ada orang di dalam!" Gumam bude, dia hendak masuk tapi tidak bisa karena kunci rumah utama nya di bawa oleh ayah Kara.
Sekedipan mata bude berpaling, saat itu juga perempuan yang bude lihat itu hilang, Bude sampai berjalan menghampiri kaca jendela kamar majikan nya untuk memastikan, tapi tidak ada siapapun di dalam sana yang terlihat selain barang - barang majikan nya yang sudah di tutup kain - kain putih..
"Salah lihat, aku." Gumam bude, dan akhir nya dia pun pergi dari sana.
Kembali ke sisi Kara..
Karena saat itu pandemi sedang merajalela dan sedang sangat parah sampai semua pemberitaan terus meng update kasus kematian yang tak henti - hentinya.. jalanan pun menjadi sepi. Pusat kota yang biasanya ramai di lalui oleh banyak orang itu kini tidak banyak yang lewat dan hampir jarang, sekilas kota itu seperti kota yang mati.
Kara menatap keluar jalanan, sepanjang jalanan yang dia kenali tentu akan menjadi kenangan.. mobil terus melaju pergi sampai akhir nya jauh dan Kara tidak lagi bisa mengenali jalanan di sana.. yang jelas mobil ayahnya melaju meninggalkan pusat kota.
"Tidur aja, dek.. nanti kalo sudah sampai ayah bangunin." Ucap ayah nya, Kara hanya berdehem..
"Hmm.." Jawab Kara, karena memang dia mengantuk.
Mobil membelah jalanan yang makin sepi, jalur yang di tempuh adalah jalur menuju ke daerah pegunungan dengan jalan yang berkelok dan di samping kanan dan kiri jalan itu adalah hamparan pepohonan. Sampai akhir nya mobil itu kemudian mobil itu memasuki pedesaan.
Kara terbangun karena mobil ayah nya tanpa sengaja menginjak lubang yang lumayan besar sampai guncangan nya membuat Kara terbangun. Dan saat Kara bangun itulah dia terkejut karena dia melihat tempat yang asing yang sepertinya tidak pernah dia datangi, dan juga kebetulan di sana sedang turun hujan yang deras.
"Kebangun ya, dek. Maaf ya, ayah ndak lihat ada lubang karena ketutup air hujan." Ucap ayah nya, masih sambil fokus menyetir dan memperhatikan jalan dengan seksama.
"Ini dimana, yah?" Tanya Kara, karena dia melihat ada beberapa orang yang menatap ke arah mobil nya dengan tatapan kebingungan dan juga seperti tatapan penuh kecurigaan.
"Kita hampir sampai di rumah kakek, dek.." Jawab ayah nya, Kara kembali melihat ke sekeliling nya..
"Kamu ndak akan kenal tempat iki soalnya kamu ndak pernah kesini, ayah bahkan juga ndak pernah pulang kesini setelah ayah menikah sama ibumu." Ucap ayah Kara..
"Rumah kakek ada yang jagain, jadi semoga saja masih bisa kita tinggali." Ucap ayah Kara lagi..
Saat ayah nya sedang menjelaskan, di saat bersamaan juga Kara sedang memperhatikan rumah - rumah yang dia lihat sepanjang jalan itu.. Rumah - rumah di sana masih menggunakan modelan rumah jadul dengan teras rumah yang memiliki beberapa anak tangga sebelum akhir nya naik ke tersas, dan rumah - rumah itu memiliki atap yang pendek.
Kara merasa sepertinya rumah - rumah itu terlihat nyaman karena meskipun kecil tapi terlihat sangat asri apalagi di beberapa rumah itu ada juga yang di tanami tanaman bunga - bunga dan tanaman hias hijau di sepanjang anak tangga teras rumah itu.
"Oiya, kamu mungkin akan sedikit kesulitan bersosialisasi, nduk." Ucap ayah Kara, Kara menoleh kearah ayah nya..
"Kenapa, yah?" Tanya Kara.
"Karena orang - orang di sini bicara menggunakan bahasa Sunda." Ucap ayah Kara.
"Tapi ndak apa - apa, nanti ayah ajari sedikit demi sedikit supaya kamu bisa." Imbuh ayah nya, senyum Kara pun terbit mendengar itu.
Dan kemudian mobil pun semakin masuk kedalam sampai akhir nya mereka tiba di depan sebuah rumah yang tampak sangat tua dan besar.
"Ini rumah siapa, yah?" Tanya Kara pada ayah nya, karena rumah itu lain dengan rumah - rumah sebelum nya yang dia lewati tadi.
"Inilah, rumah masa kecil ayah.. rumah kakek."
BERSAMBUNG!
di aku g ada notif lho kk